Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDASpace

Loading

Istri

Pak Tee's picture

               Celaka tiga belas setengah! Hermawan mati kutu. Istrinya tahu dia berselingkuh.

                “Aku mau pulang, Pak! Kalau Bapak sudah tidak lagi dengan dia, Bapak boleh jemput aku di rumah Ibu!”

                Hermawan tak bisa mencegahnya. Istrinya pulang ke rumah Ibunya di Jawa Timur.                Hari-hari pun berlalu, seperti biasa. Tapi hati Hermawan tak bisa bohong, ada yang hilang. Ia tak lagi mendengar suara Istrinya. Biasanya setiap pagi, ketika ia bangun dari tidurnya, ia selalu mendengar suara Istrinya bernyanyi dan berdoa di ruang tengah. Ia juga sering menemukan Istrinya sedang membaca Alkitab ketika ia bangun dan tak mendapati Istrinya tidur di sebelahnya.

                Ia coba menghalau kenyataan itu. Ia coba menghibur dirinya dengan kenyataan bahwa ada sosok perempuan lain yang muda, cantik dan menggairahkan di sampingnya kini. Tapi… kenapa ada rasa tak nyaman di hatinya? Tak ada damai rasanya. Ada rasa bersalah di hatinya.

                Libur panjang. Tetangga sebelah rumahnya bersiap-siap mudik ke kampung halaman mereka. Wajah ceria mereka, ributnya ribetnya mereka, cerewetnya teriakan anak-anak mereka… membuatnya sepi. Ada sepi yang menikamnya. Ia memang belum punya anak. Tapi setiap liburan panjang ia selalu keluar kota dengan Istrinya. Oleh-oleh, buah tangan yang disiapkannya jauh-jauh hari, repotnya membawa tas dan kopor dengan sepeda motor, terbayang kembali di matanya. Ia menangis mengingat itu semua.

                Ada rasa kangen yang begitu dalam di hatinya.

                Ia pun memilih kembali kepada Istrinya. Hubungannya dengan perempuan selingkuhannya ia putuskan. Dan ia menjemput Istrinya di Jawa Timur.

                Kakak iparnya tersenyum ramah menyambut ia datang. Tak ada olok-olok, apalagi sikap merendahkan. Istrinya segera keluar menyambutnya dengan penuh suka cita setelah diberi tahu kakaknya , “Doa kita selama ini hari ini dikabulkan Tuhan!”.

                Hermawan pulang membawa Istrinya. Istrinya pulang membawa Hermawan kepada Tuhan. Hermawan melihat iman Istrinya. Istrinya memenangkannya tanpa kata-kata. Dan ia pun berkomitmen untuk bersungguh-sungguh di dalam Tuhan. Tidak lagi menyimpang ke kanan dan ke kiri.

                Kini ia adalah pelayan Tuhan yang berbahagia.

-------

                Agni jengkel dengan Suaminya. Suaminya suka mabuk , main perempuan dan sudah lama tidak mau lagi ke gereja. Ia sudah memperingatkan suaminya berkali-kali tapi Suaminya tidak mau berubah juga. Bahkan peringatannya selalu menyebabkan ia bertengkar dengan Suaminya.

                “Pa, mabuk itu dosa, Pa! Apalagi main perempuan, dosa besar! Itu zina!”

                “Memangnya kamu tidak dosa?”

                “Memangnya aku kenapa?”

                “Berani dengan Suami, apa itu tidak dosa?”

                “Enak aja! Kalau Suami bener, Istri layak tunduk pada Suami. Ini Suami nggak bener, bagaimana aku harus tunduk pada Suami?”

                “Kalau begitu urus saja urusanmu sendiri, jangan campuri urusanku!”

                “Tidak bisa! Kalau aku bukan Istrimu tidak masalah. Aku ini Istrimu! Bagaimana aku bisa diam saja kalau Suamiku nantinya masuk neraka? Merokok saja, Pa, itu sudah dosa! Karena merusak tubuh, Bait Suci Allah…. Papa malah….”

