Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDASpace

Loading

catatan pribadi

Pak Tee's picture

Teman

                Pagi itu seusai mandi, istriku berteriak, “Dicari teman,,,,,! Dari Lampung…..!”

                “Dari Lampung? Siapa?”

                “Tidak tahu. Temui saja!”

                Aku tidak bisa menebak. Rasanya temanku yang berdomisili di Lampung tidak ada. Apakah dia Adityawarman, adiknya Bang Sutradara Ginting? Rasanya bukan. Adi dari Kabanjahe, lebih dekat ke Medan daripada ke Lampung. Lalu siapa?

Purnawan Kristanto's picture

Back to Dongeng [Preview]

 

13072101931124083822

Sudah lama saya muak dengan tayangan hiburan televisi di Indonesia. Sinetronnya menjual mimpi dan penuh dengan intrik. Aktingnya lebay dan jalan ceritanya tidak masuk akal. Acara variety show dipandu oleh host pria yang kemayu. Acara reality show juga memprihatinkan. Ada banyak kesaksian yang menunjukkan bahwa tayangan itu sudah diskenario. Jadi tidak murni realitas lagi.  Heuduh, bagaimana jika semua ditonton anak saya?

Secara kebetulan, ada penawaran berlangganan televisi lewat satelit. Dalam menu yang paling murah ada kanal Disney dan Cartoon Network.  Klop, kami pun berlangganan. Syukurlah Kirana (5 tahun), anak kami, menyukai kanal anak-anak. Sedangkan saya menikmati kanal Fox dan Netgeo. Sedangkan isteri menyukai kanal kuliner.

Purnawan Kristanto's picture

Kelayapan ke Kopi Klotok

Photobucket

Mengapa disebut kopi Klotok? Itu yang membuat kami penasaran saat pulang dari Semarang menuju Yogya. Saya bersama dengan mas Agus dan mbak Tina. Pada awalnya tidak ada rencana untuk mampir, tapi iklan yang tertempel di pinggir jalan itu efektif menggoda kami. "5 Km lagi Kopi Klotok. Ada juga jangan kluwih." Demikian bunyi iklan yang tertancap di pohon pinggir jalan.

Purnawan Kristanto's picture

Bianglala..la..la..la

Photobucket

Sumber: http://byebyebeautifool.deviantart.com

 

Kirana menarik tanganku masuk ke dalam pagar pembatas besi. Tenaganya tak seberapa besar, tapi antusiasmenya tak kuasa kutahan. Sejenak aku termangu menatap kerangka besi itu. "Amankah?" batinku. Tapi tak sempat berlama-lama termangu karena pintu sangkar besi dalam jentera raksasa itu sudah menunggu. Dengan antusias Kirana menerobos masuk, sementara aku meringis karena kepalaku membentur palang besi akibat kurang merunduk.

Roda besi itu berotasi pada porosnya diiringi dengus mesin diesel. Terdengar suara besi berderak-derak dari sambungan-sambungan besi.  Sangkar besi yang kami tumpangi perlahan-lahan mengayun ke atas. Pengunjung tampak mengecil saat kami sampai di puncak putaran.

"Papa takut, nggak?" tanya Kirana.

"Nggak," jawabku dusta.

Purnawan Kristanto's picture

Elang Jawa Paska Erupsi Merapi

12941572121937675574

Saat mengantarkan bantuan ke Merapi, saya melihat elang jawa terbang  di lereng Merapi ( Selasa, 4 Januari 2010). Elang jawa atau dalam nama ilmiahnya Spizaetus bartelsi adalah spesies langka yang nyaris punah. Burung pemangsa ini berburu dari tempat bertenggernya di pohon-pohon tinggi dalam hutan.

Purnawan Kristanto's picture

Suplai Air Bresih untuk Penyintas Merapi

Warga desa Bawukan dan Gemampir sudah pulang dari tempat pengungsian yang kami kelola. Saat mereka sampai ke rumah masing-masing, mereka mendapati bahwa tandon air mereka telah tercemari abu vulkanik. Saat mengungsi, mereka lupa menutup atau memindahkan talang air. Akibatnya, abu vulkanik masuk ke dalam persediaan air mereka.

