Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDASpace

Loading

Tour de Cangkem at Puerto Qerto [Day One]

Purnawan Kristanto's picture

Dalam bahasa Jawa, “cangkem” itu artinya mulut. Dalam konteks tertentu, “cangkem” itu berkonotasi negatif. Untuk ungkapan yang lebih halus, biasanya dipakai kata “Tutuk.” Selama dua hari, 15 dan 16 Juli, aku dan teman-temanku mengadakan aktivitas yang berkaitan dengan mulut. Pertama, wisata kuliner yaitu aktivitas mencicipi makanan. Kedua, menjadi fasilitator di tiga pelatihan. Aktivitas ini juga melibatkan mulut. Inilah ceritanya:

Saat turun dari bus Trans Jogja, aku sudah terlambat 20 menit dari waktu yang disepakati.  “Saya menunggu di shelter Bumiputera di seberang hotel Santika.” Itulah bunyi SMSku pada mas Agus dan mbak Tina. Sepuluh menit berlalu, tidak ada respons dari mereka. Aku memutuskan menunggu saja sambil membaca berita Ruhut Sitompul yang menikah lagi. Gereja jelas mengharamkan poligami. Anehnya, pendeta gereja itu mau melayani pemberkatan permikahan. Alasannya karena mendapat tekanan dari ketua sinodenya. “Berarti ketua sinode lebih berkuasa dari Yesus,” gumamku sendirian. Tiba-tiba dari sudut mata, terlihat mobil Xenia merah hati yang menepi. Jemputanku sudah datang.

Namun kami belum bisa segera berangkat harus menjemput mas Arie dulu di Kotabaru. Rutenya memutar kembali. Selepas dari Kotabaru, kami kembali menulusuri jembatan Gondolayu ke arah Barat yang baru saja kami lalui. Kami mengisi bensin di SPBU jalan A.M. Sangaji dan siap menempuh perjalanan panjang. Tujuan perjalanan kami adalah ke Purwokerto atau orang di sana sering mempleserkan kotanya dengan "Puerto Qerto." Misi kami adalah mengadakan pelayanan selama dua hari di sana. Dengan berangkat sekitar pukul 8, kami memperkirakan akan sampai di Purwokerto pukul 15.

“Masih ada waktu 2 jam untuk beristirahat sebelum memulai pelayanan pertama,” kata mas Agus santai.

‘Eh, jangan salah. Sessi saya dimulai pukul 15 lho,” protes mas Arie.

“Masa’ sih? Dalam pembicaraan dengan GKJ Purwokerto, mulainya itu jam 17,” tukas mas Agus.

“Kalau dalam publikasi tertulis pukul 15,” sahut mas Arie.

Daripada debat berkepanjangan, mas Agus menelepon stafnya yang sudah ada di Purwokerto. Ternyata mas Arie benar. Itu artinya kami harus bergegas meluncur ke Purwokerto karena sudah terlambat satu jam. Sekeluar dari SPBU, handphone mas Agus berdering. “Mas, LCD proyektornya ketinggalan,” kata mbak Santi dari ujung telepon.

Blaik! Mengapa justru saat tergesa-gesa begini masih ada yang ketinggalan. Mobil diputar kembali ke Kotabaru untuk mengambil barang yang ketinggalan. Ini untuk ketigakali mobil ini lewat jalur yang sama. Tanpa menunda-nunda lagi, kami segera menulusuri jalan Wates. Jalan agak lengang, sehingga mobil bisa melaju dengan kecepatan sekitar 70 km/jam. Mas Agus yang biasa mengendarai mobil bermesin diesel, kali ini menyopiri mobil dengan bahan bakar bensin.

“Akselerasi mobil berbahan bakar bensin lebih cepat. Sekali injak pedal gas, maka mobil pun melesat,” kata mas Agus. Namun tak urung perjalan yang tergesa-gesa ini membuat mbak Tina was-was yang menjadi navigator di sampingnya. Berkali-kali dia menegor mas Agus yang terlalu dalam menginjak pedal gas.

Memasuki Sumpiuh, waktunya untuk makan siang. Kami mulai pasang mata untuk mencari tempat makan yang cocok. Rupanya makanan khas di sini adalah serba bebek. Ada bebek goreng, sate bebek, bebek goreng atau bebek bakar. Kami memutuskan untuk mampir di rumah makan Abah Ndut.

