Submitted by hai hai on

Gelap Gulita menutupi Samudera Raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air. Di dalam kitab Kejadian ada dua kisah penciptaan. Yang pertama adalah kisah Penciptaan LANGIT dan BUMI oleh Allah sedangkan yang kedua adalah kisah penciptaan BUMI dan LANGIT oleh TUHAN Allah. Walaupun dari generasi ke generasi para teolog gagal memahaminya namun Allah berkenan  menyatakan kebenaran yang tercatat dalam permulaan kitab Kejadian tersebut kepada generasi ini. Terpujilah Gelap, Samudera dan Roh Allah dari kekal sampai kekal.

Allah, TUHAN Allah dan Nafas Hidup

Saya percaya, tidak ada orang Kristen yang tidak tahu kisah penciptaan langit dan bumi. Namun, kali ini kita akan memahaminya dengan cara baru. Silahkan membaca kisah tersebut di dengan teliti dan hati-hati. Walaupun tanpa membaca kisahnya di dalam Alkitab anda bisa memahami tulisan ini, namun itu berarti anda MEMBUANG kesempatan untuk menikmati keasykan yang saya rasakan ketika mempelajari dan memahami kisah penciptaan langkah demi langkah. Silahkan membaca kisah tersebut sebelum membaca tulisan ini. Untuk membacanya silahkan klik di sini (setelah terbuka, coba klik logo "vertical split" lalu logo "line view" agar anda lebih mudah membacanya).

Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. Kejadian 1:1


Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air. Kejadian 1:2

Berfirmanlah Allah: "Jadilah terang." Lalu terang itu jadi. Kejadian 1:3


Allah melihat bahwa terang itu baik, lalu dipisahkan-Nyalah terang itu dari gelap. Kejadian 1:4

Dan Allah menamai terang itu siang, dan gelap itu malam. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari pertama. Kejadian 1:5

Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi." Kejadian 1:26

Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah  diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. Kejadian 1:27

Demikianlah diselesaikan langit dan bumi dan segala isinya. Kejadian 2:1

 
Ketika Allah pada hari ketujuh telah menyelesaikan pekerjaan yang dibuat-Nya itu, berhentilah Ia pada hari ketujuh dari segala pekerjaan yang telah dibuat-Nya itu. Kejadian 2:2

Lalu Allah memberkati hari ketujuh itu dan menguduskannya, karena pada hari itulah Ia berhenti dari segala pekerjaan penciptaan yang telah dibuat-Nya itu. Kejadian 2:3

Penciptaan LANGIT dan BUMI dilakukan oleh Allah. Allah menciptakan langit dan bumi dengan BERFIRMAN. Setelah mencipta selama enam hari Allah lalu berhenti dari segala pekerjaan penciptaan yang telah dibuat-Nya itu pada hari ketujuh kemudian memberkati hari ketujuh itu dan menguduskannya. Allah memulai penciptaan-Nya dengan menciptakan terang dan mengakhirinya dengan menciptakan manusia.

BERFIRMAN. Berfirman berarti MENYATAKAN kehendak. Allah berfirman berarti Allah menyatakan kehendak-Nya. Kepada siapakah Allah berfirman? Bila tidak ada siapapun, kenapa Allah berfirman? Siapakah yang MENANGGAPI firman Allah? Silahkan membaca Kejadian 1:26 tersebut di atas dan merenungkannya baik-baik. Ternyata Allah tidak sendirian. Allah berfirman karena Dia tidak sendirian. Allah berfirman karena ada yang MENANGGAPI firman-Nya. Karena ada yang menanggapi-Nya, itu sebabnya Allah berfirman.

Ada dua buah aksara di dalam tulisan Tiongkok kuno yang memiliki arti luar biasa yaitu Qian (dibaca: cian) yang pada zaman yang lebih kuno dilafalkan Gan (dibaca: kan) dan Kun. Qian dan Kun tidak diciptakan karena kedua-Nya adalah ADA yang ada karena diri-Nya ada (ziran). Qian dan Kun mahakuasa karena semuanya adalah mudah bagi Keduanya. Qian dan Kun sepadan dan tidak ada yang sepadan dengan Keduanya. Qian dan Kun menyebabkan perubahan namun Keduanya tidak berubah atau kekal. Qian artinya PEMRAKARSA. Kun artinya PENANGGAP. Kun mewujudkan kehendak Qian tepat seperti yang dikehendaki Qian tanpa menyangkali kehendak-Nya sendiri. Qian adalah Qian, bukan Kun. Kun adalah Kun, bukan Qian. Ketika menggunakan kata PEMRAKARSA dan PENANGGAP di dalam tulisan ini, saya menggunakannya dengan pengertian Qian  dan Kun Tiongkok kuno.

Allah berfirman, "Jadilah Terang!" Lalu terang itu jadi. Siapakah yang menanggapi firman Allah untuk menciptakan terang? Siapa lagi? Tentu saja yang menanggapi-Nya adalah Roh Allah yang melayang-layang di atas permukaan Air.  Allah adalah PEMRAKARSA sementara Roh Allah adalah PENANGGAP. Apakah pemahaman demikian benar? Apabila mempelajari ayat-ayat selanjutnya, anda akan menemukan kenyataan bahwa ketika Allah berfirman, BUKAN Roh Allah yang menanggapi firman-Nya. Anda akan menemukan kenyataan yang aneh.

