Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDASpace

Biblikal...tapi Cari Berantem

guestx's picture



Beberapa hari yang lalu jagad maya diramaikan oleh perselisihan antara dua YouTuber Kristen Indonesia. Saya mengetahui tentang hal ini melalui channel salah satu YouTuber Kristen lain yang terlibat dalam pendamaian kedua pihak yang berseteru itu. Entah bagaimana awalnya atau seberapa dalam perselisihan itu tidak dijelaskan dan saya tidak ingin mencari tahu.

Saya sudah menduga sejak lama bahwa cepat atau lambat friksi akan terjadi di antara para pengajar atau apologet Kristen yang menjadi pegiat di Youtube. Judul-judul tayangan yang provokatif sudah cukup menjadi pertanda awal atmosfer apa yang ingin diciptakan oleh para Youtuber itu. Jika pada awalnya pokok bahasan, tantangan dan olok-olok ditujukan pada kaum non-Kristen, belakangan (mungkin karena kehabisan bahan atau lawan), sasaran tembak mulai diarahkan kepada sesama Kristen.

Menggunakan umpan judul yang menarik bahkan kadang agak mengecoh agar pengunjung meng"klik" halaman situs (click bait) ternyata menjadi andalan YouTuber Kristen seperti yang lazim dilakukan oleh YouTuber umumnya. Berbagai gimmick konyol, termasuk buat sayembara atau buat sensasi ala infotainment, juga digebyar. Dunia maya yang relatif kurang beretika dibandingkan dunia nyata sudah mempengaruhi para Kristen tersebut. Alih-alih menjadi garam dan terang bagi lingkungannya, mereka menjadi buah busuk yang mencemari lingkungan. Bukan hanya judul, konten (sebagian) YouTuber Kristen juga tak kalah provokatif. Tudingan vulgar atau ungkapan yang melecehkan bukan lagi hal yang ditabukan.

Hal paling menarik dari perilaku YouTuber Kristen itu adalah tingkat percaya diri level dewa mengenai pemahaman mereka tentang Alkitab. Hampir semuanya, eksplisit atau implisit, mendapuk diri sendiri sebagai orang yang paling paham tentang Firman Tuhan. Sebagian secara terbuka mengakui pemahamannnya didasarkan pada satu doktrin (gereja) tertentu, tetapi semakin banyak pula yang mengembangkan doktrinnya sendiri (atau tanpa sadar melenceng ke sana ke mari). Dalam pembahasan atau perdebatan masing-masing orang mengklaim sebagai orang yang mendasarkan pemahamannya didasarkan pada Alkitab (biblikal), sementara orang lain yang dibahasnya atau lawan debatnya sebagai "ekstra biblikal" atau bahkan menganut pemahaman yang bertentangan dengan Alkitab, sehingga bakal dimasukkan Tuhan ke neraka. Duh.

Saya melihat kecenderungan semakin liarnya "pengajaran Alkitabiah" di YouTube ini akan menjadi bumerang yang akan menghantam balik kekristenan. Setiap orang yang merasa diri Kristen dengan hanya dengan beberapa klik di handphone, tablet atau laptop bisa membuat channel YouTube-nya sendiri. Tanpa biaya, tanpa akreditasi, tanpa seleksi, dalam sekejap seorang bisa mengangkat dirinya sebagai "ahli Alkitab" dan menjadi duta Kristen di dunia maya. Tak ada yang bisa melarang, bahkan jika isi ajarannya jumpalitan tak jelas juntrungnya. Belum lagi kalau YouTuber itu lihai mengemas dagangannya dengan menyebut diri sebagai apologet yang mengelola sekolah atau kursus apologetika.

Biblikal atau Alkitabiah, apakah maksudnya? Siapakah yang memiliki otoritas memastikan maksud kebenaran Firman Tuhan, nubuat nabi atau pengajaran rasul di dalam tulisan di Kitab Suci? Setiap orang bisa dengan mudah membuat tayangan di YouTube yang menyajikan ajaran tak terbantahkan (menurut yang punya channel) dengan dukungan ayat-ayat Alkitab. Menariknya, para "ahli Alkitab" yang mendasarkan argumennya pada Alkitab yang sama bisa berujung pada kesimpulan yang saling bertentangan.

Atas dasar keyakinan yang kuat bahwa dirinyalah yang paling Alkitabiah, maka sebagian orang-orang Kristen di YouTube secara terbuka menyerang Kristen lain yang berbeda pendapat atau berbeda aliran (gereja). Tanpa malu-malu, mereka menyebut orang lain sesat, seakan-akan dirinyalah pemegang kunci Kerajaan Surga. Karena merasa diri di atas angin, maka mereka mengagul-agulkan diri sebagai "pendebat yang tak terkalahkan" dan mengajukan tantangan ke sana ke mari, lalu memeteraikan kemenangannya di tayangan YouTube berikutnya.