“Kalau di Yogyakarta ada bebek goreng ‘Pak Ndut’, di sini ada rumah makan ‘Abah Ndut,” kataku. “Seharusnya makanan di sini lebih enak, karena Abah Ndut lebih tua dari Pak Ndut.”


Abah Ndut

Di baliho besar terpampang tulisan “Raja dan Ahlinya Bebek.”  Apakah itu artinya Abah Ndut adalah Raja Bebek? [Membayangkan wajah bebek gendut menjadi raja]. Lalu saat membaca “ahlinya” tiba-tiba saja terlintas wajah birokrat berkumis yang saat berkampanye mengaku ahlinya mengelola Jakarta. Di bawahnya tertulis “Gurihnya sampai ke tulang.” Oke deh, sekali pun aku tidak begitu suka dengan bebek, tapi sekali-kali tidak salahnya untuk  mencoba menu bebek yang katanya guruhnya sampai ke tulang itu. Pada foto besar yang terpampang di dinding ada gambar gulai dada bebek yang tampaknya menggiurkan.

Tahu Kemul

“Saya pesan gulai dada bebek yang bagian kanan ya!” kataku. Pelayannya kebingungan mencatat pesananku. Ketiga temanku yang lain memesan bebek goreng.

Pada menu, tertulis “tahu selimut.”

“Mungkin maksudnya ‘tahu kemul’ lalu dibahasa Indonesiakan menjadi ‘tahu selimut’,” tebak mas Arie.

Pesanan dihidangkan. Aku kecewa karena tidak mendapati dada yang utuh. Yang tersaji di mejaku adalah potongan-potongan daging dan tulang dari berbagai organ. Bukan dada, seperti yang terlihat pada foto di dinding. Begitulah Indonesia. Begitu mudahnya mereka menipu konsumen. Namun kecewaku memudar seiring suap demi suap masuk ke dalam mulutku. Dagingnya tidak berbau amis. Ini adalah parameter utama bila aku menilai masakan dari daging bebek. Jika tidak diolah dengan tepat, maka daging bebek akan terasa amis. Rahasianya adalah dengan membuang  brutu bebek. Organ di bagian ekor adalah bagian yang paling amis karena mengandung banyak minyak. Jika pengusahanya kemaruk dan  tetap menyertakan brutu, maka dagingnya akan berbau amis. Kiat lainnya untuk  mengurangi bau amis yang masih ada adalah dengan mengoleskan laos atau lengkuas. Jika ada warung makan yang menjual ayam atau bebek laos, pada mulanya bumbu itu sebenarnya digunakan untuk mengurangi bau amis.
Gulai Dada

Usai makan, kami tak punya banyak waktu untuk bersantai. Kami segera melanjutkan perjalanan. Selepas Sumpiuh, kami masuk hutan karet Pager Alang. dengan jalan menanjak. Di sini ada sesuatu yang menarik. Di sepanjang jalan ini sering ditemui para pengemis yang duduk di pinggir jalan. Mereka mengharapkan belas kasihan dari lemparan recehan dari dalam kendaraan yang melintas.

Mengapa ada pengemis di tengah hutan ini? Rupannya berkaitan dengan gugon-tuhon atau mitos masyarakat setempat. Mengutip blog Iqmal Tahir:

Ruas jalan ini berupa jalan menembus bukit sehingga separuh jalan harus ditempuh secara mendaki dan sisanya berupa jalan menurun. Pada perbukitan ini terdapat hutan karet yang dikelola oleh PTPN IX Banyumas dengan lahan yang berisikan pohon-pohon karet produktif dengan tinggi sekitar 7-10 meter dan cukup rimbun. Sementara daerah di sekitarnya banyak lahan kebun masyarakat yang umumnya juga ditanami tanaman keras seperti sengon, mahoni atau pohon buah-buahan lain. Tekstur bukit menyebabkan jalan menjadi berkelak-kelok dan banyak tikungan yang harus diwaspadai oleh pengguna jalan.

