Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDASpace

Usulan-usulan Layanan Publik TransJakarta

KEN's picture

1. Rapikan jalan-jalan khusus jalur busway.

 

2. Untuk para sopir, diusulkan untuk tidak terburu-buru ketika mengemudikan bus demi keselamatan dan kenyamanan para penumpang.

 

3. Untuk para petugas/kondektur, supaya lebih ramah terhadap para penumpang, tegas namun ramah.

 

4. Informasi pemberitahuan pemberhentian yang ada di dalam bus, supaya lebih cermat. Informasikanlah kepada para penumpang dengan jelas sebelum tiba ke halte berikutnya atau halte yang dimaksud.

 

5. Kepada PT. TransJakarta, buatlah jadwal, rute ataupun 'skejul' berupa apapun dan dalam bentuk apapun dan sosialisasikanlah kepada para penumpang.

 

6. Untuk para penumpang, bekerjasamalah dengan para petugas, sopir maupun kondektur dalam hal kedisiplinan. Berbarislah di halte dengan rapi dan teratur ketika menunggu pemberhentian ataupun pemberangkatan ataupun ketika keluar masuk bus.

 

7. Kepada PT. TransJakarta, tentukanlah jadwal/jam 'pasti' ketika berangkat maupun ketika berhenti di setiap halte demi kenyamanan para penumpang.

 

8. Untuk para sopir, tanamkanlah prinsip 'waktu adalah uang', profesionalitas dan ketertiban ketika mengemudi dan ketika berhenti di setiap halte, tidak terkesan buru-buru demi keselamatan dan kenyamanan para penumpang.

 

9. Untuk para sopir, berhentilah di setiap halte dengan keakuratan dan ketepatan dari pintu halte ke pintu bus begitupun sebaliknya demi keselamatan dan kenyamanan para penumpang.

 

10. Untuk para penumpang, biasakanlah untuk mengutamakan penumpang yang lebih tua khususnya wanita yang lebih tua atau yang lanjut usia, untuk dipersilakan menempati tempat duduk, sebelum maupun sesudah Anda.

Purnawan Kristanto's picture

Standar Pelayanan Minimum

Dear Ken,

Saat ini pemkot Jakarta sedang merumuskan Standar Pelayanan Minimum bagi operatur TransJakarta. Alangkah baiknya jika usulanmu ini disalurkan kepada perumus SPM sehingga bisa berlaku efektif.

All About Writings

__________________

------------

Communicating good news in good ways

KEN's picture

Pak Wawan: SPM

Terima kasih atas info-nya pak. Saya akan coba salurkan ke SPM yg Anda informasikan.

Hannah's picture

Tambah Disiplin

Sayangnya yg kurang dari masyarakat Indo adalah disiplin.
Kalo disiplin itu dibudayakan, gak perlu ampe perlu dihimbau tentang tepat waktu dan mendahulukan penumpang manula pun masyarakat bakal tau sendiri.

"For those who believe, no proof is necessary. For those who don't believe, no proof is possible." - Stuart Chase

__________________

“The Roots of Violence: Wealth without work, Pleasure without conscience, Knowledge without character, Commerce without morality, Science without humanity, Worship without sacrifice, Politics without principles.” - M. Gandhi

KEN's picture

Hannah: Disiplin sama dengan tingginya kesadaran diri

Hannah, Anda benar. Kekurangan dari pada masyarakat Indonesia pada umumnya adalah kedisiplinan, bahkan masih banyak lagi hal-hal yg perlu didisiplinkan, karna Jakarta berupa ibu kota Indonesia, sudah seharusnyalah hal disiplin perlu dibudidayakan dan contoh bagi masyarakat ibu kota itu sendiri maupun daerah.

Hannah, mengapa kita tidak memulainya dari diri sendiri?

Hannah's picture

@Ken

Memulai dari diri sendiri itu sebenarnya gak sesulit yg kita kira..
Membuat orang lain melakukan hal yg sama itulah yg sulit.

Gw rasa salah 1 faktor yg paling penting dlm membudayakan kedisiplinan adl anak2 krn mereka adl generasi penerus.
Cara kita mendidik anak usia sekolah (dr TK ampe kuliah) akan menjadi penentu seberapa besar kedisiplinan itu mendarah daging pada mereka.
Kata 'mendidik' di sini lingkup sempitnya sekolah dan lembaga2 pendidikan sejenis tapi kalo mau diperluas bisa juga media informasi spt tayangan TV dan buku2.

