Purnomo's blog

Tangan kiri tak tahu

Dalam sebuah ruang pameran seni rupa, ada sebuah kotak kayu dipajang. Di sisi depan tergambar salib, dan di sisi atas ada lobang memajang seperti mulut celengan. Setiap orang Kristen pasti tahu barang itu adalah kotak persembahan yang biasa diletakkan di pintu masuk ruang kebaktian. Tetapi yang membuat kening berkerut adalah di atas kotak itu diletakkan lampu darurat seperti yang biasa menempel di atas mobil ambulan. Dalam sunyi cahaya merah yang berkelebatan menghadirkan suasana mencekam.

Berebut kantong kolekte

Waktu saya tinggal di Medan, gereja tetangga mengadakan serial malam pembinaan iman bagi jemaat yang dipimpin oleh pendeta barunya. Pendeta ini pindahan dari Padang, di mana saya pernah menjadi jemaatnya sewaktu saya tinggal setahun di Padang. Karena itu saya menghadiri acara ini, sekalian temu kangen. Tidak disangka di sini saya kena semprot seorang ibu penatua.

Mengebiri Kitab Maleakhi

Berapa ayat Alkitab yang Anda hafal? Masih ingat yang ini, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya …….” ? Ayat ini ada di Yohanes 3:16 yang mendasari pelajaran katekisasi. Masih ada satu lagi favorit orang beriman. “Tuhan adalah Gembalaku, takkan kekurangan aku. . . . .” dalam Mazmur 23 yang selalu terngiang bila kita sedang digulung masalah. Those verses are the most precious ones for us.

KAU lah segalanya bagiku.

Sebenarnya apa sih perlunya Tuhan menyuruh kita memberi persembahan persepuluhan (selanjutnya disingkat ppsp)? Tuhan itu Mahakaya. Tidak benar seorang konglomerat minta uang dari pemulung sampah yang miskin.

Titah Kadaluwarsa

Pernah, sebelum “badai” meluluh-lantakkan gereja-gereja di daerah tapal kuda Jawa Timur, saya menghadiri kebaktian Minggu di sebuah gereja di Situbondo. Kebetulan hari itu ada baptis dewasa. Gereja itu termasuk kelompok gereja lama, atau biasa disebut main stream. Saya tidak bisa melupakan acara itu karena para baptisan diminta mengucapkan 2 janji yang belum pernah saya dengar di gereja lain.

Derma untuk Gereja

Memberi itu tidak gampang (bgn ke-1)

Ia mahasiswa baru, berasal dari desa. Setelah sebulan tinggal di kota ini, baru ia berhasil memutuskan gereja mana yang akan dikunjunginya. Hari ini adalah hari pertamanya berkunjung ke gereja pilihannya itu. Tiba di pintu gereja, ia dihadang dua gadis remaja. Yang seorang setelah mengucapkan kata “selamat pagi”, menyematkan pita biru mungil ke bajunya. Temannya kemudian menyodorkan sebuah kotak karton yang bertuliskan “Aksi Pita – Natal Sekolah Minggu”.

JAGA IMAGE - bag.2

Firman Tuhan kepada Israel (Ulangan 6:5-9): ”Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu. Apa yang Kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun. Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu, dan haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu.”

Tagged:

JAGA IMAGE

Dua jam terbang dari Medan ke Jakarta, 1 jam tiduran di airport Cengkareng, 1 jam terbang lagi, akhirnya saya sampai di my home town. Cuti 14 hari, setelah 1 tahun berkelana di seluruh daratan Sumatera. Rasanya seperti TKI pulang kampung. I feel absolutely free. Bebas dari pekerjaan yang tak pernah habis, yang menguras tenaga, pikiran dan mental. Bebas dari deringan hape yang jika tak ingat ini inventaris kantor pasti sudah saya tenggelamkan ke dalam mangkuk sup. Apalagi bila suara di seberang bermelodi panik dan datang dari Aceh yang suhu politiknya sedang mendidih.

Tagged:

Tergusur, tetapi tidak terkubur - bag.2

Apa yang harus saya tulis di bagian ke-2 ini? Rasanya bagian ini sudah ditulis oleh para komentator di bagian ke-1 (Kalau mau baca klik di sini) yaitu bagaimana bersiasat agar artikel kita tetap berada di halaman muka. Bukan, bukan dengan mengecoh kalimat program situs ini. Masak mau merusak milik sendiri? Tetapi dengan menyambut ramah para komentator yang datang, dan menulis jawaban terhadap komennya dengan judul yang menggelitik. Dengan siasat ini pula bagian ke-1 dalam waktu 7 hari telah mengumpulkan 464 hits. Ini “wow” buat saya karena untuk artikel yang jauh lebih berbobot, misalnya “Menyiasati Biaya Pendidikan”, hanya mendapat 458 hits. Karena itu lebih baik di bagian ke-2 ini saya menulis sekitar para komentator yang bagi orang baru tampak sangat menakutkan. Blogger lama sebaiknya tidak ikutan membaca agar tidak tersinggung. Okey?

