Keselamatan, berdasar atas kasih karunia Allah atau karena iman? Apa yang menyebabkan seseorang diselamatkan: karena anugerah Allah atau karena iman? Bagaimana pandangan Alkitab tentang hal ini? Salahkah mengatakan bahwa orang yang tidak percaya pada Yesus pasti binasa? Apakah pilihan Allah atas bangsa Israel menyebabkan Israel diselamatkan secara bangsa? Apa keistimewaan bangsa Israel dibandingkan dengan bangsa lainnya?
Berikut adalah tanggapan saya terhadap ajaran Vantillian tentang hal ini. Tulisan ini sekaligus juga menanggapi blog Vantillian Disini
Keselamatan berdasarkan Kasih Karunia---Pemilihan Bangsa Israel
By Vantillian - Posted on Februari 27th, 2010
Saya menuliskan kembali topik suatu blog yang garis besarnya sudah dibahas dan didebatkan di SS ini. Tujuannya supaya kita lebih jelas dalam memahami rencana keselamatan yang dikerjakan Allah melalui sejarah bangsa Israel. Blog ini akan membahas kembali beberapa bagian penting kitab Roma 1-3 yang sudah pernah saya bahas. Semoga kita dapat mengerti betapa kaya, dalam dan lebarnya kasih Allah dan karya keselamatan Allah dalam Kristus Yesus sehingga setiap bangsa dihakimi dan diselamatkan melalui standar dari Allah.
Tanggapan Adrina:
Keselamatan HANYA di dalam Yesus Kristus, itulah standar keselamatan dari Allah!
Bangsa Israel adalah bangsa pilihan Allah. Allah telah menyatakan rencana keselamatanNya di dalam sejarah bangsa Israel. Mesias akan datang melalui garis keturunan bangsa Yahudi. Itulah penyataan Allah dalam sejarah manusia. Allah memilih satu umat sebagai realisasi janji keselamatanNya. Pemilihan itu adalah pilihan atas dasar kasih karunia, bukan karena bangsa Israel LAYAK di hadapan Allah. Pemilihan Allah atas Israel adalah hal yang selalu ditekankan dalam Alkitab tentang pengungkapan SIAPAKAH Allah satu-satunya di dunia ini.
Mazmur 135:4 Sebab TUHAN telah memilih Yakub bagi-Nya, Israel menjadi milik kesayangan-Nya.
Yesaya 41:8 Tetapi engkau, hai Israel, hamba-Ku, hai Yakub, yang telah Kupilih, keturunan Abraham, yang Kukasihi;
Yesaya 41:9 engkau yang telah Kuambil dari ujung-ujung bumi dan yang telah Kupanggil dari penjuru-penjurunya, Aku berkata kepadamu: "Engkau hamba-Ku, Aku telah memilih engkau dan tidak menolak engkau";
Yehezkiel 20:5 dan katakanlah kepadanya: Beginilah firman Tuhan ALLAH: Pada hari Aku memilih Israel, Aku bersumpah kepada keturunan kaum Yakub dan menyatakan diri kepada mereka di tanah Mesir; Aku bersumpah kepada mereka: Akulah TUHAN Allahmu!
Allah memilih satu bangsa sebagai SARANA untuk penyataan diriNya dan pekerjaanNya secara KHUSUS. Wahyu khusus inilah yang akan menjadi PEDOMAN dan TUNTUNAN untuk mengenal satu-satunya Allah yang benar. Respon manusia dalam menanggapi wahyu Allah di alam maupun dalam hati nurani telah GAGAL dalam memenuhi standar keselamatan Allah. Bahkan respon manusia terhadap wahyu khusus juga gagal. Karena itu, keselamatan dari Allah BUKAN keselamatan karena telah melihat respon manusia.
Tanggapan Adrina:
Wahyu khusus adalah Kitab Suci dan Yesus Kristus. Apa sebabnya anda katakan respon manusia terhadap Kitab Suci dan Yesus Kristus telah gagal? Kalau memang respon manusia terhadap wahyu khusus Allah ini telah gagal, lalu mengapa anda katakan bahwa wahyu khusus ini akan menjadi PEDOMAN dan TUTUNAN untuk mengenal satu-satunya Allah yang benar? Bukankah ketika manusia meresponi wahyu khusus ini dimana pada akhirnya mereka bisa mengenal Allah yang benar (percaya pada Yesus), maka manusia itu diselamatkan? Bukankah respon manusia itu tidak gagal?
“Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan. Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan” Roma 10:9-10.
“Jawab mereka: ‘Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu’." Kis 16:31
Ayat-ayat ini menegaskan bahwa, saat manusia percaya pada Tuhan Yesus Kristus, dia diselamatkan. Inilah inti pemberitaan Injil. Lalu, bukankah saat manusia meresponi berita Injil ini dengan cara percaya pada-Nya, maka manusia itu beroleh selamat?
Ef 2:8-9 “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.”
Keselamatan memang adalah anugerah Allah, tetapi Allah juga menuntut manusia untuk percaya pada-Nya. Inilah yang ditekankan oleh Roma 10:9-10, Kis 16:31 dan banyak ayat yang lainnya.