Tp yah itu salah 1 faktor aja seh, masih banyak faktor lain yg bisa kita rubah utk mulai membudayakan kedisiplinan tapi gw rasa paling mudah dimulai dari yg di atas itu krn ada pepatah bilang "you can't teach an old dog new tricks", yg artinya +/- susah merubah sesuatu yg sudah mendarah daging.
Akan lebih mudah utk mendarahdagingkan kedisiplinan sejak usia dini drpd merubah ke-tidak disiplin-an yg uda mendarah daging berpuluh2 tahun. Bukannya mustahil seh, cuma sulit aja..

"For those who believe, no proof is necessary. For those who don't believe, no proof is possible." - Stuart Chase

__________________

“The Roots of Violence: Wealth without work, Pleasure without conscience, Knowledge without character, Commerce without morality, Science without humanity, Worship without sacrifice, Politics without principles.” - M. Gandhi

KEN's picture

Hannah: Memang sulit dan konyol

Bila anak-anak lebih punya kesadaran yg tinggi ketimbang orang-orang dewasa. Suatu alasan dan pelarian yang cukup masuk akal dan bebal untuk melarikan diri dari pada bekerjasama memajukan bangsa, kemudian beban itu dipasangkan kepada anak cucu kita. Anda kejam sekali Hannah.

Lagipula, kapan saya mengajak Anda untuk melakukan hal yang sama dengan saya? Bila tidak setuju katakan tidak setuju dan hidupilah kehidupan Anda yang sekarang ini penuh dengan kemecetan-kemacetan dan kesulitan-kesulitan yang terus membuat Anda masa bodo dan acuh tak acuh.

Bicara soal darah daging? Saya hanya bisa mengatakan bahwa saya bukan binatang yang hanya terpaku pada istilah 'mendarah daging'.

Hannah's picture

Lhoo..

Ken jangan marah dulu dong.. Hannah sama sekali gak ngomongin kamu..

Negara2 lain yg keadaannya spt Indo (rakyat mbludak sementara negaranya gak luas2 amat) gak dlm sekejap mata bisa disiplin.
Negara Singapur gak langsung bisa jadi bersih dan negara Cina gak langsung bisa maju.
Semua itu karena butuh berpuluh2 tahun utk bisa melatih masyarakat dan butuh beberapa generasi utk bisa benar2 memetik hasilnya.

Itulah sebabnya biarpun mungkin gw misalnya bisa melatih diri utk gak buang sampah sembarangan tp kalo ratusan juta org lain buang sampah sembarangan, efek dr kedisiplinan gw gak akan keliatan.
Tp kalo dr anak2 kita melatih mereka utk disiplin, merekalah yg kemudian akan merubah budaya bangsa ini saat gw dan elo uda mati nanti dan di tangan merekalah tongkat kedisiplinan itu akan diterusin ke generasi berikutnya.

Niwei gw kadang capek komen di SS, ngomong dikit tp banyak yg ngomel, ngerasa ato malah nyindir dan parahnya saling ngata2in.
Gimana SS mo rame kalo penghuninya galak2 dan sensitip?
Akhirnya malah merugikan SS sendiri kalo orang pd males komen di sini krn baru ngomong dikit uda dimarah2i.
Gw undang beberapa teman main sini tp begitu mereka melihat budaya di sini jadi pada emoh krn merasa komentar mereka gak akan dihargai krn sikap2 antipati yg terlihat di sini. Gw gak menyalahkan mereka sama sekali.

Kalo Ken gak setuju dgn komentar Hannah, yah gak apa tp jangan merasa gw berusaha nyindir ato gimana2 krn gw gak maksud gitu.

Cape ah.

"For those who believe, no proof is necessary. For those who don't believe, no proof is possible." - Stuart Chase

__________________

“The Roots of Violence: Wealth without work, Pleasure without conscience, Knowledge without character, Commerce without morality, Science without humanity, Worship without sacrifice, Politics without principles.” - M. Gandhi

KEN's picture

Hannah: Lu cerewet!

Lu tau di mana letaknya kesalahan elu dan teman-teman elu yg paling utama dan yg paling fatal?

Letaknya adalah di diri kalian masing-masing. Kalian itu sok tahu, merasa diri bener sendiri, ketika membaca tulisan-tulisan dan komentar-komentar orang lain bukannya dipahami, dibaca dengan teliti dan seksama, pahami dulu baru membalas berkomentar.

