Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDASpace

Loading

literatur

Purnawan Kristanto's picture

Tour de Cangkem at Puerto Qerto [Day One]

Dalam bahasa Jawa, “cangkem” itu artinya mulut. Dalam konteks tertentu, “cangkem” itu berkonotasi negatif. Untuk ungkapan yang lebih halus, biasanya dipakai kata “Tutuk.” Selama dua hari, 15 dan 16 Juli, aku dan teman-temanku mengadakan aktivitas yang berkaitan dengan mulut. Pertama, wisata kuliner yaitu aktivitas mencicipi makanan. Kedua, menjadi fasilitator di tiga pelatihan. Aktivitas ini juga melibatkan mulut. Inilah ceritanya:

Saat turun dari bus Trans Jogja, aku sudah terlambat 20 menit dari waktu yang disepakati.  “Saya menunggu di shelter Bumiputera di seberang hotel Santika.” Itulah bunyi SMSku pada mas Agus dan mbak Tina. Sepuluh menit berlalu, tidak ada respons dari mereka. Aku memutuskan menunggu saja sambil membaca berita Ruhut Sitompul yang menikah lagi. Gereja jelas mengharamkan poligami. Anehnya, pendeta gereja itu mau melayani pemberkatan permikahan. Alasannya karena mendapat tekanan dari ketua sinodenya. “Berarti ketua sinode lebih berkuasa dari Yesus,” gumamku sendirian. Tiba-tiba dari sudut mata, terlihat mobil Xenia merah hati yang menepi. Jemputanku sudah datang.

Purnawan Kristanto's picture

Mengelola Media Gereja itu Sulit

PARA trainer dalam pelatihan penulisan biasanya akan menyatakan bahwa mengelola dan meneribitkan media gampang. Tapi menurut saya, mengelola untuk media gereja itu sulit. Hal ini didasarkan pada analisis terhadap karakteristik pembaca media ini.

Purnawan Kristanto's picture

Strategi Ngeblog

MEMBUAT blog itu sangat mudah dan murah. Menurut statistik yang dikeluarkan oleh Technorati pada tahun 2007, setiap hari ada lebih dari 120.000 blog baru. Angka ini mengisyaratkan satu hal: PERSAINGAN KETAT! Itu sebabnya jika saat ini Anda akan membuat blog, maka Anda harus membuat blog yang menonjol di antara kerumunan blog yang ada.

Purnawan Kristanto's picture

Mengapa Saya Menulis?

Mengapa saya memutuskan menekuni kepenulisan? Saya bingung untuk menjawabnya, sama bingungnya ketika ditanya mengapa saya memiliki iman Kristen? Keputusan untuk menjadi penulis atau menghayati iman Kristen merupakan proses yang sangat panjang dan saya tidak tahu sejak kapan itu bermula.

Purnawan Kristanto's picture

Menerbitkan Buku itu Gampang

"Mengapa belum ada karyamu yang diterbitkan dalam buku?" tanyaku kepada seorang teman. Dengan enteng,

buku

sambil mengutip tulisan Salomo, dia berkilah: “Lagipula, anakku, waspadalah! Membuat banyak buku tak akan ada akhirnya, dan banyak belajar melelahkan badan" (Pkh. 12:12).

"Itu berlaku jika kamu sudah menghasilkan banyak buku," sergahku," masalahnya, kamu belum menulis satu buku pun."

 Dia hanya cengar-cengir sambil menggaruk-garukkan kepala meskipun tak gatal.

***

Siapa bilang menerbitkan karya tulisan untuk menjadi buku itu susah? Setidaknya itulah yang aku alami. Waktu pertama kali menawarkan naskah bukuku, penerbit langsung menyetujui untuk menerbitkan mesipun ada beberapa revisi yang harus kulakukan. Ketika dipajang di toko-toko buku, ternyata angka penjualan bukuku cukup memuaskan. Setelah itu, naskah-naskah bukuku yang lain lulus dengan mulus di penerbit itu.

Purnawan Kristanto's picture

Betawi Expedition:Workshop

Rasanya belum ada satu jam aku tertidur ketika alarm berbunyi. Aku matikan alarm, lalu membenahi bantal dan tidur lagi. Itulah gunanya alarm, untuk membuat jengkel orang yang kurang tidur.

Purnawan Kristanto's picture

Gaet Peluang Blog [2]

”Blog” merupakan singkatan dari kata "web+ log" yang artinya catatan di dalam web. Istilah "weblog" pertama kali dilansir oleh Jorn Barger pada 17 Desember 1997. Sedangkan singkatan "blog," dibuat oleh Peter Merholz, yang sebenarnya membuat plesetan dari kata weblog menjadi we blog di blog Peterme.com. Tak lama kemudian, Evan Williams pada perusahaan Pyra Labs menggunakan kata "blog" sebagai kata benda dan kata kerja ("to blog" atau ngeblog berarti menyunting weblog atau memasang tulisan baru di weblog), kemudian semakin mempopulerkannya dengan meluncurkan produk Blogger .

Catatan-catatan (yang disebut sebagai posting)pada blog sebenarnya menyerupai tulisan pada sebuah halaman web umum. Bedanya, tulisan-tulisan blog lebih sering diperbaharui dan dimuat dalam urut terbalik dengan menganut prinsip ”first in-first out”. Tulisan yang paling baru berada di urutan paling atas, diikuti dengan tulisan yang lebih lama ada di bawahnya.
Purnawan Kristanto's picture

Mau Nulis, Tapi Kok Masih Bingung

Bingung

Kebanyakan [calon] penulis kebingungan ketika duduk di depan layar komputer dan bersiap menulis: "Aku harus menulis apa ya?" Sesungguhnya kesulitan itu tidak perlu terjadi asal orang tersebut sudah mengasah kepekaannya terhadap lingkungan. Ide penulisan itu berseliweran di sekitar kita, masalahnya radar kita kadang kurang peka untuk menangkap sinyal itu.

Penentuan tema tulisan itu seperti juru masak yang akan menetapkan menu makanan. Dia bisa menetapkan berdasarkan dua hal:
Pertama: Dia menentukan jenis masakan berdasarkan bahan-bahan yang sudah dipunyainya. Contoh sederhana, jika dia punya telur mentah maka dia dapat memasak omelet alias telur orak-arik.
Purnawan Kristanto's picture

Terobosan Pelayanan Literatur

Tulisan ini dipicu oleh pertanyaan rekan saya, "Mengapa pelayanan literatur tidak banyak diminati, bahkan terkesan kurang dihargai oleh gereja?" Sebelum menjawab pertanyaan itu, saya justru ingin mempertanyakan pertanyaan tersebut: Benarkah pelayanan literatur kurang dihargai gereja? Ukuran apa yang dipakai sebagai pembanding sehingga didapatkan kesimpulan "kurang dihargai"?

Jika yang dipakai sebagai ukuran pembanding adalah jumlah penerbit Kristen, asumsi tersebut ada benarnya. Menurut data IKAPI, sampai dengan tahun 2000 terdapat 433 penerbit yang tercatat sebagai anggota ikatan penerbit ini. Sementara itu jumlah penerbit Kristen yang saya hitung, berdasarkan buku-buku koleksi perpustakaan saya, ada 25 penerbit.[i]