Submitted by Purnomo on

          Di warta gereja aku membaca majelis menerbitkan sebuah peraturan baru menggantikan yang lama tentang tim pelawatan. Aku tidak menyukainya. Karena itu aku mencari penatua untuk menyampaikannya.



          Kepada penatua pertama (P-1) yang aku temui aku berkata, “Memangnya tidak ada seorangpun majelis yang tahu peraturan yang lama itu lebih bertumpu pada buku tagertalak terbitan sinode? Satu dua orang penatua tidak pernah baca tagertalak bisa dimaklumi. Tetapi kalau semua tidak pernah baca ya keterlaluan. Jangan tergesa-gesa merubah peraturan lama. Kalau mau membuat peraturan baru, sosialisasikan dulu dan tampung masukan dari anggota jemaat.”

          Kemudian aku bertemu penatua kedua (P-2) dan aku berkata, “Peraturan yang baru aku lihat ada positipnya. Tetapi aku melihat ada kemungkinan memunculkan ekses negatip, misalnya membuat tim hanya datang ke rumah duka hanya untuk duduk-duduk saja. Atau bila melawat orang sakit yang berdoa ya orang itu-itu saja sehingga tidak ada kaderisasi. Aku berharap majelis sudah memprediksinya dan membuat petunjuk pelaksanaannya untuk mengurangi dampak negatipnya.”

          Ketika akan pulang aku bertemu penatua ketiga (P-3) dan aku berkata, “Aku tidak suka peraturan baru tentang tim pelawatan. Tapi mau gimana lagi, majelis itu ‘kan yang punya kuasa dan tidak pernah bisa dikoreksi. Kalau itu jadi dilaksanakan, aku pindah gereja saja daripada kelamaan di sini aku tidak merasa sejahtera.”

          Disadari atau tidak, setiap orang punya 3 Ego (Saya) dalam dirinya. (P-1) Ego Ortu yang menggurui atau menasehati, (P-2) Ego Dewasa yang rasional, (P-3) Ego Anak yang merajuk atau easy going. Walau umurku sudah memenuhi syarat masuk ke panti jompo, aku masih menyimpan Ego Anak. Buktinya, aku masih suka main game di hape. Tetapi bukan karena aku sudah mengalami masa Anak, Dewasa, dan Ortu aku memiliki 3 Ego ini sekaligus. Seorang anak bisa saja juga memiliki Ego Ortu. Perhatikanlah anak-anak balita ketika berbicara dengan teman-teman TK-nya. Ada yang gemar menasehati bahkan memarahi temannya yang nakal.

          Kasus tim pelawatan di atas adalah fiksi. Itu sekedar contoh dari 1 orang bisa keluar 3 pernyataan dengan inti yang sama tetapi dengan Ego yang berbeda.

          Ego Ortu tidak selalu jelek asalkan penyampaiannya dipoles halus.
          Ego Dewasa tidak selalu baik karena kalau terus-terusan dipakai orang tidak berani bercanda dengan kita.
          Ego Anak perlu untuk selingan segar, tetapi kalau terus-terusan dipakai kita bisa dilabel “mbocahi”.

          Ketika mendiskusikan sebuah topik dengan seseorang, kita bisa mempergunakan 3 Ego ini bergantian. Aku melihat mereka yang pandai memainkan 3 Ego ini lebih mudah bergaul dengan siapa saja. Dia tahu waktu yang tepat menyampaikan nasehat, dia tahu kapan saatnya mengajak lawan bicaranya berpikir rasional, dan dia juga tahu kapan harus cekikikan. Anda juga?

** gambar diambil dengan google sekedar ilustrasi.