Rusdy's picture

Dear Diary 1 - Bersepeda

Satu hari, saya dengan teman saya waktu itu membangun ramp kecil terbuat dari papan triplek panjang (tapi sempit) disanggah dengan beberapa batu bata (minimal setengah meter tingginya) di ujung satunya.

Purnawan Kristanto's picture

Hobi Videografi

Meski pernah kuliah di jurusan Komunikasi, namun saya tidak pernah memegang dan mengoperasikan kamera video selama kuliah.

Baru sekitar 5 tahun terakhir ini, saya memegang, mengelus-elus dan mengoperasikan kamera video, sertanya menekuninya sebagai hobi videografi.

Purnawan Kristanto's picture

Bebek Klaten

Sudah lama saya dan isteri pingin ke warung bebek ini. Beberapa teman di gereja mengatakan warung makan dengan menu bebek goreng ini enak.  Orang-orang menyebutnya "Bebek Nglinggi" karena berada di desa Nglinggi, Klaten.

Bebek Mlinggi

Foto-foto: Purnawan Kristanto

Dulu ketika kami ke sini pada pukul 20:30, ternyata bebeknya sudah habis. Hal itu membuat kami semakin penasaran mengingat lokasi warung ini sekitar 1,5 km dari jalan besar. Meski terpencil, namun warung ini cukup ramai. Pembeli harus antre untuk mendapat pelayanan.
Hari ini, Minggu 26 September, bersama dengan keluarga besar di Jakarta dan Purwakarta memutuskan membuktikan sendiri rasa bebek di warung mewah ini (mepet sawah).

Purnawan Kristanto's picture

Mas Mono

 Purnawan Kristanto]

Ketika mobil kami berbelok memasuki pelataran parkir YAKKUM (Yayasan Kesehatan Kristen untuk Umum)-Bethesda yang teduh, mas Mono sudah terlihat menunggu sambil duduk di bangku panjang.  Bu Agus segera menyelesaikan pembayaran untuk pelatihan selama tiga hari di sana.  Kurang dari setengah jam, mobil pun berjalan kembali.

"Gimana hasil pelatihan, mas?" tanya bu Agus dari kursi tengah di mobil.

"Baik, bu. Kemarin saya ikut tes psikologi.  Kata pengawasnya, IQ saya rendah.  Lalu saya jawab, 'jelas saja pak, lha wong otaknya ini sudah lama tidak pernah dipakai lagi'....he...he...he...." jawab mas Mono setengah bercanda.

"Lalu rencanamu selanjutnya apa?" lanjut bu Agus.

"Saya ingin menjadi agen koran.  Saya 'kan sudah bisa naik sepeda."

Purnawan Kristanto's picture

Menabur Damai, Mengusir Serigala

Ketika melakukan kuliah praktik lapangan semasa menjadi mahasiswa, Pelangi (isteriku sekarang) menempati sebuah rumah secara sendirian. Suatu malam, ada seekor kucing yang mencoba menerobos pagar rumah yang cukup tinggi, tapi gagal. Kucing itu terjepit di sela-sela pagar. Tidak bisa maju, tidak bisa mundur.
Pelangi merasa kasihan, lalu mengulurkan tangan untuk melepaskan kucing dari jepitan pagar. Tiba-tiba kucing itu mencakar tangan Pelangi hingga berdarah. Meski dengan menahan sakit Pelangi berhasil membebaskan kucing itu. Kucing itu pun segera berlari menjauh. Maksud baik tidak selamanya diterima dan dipahami dengan baik.

Pikiran itulah yang tiba-tiba terlintas saat aku berada di atas bis Budiman, dalam perjalanan menuju Tasikmalaya. Misiku ke kota yang terkenal dengan bordirnya itu adalah untuk monitoring pembangunan rumah inti bagi korban gempa. Proyek kemanusiaan ini tidak berjalan mulus. Kami menemui berbagai macam kesulitan, terutama kecurigaan dari pemimpin agama. Akibatnya, proyek ini sempat dihentikan secara paksa oleh massa yang mengatasnamakan kepentingan agama.