Manusia di dalam lubuk hatinya mengetahui bahwa ada Allah yang benar dan harus disembah. Karena itu, manusia bereaksi dengan mempersembahkan kurban dan sejenisnya untuk menyatakan suatu persembahan sebagai korban penghapusan dosa dan perolehan berkat. John Calvin menamakannya dengan istilah “sensus divintas” yaitu suatu kepekaan akan Allah atau “semen religionis ( benih agama). Sensus divintas manusia adalah bukti bahwa wahyu Allah dinyatakan dengan jelas dan nyata bagi setiap manusia. Sayang, manusia selalu menindas kebenaran. Manusia selalu mengangkat dirinya menjadi standar kebenaran. Manusia ingin menjadi SUBJEK kebenaran.
Tanggapan Adrina:
“Kata Yesus kepadanya: ‘Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku”. Yoh 14:6
Yesus adalah satu-satunya jalan dan kebenaran dan hidup. Jika manusia ingin ke surga, tidak ada CARA lain, tidak ada JALAN lain, selain harus datang pada Kristus! Itulah standar kebenaran Allah! Ketika orang percaya mengatakan hal ini, orang tersebut tidak sedang mengangkat dirinya menjadi standar kebenaran, tetapi justru sedang meneruskan kebenaran Allah itu sendiri.
Wahyu Allah memang dinyatakan dengan jelas pada semua manusia, tetapi itu tidak berarti bahwa semua manusia pada akhirnya bisa selamat.
Bagaimanapun usaha keras manusia untuk berkorban, keselamatan itu terjadi karena pemilihan Allah. Jika ada dua orang, yang satunya adalah yang dipilih tetapi sama-sama mempersembahkan korban penghapus dosa, hanya yang dipilih yang selamat. Pemahaman yang penting ini harus menjadi suatu landasan untuk mengerti mengapa bangsa Israel dipilih oleh Allah.
Tanggapan Adrina:
Apakah karena bangsa Israel dipilih oleh Allah maka Israel akan diselamatkan? Pemilihan atas Israel, jelas tidak sama dengan predestinasi. Keselamatan memang karena pilihan Allah, itu adalah bagian / urusan Allah. Kita tak perlu tahu siapa-siapa yang telah dipilih dan siapa-siapa yang tidak dipilih, mengapa? Karena kita memang tidak bisa mengetahuinya. Yang HARUS kita lakukan (bagian kita) adalah PERCAYA pada Yesus, karena dengan demikian, kita PASTI selamat!
Bangsa Israel merupakan bangsa yang beruntung jika dipandang dari kacamata manusia. Bagaimana tidak? Suatu bangsa pilihan. Bangsa yang khusus. Bangsa dimana merupakan saluran satu-satunya Juruselamat lahir di dalam sejarah. Karena itu, bangsa Israel mempunyai suatu pandangan bagaimana posisinya di hadapan bangsa yang lain. Bukankah Allah bangsa Israel adalah Allah sejati? Bukankah Allah bangsa di luar bangsa Israel adalah berhala dan allah palsu? Apakah dengan demikian, maka berarti HANYA bangsa Israel yang akan mendapatkan karunia keselamatan? Bukankah itu berarti bahwa untuk selamat, maka seseorang HARUS menjadi warga Negara Israel? Ataukah itu berarti bahwa bangsa yang bersentuhan dengan sejarah bangsa Israel yang akan selamat?
Jawaban atas semua pertanyaan di atas harus dirumuskan dengan hati-hati. Jawaban yang mengeksklusifkan bangsa Israel sebagai satu-satunya bangsa yang akan selamat adalah jawaban yang tidak sesuai dengan Firman. Tetapi jawaban yang mengeksklusifkan bangsa Israel sebagai bangsa yang tidak selamat juga bukan jawaban yang sesuai dengan Firman. Lalu bagaimana kita memandang hal ini?
Tanggapan Adrina:
Jangan bingung Vant, orang yang tidak percaya pada Yesus pasti binasa, dan bagi mereka yang percaya pada-Nya pasti selamat! Pada jaman PL, hanya bangsa Israel yang punya Taurat, jadi bisa dipastikan bahwa semua bangsa non Israel (yang tidak ‘bersentuhan’ dengan Taurat), pasti binasa. Tetapi hal ini juga tidak membuktikan bahwa SELURUH orang Israel pasti selamat. Tentunya keselamatan itu hanya diperuntukkan bagi mereka yang beriman.
Bagaimana kita memahami secara hati-hati supaya kita tidak terjatuh di dalam sikap menghakimi di satu sisi dan sikap universalisme di sisi lain? Dalam hal ini, ada beberapa hal yang harus kita pahami dan diskusikan lanjut mengenai pemilihan bangsa Israel.
Tanggapan Adrina:
Apa yang saya katakan itu bukan menunjukkan bahwa saya telah menghakimi bangsa-bangsa non Israel, tetapi itu sesuai dengan Firman Tuhan (Rom 2:12).
Mengenai persoalan Universalisme, saya rasa semua pembaca SS ini dapat melihat bahwa anda telah terjangkit virus-nya, sehingga tanpa disadari atau disadari, anda telah terkena racun Universalisme itu. Silahkan anda mempelajarinya kembali disini: Racun Universalisme: Sebuah Tanggapan Terhadap Ajaran Vantillian
PEMILIHAN BANGSA ISRAEL
Jika kita ditanya mengapa Allah harus memilih suatu bangsa untuk menyatakan diriNya secara khusus? Maka jawabannya bisa beragam. Allah hendak menyatakan kemuliaan diriNya. Allah hendak menyelamatkan umat manusia melalui bangsa Israel. Allah hendak menjadi manusia melalui sejarah bangsa Israel. Dan jawaban yang lainnya dengan ditunjang sederetan ayat. Lalu bagaimana kita melihat hubungan pemilihan bangsa Israel dengan rencana keselamatan dari Allah?
