Submitted by RDF on

Setelah absen beberapa saat pada penulisan bertopik asal muasal Setan/ Lucifer, menyambung pada Blog saya beberapa Bagian yang telah memulai perunutan dari Perjanjian Lama, Sejarah Mesir, dll yang terlibat hingga pandangannya pada Perjanjian Baru, pada Blog kali ini saya membahasnya pada sudut periode setelah zaman Perjanjian Baru hingga keberadaan Bapa-Bapa Gereja Awal yaitu murid dari murid dari murid 12 Rasul Yesus Kristus.

Sosok Setan setelah Perjanjian Baru (PB)

 Perjanjian Baru (PB) menyatakan Allah yang sama seperti yang dinyatakan dalam Perjanjian Lama (PL). Allah tetap digambarkan sebagai sumber dari pencobaan kita, sumber dari penghakiman dan Allah juga menyatakan bahwa sumber dari segala dosa berulang kali disebutkan terletak pada pikiran manusia. Kekuasaan Allah adalah yang tertinggi juga tertulis nyata pada PB sama seperti dinyatakan pada PL. Bahkan dalam Wahyu 17:17 menyatakan bahwa binatang itu pun melakukan kehendakNya. Dalam kitab 1 Petrus 4:19 juga menyatakan bahwa … mereka yang menderita karena kehendak Allah …’. Namun pada perkembangan sejarahnya, masih banyak umat-umat manusia yang memiliki keinginan untuk menempatkan bahwa Allah hanyalah sumber kebaikan (saja).

 Pada Blog sebelumnya, telah saya paparkan bahwa paham Pagan menyatakan keilahian atau kealahan pada benda-benda dan paham Pagan itu secara esensinya telah menyusup ke dalam kepercayaan Kristen walau dalam bentuk yang lebih ‘rohani’ (memakai definisi yang dikenal Kristen).

 Perhatikan ini:

Kristus = Apollo [dewa matahari]

Allah Bapa = Zeus, Kronos

Bunda Maria = Magna Mater, Aphrodite, Artemis

Roh Kudus = Dionysus [the spirit of ecstatic possession],

Orpheus Satan = Pan, Hades,

Prometheus Saints = Hosts of angels Michael the Archangel = Mars St. Christopher = Atlas.

 Akhirnya dalam konteks Kristen, Pan dan Hades di-impor menjadi sosok ‘Setan’ atau iblis.

 Sejalan dengan berkembangnya kesenian (art) manusia, terutama pada zaman berkembangnya seni lukis, seni patung maka tidak terelakan lagi bahwa buah pikir dan kepercayaan manusia pada zaman tersebut terefleksi pada hasil seninya. Ide tentang Setan/ Lucifer yang merupakan malaikat yang terbuang (the fallen Angel) mulai berkembang dan terefleksi dalam karya seni manusia. Seni dan karya tulis pun seperti prosa, puisi dan literatur juga tidak tertinggal dari pengaruh ide tersebut.

Dari Bapak-Bapak Gereja, semua menuliskan tentang ide bahwa Setan adalah sesosok makhluk dan terus ide tentang Malaikat yang terbuang terbentuk. Seperti Ignatius, pernah menyebutkan bahwa ada malaikat yang baik dan malaikat yang telah berdosa yang disebut dengan Setan.

Pada era dimana kekristenan menghadapi tekanan dan penganiayaan, ‘bahasa’ tentang setan dan Lucifer semakin kentara. Lebih lagi ide tentang pertempuran kosmik/ cosmic battle, antara Kristus dan setan semakin mendapat tempat.

Tulisan Polikarpus kepada jemaat Filipi sekitar tahun 150 M tentang idenya akan sosok Setan sebagai makhluk/ malaikat yang terbuang semakin kentara dan siapa yang tidak sependapat dengan idenya dianggap sebagai pengikut Setan tersebut. Idenya sebenarnya menciptakan pada sisi kebaikan ada Allah dan pada sisi kejahatan terdapat Setan yang terbuang dari Surga.

Kita sudah melihat pada Blog-Blog sebelumnya, bahwa secara prinsip biblikal, tidak pernah ada pertempuran kosmik antara dua kekuatan walaupun secara tertulis ada di Kitab Wahyu 12 sebagai ‘war in heaven’: perang di surga namun itu adalah gambaran profetik tentang situasi yang akan terjadi sebelum kedatangan Kristus yang kedua kali.

Tidak dapat diragukan bahwa sejak pertumbuhan kekristenan pada zaman rasul-rasul, aliran kepercayaan Gnostik telah mempengaruhi pemikiran kekristenan.

Kepercayaan Gnostik  menyebutkan bahwa dunia ini identik dengan kejahatan/ evil dan itu sebabnya Tuhan yang adalah Kebaikan tidak dapat dekat dari dunia ini bahkan harus berada jauh.

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

 

Gnostisisme

Gnosticism (bahasa Yunani: gn?sis, pengetahuan) merujuk pada bermacam-macam gerakan keagamaan yang beraliran sinkretisme pada zaman dahulu kala. Gerakan ini mencampurkan pelbagai ajaran agama, yang biasanya pada intinya mengajarkan bahwa manusia pada dasarnya adalah jiwa yang terperangkap di dalam alam semesta yang diciptakan oleh tuhan yang tidak sempurna.

Secara umum dapat dikatakan Gnostisisme adalah agama dualistik, yang dipengaruhi dan mempengaruhi filosofi Yunani, Yudaisme, dan Kekristenan.

