Siang ini, sepulang dari kantor, saya segera meluncur ke warnet karena ada janji mau mengirim email buat seorang sahabat saya. Ketika lagi asyik-asyiknya browsing (sesudah sebelumnya mengirim email), hp saya berbunyi. Ternyata ibu saya sms. Ketika saya cermati bahasa smsnya, tampak nyata itu bukan kata-kata ibu saya. Karena memang ibu mem-forward sms yang dikirimkan oleh seorang jemaat di gereja saya.
Begini bunyi smsnya :
"Bu, mohon maaf saya sembrono, katanya segala sesuatu butuh perantara, begitu juga jodoh. Gimana dengan mbak noni, sudah ada yang punya belum? Kalo belum, ini ada cowok kristen tulen,gagah., setia, tanggung jawab dan mantap. Kira-kira mbak noni mau nggak ya? Kalau ada lampu hijau, kapan-kapan dia mau main"
Saya tersenyum (kecut). Entah kenapa, semua orang di lingkungan saya sepertinya sedang dilanda ketakutan yang berlebihan karena semenjak putus dengan cowok saya yang terakhir (sekitar Juni kemarin), saya belum terlihat "menaruh minat" pada beberapa pria yang sudah "disodorkan" maupun yang datang dengan kemauan mereka sendiri. Padahal umur saya sudah 28 tahun. Sudah tua, begitu kata keluarga saya. "Sebentar lagi bakalan layu kalau lewat 30 tahun belum juga menikah", demikian om saya selalu wanti-wanti. Belum lagi fakta bahwa di kota kecil saya, rata-rata orang seumuran saya sudah menikah dan memiliki anak.Bahkan semua teman wanita saya semasa SD sudah menikah semua kecuali saya!!!
Saya terlahir sebagai anak sulung. Saya mempunyai seorang adik cewek. Selisih umur kami 2 tahun. Selain terlahir sebagai anak sulung, saya juga terlahir sebagai cucu sulung, cucu tertua baik dari pihak almarhum bapak maupun ibu. Saya rasa ketakutan keluarga juga cukup beralasan, karena beberapa sepupu yang secara umur lebih muda sudah sukses menikah, lha kok saya yang sudah semakin "alot dan pait" ini belum juga jelas statusnya
Semenjak putus dengan cowok saya yang terakhir, saya juga belajar
membuka diri pada "tawaran" dan "kemungkinan" berhubungan dengan lawan
jenis. Saking semangatnya (atau putus asa ya?), semua orang bahu-membahu
berusaha menjodohkan saya dengan pria yang menurut mereka bakal pas
dengan saya. (Walau sejujurnya saya lebih suka mencari/menemukan
sendiri). Saya bersyukur sih dengan apa yang mereka lakukan, walau ada
beberapa yang membuat saya merasa tertekan karena kadang-kadang sedikit
memaksa bahwa saya "harus mau". Pernah ada seorang lelaki yang lebih
pantas jadi bapak saya dikenalkan ke saya. Parahnya, yang mengenalkan
merasa saya harus mau karena lelaki itu sangat baik dan bertitel dan
berpekerjaan mulia. Waduh, kalau sudah sampai pemaksaan begini biasanya
saya nyolot. "Lha ini hidup saya, apa hak anda untuk menetapkan saya
harus dengan si anu. Kalau ada nggak cocoknya padahal saya dusah
terlanjur menikah dengan si anu, apa anda mau nggantiin saya?"
Bulan lalu salah seorang om saya mengenalkan saya dengan seorang cowok.
Secara keseluruhan saya menilai dia orang baik. Tapi baik saja tidak
cukup bukan? Saya juga butuh "merasakan tertarik" dan "jatuh cinta"
padanya. Tapi entah kenapa sampai hari ini saya masih merasa biasa saja
sama dia. Bahkanakhir-akhir ini malah jadi ilfil karena dia mulai
ngatur-ngatur saya padahal kami belum ada ikatan apa-apa selain "just
friend". Akhirnya pelan-pelan saya menjauh . Tiap kali keluarga saya
menanyakan : "Bagaimana non perkembangan dengan si anu?" Saya cuma
geleng kepala dan mengangkat bahu. Semakin ketakutanlah mereka. Kemarin
sore bahkan bulik saya bertanya dengan nada prihati: "Apa kamu sudah
nggak doyan cowok?" Walah!!! Ini kalo sampai di dengar Clara_Anita bisa
bahaya!!!
Seperti wanita normal yang lain, saya juga ingin menikah..ingin punya
anak. Tiap kali bertemu dengan teman-teman yang sudah berkeluarga,
selalu timbul rasa iri (yang positif). Tapi saya nggak mau kalau
keputusan pacaran terlebih menikah itu lahir hanya untuk memuaskan keinginan dan harapan orang-orang maupun
lingkungan di sekitar saya. Bagi saya menikah adalah "sakral" dan mula-mula diputuskan oleh pasangan yang sebelumnya telah melalui proses pengenalan (berpacaran) dengan meminta hikmat Tuhan. Baru kemudian ketika pasangan tersebut sudah yakin bahwa Tuhan menjawab "YA" atas keputusan mereka untuk menikah, barulah pasangan tersebut memberitahukan kepada keluarga masing-masing.
Saya pengen
menjalaninya sekali saja selama saya hidup di dunia ini. Kalaupun bercerai
dari pasangan, maka mautlah yang menceraikan kami. Dan walau sampai hari ini saya masih seorang diri, jauh di lubuk hati kecil saya, ada satu keyakinan bahwa jika Tuhan menetapkan saya berpasangan, maka pada waktu yang telah DIA rencanakan saya akan bertemu dengan Mr. Right. Proses itu pasti akan terjadi dengan indah (indah waktu dipertemukan, indah waktu diuji, dan indah waktu diberkati).
Seperti ayat favorit saya
Pengkotbah 3:11
"Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya,
bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak
dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir."
Jadi, sekarang saya tersenyum (bukan lagi tersenyum kecut, tapi sumringah), karena teringat bahwa ternyata saya belum membalas sms dari ibu. Dan juga teringat bahwa mungkin saja cowok kristen tulen,gagah, setia, tanggung jawab dan mantap seperti yang dipromosikan jemaat tersebut adalah Mr. Right yang Tuhan kirim untuk saya. Jadi, doakan saya ya... Kalaupun bukan dia, saya akan tetap sabar menunggu hingga dia datang. Dan jika Tuhan merancang saya untuk tidak menikah sekalipun, saya juga tetap yakin bahwa saya akan bahagia. Dengan caraNYA saya akan bisa melalui semuanya dengan penuh syukur.
(NB : Jadi teringat perkataan Cik Joli waktu kopdar kemarin :"Sebelum mencoba mengenali pasanganmu, cobalah kenali dirimu sendiri dulu..." Dan ketika saya dalam perjalanan pulang ke kota ASRI, beliau juga mengirim sms begini : "Aku doain dapat jodoh yang kakinya kanan-kiri dan yang utama dia cinta dan takut Tuhan_bukan takut istri lho.)