Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDASpace

Loading

Sekilas dari Keabadian (33)

John Adisubrata's picture

Kesaksian Ian McCormack

Oleh: John Adisubrata

PULANG KE KAMPUNG HALAMAN

Pulanglah ke rumahmu dan ceriterakanlah segala sesuatu yang telah diperbuat Allah atasmu.” Orang itupun pergi mengelilingi seluruh kota dan memberitahukan segala apa yang telah diperbuat Yesus atas dirinya.’ (Lukas 8:39)

Sesuai dengan rencana mula-mula, pada hari yang sudah ditentukan, saya terbang meninggalkan pulau Mauritius menuju ke kota Perth di Australia.

Di sepanjang perjalanan yang amat jauh itu, kejadian ajaib yang saya alami pada saat kematian saya tersebut selalu terbayang di dalam benak pikiran saya. Semua kenangan yang mengerikan, mengharukan, mengesankan, maupun yang menakjubkan, mendorong diri saya untuk terus berdoa kepada Tuhan. Di dalam pesawat selama perjalanan di udara tak henti-hentinya saya bercakap-cakap dengan Dia. (1)

Masih tiga minggu lamanya saya melewatkan waktu di Australia, di kota-kota Perth, Melbourne dan Sydney, sebelum meneruskan perjalanan saya pulang kembali ke kampung halaman saya di New Zealand.

Selama itu saya bisa merasakan perubahan-perubahan drastis yang terjadi pada pribadi saya, begitu juga pada pola kehidupan saya secara keseluruhan. Hal-hal yang dahulu tampak begitu penting, mendadak menjadi tidak berarti lagi bagi saya. Keinginan-keinginan untuk mengejar dan meraih segala sesuatu yang masih bersifat keduniawian menjadi lenyap tak berbekas! (2)

Kejahatan-kejahatan di balik kebiasaan-kebiasaan yang dahulu selalu saya kerjakan mendadak tampak nyata sekali. Seolah-olah melalui terang sinar pandangan mata-Nya, mata hati nurani saya menjadi peka akan dosa-dosa yang mau-tak-mau selalu tersembunyi di belakangnya.

Pergaulan-pergaulan yang bebas, perzinahan, konsumsi minuman-minuman alkohol yang berlebih-lebihan, kecanduan akan rokok, ganja dan opium, … saya sadari sekarang adalah kebiasaan-kebiasaan buruk yang harus segera saya tinggalkan.

Bahkan yang paling menakjubkan, kefanatikan saya semenjak kanak-kanak akan olahraga-olahraga laut seperti: surfing dan diving, tiba-tiba saja menghilang tiada berbekas. Seakan-akan ‘passion’ tersebut sudah dicabut ke luar oleh-Nya secara supranatural, lenyap dari dalam kehidupan saya untuk selama-lamanya.

Begitu juga hati dan pikiran saya, … selalu dipenuhi oleh hadirat-Nya di manapun saya berada. Hasrat untuk berdoa dan berkomunikasi dengan-Nya semakin hari menjadi semakin bertambah besar. Mengenakan ‘headphone’ untuk menikmati lagu-lagu generasi muda pada masa itu yang ditawarkan di dalam pesawat selama perjalanan di udara juga tidak berhasil mengalihkan pikiran saya dari-Nya.

Mungkin suatu gejala hidup yang biasanya hanya bisa dihayati oleh orang-orang yang sedang dimabuk cinta.

Penuh keheranan saya berkata: “Tuhan, mengapa aku selalu memikirkan Engkau saja? Apakah sebenarnya yang terjadi, sehingga seluruh kehidupanku menjadi berubah seperti ini, seolah-olah semuanya telah Engkau ambil alih!”

Ketika itu saya mendengarkan sebuah lagu baru yang pada masa itu sedang menguasai penjualan pasaran musik sekuler di seluruh dunia: Down Under, yang dibawakan oleh pop-grup asal Australia: Men at Work.

Irama merdu lagu tersebut tiba-tiba diatasi oleh suara seseorang yang berkata: “Ian, engkau adalah seorang ‘Re-born Christian’.” (3)

Istilah ‘Re-born Christian’ tidak pernah saya dengar sebelumnya. Saya juga tidak mengerti makna perkataan itu!

Di Bandara Auckland kedua orang tua saya datang untuk menjemput saya. Mereka merasa takjub sekali melihat perubahan-perubahan yang terjadi pada diri saya, terutama sikap saya sebagai seorang anak terhadap mereka!

Ketika mendengar secara ringkas kisah yang saya alami di pulau Mauritius pada malam yang amat mengerikan tersebut, ibu saya menangis tersedu-sedu. Ia menjelaskan, bahwa saya baru saja mengalami suatu fenomena kristiani yang disebut: Born Again (Kelahiran Baru), suatu istilah lain yang mempunyai arti yang sama dengan ‘Re-born’.

