Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDASpace

Loading

Ibadah

victorc's picture
Bacaan I: Yesaya 58:9b-14
Teks: Lukas 13:10-17
Tema Kotbah: Tuhan melepaskan ikatan penghambat hidup
Waktu: 21 Agustus 2016
Forum: Ibadah Pemuda

Shalom, selamat pagi bapak ibu dan adik-adik yang dikasihi Tuhan. Ada banyak hambatan  dan ikatan yang membuat kita merasa kurang nyaman dan kurang merasakan berkat Tuhan, misalnya rasa rendah diri, diskriminasi gender, sarana yang minim untuk para penyandang disabilitas, belenggu kemiskinan, keterbatasan akses akan modal bagi pengusaha kecil, jadwal sekolah dan kuliah yang terlalu padat, dll.  Tema kotbah pagi ini adalah tentang Tuhan yang melepaskan berbagai ikatan penghambat hidup. Dalam beribadah, kita terpanggil untuk meneladan Tuhan sendiri yang senantiasa berlaku adil dan penuh belaskasihan. 
Nabi Yesaya mengungkapkannya dengan baik dalam berbagai teks, salah satu di antaranya adalah Yes. 58:9b-10

    9b Apabila engkau tidak lagi mengenakan kuk kepada sesamamu dan tidak lagi menunjuk-nunjuk orang dengan jari dan memfitnah,  
    10  apabila engkau menyerahkan kepada orang lapar apa yang kauinginkan sendiri dan memuaskan hati orang yang tertindas maka terangmu akan terbit dalam gelap dan kegelapanmu akan seperti rembang tengah hari.  

Bagi Yesaya, spirit keagamaan sejati itu berisikan kebajikan yang berujung pada hadirnya keadilan dan kebenaran. Umat ditantang untuk tidak menggunakan ritual keagamaan bagi kenyamanan dan ketenangan diri semata. 
Memang dalam ibadah kita kepada Tuhan, senantiasa ada semacam "ketegangan" antara spirit atau roh yang cenderung bebas dan membebaskan, dengan ritual ragawi yang serba teratur, ritmis, namun juga diperlukan. Atau dalam istilah yunani, ada ketegangan antara pneuma (roh) dan sarx (daging), lihat misalnya monolog Paulus dalam Roma pasal 7. Itulah sebabnya Yesus pernah berkata bahwa roh memang penurut namun daging lemah (Mat. 26:41). 
Dalam kehidupan ibadah juga demikian, sering kita jumpai kontras atau ketegangan antara semangat roh yang bebas berbenturan dengan pelbagai aturan dan ritual ibadah yang kaku. Tentu ritual dan pelbagai peraturan dalam ibadah memang diperlukan, namun hanya sebatas melayani tujuan ibadah itu sendiri yaitu memuliakan Allah dan melayani manusia. 

Ibadah yang melepaskan
Demikian pula dalam kisah penyembuhan perempuan yang bungkuk dalam Lukas 13:10-17. Perempuan itu dikisahkan telah diikat oleh roh jahat selama 18 tahun, itu bukan waktu yang sebentar. Dan roh itu membelenggunya sedemikian sehingga ia bungkuk. Namun perempuan itu tetap berusaha datang ke ibadah yang dipimpin Yesus, sekalipun fisiknya menghambat dia. Artinya, perempuan ini fisiknya memang terikat, namun rohnya tidak. 
Memang tidak terungkap dalam teks apakah perempuan ini sedang mencari kesembuhan kepada Yesus. Inisiatif justru datang dari Yesus. Ia melihat perempuan itu, memanggilnya, berkata-kata, menjamahnya dan menyatakan dengan tegas bahwa ia sudah disembuhkan (apolelysai). Karya kelepasan  dari Allah, nyata hadir melalui Kristus. Jemaat yang ikut kebaktian saat itu pun ikut bersukacita (ay. 17). Karya Kristus adalah karya Roh Allah yang bebas dan membebaskan. 
Namun kisah ini tidak berhenti di situ. Ternyata karya roh itu berbenturan dengan ritual yang serba kaku dan mekanistis yang diwakili oleh kepala rumah ibadat. Ia gusar dan merasa perlu dan penting untuk mengingatkan bahwa ada 6 hari lain selain Sabat untuk menyembuhkan orang. 
Di sini kita jumpai ketegangan antara semangat Roh Allah yang diwakili Yesus dengan ritual ibadat Yudaisme yang serba kaku. Ada istilah yang tepat untuk itu, yaitu "legalisme." Yaitu mengedepankan berbagai peraturan yang njelimet ketimbang esensi peraturan itu sendiri. Bagi Yesus, menolong orang dan melepaskan ikatan-ikatan kuasa jahat perlu dilakukan saat itu juga, bahkan juga hari Sabat. 
Bahkan di tempat lain Yesus pernah menegaskan :

        Markus 2:27
        Lalu kata Yesus kepada mereka: "Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan             manusia untuk hari Sabat."

