Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDASpace

Loading

Lelaki Tua, Tuhan dan Burung Merpati

Pak Tee's picture

      Lelaki tua itu tampak gemetar tangannya ketika memberi makan burung-burung merpatinya. Dia tersenyum kepadaku. "Senang aku, kau mau kesini! Ambillah mana yang kausukai!"

      Rambutnya sudah putih, bagiku dia seorang kakek yang baik. Burung merpati yang dipeliharanya begitu banyak, dan jika aku mau, aku boleh membawanya pulang sepasang.

      "Kek, kenapa tidak dijual saja?"

      Dia menatapku. "Burung-burung itu selalu mengingatkanku akan Tuhan...!"

      Lelaki tua itu memandang burung-burungnya, menepuk bahuku, dan berkata, "Dulu, aku pernah menjual semuanya! Ya....semua! ...Kau tahu, pembelinya ternyata seorang penjual makanan, seorang penjual burung dara goreng! Seandainya aku tahu sebelumnya, aku pasti tidak akan pernah menjualnya!"

      Lelaki tua itu menghela nafas panjang. Diambilnya sebuah batu, dibantingnya dengan gemas ke tanah. Dia pun melanjutkan ceritanya. "Seekor burung betinaku berhasil kembali ke kandangnya. Burung itu tampak begitu haus dan lapar. Dan ketika aku memberi makan dan minum burung itu... aku seolah mendengar suara Tuhan... 'Lihatlah! Aku tetap setia! Sekalipun engkau melakukan yang jahat atasKu!'

      "Aku tak bisa berbicara saat itu. Entah kenapa, lidahku kelu. Aku ingat dosa-dosaku... dan pengorbanan Tuhan untuk hidupku!"

      Lelaki tua itu matanya basah.

*****

      "Sejak saat itu aku tak lagi berminat menjual burung-burungku!"

      Sekali lagi lelaki tua itu menawarkan burungnya kepadaku, "Ambillah sepasang mana yang kausuka, mereka akan mengingatkanmu pada Tuhan....!"

      "Kek...! Kakek punya cerita yang lain tentang burung-burung kakek.... bagaimana burung-burung itu bisa mengingatkan kakek pada Tuhan?"

      "Ya! Ketika burung betinaku yang setia itu pulang, aku memberikan jodoh padanya. Burung itu bertelur, dan telurnya menetas. Anaknya dua ekor, setiap pagi menciap-ciap minta makan kepada kedua induknya. Aku senang melihat induknya bergantian memberi makan kedua anaknya. Anak-anak burung itu tampak begitu kenyang dengan tembolok yang terisi penuh, sementara mata mereka terpejam-pejam.... lucu sekali!"

      Lelaki tua itu begitu antusias bercerita. Aku jadi ingat almarhum ayahku, yang dulu juga suka mendongeng untukku.

      "Suatu hari..... kedua induk burung itu hilang! Kau tahu? Aku bersusah payah berusaha menyuapi kedua anak burung itu supaya mereka tidak mati kelaparan. Aku menumbuk beras, dan memberinya sedikit air. Tapi.... betapa susahnya aku melakukan semua itu! Tembolok anak-anak burung itu lebih banyak terisi air daripada bubuk beras. Apa yang harus kulakukan? Aku hampir putus asa....

      "Untunglah esok harinya aku bisa menemukan kedua induk burung itu. Seseorang telah menangkap dan mengurungnya. Aku menebus (membeli kembali) kedua induk burung itu. Dan kau tahu....? Anak-anak burung itu hidup. Suara ciap-ciap mereka kembali terdengar. Mata mereka kembali terkantuk-kantuk. Dan tembolok mereka kembali penuh. Aku begitu terharu melihat mereka. Dan Tuhan kembali berbicara dalam hatiku : "Lihatlah! Di tangan siapakah engkau hidup? Kenapa engkau kawatir? Di tangan Bapamu engkau terpelihara.... Tuhan tidak pernah berhenti memberkatimu, dan Dia tidak akan pernah meninggalkanmu....!'

      "Kau tahu? Aku begitu terharu! Aku jadi begitu yakin akan penyertaan Tuhan...!"

*****

      "Kek! Aku jadi penasaran! Yang mana kek, burung betina kakek yang setia itu...?"

      Lelaki tua itu terdiam lama. Dia memandangku dan mengusap air matanya.

      "Burung itu sudah tiada...!"

      "Burung itu sudah mati, kek?"

      Lelaki tua itu mengangguk.

      "Burung itu kutemukan mati dalam posisi mengerami telur-telurnya. Kepalanya hilang. Dari lehernya ada darah. Agaknya burung itu mempertahankan telur-telurnya dari predator yang menyerangnya."

      "Predator? Adakah?"

      "Ada banyak tikus di sekitar sini...."

      Aku menghela nafas. Mata lelaki tua itu menerawang jauh.

      "Sama seperti Tuhan...., rela mati untuk kita!"

      Aku tak bisa berkata-kata.

dan turunlah Roh Kudus dalam rupa burung merpati ke atas-Nya. Dan terdengarlah suara dari langit : "Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan" (Lukas 3 : 22).

__________________

Seperti pembalakan liar, dosa menyebabkan kerusakan yang sangat parah dan meluas. Akibatnya sampai ke generasi-generasi sesudah kita. Aku akan menanam lebih banyak pohon!