Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDASpace

Purnawan Kristanto's blog

Purnawan Kristanto's picture

Peringatan Terakhir

 

 
Jika himbauan untuk menghentikan sumpah serapah di SS tak mempan juga, mungkin peringatan yang satu ini dapat menggentarkan pelakunya.
Purnawan Kristanto's picture

Kopdar Bloger SS di Jakarta

Kopdar kali ini adalah pertemuan yang paling panas dalam sejarah kopi darat para blogger di Sabdaspace yang aku ikuti.

Purnawan Kristanto's picture

Kopdar Komunitas Penjunan

Meskipun istriku orang Jakarta, tetapi aku sendiri tidak terlalu antusias setiap kali pergi ke ibukota negara itu. Dengan diantarkan oleh Kirana dan isteri, aku berangkat ke bandara menumpang kereta Pramex dari stasiun di Klaten. Duduk di depanku, ada satu keluarga besar. Setelah aku amati, ternyata dua di antaranya adalah anak kembar lai-laki. Satu anak sedang disusui, sedangan kembarannya bermain dengan kakaknya.

Si Kembar

Aku tertawa sendiri karena di peron stasiun tadi aku juga melihat anak kembar yang lain. Aku segera mengirim SMS pada isteriku.

"Tahu nggak, aku ketemu anak kembar lagi di kereta," tulisku.

"Kayaknya asyik juga ya punya anak kembar," balas isteriku.

"Kalau anak kembar itu sama ceriwisnya dengan Kirana, maka RT kita bakal gaduh," responsku.

***

Perjalanan udara biasa saja. Maksudnya biasa terlambat dari jadwalnya. Sesampai di terminal 3, aku segera mengirim SMS ke Darsum. Pada saat yang bersamaan, SMS dari Darsum juga masuk. Kami janjian bertemu di Gambir.

Purnawan Kristanto's picture

2012: Pemuas Mata dan Telinga

2012

 

Setelah menonton film 2012 yang menghebohkan itu, saya hanya memberi dua poin positif untuk film ini, yaitu magnitude dan kecanggihan Computer Generated Image. Sisanya? Hollywood banget!
 
Purnawan Kristanto's picture

Beriman itu Seperti Menanam Kentang

Hanya ada batas tipis antara iman dan kegilaan. Jika ada seorang petani yang nekad menanam kentang di wilayah yang sangat kering, maka Anda dapat mengatakan petani ini sinting. Kentang itu adalah tanaman yang membutuhkan sangat banyak air. Namun jika menggunakan kacamata rohani, kita bisa menyebut petani sebagai orang beriman. Jika Anda menjadi pengelola stadion nasional, lalu ada petani kampung yang datang untuk menyewa stadion, apa yang Anda lakukan? Mungkin Anda akan permisi sejenak untuk pergi ke kamar mandi dan tertawa terpingkal-pingkal di sana.

Purnawan Kristanto's picture

Apa Itu?

 Dua orang, bapak dan anak, duduk di kursi taman depan rumah. Sang anak yang sudah menjadi pria dewasa sedang asyik membaca koran. Sementara sang bapak yang beranjak sepuh memandang lepas ke depan. Tiba-tiba sang bapak bertanya, "Apa itu?"

Purnawan Kristanto's picture

Pulang ke Jogja

Terjadi keanehan saat kami bersiap pulang ke Yogyakarta. Ketika pak Agus, kapten pilot, mengecek tangki bahan bakar di sayap sebelah kiri, volumenya sudah berkurang. Namun saat mengukur tangki pada sayap sebelah kanan, isinya tidak berkurang. Anehnya justru bertambah banyak! Ada apa ini?