Tanggapan Adrina:
Mengapa Allah memilih bangsa Israel? Salah satu alasannya karena Dia mengasihi nenek moyang mereka.
“Sesungguhnya, TUHAN, Allahmulah yang empunya langit, bahkan langit yang mengatasi segala langit, dan bumi dengan segala isinya; tetapi hanya oleh nenek moyangmulah hati TUHAN terpikat sehingga Ia mengasihi mereka, dan keturunan merekalah, yakni kamu, yang dipilih-Nya dari segala bangsa, seperti sekarang ini.” Ul 10:14-15.
Mengapa Allah mengasihi mereka? Kasih Allah pada Israel, didasari hanya pada kehendak / kedaulatan-Nya semata, bukan karena apapun yang dimiliki oleh bangsa Israel.
Pemilihan bangsa Israel mempunyai suatu gambaran yang penting tentang RELASI manusia dengan Allah. Disini saya akan berfokus kepada TIGA point yang penting. Point pertama adalah Allah menyatakan standar wahyu keselamatan di antara semua bangsa adalah SAMA. Yang Allah tuntut dari bangsa Israel adalah SAMA seperti yang Allah tuntut dari bangsa lain. Standar penghakiman adalah sama. Standar keselamatan juga sama. Wahyu Allah dinyatakan supaya manusia bisa BERELASI dengan kebenaran. Bangsa Israel selalu menekankan symbol sunat bahwa mereka telah memenuhi standar hukum Taurat dan telah menjadi warga Negara Israel. Namun dari kitab Roma, kita tahu bahwa jika seorang yang tidak bersunat melakukan tuntutan hukum Taurat, maka dia dianggap sama dengan orang bersunat.
Roma 2:26 Jadi jika orang yang tak bersunat memperhatikan tuntutan-tuntutan hukum Taurat, tidakkah ia dianggap sama dengan orang yang telah disunat?
Apakah artinya ini? Artinya adalah standar keselamatan TIDAK BERGANTUNG kepada kewargaan seseorang. Bersunat atau tidak bersunat, yang penting adalah memenuhi hukum Taurat. Karena yang penting dalam standar wahyu keselamatan, tidak diperhitungkan apakah dia termasuk orang Yahudi atau tidak. Rasul Paulus dengan tegas menegaskan hal itu dalam kitab Roma 2:28-29. Dengan demikian, menyatakan bahwa untuk menerima keselamatan di dalam zaman PL adalah dengan menjadi warga Negara Israel adalah hal yang bertentangan dengan Alkitab.
Roma 2:28 Sebab yang disebut Yahudi bukanlah orang yang lahiriah Yahudi, dan yang disebut sunat, bukanlah sunat yang dilangsungkan secara lahiriah.
Roma 2:29 Tetapi orang Yahudi sejati ialah dia yang tidak nampak keyahudiannya dan sunat ialah sunat di dalam hati, secara rohani, bukan secara hurufiah. Maka pujian baginya datang bukan dari manusia, melainkan dari Allah.
Tanggapan Adrina:
Keselamatan bukan karena menjadi warga Negara Israel, tetapi karena respon yang benar terhadap Taurat yang hanya dimiliki oleh bangsa Israel. Bangsa non Israel bisa diselamatkan kalau dia percaya pada Kristus yang diberitakan dalam Taurat.
Rom 10:4 “Sebab Kristus adalah kegenapan tujuan hukum Taurat, sehingga kebenaran diperoleh tiap-tiap orang yang percaya.”
(KJV) “ For Christ [is] the end of the law for righteousness to every one that believeth.”
Hukum Taurat ada, supaya manusia sadar akan dosanya dan lalu datang pada Kristus.
Pembenaran karena iman, bukan hanya berlaku dalam PB, tetapi juga sudah ada dalam PL.
Kej 15:6 “Lalu percayalah Abram kepada TUHAN, maka TUHAN memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.”
Hal lain yang dianggap sama adalah tuntutan hati nurani dari bangsa-bangsa di dunia. Hukum Taurat HANYA diterima oleh bangsa Israel secara lengkap. Bangsa lain tidak menerima hukum Taurat secara tertulis. Apakah dengan demikian bangsa Israel menjadi special? Benar. Apakah dengan demikian bangsa Israel menjadi satu-satunya bangsa yang pasti akan selamat? Belum tentu.
Tanggapan Adrina:
Bangsa Israel memang bukan satu-satunya bangsa yang pasti selamat. Contoh: Naaman (orang Aram) yang bertobat, dia pasti bisa selamat.
Mengapa demikian? Hukum Taurat tertulis dan tidak tertulis mempunyai STANDAR yang sama. Siapa yang melakukannya akan hidup karenanya. Hukum Taurat tidak tertulis telah Allah nyatakan dalam setiap hati nurani bangsa-bangsa. Jadi Standar keselamatan Hukum Taurat tertulis = Hukum Taurat tidak tertulis. Apakah itu berarti standar Hukum Taurat dalam Alkitab= hukum Taurat tidak tertulis dalam ajaran keselamatan bangsa lain? Bukankah Allah hanya SATU bagi semua bangsa?
