Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDASpace

Loading

Catatan Harian

Pak Tee's picture

Lelaki Tua, Tuhan dan Burung Merpati

      Lelaki tua itu tampak gemetar tangannya ketika memberi makan burung-burung merpatinya. Dia tersenyum kepadaku. "Senang aku, kau mau kesini! Ambillah mana yang kausukai!"

Pak Tee's picture

Menunggu Lebih dari 10 Tahun!

      "Semua indah pada waktuNya! WaktuNya berarti bukan waktu kita, tetapi waktu Tuhan!"

      Aku tersenyum mendengar ceritanya. Orang tuanya meminta dia mengadopsi anak ketika usia pernikahannya masuk tahun keempat. Empat tahun kemudian dia baru mau memenuhi permintaan itu.

Pak Tee's picture

Tidur panjang

      "Waktumu hampir tiba, lakukanlah yang terbaik!" Aku terperangah. Antara sadar dan tidak, aku melihatNya. Sungguh cantik! Malaikat itu tersenyum kepadaku. Lalu seketika raib, lenyap dari pandanganku. Aku pun melipat tanganku. Tak ada kata-kata yang terucap, tetapi hatiku meluap penuh dengan ucapan syukur. Tak terasa, air mataku meluncur turun, membasahi pipi.

Purnawan Kristanto's picture

Honornya Segelas Teh Manis

Hari Senin, 12 Agustus saya diundang oleh Yayasan Sahabat Gloria, Jogja untuk menjadi fasilitator dalam pertemuan Guru Agama Kristen se-DIY yang tergabung dalam TeGAK. Saya jadi ingat cerita teman saya yang menjadi guru agama di pelosok Gunungkidul. Kami sama-sama menjadi guru sekolah minggu di GKJ Wonosari, namun mengajar di pepanthan. Saya mengajar di Sekolah Minggu pepathan Bendungan, dia mengajar di pepathan Banjarejo. Jaraknya sekitar 30 km dari kota Wonosari ke arah pantai selatan.

Teman saya ini prihatin melihat siswa-siswa sekolah di sekitar rumahnya yang tidak mendapatkan pelajaran agama Kristen. Oleh karena itu, dia mengajukan diri menjadi sukarelawan untuk mengajar pelajaran agama Kristen di tiga sekolah. Honornya? Jauh dari kata layak. Bahkan ada satu sekolah negeri yang hanya memberikan imbalan berupa segelas teh manis yang tersedia setelah mengajar. Padahal untuk berangkat dan pulang ke sekolah itu, ia harus mengayuh sepeda. Jangan dibayangkan bahwa medan di tempatnya itu rata dan jalannya halus. Setiap kali mengajar dia harus menaklukkan tanjakan bukit dan terguncang-guncang karena menerjang jalan berbatu-batu.

Lalu bagaimana dia mencukupi kebutuhan hidupnya? Dia menjadi kuli. Selepas mengajar atau pada hari-hari libur, dia mendapatkan upah dengan memecah batu-batu kapur untuk dijual sebagai bahan pembuat gamping.

Purnawan Kristanto's picture

Mendengar, itu Biasa. Membaca, itu Luarbiasa

 

Jemaat yang mendengar itu biasa. Kalau ada jemaat yang membaca, itu baru luarbiasa!

Ketika blender belum diciptakan, apa yang dilakukan oleh sang ibu ketika dia akan memberikan makanan padat kepada bayi yang belum banyak tumbuh gigi? Sang ibu akan mengigit makanan padat itu, mengunyah-ngunyah di mulutnya selama beberapa saat. Setelah lembut, barulah dia mengeluarkan makanan dari mulutnya lalu menyuapkannya ke mulut bayi. Bagi orang dewasa itu agak menjijikkan tapi bagi bayi hal itu biasa saja.

Selama berabad-abad, jemaat Kristen itu seperti bayi yang belum bisa mengunyah makanan keras ini. Setiap minggu mereka datang ke gereja untuk mendengarkan pemberitaan firman Tuhan. Mereka mengangakan mulutnya untuk menerima suapan makanan lembek. Beberapa hari sebelumnya, sang pengkhotbah telah mempersiapkan diri dengan membaca firman Tuhan. Ini seperti seorang ibu yang sedang mengigigit dan mengunyah-ngunyah makanan keras. Ketika hari Minggu tiba, sang pengkhotbah nglepeh makanan di mulutnya dan menyuapi mulut-mulut "bayi" yang kelaparan itu.

DSC_8307

Purnawan Kristanto's picture

Father and Daughter's Time

Sore hari adalah "Father and Daughter Time". Itulah waktu kebersamaan antara Kirana dan papanya. Ada bermacam-macam aktivitas yang dilakukan. Misalnya main ke toko buku, nongkrong di alun-alun, menggambar bersama, di depan laptop bersama (saya dengan laptop saya, dia dengan laptop mamanya), bikin kerajinan tangan, dll. Berikut ini tiga kisah kebersamaan kami.