Tante Paku's picture

Anjing Blogger

  PERTAMA kali memelihara anjing ketika saya bermain di pasar burung, ada anak anjing betina berbulu hitam mulus ingin dijual pemiliknya, saya gak tau jenis ras apa, bulunya hitam seperti anjing kancil dan saya kira memang anjing jenis kancil. Dan saya pun membelinya, ibu saya pun menyukainya karena lucu, tapi kakak perempuan saya yang terkenal judes justru sebaliknya, tidak menyukainya dan sering ngomel bila lagi jengkel, anjing pun jadi sasaran kemarahannya.

Purnawan Kristanto's picture

Peta A La Kirana

Suatu siang , kami kedatangan tamu yaitu hamba Tuhan dari Gresik. Mereka sedang mencari keluarga yang pernah menjadi anggota jemaatnya dan sekarang pindah ke kota kami.

Purnawan Kristanto's picture

Korban Fitnah Intip

Prasangka itu bak pedang bermata dua. Di sisi baik, prasangka memudahkan kita dalam memandang sesuatu. Karena sudah mengenali pola-pola di masa lampau, maka kita dapat langsung dapat melakukan tindakan antisipasi tanpa perlu melakukan analisis yang njlimet lagi. Sebagai contoh, kalau ada pemuda yang menyanyi di depan rumah sambil memetik gitar, kita dapat langsung berprasangka orang itu hendak mengamen. Tanpa perlu menyelidiki lagi tujuan dia melakukan itu, kita dapat langsung melakukan tindakan: Memberi uang receh.

Akan tetapi simplifikasi yang berlebihan dapat mengarah pada fitnah. Ini sisi buruk dari prasangka. Kita dapat terjebak dalam pusaran arus generalisasi. "Kalau dia biasanya begitu, maka dia akan selamanya begitu," demikian prinsipnya tanpa menyadari bahwa manusia itu dapat berubah, juga tidak menyadari adanya faktor determinan lainnya.

Purnawan Kristanto's picture

Masak Air, Gosong

“Jangankan masak mie instan, masak air saja gosong ‘kok.” Inilah ucapan yang biasa dilontarkan untuk meledek orang yang tidak becus memasak. Namun ini benar-benar saya alami, memasak air sampai gosong!

Purnawan Kristanto's picture

Sok Kenal, Sok Dekat [SKSD]

Kata orang, wartawan yang baik itu harusnya hasil blasteran antara ilmuwan dan diplomat. Maksudnya, wartawan itu harus memiliki otak yang berpikir kritis seperti ilmuwan. Setiap informasi tidak ditelan mentah-mentah tetapi diverfikasi, diuji dan diperiksa kebenarannya. Di sisi lain, meski bersikap kritis [bahkan kadang skeptis], tapi wartawan harus mahir menjalin hubungan pribadi dengan narasumber, luwes dalam pergaulan dan tidak boleh malu-malu. Akan tetapi kalau terlalu sok kenal dan sok dekat juga dapat membuat malu. Inilah yang saya alami. Begini ceritanya.
Waktu itu, kami akan mengangkat laporan utama tentang kitab apokrif "Injil" Tomas.

Purnawan Kristanto's picture

Melihat Pekerjaan Tuhan di Rawinala

 Wajah Maria ditelengkupkan di atas meja ketika kami masuk kelas dasar di SLB G, "Rawinala", di Jakarta Timur. "Maria, ayo beri salam..." ajak ibu Agatha yang mengantarkan kami. Maria tetap bergeming. Justru Olin, teman sekelasnya, yang tampak antusias. Dia menggapai-gapai tangannya mengajak kami bersalaman. Olin adalah siswa yang mengalami tuna ganda. Dia mengalami kebutaan sekaligus tuna grahita.

Setalah dibujuk-bujuk, akhirnya Maria mengangkat wajahnya juga. Astaga, saya tidak dapat menyembunyikan kekagetan setelah melihat kondisi wajah Maria. Wajah anak perempuan berusia sekitar 9 tahun ini sungguh menimbulkan rasa iba. Saya tidak tega melukiskannya secara detil di sini. Saya hanya dapat mengatakan bahwa wajahnya seperti sebatang lilin yang meleleh karena terbakar. Sehelai handuk sengaja dibebatkan ke lehernya untuk menampung tetesan air liurnya.