Kalian pikir kalian siapa? Ha?

Hannah's picture

@Ken Sok Tau

Emang lo kenal temen2 gw? Elo uda sok tau, sok preman pula lage.
Preman ompong aja kok sok bener..

Kebiasaan caci maki dan kata2 kasar itu bukan cuma gak bisa diterima oleh banyak org Kristen (yg lo sebut 'merasa diri benar') tp juga di dunia sekuler.
Caci maki dan kata2 kasar itu diidentikkan dgn sikap gak bijaksana/dewasa.

Jadi coba keluar dr komunitas kecilmu yg menyukai caci maki dan elo akan bisa melihat bahwa caci maki dan kata2 kasar itu gak membuat elo dan orang2 yg menyukainya terlihat hebat.

"For those who believe, no proof is necessary. For those who don't believe, no proof is possible." - Stuart Chase

__________________

“The Roots of Violence: Wealth without work, Pleasure without conscience, Knowledge without character, Commerce without morality, Science without humanity, Worship without sacrifice, Politics without principles.” - M. Gandhi

KEN's picture

Hannah: Cukup!

Gue hanya pesan, gue ga akan membalas komentar elu lagi, sebelum elu bener2 paham betul apa maksud dar isi komentar gue. Coba lu perhatiin bener2 isi komentar gue ama isi komentar lu, makin ke bawah makin ga nyambung.

Hannah, ini lapak gue, gue yg memulai, elu yg harus menyesuaikan. Jangan lu melenceng2 ga karuan!

Hannah's picture

@Ken Sudah selesai.

"For those who believe, no proof is necessary. For those who don't believe, no proof is possible." - Stuart Chase

__________________

“The Roots of Violence: Wealth without work, Pleasure without conscience, Knowledge without character, Commerce without morality, Science without humanity, Worship without sacrifice, Politics without principles.” - M. Gandhi

PlainBread's picture

Saya pernah baca beberapa

Saya pernah baca beberapa artikel atau ringkasan2 disertasi mengenai pelayanan publik di Jakarta/Indonesia, mulai dari masalahnya sampe asumsi2 penyebab masalahnya. Bahkan orang2 yang bikin disertasi atau artikel tersebut ada yang sudah atau sedang menempati posisi2 sangat strategis di pemerintah pusat.

Dari semua itu, akhirnya saya pernah menulis email menanyakan polemik ini ke seorang bapak yang beberapa tahun lalu sempat menangani masalah transportasi nasional. Beliau sempat juga disalahkan karena kecelakaan2 di Indonesia. Tapi beliau mengakui bahwa masalahnya memang terlalu rumit, ada yang menyalahkan pemerintah, ada yang menyalahkan masyarakat, bahkan gak sedikit pejabat yang lulusan universitas ternama, dalam artian diasumsikan seharusnya sudah tahu segala macam teori dan contoh2. Dan untuk kalangan supir bus umum saja, mereka juga sudah punya pengetahuan soal tata tertib lalu lintas, tidak perlu diberitahu soal rapi, tertib, gak kejar setoran, dll, mereka juga sudah tahu walaupun latar belakang pendidikannya tidak seperti bapak2 menteri atau pejabat etselon. Tapi tetap saja, sepertinya masih ada missing link dari semua penyebab masalahnya.

Awalnya beliau pikir ini masalah mentalitas,  tapi ternyata gak juga. Karena sebenarnya mentalitas orang Asia itu rata2 sama (atau mungkin beliau terpaksa berasumsi begitu supaya tidak terlihat memusuhi kaum/suku mayoritas). Tapi kenapa ada beberaa negara Asia bisa berhasil, ada beberapa negara Asia yang gagal. Seperti ada lingkaran setan di dalamnya.

Indikasi yang paling dia dukung sebenarnya adalah soal kepadatan penduduk yang tidak berimbang alias pemerataan. Negara2 Asia yang berhasil dalam masalah transportasi (kemacetan, kecelakaan, disiplin, dll) menurut pengamatannya adalah negara2 yang berhasil mengatasi pemerataan jumlah penduduk. Diam2 beliau memuji program transmigrasi yang menjadi trendmark Orde Baru, program yang sebenarnya berciri sosialisme (karena melibatkan pemerintah dalam perpindahan penduduk) - walaupun Orba selalu dikecam sebagai antek2 kapitalis, tapi program tersebut di atas kertas bisa mengurangi atau mengatasi masalah2 yang ada seperti transportasi, penyediaan listrik, air minum, dll. Sayangnya beliau mengaku pelaksanaan transmigrasi sendiri di jaman Orba tidak pernah mencapai hasil yang diinginkan. Mungkin ada faktor2 lain yang perlu diperhatikan.