Ketika Allah berfirman, Allah lalu menanggapi firman-Nya sendiri. Ketika berfirman Allah adalah Pemrakarsa. Ketika menanggapi firman Allah, Allah adalah Penanggap. Apabila Allah menanggapi firman-Nya sendiri, bukankah itu berarti Allah adalah Pemrakarsa juga Penanggap? Apabila Allah menanggapi firman-Nya sendiri, untuk apa Dia berfirman? Mungkinkah ada dua Allah? Yang satu adalah Allah yang berfirman sementara yang lain adalah Allah yang menanggapi firman Allah? Apabila ada dua Allah, kenapa menggunakan nama yang sama?

Apakah Allah yang menanggapi firman Allah adalah Roh Allah? Apabila benar, kenapa Roh Allah juga dinamai Allah? Sesungguhnya ada berapa Pencipta? Ada satu? Ada dua? Atau, hanya satu Allah dengan dua nama? Itulah misteri PENCIPTA langit dan bumi. Karena tidak menemukan jawabannya maka kita hanya bisa memahaminya demikian. Menambahkan hikmat manusia ke dalam ajaran Alkitab adalah perbuatan bodoh yang sia-sia. Dari pada mereka-reka lebih baik menjalani hidup dalam ketidaktahuan. Tahu bilang tahu, tidak tahu bilang tidak tidak tahu, itulah tahu. Sampai di sini, baiklah kita memahami bahwa kisah penciptaan langit dan bumi adalah misteri. Misteri dalam misteri. Misteri dalam misteri adalah gerbang ke bait Allah.

Demikianlah riwayat langit dan bumi pada waktu diciptakan. Ketika TUHAN Allah menjadikan bumi dan langit, -- Kejadian 2:4

belum ada semak apapun di bumi, belum timbul tumbuh-tumbuhan apapun di padang, sebab TUHAN Allah belum menurunkan hujan ke bumi, dan belum ada orang untuk mengusahakan tanah itu; Kejadian 2:5

tetapi ada kabut naik ke atas dari bumi dan membasahi seluruh permukaan bumi itu-- Kejadian 2:6

ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup. Kejadian 2:7

Selanjutnya TUHAN Allah membuat taman di Eden, di sebelah timur; disitulah ditempatkan-Nya manusia yang dibentuk-Nya itu. Kejadian 2:8

Lalu TUHAN Allah menumbuhkan berbagai-bagai pohon dari bumi, yang menarik dan yang baik untuk dimakan buahnya; dan pohon kehidupan di tengah-tengah taman itu, serta pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat. Kejadian 2:9

TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu. Kejadian 2:15

Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: "Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, Kejadian 2:16

tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati." Kejadian 2:17

TUHAN Allah berfirman: "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia." Kejadian 2:18


Lalu TUHAN Allah membentuk dari tanah segala binatang hutan dan segala burung di udara.   Dibawa-Nyalah semuanya kepada manusia itu untuk melihat, bagaimana ia menamainya; dan seperti nama yang diberikan manusia itu kepada tiap-tiap makhluk yang hidup, demikianlah nanti nama makhluk itu. Kejadian 2:19


Lalu TUHAN Allah membuat manusia itu tidur nyenyak; ketika ia tidur, TUHAN Allah mengambil salah satu rusuk dari padanya, lalu menutup tempat itu dengan daging. Kejadian 2:21

Dan dari rusuk yang diambil TUHAN Allah dari manusia itu, dibangun-Nyalah seorang perempuan, lalu dibawa-Nya kepada manusia itu. Kejadian 2:22

Penciptaan BUMI dan LANGIT dilakukan oleh TUHAN Allah. Anda dapat membaca kisah lengkapnya di dalam Kejadian 2:4b-25.  Hanya ada empat penciptaan yang tercatat di dalam Kejadian 2:4b-25.  TUHAN Allah bukan Allah. Allah menciptakan dengan BERFIRMAN sementara TUHAN Allah menciptakan dengan MEMBENTUK (Yatsar) Adam dari debu tanah (aphar), MENUMBUHKAN (tsamach) tumbuhan dari tanah (adamah), MEMBENTUK (Yatsar) binatang dari tanah (adamah) dan MEMBANGUN (banah) Hawa dari tulang rusuk (tsela) Adam. Berbeda dengan Allah, TUHAN Allah sama sekali tidak menyatakan bahwa Dia berhenti mencipta. Apakah itu berarti Dia belum berhenti mencipta hingga saat ini?

Di dalam kisah penciptaan langit dan bumi (Kejadian 1) kita mendapati bahwa Allah adalah Pemrakarsa sekaligus penanggap. Di dalam kisah penciptaan bumi dan langit (Kejadian 2) kita mendapati bahwa TUHAN Allah melakukan penciptaan sesuai dengan yang dilakukan oleh Allah yang menanggapi firman Allah di dalam Kejadian 1. Kenyataan demikian mengajarkan kepada kita bahwa TUHAN Allah adalah Penanggap firman Allah. TUHAN Allah adalah Allah yang menanggapi firman Allah. Kenapa TUHAN Allah dinamai Allah di dalam Kejadian 1?