Roma 3:29 Atau adakah Allah hanya Allah orang Yahudi saja? Bukankah Ia juga adalah Allah bangsa-bangsa lain? Ya, benar. Ia juga adalah Allah bangsa-bangsa lain!
Roma 2:14 Apabila bangsa-bangsa lain yang tidak memiliki hukum Taurat oleh dorongan diri sendiri melakukan apa yang dituntut hukum Taurat, maka, walaupun mereka tidak memiliki hukum Taurat, mereka menjadi hukum Taurat bagi diri mereka sendiri.
Roma 2:15 Sebab dengan itu mereka menunjukkan, bahwa isi hukum Taurat ada tertulis di dalam hati mereka dan suara hati mereka turut bersaksi dan pikiran mereka saling menuduh atau saling membela.
Silakan dibaca kedua ayat tersebut dengan baik, apakah Standar hukum Taurat tertulis melebihi dari hukum Taurat tidak tertulis dalam hati? Tidak. Hukum tertulis mungkin lebih lengkap dan jelas, namun standar penghakiman dan keselamatan tetap sama. Setiap bangsa akan selamat kalau melakukan hukum Taurat tidak tertulis yang telah diukir dalam hati mereka. Dengan kata lain, Allah TETAP akan menerima setiap bangsa berdasarkan wahyu yang telah dinyatakan kepada setiap orang, BUKAN hanya bangsa Israel saja. Allah tetap adil, namun Dia memilih bangsa Israel sebagai gambaran bahwa keselamatan yang terjadi adalah berdasarkan kasih karunia, bukan karena perbuatan manusia.
Tanggapan Adrina:
Rom 2:12 “Sebab semua orang yang berdosa tanpa hukum Taurat akan binasa tanpa hukum Taurat; dan semua orang yang berdosa di bawah hukum Taurat akan dihakimi oleh hukum Taurat.”
Hukum Taurat hanya dimiliki oleh orang Israel, bangsa non Israel sama sekali tidak memilikinya. Rom 2:12 mencatat semua orang berdosa tanpa hukum Taurat akan binasa!
Inilah konsep keselamatan pada jaman PL.
Memang, melakukan hukum Taurat yang tidak tertulis (hati nurani), dapat menyelamatkan manusia, tetapi syaratnya HARUS sempurna! Allah kita adalah Allah yang sempurna / kudus, karena itu Dia menuntut kesempurnaan.
Tetapi pertanyaannya adalah: Apakah ada manusia yang sanggup melakukannya secara sempurna? Mustahil! Karena itu, adalah omong kosong kalau hukum yang tidak tertulis (wahyu umum), bisa membawa seseorang ke surga.
Roma 3:9 Jadi bagaimana? Adakah kita mempunyai kelebihan dari pada orang lain? Sama sekali tidak. Sebab di atas telah kita tuduh baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, bahwa mereka semua ada di bawah kuasa dosa,
Roma 3:10 seperti ada tertulis: "Tidak ada yang benar, seorang pun tidak.
Point kedua yang penting adalah pemilihan bangsa Israel adalah pemilihan Allah supaya manusia bisa terbukti telah di bawah kuasa dosa. Allah memilih bangsa Israel sebagai cermin bahwa setiap bangsa sebenarnya telah jatuh dalam dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah. Ini dibuktikan dengan sejarah bangsa Israel yang penuh pengkhianatan terhadap TUHAN. Bangsa Israel adalah gambaran semua bangsa. Allah memilih bangsa Israel supaya setiap mulut tersumbat ketika dihakimi (termasuk bangsa Israel) dan supaya semua mulut yang selamat memuji kemuliaan Allah ( karena dipilih Allah). Bangsa Israel adalah contoh bahwa semua respon manusia terhadap wahyu Allah TELAH GAGAL dalam mencapai standar keselamatan dari Allah.
Tanggapan Adrina:
Mengapa anda katakan bangsa Israel adalah contoh bahwa semua respon manusia terhadap wahyu Allah TELAH GAGAL dalam mencapai standar keselamatan dari Allah? Contoh yang bagaimana? Wahyu yang mana? Umum atau khusus? Apakah respon semua orang Israel terhadap hukum Taurat memang telah gagal? Apakah memang semua orang Israel tidak ada yang memberi respon positif terhadap hukum Taurat ? Apakah dengan mereka percaya dan melakukan apa yang dikatakan oleh hukum Taurat, itu tetap menunjukkan bahwa mereka telah gagal? Omong kosong!
Roma 3:1 Jika demikian, apakah kelebihan orang Yahudi dan apakah gunanya sunat?
Roma 3:2 Banyak sekali, dan di dalam segala hal. Pertama-tama: sebab kepada merekalah dipercayakan firman Allah.