Perbedaan pendapat, termasuk teologis, dalam kekristenan bukanlah hal baru. Di dalam kitab Kisah Para Rasul dicatat beberapa perbedaan paham di antara para murid, para rasul dan orang-orang percaya mula-mula. Perselisihan tersebut diselesaikan melalui "sidang para rasul" yang melibatkan orang-orang yang memiliki kepedulian yang tulus dan pengetahuan yang luas mengenai persoalan dan situasi yang dihadapi. Mereka melihat perbedaan pendapat itu sebagai sesuatu yang penting diselesaikan dan mencari kehendak Tuhan.

Bagaimana dengan perbedaan pendapat di zaman YouTube ini?

Perbedaan dan perselisihan bukan lagi muncul situasi yang tak diinginkan tapi terpaksa dihadapi di dalam pelayanan, tetapi sudah menjadi komoditas yang diciptakan untuk menjadi bahan tayangan dan sebagai pemancing viewer di media sosial. Itu sebabnya isu yang dibahas bisa berkisar dari perbedaan doktrin yang sudah berlangsung sejak awal kekristensan, pada masa reformasi hingga zaman kontemporer. Jika para "ahli Akitab" itu paham sejarah doktrin kekristenan, mereka seharusnya dengan jujur mengakui ada bagian-bagian yang tidak mendasar di dalam Alkitab yang tidak konklusif. Alih-alih melihat saudara seimannya sebagai sesama orang yang percaya bahwa Yesus adalah Anak Tuhan Pencipta Semesta yang diutus BapaNya untuk menghapus dosa manusia melalui penderitaanNya di kayu salib, kematianNya dan kebangkitanNya, para YouTuber sibuk mengais-ngais perbedaan dan men"zoom-in" pada soal-soal yang tidak begitu mendasar dan tidak berimplikasi pada keselamatan dan kehidupan kekal.  

YouTube adalah platform terbuka yang setiap bulan digunakan hampir 2 milyar pengguna setiap bulan untuk menayangkan dan menikmati  berbagai konten. Setiap hari 1 milyar tayangan ditonton dan 500 video baru ditayangkan setiap menit.  Komunitas yang demikian besar dan aktif ini menjadi daya tarik bagi "ahli Alkitab" sebagai "ladang pelayanan", termasuk untuk "menjangkau jiwa-jiwa yang tersesat".

Orang-orang yang cuma bisa membeo doktrin (gereja) tertentu tanpa sungguh-sungguh paham jangkarnya di dalam Alkitab bisa mengaku di YouTube sebagai orang "paling ahli tentang Alkitab".  Orang-orang yang punya pengetahuan bahasa Yunani atau Ibrani bisa menyebut diri "lebih ahli tentang isi Alkitab" daripada yang lain meskipun tidak khatam baca Alkitab. Lebih hebat lagi, ada yang menjadi ahli tentang "rahasia Alkitab" yang tersembunyi atau tidak dipahami oleh orang-orang selama 20 abad sebelumnya karena kepadanya dibukakan pemahaman melalui mimpi atau "bisikan".  YouTube menyediakan panggung bagi semua orang. Pemilik channel leluasa menyajikan apa saja (sebatas tidak melanggar aturan YouTube) di atas panggung, termasuk melabel diri sebagai "ahli Alkitab". 

Ada banyak jalan menjadi "ahli" Alkitab. Salah satu cara cepat menjadi "ahli" adalah dengan sering-sering menyelipkan  frasa yang intinya kira-kira sebagai berikut "yang begitu ITU tidak Alkitabiah, yang Biblikal adalah seperti yang begini INI; ayat-ayat Alkitab INI secara jelas gamblang nyata tak terbantahkan mendukung pendapatku, sedangkan ayat-ayat yang kamu sebut mendukung pendapatmu ITU tidak boleh dipahami seperti ITU". Ini adalah jawaban yang bisa dipersiapkan bahkan sebelum pertanyaan diajukan. Resep ini menjadi andalan ampuh para pengajar dan pendebat yang bebal nalar.  Ketika "ahli" bertemu "ahli" lain, apalagi yang berbeda paham, maka godaan untuk menjajal ilmu Alkitab orang lain sekaligus memateraikan status sebagai "ahli yang tak terkalahkan" mungkin sulit dielakkan. Plus, menambah viewers tentunya.

Jadi, siapakah yang sebenar-benarnya yang Alkitabiah di antara berjibun "ahli Alkitab" di YouTube?

 

01.07.2020

 

Gambar oleh waldryano dari Pixabay

__________________

------- XXX -------

nisa's picture

shalom guestx

hola, udah lama ga baca tulisan elo... gue teringat SS gara2 ketemu ama si Tolo di facebook, udah lama sih ketemunya, tapi baru sempet kesini sekarang.

anyway, gue baru tau bahwa "fenomena" pengajaran ala2 jaman sekarang itu lewat youtube yah? so far gue nonton channel2 youtube cuma yg sekuler2 aja, ga pernah kepikir sekali pun untuk yang urusan "onani rohani" beginian. tulisan lo bikin gue bener2 terhenyak *ceile* bahwa gue kurang pergaulan belakangan ini.

so thanks buat info blog ini, gue mau cari channel yg lo sebutin diatas, sukur2 bisa nonton orang2 berantem hehehe