Tergusur, tetapi tidak terkubur.

Artikel yang baru saya posting langsung terpampang di halaman utama situs ini. Selama satu menit saya memandangi halaman utama sambil cengengesan. Saya membuka aplikasi imel untuk melihat apakah ada surat masuk. Setelah selesai, saya kembali ke situs ini. Ternyata tampilan halaman utamanya telah berubah. Ada blogger baru mengunggah 5 artikel sekaligus sehingga artikel saya tidak tampak di layar monitor karena pindah ke bawah. Saya tutup situs ini. Tetapi sesaat kemudian saya buka kembali karena teringat ada baiknya bersurat ke blogger ini. Begitu halaman utama terbuka mata saya terbelalak. Ada blogger yang baru saja mengunggah 9 artikel nostalgia semasa ia duduk di PG sampai kelas 6 SD. Artikel saya sudah pindah ke halaman dua.

Operet Natal Anak - bag.3

Sekolah Minggu dalam merayakan Natal sering mementaskan kisah kelahiran Tuhan Yesus. Ada yang disajikan dalam bentuk sandiwara, ada yang dalam bentuk gerak dan lagu. Bagi anak-anak yang saat itu baru pertama kalinya datang ke gereja karena diajak temannya, mata acara ini sangat menarik. Tetapi bagi mereka yang sudah bertahun-tahun menjadi anak Sekolah Minggu, mereka kurang memperhatikannya karena sudah hafal jalan ceritanya. Solusinya? Bagaimana bila kisah itu disajikan dalam bentuk baru yang belum pernah mereka lihat? Misalnya, operet – opera kecil – di mana semua narasi dan dialoknya dinyanyikan dengan iringan musik.

Operet Natal Anak - bag.2

Sekolah Minggu dalam merayakan Natal sering mementaskan kisah kelahiran Tuhan Yesus. Ada yang disajikan dalam bentuk sandiwara, ada yang dalam bentuk gerak dan lagu. Bagi anak-anak yang saat itu baru pertama kalinya datang ke gereja karena diajak temannya, mata acara ini sangat menarik. Tetapi bagi mereka yang sudah bertahun-tahun menjadi anak Sekolah Minggu, mereka kurang memperhatikannya karena sudah hafal jalan ceritanya. Solusinya? Bagaimana bila kisah itu disajikan dalam bentuk baru yang belum pernah mereka lihat? Misalnya, operet – opera kecil – di mana semua narasi dan dialoknya dinyanyikan dengan iringan musik.

Operet Natal Anak - bag.1

Sekolah Minggu dalam merayakan Natal sering mementaskan kisah kelahiran Tuhan Yesus. Ada yang disajikan dalam bentuk sandiwara, ada yang dalam bentuk gerak dan lagu. Bagi anak-anak yang saat itu baru pertama kalinya datang ke gereja karena diajak temannya, mata acara ini sangat menarik. Tetapi bagi mereka yang sudah bertahun-tahun menjadi anak Sekolah Minggu, mereka kurang memperhatikannya karena sudah hafal jalan ceritanya. Solusinya? Bagaimana bila kisah itu disajikan dalam bentuk baru yang belum pernah mereka lihat? Misalnya, operet – opera kecil – di mana semua narasi dan dialoknya dinyanyikan dengan iringan musik.

THE WAR OF THE WARoengS - bag.4

Be creative

Ketika saya sedang berbincang-bincang dengan pemilik warung di sebuah desa di punggung Pegunungan Bukit Barisan, mendadak ada aroma harum lembut menyambar hidung saya. Seorang kernet angkutan umum berdiri di dekat saya membeli air mineral. Saya hafal bau itu karena pernah mengakrabinya. Rambutnya kinclong. Itu bau pomade merek beken yang pernah saya pakai. Krismon membuat saya beralih merek. Tetapi di sini malah seorang kernet bisa memakainya. Keluar dari warung itu, melihat angkutan umum berlalu lalang, saya heran. Kebanyakan rambut kernetnya rapi berminyak. Saya mendekati seorang kernet yang sedang mencari penumpang. Hidung saya menangkap bau wangi lembut merek lain. Saya penduduk kota besar, mengapa kalah dengan kernet di pelosok pegunungan ini? Pertanyaan “mengapa” memberi tantangan untuk berburu.