Point ketiga adalah bahwa pemilihan bangsa Israel adalah sebagai sarana diteruskannya wahyu tertulis dari Allah. Wahyu inilah yang dikenal sebagai Firman Allah. Firman inilah yang akan menjadi STANDAR tertinggi bagi semua respon manusia terhadap wahyu Allah. Tetapi wahyu ini terhisap dalam sejarah bangsa Israel. Allah tidak menyatakan FirmanNya dengan cara TERLEPAS dari sejarah manusia. Karena itu, Firman Allah dapat terpelihara melalui sejarah panjang suatu bangsa. Firman inilah yang menjadi PENILAI dan PENENTU semua ajaran dan pemikiran manusia. Firman inilah yang menjadi bukti nyata bahwa Allah masuk ke dalam sejarah. Allah menyatakan Firman tertulis kepada Israel BUKAN untuk menyatakan bahwa bangsa lain pasti akan binasa TANPA Firman tertulis. Namun Firman yang tertulis dinyatakan supaya kebenaran Allah itu nyata dan ketidakbenaran manusia ditunjukkan dengan jelas.
Roma 3:4 Sekali-kali tidak! Sebaliknya: Allah adalah benar, dan semua manusia pembohong, seperti ada tertulis: "Supaya Engkau ternyata benar dalam segala firman-Mu, dan menang, jika Engkau dihakimi."
Roma 3:19 Tetapi kita tahu, bahwa segala sesuatu yang tercantum dalam Kitab Taurat ditujukan kepada mereka yang hidup di bawah hukum Taurat, supaya tersumbat setiap mulut dan seluruh dunia jatuh ke bawah hukuman Allah.
Tanggapan Adrina:
Kata-kata anda yang saya garis bawahi itu jelas telah bertentangan dengan Rom 2:12
Rom 2:12 “Sebab semua orang yang berdosa tanpa hukum Taurat akan binasa tanpa hukum Taurat; dan semua orang yang berdosa di bawah hukum Taurat akan dihakimi oleh hukum Taurat.”
Dalam PL, semua orang yang berdosa tanpa hukum Taurat, pasti binasa!
Anda sendiri mengatakan: “Wahyu inilah (Taurat) yang dikenal sebagai Firman Allah. Firman inilah yang akan menjadi STANDAR tertinggi bagi semua respon manusia terhadap wahyu Allah”. Lalu apakah bangsa lain yang tidak memiliki Firman Allah bisa ber-Respon? Kalau mereka tidak bisa memberi tanggapan, lalu apakah mereka bisa selamat?
Bandingkan dengan jaman PB, tanpa seseorang mendengar Injil, mereka juga pasti binasa!
Rom 10:13-14 “Sebab, barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan. Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia. Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan-Nya?”
Orang yang mendengarkan Injil dan percaya pada Yesus, pasti diselamatkan!
Itulah sebabnya pemberitaan Injil sangat penting untuk dilakukan, agar orang bisa percaya pada Yesus dan diselamatkan.
PILIHAN KASIH KARUNIA
Dengan ketiga point ini, kita dapat melihat bahwa pada akhirnya pilihan atas Israel adalah pilihan atas dasar karunia. Inilah pilihan yang terjadi dalam pilihan umat kepercayaanNya. Bangsa Israel dipilih secara jasmani untuk menggambarkan pilihan secara rohani. Semuanya karena pilihan kasih karunia.
Tanggapan Adrina:
Pilihan atas bangsa Israel jelas berbeda dengan persoalan predestinasi Allah atas umat-Nya. Mengapa? Karena tidak semua orang Israel selamat. Keselamatan memang didasari atas pemilihan Allah / kasih karunia-Nya (Ef 1:4,5,11; Kis 13:48; Ef 2:8) tetapi itu tidak membuang tanggung jawab manusia untuk percaya pada-Nya agar dapat diselamatkan (Kis 16:31; Rom 10:9-10).
Kis 16:30-34 “Ia mengantar mereka ke luar, sambil berkata: ‘Tuan-tuan, apakah yang harus aku perbuat, supaya aku selamat?’ Jawab mereka: ‘Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu.’ Lalu mereka memberitakan firman Tuhan kepadanya dan kepada semua orang yang ada di rumahnya. Pada jam itu juga kepala penjara itu membawa mereka dan membasuh bilur mereka. Seketika itu juga ia dan keluarganya memberi diri dibaptis. Lalu ia membawa mereka ke rumahnya dan menghidangkan makanan kepada mereka. Dan ia sangat bergembira, bahwa ia dan seisi rumahnya telah menjadi percaya kepada Allah.”
Ayat ini didahului oleh pertanyaan seorang kepala penjara di Filipi: “apakah yang harus aku perbuat, supaya aku selamat?” Apa yang dilakukan para Rasul? Apakah mereka katakan “tak usah percaya, karena keselamatanmu sudah ditetapkan Allah?” Tentu tidak! Mereka memberitakan Injil pada kepala penjara itu, dan mengatakan: ‘Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat...’ Hal inilah yang harus dilakukan oleh kepala penjara itu supaya dia bisa selamat, hal ini jugalah yang harus dilakukan manusia jika ingin selamat. Manusia itu harus PERCAYA pada Tuhan Yesus Kristus.
Sekali lagi, Predestinasi (pemilihan Allah) adalah urusan / bagian Allah, itu BUKAN bagian kita. Urusan kita adalah BERIMAN / PERCAYA pada-Nya.
Ul 29:29 “Hal-hal yang tersembunyi ialah bagi TUHAN, Allah kita, tetapi hal-hal yang dinyatakan ialah bagi kita dan bagi anak-anak kita sampai selama-lamanya, supaya kita melakukan segala perkataan hukum Taurat ini."