Photobucket

Purnawan Kristanto's picture

Kisah di Tasikmalaya

PhotobucketHari Selasa [8/9/2009], saya bersama dengan pak Tjandra Agus, koh Januar, Doddy Hendro dan pak Hasan pergi ke Tasikmalaya untuk mengantarkan bantuan kemanusiaan. Sekitar pukul sepuluh pagi, ditemani oleh pak Philipus Kristianto dan pak Jonson Sitorus, kami meluncur menuju desa Sukajaya, kecamatan Purbaratu. Sepanjang pengamatan,  kota Tasikmalaya tidak terpengaruh sama sekali dengan adanya gempa. Semua berjalan dengan normal. Tidak ada tanda-tanda kedaruratan. Sedikit tanda bahwa ada gempa telah terjadi di sana adalah runtuhnya bangunan tua di sebuah perempatn dan aktivitas anak jalanan yang meminta sumbangan atas nama korban gempa. Aktivitas perekonomian berjalan dengan normal. Toko-toko buka seperti biasa, kecuali warung makan. Jalanan disesaki kendaraan pribadi dan angkutan umum. Tidak banyak terlihat mobil pembawa bantuan kemanusiaan.

Purnawan Kristanto's picture

Terbang ke Tasikmalaya

 “Waktu” itu memang relatif. Waktu selama satu jam yang dipakai untuk Kapten Pilotbercengkerama dengan orang-orang tercinta rasanya terlalu singkat. Satu jam menunggu tanpa kepastian rasanya sewindu. Pesawat ultra ringan yang akan menerbangkan kami ke Tasikmalaya sebenarnya sudah siap. Kapten Pilot, pak Agus, sudah meminta izin ke menara pengatur lalu lintas udara. Langit di kota Yogyakarta terlihat cerah. Cuaca di Cilacap, yang akan kami lalui nanti, juga baik. Sayangnya, jarak pandang di landasan udara Wiriadinata, Tasikmalaya hanya 4 km. Maka izin terbang masih ditahan karena menurut peraturan, jarak pandang minimal 5 km. Kami harus menunggu ada perubahan visual.

Purnawan Kristanto's picture

Pesawat Ultra Ringan

Sejak kecil saya memang menyukai pesawat terbang. Hampir setiap hari selalu ada pesawat latih yang berputar-putar di atas rumah. Seya selalu terkagum-kagum menatap besi terbang itu. Kadang benda berbentuk capung itu terbang sangat rendah sehingga kami bisa melihat kepala pilot menyembul di balik kokpit. Kadang pesawat itu bermanuver di angkasa dan menghilang di balik awan-awan.

Purnawan Kristanto's picture

NONPROLETISI

bantuan

 

Beberapa hari setelah gempa bumi mengguncang Jawa Tengah [27 Mei 2006] beredar SMS di kalangan orang Kristen. Kira-kira bunyinya begini: “Benteng Yeriko telah runtuh. Ini saatnya kita mengabarkan keselamatan di lokasi bencana.” SMS ini bukan rumor, karena setelah itu saya menyaksikan aksi-aksi sekelompok orang Kristen yang menyebalkan dan justru mengganggu pekerjaan kemanusiaan. Bagaimana tidak, mereka diam-diam menyelipkan lembar-lembar traktat pada paket-paket bantuan yang akan disalurkan kepada korban gempa bumi. Kami sempat menemukan lembaran-lembaran seperti ini di lokasi bencana. Tindakan seperti ini ternyata melanggar prinsip “nonproletisi.”

Saya yakin banyak orang yang belum memahami kata “nonproletisi”. 

Purnawan Kristanto's picture

Pupur Sakwise Benjut

gempaGempa besar dengan kekuatan 7,3 skala Richter yang mengguncang propinsi Jawa Barat, sekali lagi menegaskan bahwa kita ini seperti berdiri di atas negeri yang penuh dengan bencana. Kondisi geologis menempatkan Indonesia dalam lingkaran cincin api yang sagat rawan terhadap bencana gempa, tsunami, dan gunung meletus. Tidak hanya itu, dalam cincin api itu, Indonesia berada pada posisi mahkotanya. Maka tak heran jika angka menunjukkan bahwa dari total korban gunung berapi, separonya adalah penduduk Indonesia.

Selain bencana karena aktivitas tektonis, Indonesia juga rentan terhadap bencana akibat ulah manusia seperti banjir, tanah longsor, kekeringan dan kebakaran. Hampir tidak ada satu noktah pun di wilayah Indonesia yang kalis dari bahaya bencana.