THE WAR OF THE WARoengS - bag.3

Skandal talenta 521

Di sebuah negeri entah di mana, ada seorang pedagang besar yang mau pergi ke luar negeri. Karena itu ia mempercayakan kelangsungan bisnisnya kepada pegawai-pegawainya. Yang pertama diberi modal 5 talenta, yang kedua dapat 2 talenta dan yang ketiga, cliiiiing, 1 talenta saja. Masing-masing menurut ketrampilannya. Pegawai yang pertama dan kedua segera memanfaatkan uang itu dan mendapat laba 100%. Yang ketiga, menguburnya dalam tanah agar tidak hilang karena dulu tidak ada bank. Ketika Bigboss kembali, ia meminta laporan keuangan mereka. Pegawai yang pertama dan kedua mendapat pujian setelah memaparkan usaha yang dilakukan. Yang ketiga mengembalikan modal tanpa SHU. Ia kena marah. Bahkan dihukum berat.

THE WAR OF THE WARoengS - bag.2

Dalam mengelola warung, “ketulusan merpati” saja tidak cukup. Kita harus juga memiliki “kecerdikan ular” (Matius 10:16) dalam mendapatkan barang murah tapi tidak kadaluwarsa; mengelola persediaan barang dengan modal kecil; menentukan laba dalam ketatnya persaingan; mengefisiensikan ruang warung yang sempit; melakukan promosi kecil berdampak besar. Dari berbagai pengetahuan ini, manakah yang paling penting? Anda pasti setuju bila saya mengedepankan ketrampilan menentukan laba. Bukankah kepandaian ini yang membuat sebuah warung berjaya?

THE WAR OF THE WARoengS

Beberapa tahun terakhir ini saya tinggal di pinggir kota dekat kawasan kampus universitas negeri. Bisnis eceran di sini ramai sekali. Warung internet ada 7 dan 2 di antaranya buka 24 jam. Ada yang sejamnya hanya 4 ribu rupiah. Rental komputer dan printer yang bagus mutunya setidaknya ada 3. Gerai fotokopi tak terhitung. Gerai ponsel dan kartu pulsa, juga banyak. Salon, kios reparasi sepatu, vermak jeans, bengkel sepeda motor, economic price fitness centre, bank, kantor pos pembantu, biro perjalanan, mini market juga ada. Warung kelontong dan tenda mamimu (makan-minum-murah) berlerot.

CINTA tanpa KEBERSAMAAN

Putri sulung saya, yang masih kelas 1 SD, minta jajan KFC bersama saya. Pagi itu saya bilang ya. Memang kami punya acara makan bersama di luar 1 bulan sekali. Ternyata kesibukan kerja membuat saya lupa akan janji saya. Saya juga tidak ditelepon karena ibunya tidak mau mengganggu saya. Saya tiba di rumah hampir pukul 8 malam. Anak ini sudah makan tetapi tidak mau tidur karena menunggu saya. Ia sudah siap dalam pakaian bepergian dan berdiri, entah sudah berapa lama, di pintu rumah.

Biar buta kedua mataku

“Saudara-saudara tentu sudah tahu bagaimana Andi (bukan nama sebenarnya) anak saya. Baru setahun ia kuliah, ia terjerat narkoba. Syukur ia bisa sembuh. Tetapi ia malu sehingga tak mau kuliah dan ke gereja lagi. Pergi ke rumah teman pun tidak. Setiap malam saya menangis ketika menyebut namanya dalam doa selama hampir 2 tahun ini. Sering saya bertanya mengapa Tuhan tidak mendengar doa saya. Saya menolak anjuran orang untuk membawanya ke orang pintar, karena saya tetap berharap kepada Tuhan kita. Hari Minggu lalu sesuatu terjadi pada dirinya, ia . . . . .” ibu itu tak bisa meneruskan perkataannya karena berusaha menahan tangisnya.

Pantaskah menerima uang dalam pelayanan?

Ketika saya menjadi anggota pengurus sebuah organisasi Sekolah Minggu yang besar, untuk menangani kekosongan guru SM yang bisa mendadak terjadi di pos-pos, saya membentuk tim darurat yang anggota-anggotanya secara mandiri siap bergerak cepat menangani keadaan itu. Suatu hari seorang teman menegur saya. “Seorang anak buahmu hutang uang kepadaku untuk menambal ban motornya yang bocor. Apa mereka tidak kamu bekali uang untuk beli bensin atau menambal ban motornya?” Tidak, jawab saya.

Tampilan Terbaik di 1024 x 768