“Hal-hal yang tersembunyi” menunjuk pada rencana Allah yang tidak bisa kita ketahui. Itu adalah bagi Allah, bagian kita adalah melakukan hukum Taurat / Firman Tuhan. itu yang harus menjadi dasar dalam hidup kita.
Dalam persoalan keselamatan, jelas hal ini dapat ditinjau dari dua sisi: sisi Allah (member anugerah / predestinasi) dan sisi manusia (meresponi Injil / percaya pada Yesus).
Kedua hal ini diajarkan dalam Firman Tuhan. Tidak percaya pada dua hal ini, sama dengan TIDAK PERCAYA pada Kitab Suci!
Menjadi warga Negara Israel mungkin akan terasa istimewa, namun itu bukan jalan keselamatan. Menjadi Kristen ( beragama Kristen ) mungkin akan terasa istimewa, namun itu bukan jalan keselamatan. Satu-satunya jalan keselamatan adalah karena karya Allah dalam hati manusia. Bukan dengan mendapatkan hak istimewa dalam bentuk apapun. Inilah konsep keselamatan yang tidak dimengerti oleh bangsa Israel sendiri. Sungguh ironis. Suatu bangsa pilihan, namun tidak memahami konsep pemilihan itu sendiri.
Tanggapan Adrina:
“Kata Yesus kepadanya: ‘Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku”. Yoh 14:6
Joh 3:16 “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”
Yesus Kristus adalah satu-satunya jalan keselamatan. Dengan percaya pada-Nya, membuat saudara diselamatkan, tidak percaya pada-Nya menyebabkan saudara tidak diselamatkan!
Hanya agama Kristen yang memberitakan hal ini. Berarti hanya dalam Kristen ada jalan keselamatan.
Bangsa Israel mungkin adalah bangsa yang special, namun semua bangsa sama di hadapan Allah. Allah membiarkan semua bangsa berjalan di dalam penindasan mereka atas kebenaran, namun Allah juga telah menyatakan diriNya kepada setiap bangsa di setiap zaman. Bukan hak kita untuk mengklaim bahwa Allah seharusnya hanya bisa dikenal melalui denominasi dan bentuk yang kita percayai. Itulah kesalahan bangsa Israel. Bangsa Israel mengganggap diri EKSKLUSIF karena berbeda dengan bangsa lain. Mempunyai sejarah dituntun dan dipimpin oleh Tuhan sendiri keluar dari Mesir. Mereka lupa bahwa Allah ternyata juga menuntun bangsa-bangsa lain. Mereka lupa bahwa Allah ternyata juga memandang dengan standar yang sama terhadap semua bangsa.
Kita akan melihat dalam Kitab Amos pasal 9 sangat jelas dan tegas menyatakan bahwa bangsa Israel adalah sama seperti bangsa lain di mata Tuhan.
Amos 9:7 "Bukankah kamu sama seperti orang Etiopia bagi-Ku, hai orang Israel?" demikianlah firman TUHAN. "Bukankah Aku telah menuntun orang Israel keluar dari tanah Mesir, orang Filistin dari Kaftor, dan orang Aram dari Kir?
Allah tidak eksklusif membawa bangsa Israel keluar dari Mesir, namun juga membawa Orang Filistin dan orang Aram. Bukankah kedua bangsa ini dikenal sebagai bangsa kafir? Lalu mengapa Allah TIDAK meninggalkan mereka saja dan bertindak secara eksklusif dalam sejarah bangsa Israel? Bangsa Israel terlalu menganggap bahwa mereka adalah eksklusif di mata Allah, dan pada akhirnya MENGEKSKLUSIFKAN Allah terhadap bangsa lain. Bangsa lain tidak akan mungkin dipimpin oleh Allah. Itulah pemikiran bangsa Israel. Tetapi Firman Allah menegaskan bahwa Allah terlibat pada semua sejarah bangsa.
Tanggapan Adrina:
Amos 9:7 memang menyatakan bahwa bangsa Israel sama dengan bangsa lain. Tetapi sama dalam hal apa? Tentunya ini menunjuk pada hal-hal yang bersifat jasmani.
Rom 3:1-2 “Jika demikian, apakah kelebihan orang Yahudi dan apakah gunanya sunat? Banyak sekali, dan di dalam segala hal. Pertama-tama: sebab kepada merekalah dipercayakan firman Allah.”
Ini adalah kelebihan orang Israel / Yahudi, kepada mereka dipercayakan Firman Allah / Taurat. Apakah bangsa lain juga memiliki Taurat? Tentu tidak. Jadi, menurut saya bangsa Israel tetap adalah bangsa yang ‘special’.
Itu berarti sejarah bangsa lain mempunyai kemungkinan dijumpai JEJAK-JEJAK respon manusia terhadap wahyu Allah.
Tanggapan Adrina:
Dalam tulisannya yang berjudul: “Allah yang SATU bagi semua bangsa---pandangan seorang Vantillian”, dia menuliskan: “Tetapi bahkan Paulus sendiri mengaitkan konsep ‘allah yang tidak dikenal’ dengan Allah Pencipta yang tercatat dalam wahyu Firman. Paulus menghubungkan pengenalan orang Atena terhadap wahyu yang samar-samar dengan wahyu umum dan khusus dari Allah.” Hal ini telah saya bantah disini: Racun Universalisme: Sebuah Tanggapan Terhadap Ajaran Vantillian Tetapi rupanya dia tidak kapok, namun mengganti istilah “SAMAR-SAMAR” dengan istilah “JEJAK-JEJAK”.