Maka tak berlebihan kiranya jika dikatakan bahwa kita harus bersahabat dengan bencana. Dalam hubungan persahabatan, hal yang perlu dilakukan adalah saling mengenal. Jika kita mencoba bersahabat dengan bencana, maka kita berusaha untuk mengenali karakter dan penyebab. Dengan pengenalan yang baik ini, kita dapat mencegah terjadinya bencana atau setidak-tidaknya dapat mengurangi risiko kerugian jika terjadi bencana.

Purnawan Kristanto's picture

Saya Menyesal Ikut Kopdarnas Blogger SS [2]

Selepas Maghrib, acara dilanjutkan dengan mendengarkan paparan tentang seluk-beluk YLSA yang disampaikan sendiri oleh ibu Yulia selaku pimpinan. Suka dan duka dalam mengelola lembaga ini disampaikan dengan menarik oleh pemilik nickname Tutwuri Handayani ini. Pada mulanya, banyak orang yang memandang sebelah mata pada pelayanan di dunia elektronik ini.  Namun seiring perkembangan waktu, lembaga ini mulai mendapat pengakuan dari public.
Purnawan Kristanto's picture

Menerbitkan Buku itu Gampang

"Mengapa belum ada karyamu yang diterbitkan dalam buku?" tanyaku kepada seorang teman. Dengan enteng,

buku

sambil mengutip tulisan Salomo, dia berkilah: “Lagipula, anakku, waspadalah! Membuat banyak buku tak akan ada akhirnya, dan banyak belajar melelahkan badan" (Pkh. 12:12).

"Itu berlaku jika kamu sudah menghasilkan banyak buku," sergahku," masalahnya, kamu belum menulis satu buku pun."

 Dia hanya cengar-cengir sambil menggaruk-garukkan kepala meskipun tak gatal.

***

Siapa bilang menerbitkan karya tulisan untuk menjadi buku itu susah? Setidaknya itulah yang aku alami. Waktu pertama kali menawarkan naskah bukuku, penerbit langsung menyetujui untuk menerbitkan mesipun ada beberapa revisi yang harus kulakukan. Ketika dipajang di toko-toko buku, ternyata angka penjualan bukuku cukup memuaskan. Setelah itu, naskah-naskah bukuku yang lain lulus dengan mulus di penerbit itu.

Purnawan Kristanto's picture

Saya Menyesal Ikut Kopdarnas Blogger SS [1]

Ya, Anda tidak salah baca. Saya memang merasa menyesal ikut Kopi Darat Nasional [Kopdarnas] blogger SS yang digelar tanggal 15-17 Agustus 2009 di Solo. Jika blogger lain mengaku merasa senang mengikuti acara ini, ya biar saja. Tapi saya tidak mau berbasa-basi dengan mengatakan hal yang tidak sebenarnya.

Purnawan Kristanto's picture

Kopdarnas Blogger SS Hari III

  Photobucket

Suit...suit.....

Purnawan Kristanto's picture

Foto-foto Kopdarnas

Photobucket

Purnawan Kristanto's picture

Video Kopdarnas Blogger SS

Video Blogger Kopdarnas

Purnawan Kristanto's picture

Menyaksikan "Eksekusi" di Televisi

 

Menyaksikan siaran langsung televisi perihal penangkapan buronan di Temanggung kemarin seperti menyaksikan eksekusi mati. Seseorang yang telah terpojok di kamar mandi diberondong ratusan timah panas dari segala penjuru dan dihempas oleh dua ledakan bom. Akhirnya terkapar tak berdaya.
Sudah lama bangsa Indonesia tak mempertontonkan pelaksanaan hukuman mati di depan umum. Eksekusi selalu dilakukan dengan diam-diam dan sangat tertutup. Pihak berwajib hanya mengizinkan kalangan terbatas yang bisa menyaksikannya. Misalnya rohaniwan dan petugas medis. Bahkan keluarga terpidana juga tidak disertakan. Jika pihak media mengendus, maka aparat akan melakukan strategi pengecohan demi kerahasiaan eksekusi.
 
Hukuman Gantung
 
Ini berbeda dengan zaman kolonial Belanda. Penguasa kadang-kadang melaksanakan hukuman mati justru di ruang publik, seperti di alun-alun, supaya dapat disaksikan orang banyak. Tujuannya tentu menimbulkan efek psikologis pada masyarakat supaya mereka takut melakukan perbuatan yang sama dengan si terhukum.