Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDASpace

Loading

Kacamata Positif untuk Anak dan Remaja Broken Home

karintanojo's picture

“Ah dia memang anak broken home, pantas begitu perilakunya”. Demikianlah stigma yang diberikan oleh masyarakat terhadap anak/remaja yang berasal dari keluarga broken home. Keluarga broken home merupakan keluarga yang tidak utuh lagi, dalam arti keluarga mengalami perpecahan (broken). Anak atau remaja yang terkadang tidak memiliki salah satu ayah atau ibu akibat perceraian atau orangtuanya meninggalkan rumah tanpa kabar berita termasuk dalam kategori keluarga broken home.

Anak atau remaja yang ditinggalkan oleh salah satu orangtuanya akan mengalami beberapa permasalahan dalam menjalani kehidupannya. Beberapa problem hidup yang kadang sulit diatasi dapat menyebabkan seorang anak/remaja menjadi pribadi yang unik atau terkadang bermasalah. Pribadi ini memiliki perilaku yang berbeda dengan anak/remaja lainnya bahkan kadang bisa juga menjadi perilaku yang menganggu atau menyimpang dari batas kewajaran.

Dampak negatif dari keluarga broken home adalah anak/remaja memiliki masalah dengan berbagai aspek dalam kehidupannya seperti prestasi yang buruk, menyalahkan diri sendiri karena orangtuanya berpisah atau bercerai, relasi yang buruk dengan orang-orang yang ada di sekitarnya. Kondisi keluarga yang amburadul dan penuh konflik terkadang juga dapat menimbulkan kebingungan dan kemarahan terhadap keluarga yang bisa berakhir pada penyalahgunaan narkoba dan penyimpangan orientasi seksual atau disorientasi seksual seperti lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT).

Dampak negatif yang menakutkan tersebut serasa membuat kita memandang anak/remaja dari keluarga broken home dengan sebelah mata, padahal anak/remaja dari keluarga broken home juga bisa menjadi anak/remaja yang tidak kalah baiknya dari anak-anak dengan keluarga yang utuh pada umumnya. Kondisi yang kurang mendukung akibat keluarga broken home juga dapat menghasilkan anak/remaja yang memiliki daya juang yang tinggi dan tekun dalam menghadapi kehidupannya. Hal ini menepis stigma yang selama ini ada dalam masyarakat bahwa anak/remaja broken home akan menjadi pribadi yang buruk.

Pertanyaan terbesar bagi smeua orang adalah bagaimana mengubah perspektif kita terhadap suatu permasalahan dalam hal ini anak/remaja dari keluarga broken home. Fenomena ini sepertinya banyak melanda anak/remaja di Indonesia, oleh karena itu bagaimana cara kita membantu anak/remaja dengan latar belakang keluarga broken home. Prinsip yang dapat digunakan dalam memotivasi anak/remaja yang mengalami broken home adalah kita tidak bisa mengubah dunia, namun kita bisa mengubah diri kita untuk menghadapi dunia tersebut. Kita tidak bisa memilih orangtua namun kita bisa mengubah jalan hidup kita karena jalan hidup kita tidak ditentukan oleh orangtua kita. Gereja juga dapat memberikan pendampingan untuk anak/remaja yang mengalami broken home sehingga mereka akan merasa ada seseorang yang mau “menemani” dirinya sehingga ia tidak akan merasa sendiri menghadapi masalahnya.

Tips menghadapi broken home dengan kacamata positif adalah mengubah cara pandang dengan perspektif yang positif. Putuskan rantai keluarga yang tidak bagus, bukan karena orangtua tidak benar kita tidak bisa hidup dengan benar. Kita bisa mengubah jalan hidup kita dengan memutuskan rantai (memperbaiki diri) menjadi seperti yang Tuhan inginkan. Pelampiasan dalam bentuk yang positif misalnya menjadi pekerja sosial, membantu anak-anak yang mengalami masalah serupa atau mengerahkan semua energi untuk berjuang melakukan hal yang positif misalnya bekerja untuk membiayai adik. Hal ini hanya bisa dilakukan dengan memberikan pengampunan untuk diri sendiri dan orangtua seperti yang tertera dalam Doa Bapa Kami di Matius 6:12, 14, 15

“dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami

Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu”

 

Pengampunan dengan kasih akan memampukan kita untuk mengasihi orang-orang yang ada di sekitar kita. Marilah kita menjadi terang bagi sesama.

__________________

Karin Tanojo