Sungguh aneh bin ajaib kalau bangsa lain yang sama sekali tidak memiliki Taurat, ternyata ada “JEJAK-JEJAK” respon / tanggapan terhadap wahyu Allah / Taurat. Sungguh keanehan tingkat tinggi!
Amos 9:8 Sesungguhnya, TUHAN Allah sudah mengamat-amati kerajaan yang berdosa ini: Aku akan memunahkannya dari muka bumi! Tetapi Aku tidak akan memunahkan keturunan Yakub sama sekali," demikianlah firman TUHAN.
Semua tuntunan Tuhan terhadap bangsa-bangsa hanya membuktikan bahwa manusia telah berdosa. Pada akhirnya keselamatan hanya berdasarkan belas kasihan dan karunia pemilihan Allah. Pada akhirnya Allah memulihkan umat Israel, tetapi bukan berdasarkan perbuatan baik atau jahat mereka, hanya berdasarkan kasih karunia.
Amos 9:13 "Sesungguhnya, waktu akan datang," demikianlah firman TUHAN, "bahwa pembajak akan tepat menyusul penuai dan pengirik buah anggur penabur benih; gunung-gunung akan meniriskan anggur baru dan segala bukit akan kebanjiran.
Amos 9:14 Aku akan memulihkan kembali umat-Ku Israel: mereka akan membangun kota-kota yang licin tandas dan mendiaminya; mereka akan menanami kebun-kebun anggur dan minum anggurnya; mereka akan membuat kebun-kebun buah-buahan dan makan buahnya.
Pemilihan bangsa Israel adalah BUKAN untuk menunjukkan bahwa siapa yang menjadi warga Israel akan selamat. BUKAN juga untuk menunjukkan bahwa HANYA Israel yang benar, bangsa lain yang salah. BUKAN juga untuk menunjukkan bahwa Israel adalah hakim yang menghakimi bangsa lain. ( Roma 2:1 Karena itu, hai manusia, siapa pun juga engkau, yang menghakimi orang lain, engkau sendiri tidak bebas dari salah. Sebab, dalam menghakimi orang lain, engkau menghakimi dirimu sendiri, karena engkau yang menghakimi orang lain, melakukan hal-hal yang sama.)
Tanggapan Adrina:
Bangsa Israel memang adalah bangsa yang ‘special’ karena hanya Israel yang memiliki Taurat. Jadi, kalau dikatakan pilihan atas Israel dapat menyebabkan orang Israel yang meresponi Taurat dengan benar dapat diselamatkan, itu memang benar. Kalau dikatakan hanya orang Israel yang percaya pada Taurat yang akan dibenarkan, itu ada benarnya. Kalau dikatakan orang Israel “menghakimi” bangsa lain karena tidak memiliki Taurat, itu juga ada benarnya, karena memang TANPA Taurat, semua manusia binasa!
Mengenai persoalan “menghakimi”, anda mengutip Rom 2:1 sebagai dasarnya. Ini jelas telah anda salah tafsirkan. Konteks menunjukkan bahwa orang yang menghakimi itu adalah orang yang SAMA dengan orang yang dihakimi. Orang yang dihakimi adalah orang yang fasik, yang menindas kebenaran (Rom 1:18), tidak memuliakan-Nya sebagai Allah (Rom 1:21), menolak kebenaran Allah bahkan menyembah berhala (Rom 1:23,25) dan tidak mengakui Allah bahkan melakukan segala macam kejahatan (Rom 1:28-31). Orang yang menghakimi-pun ternyata melakukan hal yang sama dengan mereka.
Rom 2:1-3 “Karena itu, hai manusia, siapapun juga engkau, yang menghakimi orang lain, engkau sendiri tidak bebas dari salah. Sebab, dalam menghakimi orang lain, engkau menghakimi dirimu sendiri, karena engkau yang menghakimi orang lain, melakukan hal-hal yang sama. Tetapi kita tahu, bahwa hukuman Allah berlangsung secara jujur atas mereka yang berbuat demikian. Dan engkau, hai manusia, engkau yang menghakimi mereka yang berbuat demikian, sedangkan engkau sendiri melakukannya juga, adakah engkau sangka, bahwa engkau akan luput dari hukuman Allah?”
Jadi, kita tidak dapat “menghakimi” orang lain, jika kita juga SAMA dengan mereka. Tetapi kalau kita sudah bertobat / percaya pada Yesus, kita dapat memberitahu orang lain yang belum percaya untuk bertobat jika ingin diampuni dan beroleh hidup kekal. Karena jika tidak demikian, maka orang yang berdosa itu akan binasa selama-lamanya.
Ini bukanlah sikap yang salah (menghakimi), tetapi merupakan kebenaran Firman Tuhan.