Itu baru masalah transportasi. Akhir perbincangan saya dengan beliau yang malah melebar ke mana2, saya cuma bilang,"Pak, kakek saya bilang dulu Ciliwung itu airnya bening. Kapan kita bisa liat lagi seperti itu?" Beliau malah bilang kalo masalah lingkungan, polusi atau kesehatan, sepertinya lebih rumit dari transportasi. Yah, dibilang begitu tampaknya saya mesti nunggu seribu tahun lagi untuk bisa liat sungai Ciliwung bersih.

 

 

One man's rebel is another man's freedom fighter

ebed_adonai's picture

hmhh.. disiplin..

Selamat Hari Minggu all...

Disiplin (atau sipilin, kata ibu kos saya dulu, untung "n" nya nggak ketuker ama "s") berlalu-lintas bagi bis-bis khususnya sepertinya memang masih jadi harga mahal di negara kita ya? Nggak cuma di Jakarta Ken, sekian tahun Jogja-Mgl p.p. saya sudah kenyang, mulai dari yang sekedar terpepetkan ke bahu jalan (yang berbatu-batu), sampai yang betul-betul nyungsep sep sep..

Shalom!

(...shema'an qoli, adonai...)

__________________

(...shema'an qoli, adonai...)

KEN's picture

PlainB: Komentar yg cukup tajam

Kita contohkan negara Asia yg juga padat penduduk namun hampir dan bahkan sudah dianggap berhasil dalam memenuhi penerapan kedisiplinan yaitu China. Memang tidaklah mudah untuk mengusahakan kedisiplinan namun bukan berarti tidak bisa. Seperti komentar saya kepada Hannah, kita harus kembali kepada diri kita sendiri, apakah kita memiliki kesadaran tinggi dalam hal ini khususnya?

Pertanyannya adalah apakah bangsa China itu binatang yang berusaha menjadi manusia ataukah bangsa Indonesia-nya adalah binatang yang berusaha menjadi manusia namun tidak pernah jadi-jadi?

PlainBread's picture

Kepadatan Penduduk, Disiplin, Kesadaran diri

Saya gak menganggap bahwa RRT berhasil dalam soal kepadatan atau pemerataan penduduk. Mereka juga punya program pemerintah seperti transmigrasi di Indonesia, yaitu memindahkan  masyarakat dari satu tempat ke tempat lain dengan sengaja (baca: dipaksa hahaha).

Soal transportasi, RRT juga masih belum selesai dengan masalah mereka, mulai dari kemacetan sampe disiplin lalu lintas pengendara. Padahal mereka lebih membangun dalam soal transportasi daripada Indonesia. Beijing punya subway, punya express highways dan panjang jalan raya yang lebih banyak daripada Jakarta. Belum soal transportasi darat lain seperti kereta api, mereka membangun lebih banyak rel kereta api daripada Indonesia. Yang ada KA Parahiyangan malah bubar.

Ada beberapa solusi lain lagi, misalnya memindahkan pusat ibukota (saya paling mendukung ini), atau memisahkan antara pusat pemerintahan dan pusat bisnis. Ada beberapa kota yang sudah menjalani hal ini, misalnya Ontario pusat ibu kota California dipisahkan dari Los Angeles sebagai pusat bisnis. Atau Washington DC sebagai ibukota Amrik tidak menjadi pusat bisnis, melainkan kota terbesar tetangga yaitu NYC menjadi pusat bisnis. Atau solusi lain yang gak kalah gilanya, memperlebar ibukota. Kemaren Jabotabek mau dibikin satu kota besar, tapi kenapa gak jadi?

Kalo soal disiplin atau kesadaran diri itu sih buat saya masih jadi jawaban yang mengawang2. Dalam masalah pelayanan publik, sesuatu yang mengawang2 itu perlu dibuat membumi. Misalnya dengan UU. Yang dulunya bisa ngerokok di dalam ruangan, akhirnya dilarang ngerokok. Yang gak pake helm, akhirnya gak pake helm. Yang tadinya gak pake sabuk pengaman, akhirnya pake sabuk pengaman. Yang tadinya bisa meludah dan buang sampah sembarangan, sekarang gak bisa.