Apakah TUHAN Allah adalah Roh Allah? Mungkin! Bagaimana cara menyimpulkan bahwa TUHAN Allah adalah Roh Allah? Penanggap bukan pemrakarsa. Pemrakarsa sejati hanya ada satu. Penanggap sejati hanya ada satu. Apa dasar kesimpulan bahwa penanggap hanya satu? Bukankah Allah juga berfirman kepada ikan-ikan dan burung-burung  dan manusia? Mari kita mempelajari kedua ayat tersebut.

Lalu Allah memberkati semuanya itu, firman-Nya: "Berkembangbiaklah dan bertambah banyaklah serta penuhilah air dalam laut, dan hendaklah burung-burung di bumi bertambah banyak." Kejadian 1:22


Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi." Kejadian 1:28


Silahkan membaca kedua ayat tersebut di atas dengan hati-hati lalu bandingkanlah keduanya. Bukankah nampak gamblang sekali bahwa Allah tidak berfirman kepada ikan-ikan dan burung-burung dan tidak mengharapkan tanggapan dari mereka? Namun, setelah memberkati Adam dan Hawa, Allah berfirman kepada mereka dan mengharapkan tanggapan dari keduanya. Itulah perbedaan antara manusia dan binatang. Binatang tidak memiliki kemampuan untuk menanggapi firman Allah namun manusia memiliki kemampuan untuk menanggapi firman Allah.

Apabila TUHAN Allah bukan Roh Allah, itu berarti ada dua Penanggap. Karena ada dua Penanggap, bukankah itu berarti ketika berfirman Allah harus menyatakan dengan gamblang kepada siapa firman-Nya itu ditujukan? Bukankah hal itu yang Dia lakukan ketika berfirman kepada manusia? Karena Allah tidak menyatakannya itu berarti hanya ada satu Penanggap yaitu TUHAN Allah. Itulah dasar untuk menarik kesimpulan bahwa TUHAN Allah adalah Roh Allah.

Mungkinkah TUHAN Allah bukan Roh Allah? Mungkin! Apabila TUHAN Allah bukan Roh Allah, itu berarti Roh Allah bukan Penanggap. Karena bukan penanggap lalu siapakah Dia? Itulah misteri yang harus kita coba pahami. Bila TUHAN berkenan, kita pasti mampu memahaminya dengan benar. Misteri di dalam misteri adalah gerbang ke bait Allah.

Kejadian 2:7 mencatat bahwa setelah membentuk Adam dari debu tanah TUHAN Allah lalu menghembuskan Nafas Hidup ke hidung Adam. Nafas Hidup ada di dalam TUHAN Allah itu sebabnya Dia menghembuskan-Nya. Walaupun ada di dalam TUHAN Allah, namun, Nafas Hidup bukan bagian dari TUHAN Allah. Apabila Nafas Hidup adalah bagian dari TUHAN Allah, maka ketika menghembuskan-Nya, Alkitab cukup mencatat, "TUHAN Allah menghembuskan nafas-Nya ke dalam hidung Adam." Akan tetapi Alkitab mencatat, "TUHAN Allah menghembuskan Nafas Hidup ke dalam hidung Adam." Itu berarti Nafas Hidup, walaupun ada di dalam TUHAN Allah, namun bukan bagian dari TUHAN Allah. Nafas Hidup bukan TUHAN Allah.

Karena dihembuskan ke hidung Adam, maka  Nafas Hidup itu pun ada di dalam Adam. Nafas Hidup menjadikan Adam makluk hidup, itu berarti Nafas Hidup memiliki kuasa mencipta. Dia menciptakan Adam yang dibentuk dari debu tanah menjadi makluk hidup. Karena memiliki kuasa mencipta itu berarti Dia adalah Pencipta. Pencipta ada di dalam ciptaan. Walaupun ada di dalam ciptaan namun Nafas Hidup adalah Pencipta. Untuk apa Pencipta ada di dalam ciptaan-Nya? Untuk apa lagi? Tentu saja untuk MENOPANG ciptaan-Nya agar  menepati kodrat penciptaannya.

Allah adalah Pemrakarsa sedangkan TUHAN Allah adalah Penanggap sementara Nafas Hidup adalah PENOPANG. Nafas Hidup ada di dalam TUHAN Allah namun Nafas Hidup bukan TUHAN Allah. Walaupun Nafas Hidup bukan TUHAN Allah namun Dia ada di dalam TUHAN Allah. Nafas Hidup dan TUHAN Allah itu ESA.

TUHAN Allah berfirman: "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia." Kejadian 2:18

Silahkan membaca ayat tersebut di atas dengan hati-hati dan teliti:

TUHAN Allah berfirman: "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja." - Di dalam kalimat tersebut, TUHAN Allah adalah Pemrakarsa.

TUHAN Allah lalu menanggapi Firman-Nya dengan berfirman, "Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia." - Di dalam kalimat tersebut, TUHAN Allah adalah Penanggap.

Pemrakarsa adalah Allah, bukan TUHAN Allah. Namun dalam ayat tersebut di atas, TUHAN Allah menjadi Pemrakarsa sekaligus Penanggap.

Berfirmanlah Allah: "Jadilah cakrawala." – Di dalam kalimat tersebut Allah adalah Pemrakarsa.

Maka Allah menjadikan cakrawala. – Di dalam kalimat tersebut Allah adalah Penanggap.

Penanggap adalah TUHAN Allah, bukan Allah. Namun, dalam ayat tersebut di atas, Allah menjadi Penanggap sekaligus Pemrakarsa.