Maria bukan korban kebakaran.

Purnawan Kristanto's picture

Rawinala:Cahaya di Tengah Kegelapan

Memasuki halaman gedung Rawinala, sayup-sayup terdengar syair lagu yang biasa dinyanyikan dalam kontes pencari bakat, AFI Yunior II:

"Aku bisa, aku pasti bisa.
Ku harus terus berusaha.
Bila ku gagal itu tak mengapa.
Setidaknya ku tlah mencoba."

Ternyata Angel, seorang gadis berusia 9 tahun, yang menyanyikan lagu itu. "Selamat pagi Angel," sapa ibu Agatha yang menemani kami, "ayo beri kenalan dan beri salam." Bergegas dia mengulurkan tangannya, tapi arahnya tak menuju kami. Pelangi, isteri saya, meraih tangannya dan menjabatnya. Angel adalah seorang tuna netra yang menjadi siswa di Sekolah Luar Biasa (SLB) bagian G "Rawinala." Huruf G memiliki arti "Ganda". Semua siswa yang bersekolah di sini memang memiliki kebutuhan pendidikan secara khusus. Kalau SLB yang lain hanya untuk satu jenis kecacatan, maka sekolah ini mendidik siswa dengan kecacatan ganda.

Purnawan Kristanto's picture

Ini adalah Tulisanku ke-200 di Sabdaspace

 PasarIni adalah tulisanku yang ke-200 di situs Sabdaspace, sekaligus sebagai kado ulangtahun buat situs yang dijuluki "Pasar Klewer" oleh anggota-anggotanya ini. Hingga tulisan ini dibuat, saya menduduki rangking teratas dalam hal jumlah tulisan. Namun dalam hal pengumpulan poin, saya masih di urutan ke empat.

Saya menuliskan hal ini bukan dengan maksud jumawa atau memegahkan diri. Tak sekalipun itu terbersit dalam benak saya. Posisi yang saya raih ini merupakan konsekuensi logis dari apa yang sudah lakukan di SS ini. Saya termasuk di antara "jemaat mula-mula" di SS ini. Saya mendaftarkan diri ke SS ini sejak 2 tahun, 32 minggu yang lalu. Postingan pertama saya dibuat pada tanggal 12 Desember 2006.
Sejak membuka kios di sini, saya mengalami pasang-surut dalam menunggui kios, menjajakan dagangan dan kadang kulakan barang. Ada kalanya saya begitu bersemangat menambah dagangan untuk dijajakan di sini. Sesekali melayani orang yang bersanjang ke kios saya. Kalau mereka menawar, maka saya melayani dengan sukacita. Ada juga yang berkunjung ke kios dengan sikap yang tidak menyenangkan. Ada yang bersikap sinis dan melecehkan dagangan saya. Ada juga datang untuk memberikan banyak nasihat tanpa diminta. Ada pula yang pura-pura menawar, namun sesungguhnya tidak bermaksud membeli. Dia hanya ingin menunjukkan eksistensinya.
Saat itu, pasar ini memang dibuka seluas-luasnya. Siapa saja boleh masuk dan menawarkan dagangan di sini. Akibatnya, suasana pasar ini menjadi kumuh, bising dan hampir tak ada aturan. Ada beberapa orang yang tanpa identitas jelas dapat membuang sampah dan kotoran di sini. Mereka datang dan pergi tanpa sepengetahuan lurah pasar ini. Mereka bebas keluar-masuk tanpa perlu mencatatkan diri pada buku register lurah pasar.
Purnawan Kristanto's picture

Kejutan Hari Kedua

Kejutan terjadi pada hari kedua Kirana masuk sekolah. Pada hari pertama, kami merasa kecewa karena Kirana  [3 tahun, 2 bulan] menempel terus pada mamanya. Padahal jauh-jauh hari kami sudah mengkondisikan supaya dia tidak terlalu asing dengan lingkungan barunya.