Setelah pagi tadi mampir di desa Grabag menjenguk mantan koster gereja, tengah hari aku bersama rombongan paduan suara yang sedang berwisata sampai di Jogja. Bis diparkir di utara Malioboro dan aku memisahkan diri dari rombongan berjalan menyusuri jalan itu ke selatan. Aku berbelok ke Suryatmajan, sampai ke ujung berbelok ke utara. Ada warung sate ayam di utara pertigaan itu. Aku tahu enak, karena setahun yang lalu pernah ditraktir oleh seorang pesbuker di situ. Sayang, warung itu tutup. Aku terus berjalan ke utara. Di seberang warung soto ayam Klaten aku duduk di emper toko yang tutup. Pantatku pegal sekali.
Malioboro dan Mataram tidak berubah. Yang berubah diriku. Baru 1 jam berjalan aku sudah terkapar. Setengah jam kemudian aku melanjutkan berjalan. Sampai di sebuah hotel aku berbelok ke lorong sempit di sebelahnya, Sosrokusuman, yang hanya 1 meter lebarnya. Hotel2 kecil di situ tidak berubah walau telah puluhan tahun berlalu. Sampai di Malioboro aku berbelok ke utara lalu menuju setasiun Tugu. Horeeeeee ketemu, Soto Sulung Madura yang 40 tahun lalu jadi langgananku karena bila aku bertugas di Jogja selalu aku menginap di hotel seberang setasiun.
Rupanya soto itu tidak berubah. Nasi pun masih disajikan dalam bungkusan kertas koran. Aku memeras 3 irisan jeruk nipis ke dalam soto itu. Rasanya tidak berubah. Selesai makan aku berjalan menyusuri jalan Pasar Kembang menuju tempat parkir bis. Ternyata ada yang berubah. Perutku mulas. Pasti lambungku tak lagi tahan kemasukan jeruk nipis. Karena menahan sakit aku tak menggubris tawaran ojek motor, bahkan bila pengemudinya cewek. Sampai di bis aku melihat seorang lelaki berambut putih di pintu. Dia bukan rombonganku, walau dia penatua gerejaku. Dia sedang memimpin rombongan wisata PKK kampungnya.
Bertahun-tahun dia menjadi 'lawanku' di gereja, sampai suatu peristiwa menimpa dirinya sehingga aku tak lagi menjahilinya.
Bertahun-tahun dia berumahtangga tetapi tidak juga dikarunia keturunan sehingga akhirnya dia mengadopsi seorang bayi lelaki. Ketika anak ini berusia 7 tahun, istrinya hamil, setelah 16 tahun menikah. Tuhan memberi mukjizat yang luar biasa berupa kelahiran seorang bayi perempuan yang cantik. Puteri ini tumbuh dan menjadi kesayangan banyak orang di gereja. Ketika Sheila berusia 6 tahun suatu hari dia kena demam tinggi. DB kata dokter. Dia dirawat di rumah sakit dan suatu hari dia meninggal dalam gendongan ayahnya.
Kalau Tuhan memang tak suka dia punya anak kandung mengapa Dia memberinya? Apakah Tuhan ingin menunjukkan kekuasaan-Nya melalui kesemena-semenaan-Nya?
Inilah the critical point bagi pemeluk agama - agama apa saja - ketika semua kebaikan telah dilakukannya, ketika semua kewajiban agama telah diperjuangkannya, tiba-tiba saja dia dihadapkan kepada kekejaman Tuhan. Jika itu terjadi pada diriku, aku akan memaki orang yang tidak suka aku tak lagi ke gereja dan mengatakan seluruh isi Alkitab adalah omong kosong. Orang boleh bilang Tuhan itu tetap sama tidak berubah, tetapi aku mau mereka mengerti aku yang berubah.
Tetapi dia tetap setia.
(23.06.2013)