Bagaimana kita memahami fakta tersebut di atas? Bagaimana memahami misteri Allah dan TUHAN Allah? Misteri di dalam Misteri adalah gerbang ke bait Allah. Nafas Hidup adalah Pencipta. Nafas Hidup ada di dalam TUHAN Allah. Nafas Hidup Bukan TUHAN Allah. Ketika Nafas Hidup yang ada di dalam TUHAN Allah berkata-kata maka yang kita dengar adalah ucapan TUHAN Allah. TUHAN Allah mengucapkannya namun Nafas Hiduplah yang berkata-kata. Hal itu terjadi karena Nafas Hidup ada di dalam TUHAN Allah. Itulah gerbang ke bait Allah. Sekarang kita ada di dalam bait Allah, langkah selanjutnya adalah ke ruang mahakudus.

Ada tiga Pencipta yang melakukan penciptaan BUMI dan LANGIT di dalam Kejadian 2:4-25 yaitu TUHAN Allah dan Nafas Hidup serta Allah. Nafas Hidup ada di dalam TUHAN Allah. Allah ada di dalam TUHAN Allah. Itu sebabnya tertulis, TUHAN Allah berfirman: "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia." Kita melihat keesaan Ketiganya sebagai TUHAN Allah. TUHAN Allah berfirman: "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja." TUHAN Allah yang mengucapkannya namun Allahlah yang berkata-kata. Tiga Pencipta namun Esa. Tiga Pencipta berkarya dalam KEESAAN.

Walaupun Kejadian 1:3-31 hanya mencatat nama Allah sebagai pencipta namun sekarang kita tahu bahwa penciptaan  LANGIT dan BUMI dilakukan oleh tiga Pencipta Yang Esa. TUHAN Allah adalah Allah. Nafas Hidup adalah Allah. Ada tiga Allah namun ESA. Allah dan TUHAN Allah serta Nafas Hidup adalah Allah. Nafas Hidup ada di dalam Allah. TUHAN Allah ada di dalam Allah. Itu sebabnya tertulis, Berfirmanlah  Allah: "Jadilah cakrawala." Maka Allah menjadikan cakrawala. Kita melihat keesaan Ketiganya sebagai Allah. Berfirmanlah Allah: "Jadilah cakrawala." Maka Allah menjadikan cakrawala. Allah yang menanggapi firman Allah namun TUHAN Allahlah yang bekerja.

Ada tiga Pencipta Yang Esa. Allah, TUHAN Allah dan Nafas Hidup. Allah bukan TUHAN Allah; TUHAN Allah bukan Nafas Hidup; Nafas Hidup bukan Allah. Nafas Hidup ada di dalam TUHAN Allah. TUHAN Allah ada di dalam Allah. Allah ada di dalam TUHAN Allah. TIGA namun ESA. ESA walaupun TIGA. Itulah Allah Tritunggal. Allah adalah Pemrakarsa, TUHAN Allah adalah Penanggap dan Nafas Hidup adalah Penopang. Keberadaan masing-masing Allah di dalam Allah yang lain itu seperti gelap di dalam terang. Ketika Allah ibarat Terang, TUHAN Allah dan Nafas Hidup ibarat Gelap. Anda hanya melihat Allah, namun di dalam-Nya ada TUHAN Allah dan Nafas Hidup; Ketika TUHAN Allah ibarat Terang, Allah dan Nafas Hidup ibarat Gelap, Anda hanya melihat TUHAN Allah, namun di dalam-Nya ada Allah dan Nafas Hidup. Tidak nampak namun ada. Tidak berbicara namun berkata-kata.

Pemahaman tentang Allah Tritunggal adalah POKOK dan AKAR ajaran Alkitab. Itu sebabnya tanpa memahami Allah Tritunggal dengan benar, mustahil memahami ajaran Alkitab lainnya dengan benar secara lengkap. Yang kita pelajari di atas adalah ajaran paling kuno di dunia tentang Allah Tritunggal yang diajarkan sendiri oleh Allah Tritunggal kepada manusia. Doktrin Allah Tritunggal bukan ajaran berdasarkan hikmat manusia namun ajaran dari Allah Tritunggal itu sendiri. Apabila anda memahami ajaran paling kuno tersebut di atas maka selanjutnya, ketika membaca Alkitab anda akan menemukan yang selama ini tidak anda lihat yaitu kebenaran Allah Tritunggal. Nama-nama Tuhan yang anda baca akan memberikan pengertian yang selama ini tidak kita pahami.

Kenapa selama ini sulit sekali untuk memahami ajaran Allah Tritunggal? Menurut saya hal itu terjadi karena doktrin Allah Tritunggal diajarkan dengan hikmat manusia. Karena banyak teolog dan pengkotbah yang mengajarkan doktrin Allah Tritunggal walaupun tidak memahaminya dengan benar. Saya pernah melakukannya selama bertahun-tahun, mengajarkan Allah Tritunggal tanpa memahaminya dengan benar. Tuhan ampunilah saya!