Pemilihan bangsa Israel adalah untuk menunjukkan bahwa semua bangsa telah jatuh dalam dosa. Pemilihan bangsa Israel adalah suatu tindakan Allah untuk menyatakan kasih karuniaNya. Pemilihan bangsa Israel adalah untuk meneruskan wahyu Allah dalam diri Yesus Kristus. Pemilihan bangsa Israel adalah sebagai sarana dari Allah untuk menyatakan dan memelihara FirmanNya. Firman yang meneguhkan bahwa hanya Allah yang benar dan semua manusia telah berdosa.
Tanggapan Adrina:
Oleh karena semua manusia telah berdosa, maka dibutuhkan seorang Juruselamat untuk menjadi pengganti kita dalam memikul semua dosa itu. Dibutuhkan seorang Juruselamat untuk membayar semua hutang dosa kita itu. Dibutuhkan seorang Juruselamat untuk membawa kita ke surga. Hanya ada SATU orang yang sanggup melakukannya: Yesus Kristus Tuhan!
Setelah kita memahami hal di atas, mari kita sebagai orang Kristen dan yang percaya kepada Kristus, bagaimanakah sikap dan tindakan kita dalam menghadapi kenyataan pluralisme agama-agama maupun respon ajaran lain di luar kekristenan?
Tanggapan Adrina:
Sikap anda sendiri seperti apa? Kompromistis? Menganggap agama lain bisa selamat sekalipun tidak memiliki respon yang benar terhadap wahyu Allah? Percaya pada Universalisme?
Hanya Kekristenan yang mengajarkan Yesus Kristus adalah Tuhan dan satu-satunya Juruselamat. Kepercayaan lain tidak mengajarkannya. Berarti hanya Kristen yang memiliki KEPASTIAN keselamatan! Diluar Kristen, TIDAK ADA jaminan!
Perumusan teologis perlu dilakukan secara berhati-hati tanpa sikap menghakimi dan saling tuduh menuduh serta mengklaim eksklusivitas DIRI. Biarlah kita diberikan Roh Kudus suatu hikmat dalam memberitakan karya keselamatan Kristus kepada semua orang tanpa menjadikan diri sebagai standar kebenaran.
Tanggapan Adrina:
Mengatakan kepercayaan lain tidak punya kepastian keselamatan dan akan binasa jika tidak percaya pada Kristus, bukanlah sikap yang menghakimi. Perhatikan ayat-ayat Alkitab berikut ini:
“Kata Yesus kepadanya: ‘Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku”. Yoh 14:6
Joh 3:16 “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”
Joh 3:18 “Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah.”
Yoh 3:36 "Barangsiapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal, tetapi barangsiapa tidak taat kepada Anak, ia tidak akan melihat hidup, melainkan murka Allah tetap ada di atasnya."
Keselamatan manusia telah diatur dalam Alkitab. Mereka yang percaya pada Yesus, PASTI selamat! Sebaliknya, bagi mereka yang tidak percaya PASTI binasa!
Ketika saya mengatakan semua hal ini, itu tidak menunjukkan bahwa saya menjadikan diri sendiri sebagai standar kebenaran. Tetapi justru sebaliknya, saya sedang menjadikan Alkitab sebagai standar kebenaran.
Mempersalahkan orang yang mengatakan hal ini, sama dengan mempersalahkan Kitab Suci!
Kebenaran itu eksklusif terhadap ketidakbenaran. Namun mengatakan Kebenaran SAYA itu eksklusif terhadap kebenaran ANDA, itu memerlukan suatu diskusi yang berkepanjangan. Kebenaran itu mutlak. Namun menyatakan bahwa kebenaran yang saya pahami itu mutlak benar dibandingkan dengan pemahaman kebenaran anda, itu juga memerlukan suatu pembuktian dengan diskusi tanpa henti-hentinya.
Tanggapan Adrina:
Kebenaran saya memang “eksklusif” terhadap kebenaran anda. Kebenaran yang saya yakini memang adalah kebenaran mutlak! Mengapa? Karena kebenaran yang saya yakini itu berdasar pada Kitab Suci. Kebenaran yang didasari pada Kitab Suci, adalah kebenaran yang MUTLAK!!!
KESIMPULAN:
Dari seluruh tanggapan saya terhadap tulisan Vantillian ini, saya menyimpulkannya sebagai berikut:
1. Keselamatan harus dipandang dalam 2 sisi: Sisi Allah yaitu karena kasih karunia Allah (Ef 2:8; Rom 3:24) dan tanggapan manusia dengan iman (Kis 16:31; Gal 2:16; Ef 2:8; Rom 10:9-10).
2. Memberitakan Injil dengan menekankan adanya surga bagi mereka yang percaya dan neraka bagi mereka yang tidak percaya, bukan merupakan sikap eksklusif dan bukan juga merupakan penghakiman.
3. Bangsa Israel adalah bangsa yang memiliki kelebihan dari bangsa-bangsa lain, karena hanya bangsa Israel yang dipercayakan Firman Tuhan / Taurat (Rom 3:1-2).
4. Pemilihan bangsa Israel berbeda dengan Predestinasi.
5. Keselamatan dalam PL, sama dengan jaman PB, karena iman
Dengan demikian, ajaran Vantillian yang mengatakan respon manusia / 'percaya' bukan cara untuk selamat dan keselamatan Allah hanya didasari pada kasih karunia tanpa melihat respon / tanggapan / iman manusia, jelas telah bertentangan dengan Kitab Suci.
Demikian tanggapan saya, semoga bermanfaat.
Tuhan memberkati.