Kondisi jalan yang berbahaya dan dikombinasikan dengan perilaku pengendara yang tidak disiplin, menyebabkan angka kecelakaan di wilayah ini cukup tinggi. Banyak korban harta, luka-luka dan jiwa yang melayang di kawasan hutan karet ini. Wilayah ini dikenal sebagai jalur maut sehingga muncul kepercayaan bahwa di hutan ini ada "penunggu" yang meminta tumbal dari orang yang melintas. Supaya tidak menjadi korban, maka para pengendara memiliki kebiasaan untuk kula nuwun atau minta izin melintas pada "penunggu" hutan. Ada sopir yang membunyikan klakson dan mengucapkan kata "nderek langkung, mbah" (Permisi, numpang lewat, mbah). Ada juga yang melemparkan koin sebagai "upeti" atau " bayar tol" bagi penunggu hutan Pager Alang. Sebagaimana pepatah "ada gula, ada semut," maka berdatanglah orang-orang yang berburu koin ini. Inilah asal-usul pengemis di hutan ini.

Pengemus

Melewati jalan Jenderal Sudirman di kota Sokaraja, kami melihat deretan toko penjual getuk goreng. Oleh-oleh khas Sokaraja. Ada yang unik di sini. Hhampir semua nama toko di sepenggal jalan yang pendek itu memajang nama “H Tohirin.” Konon, pemilik toko itu memang masih bersaudara, yaitu anak H Tohirin. Sebelum meninggal, supaya mereka tidak berebut warisan maka H Tohirin membagi-bagi hartanya yang kemudian menjadi toko yang bersaing ketat itu.
Tohirin

Sekitar pukul 14, kami sudah masuh kota Purwokerto. Namun kami belum merasa lega karena kami semua belum mengenal kota Purwokerto. Kami harus mencari GKJ Purwokerto yang menjadi tujuan pertama kami. Andalan kami adalah peta Purwokerto. Sebagai navigator, mbak Tina bertugas membacakan peta pada mas Agus.

“Kalau nggak ketemu, jangan khawatir. Kita masih punya GPS,” kataku.

“Mas Wawan membawa GPS?” tanya mas Agus.

“Maksudnya adalah God Positioning System. Jadi kalau nyasar, kita masih bisa berdoa,” candaku untuk mengurangi ketegangan.

Masuk di jalan Jenderal Sudirman, mas Arie melihat sesuatu yang aneh. Ada toko yang menjual toko pancing, senar dan tape ragi.

Kayaknya nggak matching. Masa' toko pancing menjual ragi tape,” kata mas Arie. “Atau barangkali ragi tape itu dipakai untuk membuat benang gelasan?” lanjutnya. Tidak ada yang tahu pasti.

Ternyata tidak terlalu sulit menemukan GKJ Purwokerto. Lokasinya ada di pusat kota. Hanya tersisa sedikit untuk persiapan. Tanpa mandi lebih dulu, meski keringatan, mas Arie berganti kostum dengan baju batik. Sayangnya, karena kurangnya koordinasi dengan panitia lokal, acara yang diagendakan pukul 15 itu tidak dapat terselenggara.

Kami segera mengemas barang bawaan untuk dibawa ke penginapan di jalan Tanjung. Setelah mandi kami segera meluncur ke gedung Bina Kasih milik GKI Gatot Subroto, Purwokerto. Kami mengisi seminar Parenting di sini. Seminar ini merupakan salah satu rangkaian dari Agenda Pekan Anak selama seminggu di Gatot Subroto, Purwokerto. Aku mendapat giliran pertama menyajikan pentingnya  komunikasi antara anak dengan orangtua. Kemudian dilanjutkan mas Arie Saptaji yang menyajikan prinsip dan kiat berpacaran.

Parenting

Ice breaker

Kemudian diakhiri paparan mbak Tina yang menceritakan kisah-kisah inspiratif. Salah satunya cerita tentang ibu dari seorang anak bernama Thomas. Thomas adalah anak yang dianggap bodoh. Saking bodohnya, Thomas sempat dikeluarkan dari sekolah. Namun ibunya tidak mau menyerah. Dia tetap mengasihi dan membimbing anaknya. Saat ini, kita mengenal Thomas melalui penemuannya yaitu bola lampu. Ya, si Thomas yang dianggap bodoh ini adalah Thomas Alva Edison.