Apakah tulisan ini sudah berakhir? Bukankah kita baru memasuki bait Allah dan belum mencapai ruang mahakudus? Benar. Kita akan memasukinya. Bukankah masih ada pertanyaan yang belum terjawab? Benar. Kita akan menjawabnya. Siapakah Roh Allah? Roh Allah adalah Nafas Hidup. Atas dasar apa kita menarik kesimpulan demikian? Saya akan mengajak anda memasuki ruang mahakudus, namun sebelum itu persiapkan diri anda. Persiapkan hati anda. Bila anda mengidap penyakit jantung, berdoalah agar jantung anda tetap berdetak ketika anda melihat kebenaran Allah Tritunggal yang tersimpan di ruang mahakudus. Saya menamai kebenaran itu Misteri Sang GELAP.

Gelap, Samudera dan Roh Allah


Bumi adalah bola dunia tempat manusia hidup sementara langit adalah cara manusia kuno menyebut ruang angkasa. Dunia adalah alam semesta dan segala isinya sementara sorga adalah sebuah dunia yang tidak diketahui secara pasti dan lengkap keberadaannya oleh manusia. Walaupun banyak yang mengajarkan bahwa sorga adalah sebuah dunia tidak kasatmata atau dunia yang tidak memiliki bentuk dan wujud sehingga tidak nampak dengan mata telanjang, namun sesungguhnya kita tidak memiliki informasi yang lengkap tentang sorga. Kisah penciptaan di dalam Kejadian 1 & 2 bukan kisah penciptaan bola dunia dan ruang angkasa namun kisah penciptaan dunia dan sorga. Walaupun di dalam Kejadian 1:1 disebut penciptaan sorga dan dunia namun yang dicatat adalah kisah penciptaan dunia.

Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. Kejadian 1:1


Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air. Kejadian 1:2


Di bawah ini kita akan melihat dari mana kata-kata di dalam Kejadian 1:2 diterjemahkan.

belum berbentuk = tohuw (baca: toho) = hampa; tanpa bentuk; campur baur; kacau balau; sia-sia
kosong = bohuw (baca: boho) = kosong; hampa; merana; gersang; menjadi kurus; terbuang
gelap gulita = choshek (baca: kosek)
Samudera raya = t@howm (baca: teh-home) = Samudera raya; samudera; Air yang dalam; air yang banyak; dalam.
Roh Allah = ruwach elohiym
Air = mayim
Menutupi & permukaan = paniym = wajah; muka; permukaan
di atas = al = atas; di atas; bawah; di bawah; dalam; di dalam; samping; di samping; bersama; mengatasi; melingkupi
melayang-layang = rachaph = melayang-layang; mengepakkan sayap

Choshek, t@howm, Ruwach Elohim dan Mayim
sudah ada sebelum Allah menciptakan langit dan bumi. Apabila Gelap, Samudera dan Air sudah ada sebelum Allah mencipta, bukankah itu berarti ada KEBERADAAN DARI KEKAL selain Allah Tritunggal? Apabila ada keberadaan dari kekal lain selain Allah Tritunggal, bukankah itu berarti Allah Tritunggal bukan yang MAHAMULA?


Para penganut The Gap Theory mengajarkan bahwasanya ada dua kisah penciptaan di dalam Kejadian 1:1-31. Penciptaan pertama dicatat dalam Kejadian 1:1, Allah menciptakan langit dan bumi. Penciptaan kedua dicatat dalam Kejadian 1:2-31. Pemberontakan malaikat menyebabkan Langit dan bumi yang diciptakan dalam Kejadian 1:1 itu rusak. Kejadian 1:2 mencatat kondisi dunia yang rusak tersebut. Kejadian 1:3-31 mencatat kisah pemugaran dunia oleh Allah. Pemugaran dunia dimulai dengan kondisi bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air.

Apabila anda percaya adanya dua kali penciptaan, maka tidak sulit untuk mempercayai tentang adanya tiga kali penciptaan, mungkin empat kali penciptaan, lima kali penciptaan dan seterusnya. Apabila anda percaya tentang dua kali penciptaan, tidak sulit untuk mempercayai bahwa malaikat-malaikat dulunya adalah manusia yang mendiami bumi. Mereka mati lalu menjadi arwah dan siap untuk memulai dari awal lagi ketika bumi dipugar. Reinkarnasi. Semuanya dimulai dari awal setiap kalpa. Dunia kiamat lalu semuanya dimulai lagi dari awal.

Pdt. Budi Asali MDiv menentang ajaran The Gap Theory dengan mengajarkan bahwa bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, tidak berarti bahwa Allah menciptakan sesuatu yang kacau, tetapi bahwa Ia menciptakan yang baik dan teratur secara bertahap. Walaupun nampak logis namun yang diajarkan Pdt. Budi Asali MDiv benar-benar omong kosong. Apabila yang diajarkannya benar, maka kita harus mempercayai bahwa Allah MEMBUAL ketika menyatakan bahwa Dia menciptakan langit dan bumi dalam 6 hari, sebab, Allah sudah mencuri start dengan menciptakan bumi yang belum berbentuk dan kosong serta gelap gulita menutupi samudera raya sebelum menciptakan yang lainnya dalam 6 hari. Allah pembual adalah berhala ciptaan para pembual, biarkan Pdt. Budi Asali MDiv saja yang menyembahnya. Untuk membaca ajaran Pdt. Budi Asali MDiv tentang penciptaan, silahkan klik di sini.