Tapi yang jadi masalah dalam melaksanakan disipilin yah aparat juga. Mereka yang bertugas melaksanakan agar UU bisa dijalankan dengan baik. Lah kalo aparatnya masih seperti itu, sampe kapan mau disiplin.

Makanya kudu ada reformasi di mana2 bukan sekedar bicara. Batas 5 tahun bagi sebuah pemerintahan Indonesia untuk mensukseskan program2 mereka adalah suatu hal yang sungguh bagus. Kalo ternyata mayoritas rakyat menganggap mereka gagal, ya jangan dipilih lagi.

Tapi mungkin sudah ada yang berpikir, ah pemilu terakhir diutak atik, hasilnya udah ketauan seperti Orde Baru. Buat orang2 ini saya bilang ke mereka, bikin lagi donk reformasi seperti tahun 98, bisa gak? Kalo gak bisa ya mingkem aja :) Giliran tahun 98 kemaren ada ide revolusi, baik yang kiri (nasionalis) maupun yang kanan (agamais) sama2 menolak. Yah pilih jalan lambat alias macet, atau pilih jalan cepat tapi belum tentu aman karena bisa tabrakan? Umumnya orang memang lebih memilih jalan lambat asal selamat.

Atau mungkin memang 1 generasi ini perlu lewat dulu, supaya yang jelek2 seperti KKN, gak mau pake helm, merokok dalam gedung, buang sampah sembarangan, bisa pergi seiring dengan kepergian generasi orde baru.

 

 

 

One man's rebel is another man's freedom fighter

Rusdy's picture

Orang Jakarta Imannya Lebih Hebat

He he, emang kasihan Jakarta. Masalah TransJakarta dan kemacetan sayangnya hanya 'the tip of the iceberg'.

Kalo menurut prof rusdy sih, usul2nya PB di atas tentang perpindahan penduduk dari pusat (alias transmigrasi), pemisahan pusat bisnis dan pemerintahan, dan banyak ide dari OrBa dulu (pembangunan merata, tata kota, de el el) udah paling OK. Cuman sayangnya kita nggak bisa melakukannya dengan baik yah? Soalnya ini emang bukan ide baru...

Coba, kalo pembangunan merata dilakukan: Dari Sabang sampai Merauke, bukannya kita kaya akan kekayaan alam? Lalu kenapa semuanya harus lari ke pemerintah pusat? Yang mana bikin ngiler buat dikorup? Masih mending kalau duit korupnya dipakai di dalam negri. Tapi, yang ada malah dilarikan ke singapura dan negeri adidaya lainnya, yang kaya malah negara tetangga...

Kalau pembangunan merata, otomatis banyak lowongan kerja terbuka diberbagai bidang (nggak petani aja) di berbagai pelosok daerah. Wah, enaknya banyak pilihan, si rusdy juga angkat tangan jadi transmigran deh...

Coba, kalau tata kota dilaksanakan dengan baik. Masalahnya, bukannya pemerintah dogol dan nggak ada yang pintar. Buktinya, saya pernah baca di Jakarta Post tahun lalu tentang rencana tata kota Jakarta dari tahun 60-70an. Asrinya rencana itu, banyak penghijauan, bukan mall...

Sekarang, mau bikin busway, kereta, atau infrastruktur lainnya, ya syusah, penduduk udah mleduk begini, mao digusur kemana lagi?

Kalo masalah sadar diri... nah, ini dia nih syusahnya minta ampun. Si rusdi aja cuman ngunjungin Jakarta sebulan dalam setaon. Mestinya gampang dong jadi penduduk taat peraturan hanya dalam sebulan? Experimen saya:

  1. Nyetir dalam garis: eeeeh, garisnya simpang siur. Padahal mao nyetir dalam lajur bak orang beradab, ternyata lajurnya bisa hilang tengah jalan, terus simpang siur nggak jelas di bunderan (contoh: Bunderan HI). Belum lagi pengendara2 lain yang simpang siur (apalagi motor, pengennya ada extra poin kalo nyruduk), gimana mau ngikutin lajur??
  2. Menggunakan Angkutan Umum: halah, ini sih 'work of art' deh. Nggak perlu dibahas lebih lanjut deh: dari bagaimana mendapat informasi rute bus, jadwal, de el el...
  3. Yang penting saya tertib: bisa sih, tapi godaannya itu lhoo... ngapain ngantri kalo ratusan (dan ribuan) orang lainnya nggak? Bisa-bisa saya nggak dapat giliran...