Istilah gn?sis merujuk pada suatu pengetahuan esoteris yang telah dipaparkan. Dari sana manusia melalui unsur-unsur rohaninya diingatkan kembali akan asal-muasal mereka dari Tuhan yang superior. Yesus Kristus dipandang oleh sebagian sekte Gnostis sebagai perwujudan dari makhluk ilahi yang menjadi manusia untuk membawa gn?sis ke bumi.

Pada mulanya Gnostisisme dianggap sebagai cabang aliran sesat dari Kekristenan, namun sekte Gnostis telah ada sejak sebelum kelahiran Yesus. Keberadaan kaum Gnostik sejak Abad Pertengahan semakin berkurang dikarenakan pengikutnya memeluk Islam atau akibat dari Perang Salib Albigensian (12091229).

Gagasan Gnostis kembali muncul seiring dengan bertumbuhnya gerakan mistis esoteris pada akhir abad ke-19 dan abad ke-20 di Eropa dan Amerika Utara.

Bapa-Bapa Gereja

Bapa Gereja adalah sebutan bagi para teolog dan filsuf yang berpengaruh dan hidup di era awal Gereja Kristen. Mereka yang khususnya hidup pada lima abad pertama dalam sejarah Agama Kristen. Hal ini terlihat jelas pada masa gereja-gereja awal.

Sebutan ini juga digunakan bagi para pujangga dan pengajar di Gereja. Namun, bukan berarti bahwa tokoh yang bersangkutan harus pula seorang santo. Umumnya istilah ini tidak mencakup para penulis Perjanjian Baru, sekalipun pada masa awal Gereja beberapa karya tulis dari para Bapa Gereja dipandang kanonikal.

Bapa-bapa gereja memiliki pemikirannya masing-masing tentang kekristenan. Hal inilah membuat mereka terkenal di kalangan kekristenan. Setiap Bapa Gereja dibagi berdasarkan tempat asalnya. Bapa Gereja yang menulis dalam Bahasa Latin contohnya disebut Bapa (Gereja) Latin. Sedangkan Bapa-bapa Gereja yang menulis dalam Bahasa Yunani disebut Bapa (Gereja) Yunani.

Berikut ini adalah Bapa-Bapa Gereja Latin yang termasyhur, yaitu Tertulianus yang montanis, St. Augustinus dari Hippo, St. Ambrosius dari Milan, and St. Hieronimus.

Bapa-Bapa Gereja Yunani yang termasyhur antara lain St. Irenaeus dari Lyons (karyanya yang masih ada hanya tersedia dalam terjemahan Latin), Klemens dari Aleksandria, Origenes yang heterodoks, St. Athanasius dari Alexandria, St. Yohanes Krisostomus, dan ketiga Bapa-bapa Kapadokia.

Masa Para Bapa Gereja yang paling awal, dimulai dari dua generasi pertama setelah para Rasul Kristus. Mereka juga biasanya disebut pula para Bapa Apostolik atau Bapa Rasuli. Adapun Bapa-Bapa Apostolik yang terkemuka adalah St. Klemens dari Roma, St. Ignatius dari Antiokhia dan Polikarpus dari Smirna. Selain itu, Kitab Didakhe dan Kitab Gembala Hermas biasanya digolongkan ke dalam karya tulis para Bapa Apostolik, meskipun penulis kitab-kitab tersebut tidak diketahui.

Bapa-Bapa yang penting dari era filsafat Yunani antara lain St. Yustinus Martir, Tatianus, Athenagoras dari Athena, Hermias dan Tertulianus. Suatu ketika di kemudian hari, mereka menghadapi kritikan dari para filsuf Yunani serta penganiayaan.

Para Bapa Apologetik ini pun menghasilkan karya tulis untuk membenarkan dan membela doktrin Kristiani. Mereka bermaksud untuk melawan kritikan dan penganiayaan itu.

Bapa Gereja juga dikenal di Mesir. Mereka disebut para Bapa Gurun. Para Bapa Gurun adalah para rahib perdana yang hidup di Gurun Mesir. Mereka memang tidak banyak menghasilkan karya tulis. Namun, mereka sangat berpengaruh di dalam dunia kekristenan pada waktu itu. Beberapa dari antara mereka adalah St. Anthonius Agung dan St. Pakhomius. Sejumlah besar ucapan-ucapan pendek mereka dihimpun dalam Apophthegmata Patrum.

Sejumlah kecil Bapa Gereja menulis dalam bahasa lain: Santo Efrem, misalnya, menulis dalam bahasa Syria, meskipun karya-karya tulisnya sebahagian besar diterjemahkan ke dalam Bahasa Latin dan Yunani.

St. Yohanes dari Damaskus secara umum dianggap sebagai Bapa Gereja yang terakhir sekaligus benih perdana dari zaman para pujangga Gereja berikutnya, yakni zaman skolastisisme. Dia hidup pada abad ke-8. Hal ini sangat kental di dalam ajaran Gereja Katolik Roma. St. Bernardus juga kerap disebut sebagai Bapa Gereja yang terakhir.

Gereja Ortodoks Timur tidak beranggapan bahwa zaman para Bapa Gereja telah usai, dan menyebut para pujangga Gereja yang berpengaruh pada masa-masa selanjutnya dengan istilah Bapa Gereja juga. Setiap guru yang mengajarkan kekristenan bisa menjadi seorang Bapa Gereja. Oleh sebab itu, studi tentang Bapa-bapa Gereja ini penting sebagai pembelajaran akan pemahaman ajaran Kristen gereja awal. Studi yang mempelajari mengenai Bapa-Bapa Gereja disebut studi Patristik.