Sebagian teolog mengajarkan bahwa Kejadian 1:2 mustahil dipahami karena merupakan misteri yang tercatat di dalam Alkitab untuk menunjukkan keterbatasan akal budi manusia. Memang mustahil untuk memahami Allah secara sempurna, namun setahu saya, tidak ada satu ayat Alkitab pun yang mengajarkan bahwa manusia mustahil memahami ajaran Alkitab. Bukankah Allah berfirman karena menghendaki manusia menanggapi firman-Nya? Alkitab mengajarkan bahwa semuanya akan dibukakan bila waktunya tiba; Allah akan membukakan rahasia kerajaan Allah kepada orang yang kepadanya Dia berkenan.

Tohuw artinya hampa sementara bohuw artinya kosong. Menggunakan dua kata yang memiliki arti yang sama adalah cara bangsa Israel kuno untuk memutlakkan makna kedua kata tersebut. Kedua kata tersebut digunakan dalam Kejadian 1:2 untuk menegaskan bahwa pada mulanya bumi itu tidak ada. Pada mulanya bumi itu NIHIL alias NULL. Mutlak tidak ada. Kenapa Allah merasa perlu untuk mengajarkan bahwa pada mulanya bumi mutlak tidak ada? Hal itu untuk memastikan agar kita mengerti bahwa sebelum Allah menciptakan, tidak ada apapun selain Allah. Pada mulanya hanya ada Allah, yang lainnya mutlak tidak ada; yang lainnya adalah ciptaan Allah; yang lainnya baru ada setelah diciptakan Allah.

Kenapa Allah tidak mengajarkan bahwa pada mulanya sorga mutlak tidak ada? Kita memang tidak akan mampu memahami hal demikian pada saat mempelajari kisah penciptaan di dalam kitab Kejadian, namun setelah mempelajari Alkitab secara lengkap, dapat disimpulkan bahwa penciptaan dunia adalah bagian dari penciptaan sorga. Bahkan lebih lanjut dapat disimpulkan bahwa sorga adalah dunia yang sempurna, suatu hari dunia akan menjadi sorga. Kita akan mempelajari hal itu lain kali namun saat ini kita hanya mempelajari kisah penciptaan dunia.

Sebelum dunia diciptakan, dunia mutlak tidak ada. Sebelum dunia diciptakan hanya ada Gelap Gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air. Gelap, Samudera, Roh Allah dan Air sudah ada sebelum penciptaan dunia. Karena dunia belum diciptakan maka Gelap, Samudera, Roh Allah dan Air bukan ciptaan Allah. Gelap, Samudera dan Air di dalam Kejadian 1:2 bukan Gelap, Samudera dan Air di dunia yang kita kenal saat ini. Apakah Gelap, Samudera dan Air yang telah ada sebelum dunia diciptakan itu? Pertanyaannya salah! Seharusnya anda bertanya, "Siapakah Gelap, Samudera dan Air yang ada sebelum dunia diciptakan itu?" Allah Tritunggal. Allah, TUHAN Allah dan Nafas Hidup. Bukankah hanya Allah Tritunggal yang ada sebelum dunia diciptakan? Siapakah Gelap? Siapakah Samudera? Siapakah Roh Allah? Siapakah Air?

Sebelum dunia diciptakan, sebelum manusia dewasa, Allah tritunggal tidak memerlukan nama. Ketiganya Esa, itu sebabnya tidak memerlukan nama untuk saling mengenal dan saling menyapa. Setelah menciptakan dunia, setelah menciptakan manusia, Allah Tritunggal memerlukan nama. Ketiganya Yang Esa memerlukan nama karena ingin memperkenalkan diri kepada manusia dan ingin manusia mengenali Ketiganya Yang Esa dengan benar.

Di dalam Kejadian 1:2 Allah memperkenalkan diri-Nya dengan nama Gelap. TUHAN Allah memperkenalkan diri-Nya dengan nama Samudera. Nafas Hidup memperkenalkan diri-Nya dengan nama Roh Allah. Bagaimana cara menarik kesimpulan demikian? Kita menarik kesimpulan demikian karena kita sudah belajar bahwa Nafas Hidup ada di dalam TUHAN Allah dan TUHAN Allah ada di dalam Allah. Roh Allah ada di dalam Samudera dan Samudera ada di dalam Gelap.

Bagaimana kita menyimpulkan bahwa Roh Allah ada di dalam Samudera? Roh Allah melayang-layang di atas permukaan Air. Air adalah bagian dari Samudera. Air adalah Samudera. Roh Allah melayang-layang di atas Air berarti Roh Allah ada di dalam Samudera. Roh Allah ada di dalam Samudera namun tidak menyatu dengan Air, itu berarti Roh Allah bukan Air. Apabila Roh Allah ada di luar Samudera, maka tentulah yang tercatat adalah Roh Allah melayang-layang di atas Samudera. Manusia tidak bisa melihat Samudera namun melihat Air, itu sebabnya tertulis di dalam Alkitab secara gamblang, agar manusia tahu bahwa Air adalah Samudera.

Allah Tritunggal Dan Allah Yang Mahagelap


Sebelum penciptaan Allah Tritunggal memperkenalkan diri-Nya dengan nama Gelap, Samudera dan Roh Allah. Ketika menciptakan Allah Tritunggal memperkenalkan diri-Nya dengan nama Allah, TUHAN Allah dan Nafas Hidup. Allah Adalah Gelap. TUHAN Allah adalah Samudera. Nafas Hidup adalah Roh Allah.