                “Sudah! Kalau itu kriteriamu kau kira jika selama ini kau tak pernah mau kuajak berolah raga itu juga tidak dosa? Sama saja dengan merokok! Dosa atau tidak itu tergantung penafsiran kita!”

                “Payah bicara dengan orang yang keras kepala!”

                Dan begitulah yang terjadi setiap hari.

                Agni aktivis di gerejanya. Seorang pelayan Tuhan. Ia malu jika tingkah laku Suaminya tidak benar. Ia pun berusaha semaksimal mungkin. Radio dengan siaran 24 jam non stop setiap harinya itu pun disetelnya keras-keras biar Suaminya mendengar. Sebab selain lagu-lagu rohani, ada rekaman kotbah yang diperdengarkan. Di kamar tidur radio itu dihidupkannya dari sore hingga pagi hari. Siang hari ketika Suaminya ada di lantai dua rumah mereka, radio itu pun dibawanya ke atas dan disetelnya keras-keras. Ia juga minta bantuan team doa di gerejanya untuk mendoakan Suaminya. Ia juga curhat ke Pendetanya. Dan ia pun bicara kepada Suaminya, “Pa, bagaimana kalau Papa konsultasi dengan Bapak Pendeta? Mama sudah cerita kok semuanya pada Beliau!”

                “Jadi Mama hendak mempermalukan Papa?”

                “Bukan begitu! Jangan salah sangka. Mama Cuma ingin Papa bertobat dan kembali ke gereja!”

                Seperti minyak yang disiramkan keapi, pertengkaran pun menjadi kian besar. Dan akhirnya mereka bercerai.

                Beberapa tahun kemudian Sang Pendeta melihat mantan Suami Agni datang pada kebaktian yang dipimpinnya dengan Istri barunya.

------

Demikian juga kamu, hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, supaya jika ada di antara mereka yang tidak taat kepada Firman, mereka juga tanpa perkataan dimenangkan oleh kelakuan Isterinya. Jika mereka melihat, bagaimana murni dan salehnya hidup isteri mereka itu. (1 Petrus 3:1-2).

 

__________________

Seperti pembalakan liar, dosa menyebabkan kerusakan yang sangat parah dan meluas. Akibatnya sampai ke generasi-generasi sesudah kita. Aku akan menanam lebih banyak pohon!

X-1's picture

ha ha ha ha ha ha pak tee ceritanya lucu banget...

Agni aktivis di gerejanya. Seorang pelayan Tuhan. Ia malu jika tingkah laku Suaminya tidak benar. Ia pun berusaha semaksimal mungkin. Radio dengan siaran 24 jam non stop setiap harinya itu pun disetelnya keras-keras biar Suaminya mendengar. Sebab selain lagu-lagu rohani, ada rekaman kotbah yang diperdengarkan. Di kamar tidur radio itu dihidupkannya dari sore hingga pagi hari. Siang hari ketika Suaminya ada di lantai dua rumah mereka, radio itu pun dibawanya ke atas dan disetelnya keras-keras. Ia juga minta bantuan team doa di gerejanya untuk mendoakan Suaminya. Ia juga curhat ke Pendetanya. 

HUAAAAAAAAAAAAA HA HA HA HA HA HA HA HA HA HA HA HA HA....

HUAAAAAAAAAAAAA HA HA HA HA HA HA HA HA HA HA HA HA HA....

HUAAAAAAAAAAAAA HA HA HA HA HA HA HA HA HA HA HA HA HA....

HUAAAAAAAAAAAAA HA HA HA HA HA HA HA HA HA HA HA HA HA....

HUAAAAAAAAAAAAA HA HA HA HA HA HA HA HA HA HA HA HA HA....

HUAAAAAAAAAAAAA HA HA HA HA HA HA HA HA HA HA HA HA HA....