Demikian pula, kita dapat mengatakan bahwa ritual ibadah diadakan untuk manusia, bukan manusia untuk ritual.

Penerapan
Lalu bagaimana dengan kita, kini dan di sini? Apakah kita juga sering mengalami ketegangan antara roh dan ritual dalam ibadah kita? Antara semangat yang menggelora dan peraturan yang membelenggu? 
a. Bagi adik-adik remaja dan pemuda: mungkin jiwa kita sering menggebu-gebu ingin melayani tapi kita merasa tanpa daya di tengah berbagai tugas sekolah dan kuliah. Apalagi dengan adanya wacana untuk melakukan co-ekstrakurikuler. Seolah tidak ada waktu tersisa lagi buat melayani Tuhan. Ada juga pemuda yang bersemangat melayani Tuhan, namun terhambat dengan kendala dana, karena uang saku terbatas.
b. Bagi Anda yang telah dewasa: kesibukan pekerjaan dan mengurus keluarga seringkali menyita 80-90% waktu dan tenaga kita. Kita seolah tak berdaya tersandera oleh berbagai tuntutan ekonomi.
c. Bagi bapak-ibu yang telah lansia: mungkin semangat untuk melayani Tuhan masih kuat, namun tubuh yang rapuh sering menjadi penghambat.
Kalau masih ada ketegangan itu masih lumayan, saudara-saudaraku. Yang lebih parah adalah kalau kita merasa sudah puas dan nyaman dengan berbagai ritual yang kaku tersebut, jadilah kita mirip dengan kepala rumah ibadat tadi.
Pertanyaan untuk direnungkan: bagaimana kita sebagai gereja dapat mewujudkan ibadah yang menghidupkan semangat dan bukan menambah berbagai ikatan? 

Ilustrasi 
Bapak ibu dan adik-adik yang dikasihi Tuhan, izinkan saya menggunakan ilustrasi dari pengalaman saya sendiri. Saya juga mengalami ketegangan antara semangat untuk melayani dengan berbagai kendala dan keterbatasan. Namun itu bukan alasan untuk menyerah.
Dulu, sekitar oktober tahun 2009 Tuhan memanggil saya untuk melayani Dia. Tuhan mengutus saya antara lain untuk kembali ke jawa timur dan melayani di gereja tempat saya dibesarkan. Jadi saya pulang ke kota ini, lalu mulai melayani di sini. Tapi belum ada bentuk pelayanan yang jelas, sementara saya tidak ada dana yang besar untuk pelayanan, jadi saya memilih untuk memulai pelayanan menulis (istilah kerennya: "writing ministry").***
Setelah melihat situasi, saya juga memutuskan untuk mulai pelayanan di gereja sebagai guru sekolah minggu. Di luar pelayanan sebagai gsm, kemudian saya diminta sebagai Pokja dengan tugas utama merancang visi dan misi gereja.
Sekitar 2011 awal, saya bertemu dengan seorang pendeta emeritus yang menyarankan saya untuk studi teologi kalau mau melayani. Jadi saya kuliah lagi dalam bidang teologi, namun pelayanan menulis terus saya lakukan. Banyak artikel yang saya tulis kemudian saya bendel jadi beberapa ebook dalam format pdf dan saya publikasikan online. 
Kira-kira waktu itu saya mulai mengenal www.academia.edu, dan secara teratur saya mengunggah hampir semua tulisan saya ke sana, baik yang bersifat ilmiah maupun spiritual. Maksud saya tidak lain hanyalah agar semakin banyak orang Indonesia kristen yang belajar untuk melayani lebih baik.
Setelah saya lulus dari sekolah teologi, sekitar april 2015 lalu saya bergabung dengan Yayasan Lembaga SABDA. Dan saat itulah saya mulai mengenal forum blogging kristen yaitu www.sabdaspace.org.* Saya menganggap saluran ini baik untuk menjangkau sesama saudara seiman di seluruh indonesia. Jadi saya berusaha menulis secara teratur, setidaknya seminggu sekali. Setiap beberapa bulan sekali, artikel-artikel blog itu saya bendel lalu saya unggah sebagai ebook di www.academia.edu. Sehingga melalui artikel dan ebook itu saya menjangkau berbagai lapisan masyarakat, khususnya kaum muda yang melek internet. Kalau tidak salah, sudah 4 ebook yang merupakan hasil bendelan dari artikel-artikel blog tersebut.**
Kini jumlah pengikut atau follower saya di academia lebih dari 2000, dan jumlah pembaca artikel dan ebook saya di sana sudah mencapai 190000. Semua itu tercapai hanya dengan modal akses internet dan dengan sedikit sekali upaya promosi.
Izinkan saya mengutip ucapan Paulus:

       1 Korintus 9:16
        "Karena jika aku memberitakan Injil, aku tidak mempunyai alasan untuk                 memegahkan diri. Sebab itu adalah keharusan bagiku. Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil."

Demikian juga, saya tidak melakukan semua hal di atas untuk membanggakan diri atau mencari keuntungan, meskipun saat ini saya sedang menjajagi untuk menerbitkan buku saya di salah satu penerbit swadaya online. Bagi saya menulis adalah suatu keharusan: "Celakalah aku, jika aku tidak menulis." Karena itu adalah pelayanan yang bisa saya lakukan dengan dana minimal dan berdampak luas.
Saya tidak mengatakan bahwa Anda semua mesti menjadi penulis. Bakat dan talenta yang dikaruniakan Tuhan kepada setiap kita memang berbeda-beda, karena itu carilah cara kreatif sehingga roh untuk melayani yang ditanamkan Tuhan dalam diri Anda tidak menjadi layu dan padam karena terbentur berbagai hambatan dan kendala, apa pun itu. Sebaliknya hendaklah kita semua tetap bebas berkarya di tengah berbagai kesulitan dan hambatan.

Kesimpulan
Mari kita ciptakan berbagai terobosan untuk melayani sesama dalam konteks usia dan profesi kita masing-masing, agar ibadah kita menjadi ibadah yang melepaskan dan menghidupkan bukan ibadah yang membelenggu. Itulah tugas kita sebagai tubuh Kristus.
Beberapa pelayanan yang mungkin dapat dikerjakan:
a. Bagi lansia: mungkin perlu diadakan semacam "lansia day care," tempat lansia diajak untuk beraktivitas dan memuji Tuhan sesuai dengan usia mereka.
b. bagi kaum dewasa: mungkin bisa dipikirkan pelayanan renungan di kantor setiap jumat siang, saat saudara-saudara yang lain ibadah jumat.
c. Bagi para remaja dan pemuda: perlu lebih ditingkatkan partisipasinya dalam kehidupan bergereja, misalnya menangani ibadah kontemporer. 
Untuk informasi mengenai tantangan yang dihadapi gereja di masa kini, lihat misalnya (1)(2)(3).
Mari kita sebagai gereja memanjatkan doa permohonan agar Tuhan membuka mata hati kita dan memampukan kita mewujudkan ibadah yang menyapa dan melepaskan sesama dari berbagai ikatan yang menghambat. 

Penutup
Khusus untuk adik-adik remaja dan pemuda, 10 atau 15 tahun lagi Anda akan menjadi tumpuan harapan keluarga dan gereja. Andalah masa depan gereja dan bangsa Indonesia. Bung Karno pernah berkata: "berikan saya 10 pemuda, maka saya akan mengubah dunia." Yesus juga mengubah dunia bermula dari 12 pemuda. Dan di ruangan ini ada lebih dari 20 pemuda, jadi saya yakin bersama-sama kita akan dapat mengubah setidaknya wajah Indonesia. Maukah kalian?
Kiranya Tuhan menyertai kita semua. Amin.

Versi 1.0: 20 januari 2016, pk. 22:53, versi 1.1: 21 januari 2016, pk. 21:48
VC

Note:
* terimakasih kepada Benny yang memperkenalkan saya dengan www.sabdaspace.org
** ebook tersebut bisa diperoleh secara gratis di http://independent.academia.edu/VChristianto
*** terimakasih kepada pak Gani yang memberikan istilah "writing ministry"

Referensi:
(1) John McArthur Jr. The Gospel according to Jesus. Grand Rapids: Zondervan, 2008. 3rd edition.
(2) Reggie McNeal. Missional Renaissance: Changing the scorecard for the church. San Fransisco: Josey-Bass, 2009.
(3) Philip Jenkins. The new faces of Christianity: Believing the Bible in the Global South. Oxford: Oxford University Press, 2006.
__________________

Dari hamba yang tidak berguna (Lih. Lukas 17:10)

Prepare for the Second Coming of Jesus Christ.