Kenapa Allah menggunakan nama Gelap? Untuk menunjukkan bahwa Dia adalah Allah yang transenden, Allah yang tinggal jauh, Allah yang tidak terjangkau oleh manusia. Tidak kasatmata juga tidak dikenali. Gelap adalah Allah adalah Tuhan Yang Mahamula adalah Tuhan Yang Mahatinggi adalah Tuhan Yang Mahabesar.

Kenapa TUHAN Allah menggunakan nama Samudera? Untuk menunjukkan bahwa Dialah Allah Imanen, Allah yang tinggal dekat dengan manusia. Kasatmata dan dikenali serta sumber kehidupan. Samudera adalah TUHAN Allah adalah Tuhan Mahapencipta adalah Tuhan Yang Maharendah adalah Tuhan Yang Mahakecil.

Kenapa Nafas Hidup menggunakan nama Roh Allah? Untuk menunjukkan bahwa Dia ada di dalam Allah dan TUHAN Allah. Untuk menunjukkan bahwa Dia adalah Penopang Allah dan TUHAN Allah. Roh Allah Menggunakan nama Nafas Hidup untuk menunjukkan bahwa Dialah yang menopang Adam menjadi makluk hidup. Nafas Hidup adalah Roh Allah adalah Tuhan Yang Mahapenopang adalah Tuhan Yang Maharaja.

Yang Mahagelap Unjuk Diri


Pada hakekatnya tidak sulit untuk memahami bahwa Gelap adalah Allah, Samudera adalah TUHAN Allah dan Roh Allah adalah Nafas Hidup dan Ketiganya Esa karena Alkitab mengajarkannya dengan gamblang. Namun benar-benar sulit untuk menerima kenyataan bahwa Gelap adalah Allah. Hal demikian terjadi karena secara naluri manusia takut pada kegelapan dan baik orang tua, guru sekolah, dosen sekolah minggu maupun pengkotbah senantiasa mengajarkan bahwa gelap itu jahat dan jelek sementara Allah itu terang. Ajaran demikian memang benar namun tidak sempurna karena Alkitab juga mengajarkan bahwa Gelap adalah Allah.

Pengktobah alam roh mengajarkan bahwa awan hitam dalam penglihatan pengkotbah alam roh adalah alam gaib alias kerajaan Iblis atau hadirat Iblis. Namun, Alkitab justru mengajarkan hal sebaliknya. Alam gaib alias kerajaan Iblis itu omong kosong, itu sebabnya Alkitab sama sekali tidak mengajarkan keberadaannya. Hadirat Iblis itu isapan jempol belaka karena Alkitab mengajarkan bahwa awan gelap adalah hadirat Allah alias tanda kehadiran Allah.

Menjelang matahari terbenam, tertidurlah Abram dengan nyenyak. Lalu turunlah meliputinya gelap gulita yang mengerikan. Kejadian 15:12

Firman TUHAN kepada Abram: "Ketahuilah dengan sesungguhnya bahwa keturunanmu akan menjadi orang asing dalam suatu negeri, yang bukan kepunyaan mereka, dan bahwa mereka akan diperbudak dan dianiaya, empat ratus tahun lamanya. Kejadian 15:13

Tetapi bangsa yang akan memperbudak mereka, akan Kuhukum, dan sesudah itu mereka akan keluar dengan membawa harta benda yang banyak. Kejadian 15:14

Tetapi engkau akan pergi kepada nenek moyangmu dengan sejahtera; engkau akan dikuburkan pada waktu telah putih rambutmu. Kejadian 15:15

Tetapi keturunan yang keempat akan kembali ke sini, sebab sebelum itu kedurjanaan orang Amori itu belum genap." Kejadian 15:16

Ketika matahari telah terbenam, dan hari menjadi gelap, maka kelihatanlah perapian yang berasap beserta suluh yang berapi lewat di antara potongan-potongan daging itu. Kejadian 15:17

Kisah tersebut di atas mencatat kehadiran Gelap Gulita yang mengerikan atau yang menggentarkan. Apakah anda berani menafsirkan bahwa Iblis hadir ketika TUHAN membuat perjanjian dengan Abraham?

Lalu Musa mengulurkan tangannya ke langit dan datanglah gelap gulita di seluruh tanah Mesir selama tiga hari. Keluaran 10:22


Tidak ada orang yang dapat melihat temannya, juga tidak ada orang yang dapat bangun dari tempatnya selama tiga hari; tetapi pada semua orang Israel ada terang di tempat kediamannya. Keluaran 10:23

Kedua ayat tersebut di atas mencatat  tentang tulah ke 9 dari 10 tulah yang menimpa Mesir. Gelap gulita bisa terjadi karena gerhana matahari, sinar matahari tertutup awan atau debu di udara. Alkitab sama sekali tidak mencatat tentang awan atau debu, di samping itu, mustahil gerhana matahari berlangsung selama tiga hari. Tidak ada orang yang dapat melihat temannya, juga tidak ada orang yang dapat bangun dari tempatnya selama tiga hari. Itulah yang ditulis oleh Musa untuk menggambarkan betapa mengerikannya gelap gulita yang terjadi saat itu. Anda percaya, saat itu bangsa Mesir belum menemukan api sehingga tidak mampu mengatasi kegelapan itu? Selama ini kita menyebut gelap gulita yang melanda Mesir itu mujizat. Bolehkah kita mengatakan Yang Mahagelap unjuk gigi?