GKI Pwt

GKI Gatot Subroto, Purwokerto. Difoto dari dalam mobil yang bergerak

Usai “mengecer cangkem” (meminjam istilah Butet Kertarajasa), kami ditraktir makan malam oleh pdt. Adon Syukmana dari GKI Gatot Subroto. Pilihannya jatuh pada “Sae Niki” (artinya “lebih baik yang ini”). Uniknya, di dekat rumah makan ini, terdapat rumah makan “Eco Niki” (artinya, “lebih enak yang ini”). Kalau muncul pesaing baru, barangkali akan dinamai “Mirah Niki” (artinya, “lebih murah yang ini”).

Karena sudah malam, stok makanan sudah terbatas. Kami hanya bisa memesan paha ayam goreng. Rasa ayam goreng itu dimana-mana sama. Namun yang menjadi unsur pembedanya adalah sambelnya. Rumah makan ini mengandalkan sambel dhadhak.  Mendengar kata dhadhak, aku segera membayangkan getah biji mete yang bikin gatal. Apakah sambel ini memakai biji mete? Ternyata bukan. Dhadhak itu ucapan singkat dari mendadak. Maksudnya, sambel itu diuleg secara mendadak jika ada pesanan (meskipun sebenarnya aku ragu apakah memang benar-benar mendadak atau mereka sudah menguleg lebih dulu supaya cepat disajikan). Karena menggunakan cabai besar, maka sambal ini tidak terlalu pedas. Supaya terasa segar, maka disediakan irisan jeruk pecel. Jika suka, pembeli bisa memeras sendiri

.Niki Sae

Dengan perut yang kenyang, kami kembali ke hotel untuk beristirahat. Esoknya, kami masih harus mengisi dua acara. Aku tidur sekamar dengan mas Arie. Setelah tidak menemukan saluran TV yang menarik, kami memutuskan untuk segera tidur. Sayangnya, kami tidak bisa tidur lelap karena diganggu gigitan nyamuk. Nyamuknya mula-mula hanya satu. Tapi rupanya dia punya banyak follower sehingga ketika mengupdate statusnya, banyak nyamuk yang ikut datang.

--------------------------------

 

Baca Selanjutnya:

Tour de Cangkem at Puerto Qerto [Day Two]

 

__________________

------------

Communicating good news in good ways

X-1's picture

de cangkem?

apa beda:

  • de-cangkem
  • 'ke-cangkem-an
  • 'cangkem-mu

ha ha ha ha hah a... intermezo... pak Pur.. soalnya kalo jawa daerah saya jarang menyebut 'tutuk'

 

mas Arie Saptaji yang menyajikan prinsip dan kiat berpacaran.

Jadi pengen tahu prinsip n kiat pacaran 'kudus' nih.... 

pegang-pegangan tapi kudus, peluk-pelukan tapi kudus, n ****k - ****k-an tapi kudus juga..

ha ha ha ha ha ha ha ... kapan2 ku kejar seminarnya ah...



__________________

mari gila bersama-sama dengan warna merah, kuning, hijau, dan biru..

 

 

Purnawan Kristanto's picture

Kalau mas Arie tidak memakai

Kalau mas Arie tidak memakai istilah "kudus" tapi "Pacaran Asyik dan Cerdas." Dalamnya ada berbagai mitos tentang pacaran. Ada juga prinsip-prinsip pernikahan. Yang sudah menikah masih cocok untuk membaca buku ini.

__________________

------------

Communicating good news in good ways

X-1's picture

thanks pak pur

oke. saya cari bukunya deh..

__________________

mari gila bersama-sama dengan warna merah, kuning, hijau, dan biru..

 

 

Rusdy's picture

White Balance

[MODE ngga nyambung 'en so pinter ON]

White balance di poto terakhir mesti dibenerin tuh, kelewat warm

Purnawan Kristanto's picture

Caranya gimana Rusdy?

Caranya gimana Rusdy?

__________________

------------

Communicating good news in good ways

Rusdy's picture

Pake Picasa

Pake Picasa aja, download dari Google.

Di image editing tab, ada quick fix: dari sharpen, white balance, de el el.

Di foto mas wawan di atas, warna poto yang terakhir kelewat merah (warm). Bisa dibetulin di Picasa: geser 'Colour Temperature' ke arah biru.

Kalo mas wawan jepretnya pake RAW format, betulin di software yang dikasih sama kameranya, lebih tokcer.