Di dalam perjalanan tersebut untuk pertama kalinya saya mendengar, bahwa pada detik-detik yang sama menjelang kematian saya di pulau Mauritius, ibu saya di New Zealand juga menerima suatu visi dan wahyu yang ajaib dari Tuhan. Di sana ia melihat tubuh saya terbaring tertelentang menatap ke atas dengan mata yang terbelalak lebar. Kedua-duanya berwarna merah darah memancarkan rasa takut yang amat mengerikan hatinya.

Pada saat itu juga ia mendengar suara Tuhan memerintahkan kepadanya untuk segera memanjatkan doa peperangan bagi keselamatan hidup saya! (4) 

Oh, … hati saya merasa terharu sekali! Keterangan yang diberikan olehnya memperkokoh kebenaran peristiwa yang telah saya alami tersebut! Bahkan berhasil mengusir segala keraguan-keraguan di dalam hati yang masih sering dipergunakan oleh Iblis untuk mengganggu pikiran-pikiran saya.

Ayah saya, seorang yang masih belum percaya, ikut merasa takjub melihat perubahan-perubahan yang terjadi pada diri saya. Anak laki-lakinya menjadi seorang Kristen yang sudah ‘lahir baru’? Tentu sesuatu hal yang tidak pernah terbayangkan olehnya.

Sampai di rumah, saya melihat kamar saya sedikitpun tidak berubah susunannya seperti ketika saya pergi meninggalkannya dua tahun yang lalu, … tampak rapih dan bersih sekali. Plakat-plakat raksasa yang menggambarkan adegan-adegan surfing dan diving, begitu juga panorama-panorama keindahan pantai-pantai laut yang terkenal di dunia masih tetap tertempel menghiasi dinding-dindingnya.

Memandang sekeliling ruang tersebut hati saya merasa terharu sekali. Dua tahun yang lalu saya meninggalkannya sebagai seorang pemuda yang mempunyai hasrat amat besar untuk bisa menikmati semua kebebasan-kebebasan hidup yang ditawarkan oleh dunia kepada saya.

Tetapi sekarang saya berada di dalam kamar yang sama, bukan sebagai Ian McCormack yang dulu lagi, melainkan yang sudah lahir baru, … yang sudah mampu melihat segala sesuatu dengan terang sinar pandangan mata yang baru!

(Nantikan dan ikutilah perkembangan kesaksian bersambung ini)  

SEKILAS DARI KEABADIAN (34)

Kesaksian Ian McCormack

KEBENARAN FIRMAN TUHAN

Puput Manis's picture

Seandainya Tuhan lakukan pada semua orang

Terima kasih pak John, seri ke 33 keluar juga. Hehe.. kenapa Anda harus menarik nafas lega setelah seri ini nanti selesai? Apa Anda sedang memenuhi sebuah nasar? Sekali lag saya heran Anda bisa menulis seolah-olah Anda itu Ian McCormack sendiri. Saya juga ingin sekali bertanya pada Tuhan, kenapa Dia tidak melakukan hal seperti ini pada sebagian besar (kalau ga boleh semua)orang terutama yang "jahat" di dunia ini? Supaya semua kebiasaan buruk dicabut-Nya secara supra natural? Pak John, saya masih cari-cari My Inbox Anda. Di mana? Apa yang harus login / register itu? Maklum masih gaptek. Syallom dan Selamat Natal 2007
John Adisubrata's picture

Menepati Nasar

Dear Puput,

Maaf, baru sekarang saya bisa menanggapi komentar Anda. Memang benar dugaan Anda. Saya bernasar setelah mendapat perintah dari Tuhan untuk membukukan kesaksian Ps Ian McCormack, tepat pada hari Minggu, tanggal 27 Mei 2001, kira-kira jam 6.30 sore.

Tentu Anda bertanya: "Kok bisa ingat persis?" Jawabannya adalah, ... jika Roh Kudus yang berbicara, kita tidak akan melupakannya.

Mengenai pertanyaan kedua tak terjawabkan yang Anda ajukan, saya hanya bisa berkata, ... terkadang memang tampak susah sekali untuk dimengerti, mengapa Tuhan tidak melakukan hal-hal seperti yang kita pikirkan?

Tetapi selama saya menjadi pengikuti-Nya, saya bisa melihat semua mujizat yang terjadi di dalam kehidupan saya, selama saya membiarkan Ia melakukan segala sesuatu, sesuai dengan waktu dan rencana-Nya. Sebab Ia dahsyat!

Karena saya yakin sekali, setiap orang mempunyai waktu-waktu dan cara-cara tersendiri untuk bisa bertemu dengan Tuhan, ... untuk bisa menerima kasih karunia dan keselamatan hidup dari-Nya.

Mengenai 'My inbox', ... benar dugaan Anda. Anda harus menjadi anggota dulu, baru Anda bisa saling berhubungan dengan rekan-rekan yang lain melalui e-mail pribadi ini. Pertama-tama saya menduga, bahwa Anda sudah terdaftar di SABDA Space, tetapi tidak log-in ketika menulis komentar kepada saya.

Tentang gaptek, jangan kuatir, ... saya juga kok!

Sekali lagi terima kasih atas perhatian Anda.

Syalom,

John Adisubrata