Tetapi waspadalah dan berhati-hatilah, supaya jangan engkau melupakan hal-hal yang dilihat oleh matamu sendiri itu, dan supaya jangan semuanya itu hilang dari ingatanmu seumur hidupmu. Beritahukanlah kepada anak-anakmu dan kepada cucu cicitmu semuanya itu, Ulangan 4:9


yakni hari itu ketika engkau berdiri di hadapan TUHAN, Allahmu, di Horeb, waktu TUHAN berfirman kepadaku: Suruhlah bangsa itu berkumpul kepada-Ku, maka Aku akan memberi mereka mendengar segala perkataan-Ku, sehingga mereka takut kepada-Ku selama mereka hidup di muka bumi dan mengajarkan demikian kepada anak-anak mereka. Ulangan 4:10

lalu kamu mendekat dan berdiri di kaki gunung itu, sedang gunung itu menyala sampai ke pusar langit dalam gelap gulita, awan dan kegelapan. Ulangan 4:11

Lalu berfirmanlah TUHAN kepadamu dari tengah-tengah api; suara kata-kata kamu dengar, tetapi suatu rupa tidak kamu lihat, hanya ada suara. Ulangan 4:12

Firman itulah yang diucapkan TUHAN kepada seluruh jemaahmu dengan suara nyaring di gunung, dari tengah-tengah api, awan dan kegelapan, dan tidak ditambahkan-Nya apa-apa lagi. Ditulis-Nya semuanya pada dua loh batu, lalu diberikan-Nya kepadaku." Ulangan 5:22

"Ketika kamu mendengar suara itu dari tengah-tengah gelap gulita, sementara gunung itu menyala, maka kamu, yakni semua kepala sukumu dan para tua-tuamu, mendekati aku, Ulangan 5:23

dan berkata: Sesungguhnya, TUHAN, Allah kita, telah memperlihatkan kepada kita kemuliaan dan kebesaran-Nya, dan suara-Nya telah kita dengar dari tengah-tengah api. Pada hari ini telah kami lihat, bahwa Allah berbicara dengan manusia dan manusia itu tetap hidup. Ulangan 5:24
 
Handai taulan sekalian ayat-ayat tersebut di atas adalah kisah TUHAN membuat perjanjian dengan bangsa Israel di gunung Horeb.

Anda paham yang dimaksudkan dengan "Gunung itu menyala sampai ke pusar langit dalam gelap gulita, awan dan kegelapan" dalam Kejadian 4:11? Anda paham yang dimaksudkan dengan "Ketika kamu mendengar suara itu dari tengah-tengah gelap gulita, sementara gunung itu menyala" dalam Kejadian 5:23? Terang dan Gelap dalam satu kesatuan. Bolahkah kita mengatakan, Yang Mahagelap unjuk gigi?

Mulai dari jam dua belas kegelapan meliputi seluruh daerah itu sampai jam tiga. Matius 27:45

Bila anda baca kisah penyaliban Kristus, kembali Yang Mahagelap unjuk gigi. Markus menulis, Yesus disalib jam sembilan pagi. Mulai dari jam dua belas kegelapan meliputi seluruh daerah itu sampai jam tiga sore. Tentang kegelapan dicatat baik oleh Matius, Markus maupun Lukas. Alih-alih mencatat tentang kegelapan, Yohanes justru mencatat bagaimana Maria, isteri Klopas dan Maria Magdalena dan Yohanes ngerumpi dekat salib, sementara Matius dan Markus serta Lukas mencatat bahwa mereka melihat dari jauh. Bila gelap gulita, bagaimana mereka saling mengenal? Bila tidak gelap gulita, kenapa mereka bisa mendekati salib tanpa dicegah penjaga?

Hal aneh lainnya yang ditulis oleh Matius adalah: Kepala pasukan dan prajurit-prajuritnya yang menjaga Yesus menjadi sangat takut ketika mereka melihat gempa bumi dan apa yang telah terjadi, lalu berkata: "Sungguh, Ia ini adalah Anak Allah."  Markus dan Lukas membenarkan apa yang dikatakan oleh kepala pasukan tersebut. Yohanes mencatat tentang orang yang bersaksi bahwa lambung Yesus ditusuk tombak. Mungkinkah orang tersebut yang berdiri dekat kepala pasukan tersebut sehingga mendengar ucapannya? Atau dia justru kepala pasukan itu sendiri? Saya tidak tahu! Namun Yohanes menjamin bahwa kesaksian orang itu benar. Dalam gelap gulita, bagaimana orang tersebut mengenali kepala pasukan itu? Kenapa tidak ada catatan tentang orang yang menyalakan api untuk mengatasi kegelapan?

Penyaliban Kristus terjadi menjelang paskah sementara paskah dirayakan saat bulan purnama. Gerhana matahari mustahil terjadi saat atau menjelang bulan purnama. Menurut para ilmuwan, gerhana matahari total paling lama di dunia baru akan terjadi pada 16 Juli 2186 yaitu selama 7 menit 29 detik.  Apabila mustahil terjadi gerhana matahari, lalu kenapa gelap gulita? Apabila gerhana matahari tidak pernah lebih dari 7 menit, kenapa gelap gulita selama 3 jam? Selama ini kita menyebut apa yang terjadi saat penyaliban sebagai mujizat, mungkin sudah saatnya kita memahaminya sebagai Yang Mahagelap unjuk diri?