HUAAAAAAAAAAAAA HA HA HA HA HA HA HA HA HA HA HA HA HA....

HUAAAAAAAAAAAAA HA HA HA HA HA HA HA HA HA HA HA HA HA....

cara terampuh yang dinasehatkan kebanyakan gereja GAGAL TOTAL YA!!!!

mari tertawa....

HUAAAAAAAAAAAAA HA HA HA HA HA HA HA HA HA HA HA HA HA....

HUAAAAAAAAAAAAA HA HA HA HA HA HA HA HA HA HA HA HA HA....

HUAAAAAAAAAAAAA HA HA HA HA HA HA HA HA HA HA HA HA HA....

siapa yang salah? dipersalahkan dan atau layak dianggap salah...

complicated trouble neh....



__________________

mari gila bersama-sama dengan warna merah, kuning, hijau, dan biru..

 

 

guestx's picture

memang lucu, tapi juga buat hati sedih

beberapa kejadian yang 95 % mirip dengan kasus Agni and co terjadi di sekitar gw.

kalo diceritakan memang buat tertawa, tapi kalo direnungkan buat hati sedih.

menyedihkan, tapi fakta kejadian-kejadian begini nyata di depan mata.

mungkin masih kurang banyak sampel yg gw lihat, tp saat ini gw berpendapat bhw kelanggengan pernikahan lebih banyak ditentukan oleh isteri daripada suami.  

btw,x-1, itu yg dibold dan digaris bawah tidak semuanya ajaran gerejalah. si agni aja yg kebangetan pake setel radio keras2.  itu kan namanya cari perkara dgn suami dan jg dgn tetangga Smile 

__________________

------- XXX -------

X-1's picture

itu yang diajarkan gx

gw lihat sendiri kok itu yang diajarin pdt2 ke jemaat2 yang konseling pernikahan...

 

__________________

mari gila bersama-sama dengan warna merah, kuning, hijau, dan biru..

 

 

Pak Tee's picture

kisah nyata

Cerita di atas memang berdasarkan kisah nyata. Menyedihkan? Ya, inilah hidup. Kelanggengan pernikahan menurut pendapat saya tidak bisa tergantung pada satu orang saja, karena pernikahan melibatkan dua orang, suami dan istri. Pendapat Anda itu, menurut saya, tidak bisa digeneralisir. Pada kasus tertentu, suami bisa jadi lebih "ngotot" untuk mempertahankan pernikahannya.

__________________

Seperti pembalakan liar, dosa menyebabkan kerusakan yang sangat parah dan meluas. Akibatnya sampai ke generasi-generasi sesudah kita. Aku akan menanam lebih banyak pohon!

Pak Tee's picture

ssst....!

Ssst...! Kalau ketawa jangan keras-keras! Ingat tetangga sebelah. Siapa yang salah? Sebaiknya tidak perlu dicari. Seharusnya setiap suami/istri mengenal pasangannya lebih baik dari orang lain. Tidak ada formula pasti untuk setiap permasalahan rumah tangga, karena setiap manusia adalah unik. KOMUNIKASI itu penting untuk setiap hubungan. Jadi penting juga diperhatikan CARA BERKOMUNIKASI dengan pribadi yang unik tersebut. Bagian pertama dari cerita di atas Istri tahu bagaimana "menaklukkan" Suaminya, dan tersirat ia mengandalkan Tuhan. Bagian kedua Istri tampak kurang memahami Suaminya dan cenderung mengandalkan kekuatannya sendiri. Menjadi istri memang tidak sekedar untuk "tunduk" pada suaminya, tapi juga untuk disayangi. Setuju?

__________________

Seperti pembalakan liar, dosa menyebabkan kerusakan yang sangat parah dan meluas. Akibatnya sampai ke generasi-generasi sesudah kita. Aku akan menanam lebih banyak pohon!