Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDASpace

Loading

catatan perjalanan

Purnawan Kristanto's picture

Guru Besar yang Jadi Guru Kecil

 

Guru Besar di kalangan akademik adalah posisi yang prestisius. Biasanya dia memberi kuliah di kelas paska sarjana.  Akan tetapi guru besar di Universitas Manado ini tetap meluangkan waktu untuk mengajar anak-anak kecil di kelas Sekolah Minggu. Dia adalah Prof. DR. Julyeta. P. A. Runtuwene, MS. Di tengah-tengah kesibukannya sebagai dosen dan isteri walikota Manado, encik Paula, demikian panggilan akrabnya, memiliki perhatian yang besar atas pelayanan anak-anak. “Jika mendapat jadwal, maka encik Paula mau mengajar Sekolah Minggu,” jelas pdt. Djenny Ratuliu.

Purnawan Kristanto's picture

Tour de Cangkem at Puerto Qerto [Day Two]

Hari kedua di Purwokerto, kami disambut selimut kabut. Mas Arie sudah lebih dulu bangun dan asyik bersaat-teduh di depan laptopnya. Sebelum sarapan, aku menyambar kamera untuk sarapan mata lebih dulu. Pukul 6, jalan mulai dipadati kendaraan. Aku putuskan untuk mengunjungi Taman Makam Pahlawan "Tanjung Nirwana," yang hanya berjarak 500 meter dari hotel. Gerbang utamanya digembok. Mustahil untuk masuk ke dalam.

Makam ini dibagi menjadi dua bagian yang dipisahkan lagi oleh tembok. Bagian depan adalah tanah kosong dengan tugu serupa menhir di bagian tengah. Barangkali di sini sering dipakai untuk upacara. Sedangkan di bagian belakang adalah wilayah pemakaman, namun sayangnya tidak terlihat karena tertutup pagar tembok. Di sekeliling pemakaman ini, terdapat perkampungan yang cukup padat.

13111830951604664398

Purnawan Kristanto's picture

Tour de Cangkem at Puerto Qerto [Day One]

Dalam bahasa Jawa, “cangkem” itu artinya mulut. Dalam konteks tertentu, “cangkem” itu berkonotasi negatif. Untuk ungkapan yang lebih halus, biasanya dipakai kata “Tutuk.” Selama dua hari, 15 dan 16 Juli, aku dan teman-temanku mengadakan aktivitas yang berkaitan dengan mulut. Pertama, wisata kuliner yaitu aktivitas mencicipi makanan. Kedua, menjadi fasilitator di tiga pelatihan. Aktivitas ini juga melibatkan mulut. Inilah ceritanya:

Saat turun dari bus Trans Jogja, aku sudah terlambat 20 menit dari waktu yang disepakati.  “Saya menunggu di shelter Bumiputera di seberang hotel Santika.” Itulah bunyi SMSku pada mas Agus dan mbak Tina. Sepuluh menit berlalu, tidak ada respons dari mereka. Aku memutuskan menunggu saja sambil membaca berita Ruhut Sitompul yang menikah lagi. Gereja jelas mengharamkan poligami. Anehnya, pendeta gereja itu mau melayani pemberkatan permikahan. Alasannya karena mendapat tekanan dari ketua sinodenya. “Berarti ketua sinode lebih berkuasa dari Yesus,” gumamku sendirian. Tiba-tiba dari sudut mata, terlihat mobil Xenia merah hati yang menepi. Jemputanku sudah datang.

iik j's picture

Catatan Perjalanan Ke Pesparawi Nasional IX di Samarinda-Kaltim


"Anda kita tunjuk sebagai Sekretaris Panitia Pengiriman Kontingen Pesparawi Provinsi Jawa Tengah!" kata seorang dari Departemen Agama beberapa bulan lalu

"Tunggu pak... sampai detik ini saya nggak ngerti Pesparawi itu apa, bagaimana dan macem-macemnya. Saya tidak mempunyai pengalaman sama sekali dalam hal ini" jawabku sambil berusaha mengelak

Tapi sejuta cara mereka pakai, merayu bosku, begini begitu dan akhirnya 'terjerumuslah' aku di urusan Pengiriman Kontingen Paduan Suara dan pernak perniknya. Mendesain logo, mengkoordinir, mendata, menghitung anggaran, menyusun proposal, membuat surat-surat sampai audiensi dengan Gubernur, menjadwal rapat, promosi TV, radio, Konser Pamit hingga carter pesawat. 3 bulan yang melelahkan...

arie_saptaji's picture

Sahabatku di LP Wirogunan

“Maaf ya, harus bertemu di tempat seperti ini.” Itu ucapan pertama yang terlontar dari mulutnya begitu kami berjabatan tangan. Ia memandangku dengan mimik yang membuatku yakin, ini memang ST yang kukenal dulu. ”Malu enggak?”

Purnawan Kristanto's picture

Betawi Expedition:Workshop

Rasanya belum ada satu jam aku tertidur ketika alarm berbunyi. Aku matikan alarm, lalu membenahi bantal dan tidur lagi. Itulah gunanya alarm, untuk membuat jengkel orang yang kurang tidur.

y-control's picture

Mudik

Ratusan kilometer dilalap dua roda itu. Perjalanan panjang dan melelahkan dengan motor ini sebenarnya tidak saya rencanakan sama sekali. Yang saya rencanakan adalah seperti biasa, pulang ke kota asal yang hanya sejarak 60 kilometer dari tempat saya mengadu nasib saat ini. Tapi, karena satu dan lain hal tiba-tiba jadwal kepulangan dia menjadi tidak pasti. Maka, saya pun usul mengantarkan dia ke kampung halamannya di Kebumen, sekitar 3 jam dari Jogja. Sebelum ini saya sudah dua kali ke sana, tapi toh saya masih selalu takut dengan perilaku pengguna jalan di rute itu.