Catatan tambahan:

Oiya, mas wawan pake DSLR kan? Jepretnya pake RAW ndak? Kalo Nikon, NEF. Kalo merk laen, namanya laen lagi. Kalo ada fasilitas RAW, kudu dipake. Kelebihannya, semua informasi nggak ilang, nggak kaya JPEG yang udah dikompres. Jadi:

1. Bisa betulin White Balance walaupun jepretan asalnya super kacau

2. Bisa betulin exposure sampe +/- 1 stop (minimal). Jadi, kalo terlalu gelap / terang, bisa dibetulin di post processing.

JPEG masih bisa dibetulin, tapi nggak kasih leg room sebanyak RAW kalo kita melakukan kesalahan ketika ngejepret.

Saya sendiri, kalo mao betulin (crop, rotate, white balance, exposure), pake Canon software saya (jepret RAW tentunya). Terus, buat manage, pake Picasa. Maklum, gara2 digital, jepret sana-sini, jadi ribuan deh. Terus, Picasa jauh lebih cepet dan gampang buat digunaken, dibanding Photoshop Element.

Katanya, Adobe Lightroom bagus banget buat manage & edit, tapi sapa yang mao bayar? Katanya kan nggak boleh ngebajak :).

Purnawan Kristanto's picture

Aku pake Nikon. Kalau

Aku pake Nikon. Kalau menggunakan RAW format, size-nya sangat besar. Lagipula, saya motret itu hanya untuk senang-senang saja, bukan untuk kepentingan profesional. Jadi dengan format JPG saja sudah cukup rasanya.

Saya memotret foto ayam goreng itu dengan penyinaran avaliable light yaitu lampu pijar. Saya nggak suka menggunakan flash light.  Celakanya, white balance masih diatur pada posisi direct sun light. Akibatnya ya warna terlalu hangat itu.

Untuk edit, saya masih fanatik dengan Photoshop 7. Kalau Picasa itu terlalu otomatis. Saya nggak suka karena nggak bisa berkreasi.

__________________

------------

Communicating good news in good ways

ebed_adonai's picture

RAW vs JPEG....

Met, met, numpang sharing juga nih kekasih2... Tongue out

Menurut pengalaman saya (&teman-temin juga), masing2 format RAW dan JPEG ada keunggulannya sendiri2.

Format RAW (sesuai dengan namanya sendiri, RAW alias mentah) seringkali terlalu keras/kasar kontras, gradasi, saturasi dan ketajamannya. Untuk foto2 portrait suka merepotkan (mata terlalu tajem, shadow dagu terlalu kasar, dll). Seandainya make lensa2 supertajem seperti 17-55 atau 70-200, bisa jadi senjata makan tuan. Kalau dipake pas acara mantenan misalnya, yang biasanya harus cepat jadi, seringkali kelabakan kita untuk post processing. Bayangkan saja kalau ngurusi ratusan foto, wuihhhh.

JPEG, walau nggak bisa diotak-atik sedalam RAW (salah satu keuntungan RAW ya itu, bisa diunder/over -2 sampai +2 stop), biasanya lebih siap pakai (=cetak). Nek mau sedia payung sebelum hujan, ya disave pake RAW+JPEG saja. Cuma jangan tanya kalau memori 8GB bisa full dalam waktu yg sebentar saja, hehe .... Laughing

__________________

(...shema'an qoli, adonai...)

Rusdy's picture

Mengenal Kelemahan Kamera

Oiya, tergantung merk dan model apa, kita juga jangan lupa kelemahan kamera kita sendiri. Contoh, kamera saya Canon DSLR, dari tempo doeloe (saya masih pake 350D dari jaman bahenol, eh, bahela) sampe sekarang, kelemahan Canon DSLR masih sama, yaitu: hasil foto kelewat warm (merah) kalo pencahayaan menggunakan lampu bohlam.

Di Nikon, lain lagi. Merk lain, ya lain juga. Makin banyak ngejepret, makin tahu deh! :)

joli's picture

@purnawan. google+

purnawan : Nyamuknya mula-mula hanya satu. Tapi rupanya dia punya banyak follower sehingga ketika mengupdate statusnya, banyak nyamuk yang ikut datang.

nyamuknya pasti bukan pemakai FB ya Wan, coba pakai google+ pasti hanya muter-muter buat lingkaran lingkaran doang, nggak menggigit :p