Alhasil, saya cuman bisa ngacungin jempol saya dan kudos setinggi-tingginya kepada orang yang tinggal di Jakarta. Mau tes iman? Tinggal aja di ibukota negara! Iman saya langsung goyah untuk tidak menyumpah serapah kepada pengemudi lain...

KEN's picture

Rusdy, nis, PlainB dan Viesnu

Komentar ente2 anggap saja mewakili suara2 rakyat. Menurut saya ada bagusnya ada jeleknya. Biarkanlah itu terpajang terus di blog saya, mudah2an kebuka dan kebaca ama semua penduduk Indonesia.

Saya hanya ingin menekankan satu hal, bangsa Indonesia milik siapa? Apakah dengan banyaknya hal-hal yg keliatan tidak mungkin, lalu 'semangat' kita2 jadi 'malas' dan 'sontoloyo'?

Khusus utk pak Viesnu, bila saya sempat jadi pemkot DKI, maka ceritanya pasti berbeda hahaha...

dennis santoso a.k.a nis's picture

soal busway

menurut gue, saran termudah adalah "menyulap" semua bis umum dan kopaja menjadi busway. semua bus ini hanya boleh beroperasi di jalur busway saja.

akan ada demo2 dari berbagai pihak... tapi di pihak lain akan ada ketertiban dan peningkatan taraf hidup supir dan kenek bus, sehingga di jangka panjang semuanya (hopefully) akan jadi lebih baik.

KEN's picture

ebed dan nis: rada ga nyambung

Perasaan saya hanya menyinggung tentang TransJakarta deh...?

Tapi gpp.

 

Topik bus-bus maupun angkot-angkot di luar TransJakarta cukup sulit bila mau dibahas. Kalo menurut saya untuk masalah bus-bus dan angkot-angkot di luar TransJakarta perlunya kerjasama semua pihak tentunya. Dari pemkot, para penyedia jasa, sopir, masyarakat dan polantas.

Dari pemkot harus ada perintah tegas yang wajib dilaksanakan oleh polantas. Memang sulit untuk dibahas, saya bicara dari A sampai Z pun, bila belum ada 'kesadaran diri' dari setiap pribadi seperti yang saya tuliskan di atas itu, maka semuanya sia-sia. Akhirnya kita hanya akan melihat bahkan mengalami kesulitan-kesulitan yang tiada ujungnya sampai ke anak, cucu, cicit kita.

Mari saya contohkan salah satu kasus dari beberapa kasus dari berangkat kerja kemudian setelah tiba di tempat kerja, pasti ada beberapa bahkan kebanyakan masyarakat yang 'mengeluh' tentang kemacetan ketika berada di jalanan.

Ada nasihat yang mengatakan, "Kenapa mengeluh terus? Mendingan cari solusinya, iya kan?". Lalu ketika ditanya balik, "Apakah solusi yang dikatakan itu hanya sebuah kata?" Saya akan menjawab: "Tidak!".

Kesadaran Diri dari setiap pribadi masing-masing adalah solusinya!

"Kapan memulai kesadaran diri itu?". "Tahun depan!".

ebed_adonai's picture

@Ken: Hehe..

Sori kalau ente jadi binun KEN...., ^^

Maksud ane tadi cuma sekedar ingin menanggapi masalah Bus TransJakarta secara lebih umum aja...

"..Kesadaran Diri dari setiap pribadi masing-masing adalah solusinya!.."

I couldn't agree more with u about that....

Shalom!

(...shema'an qoli, adonai...)

__________________

(...shema'an qoli, adonai...)

dennis santoso a.k.a nis's picture

busway oh busway

hehehe, iya ken, emang ga nyambung secara langsung. tapi, sebagai bekas pengguna busway, gue berpendapat bahwa busway baru akan sukses bila kemacetan terlebih dahulu dibenahi.

memang terdengar seperti lingkaran setan karena busway sejatinya ditujukan untuk mengurangi kemacetan... lha koq malah gue bilang bahwa kemacetan harus dikurangi dulu sebelum busway bisa sukses?

alasan nya adalah karena, kecuali koridor satu, di koridor2 lain nya, bus transjakarta ini sering ga punya jalur eksklusif alias bercampur-baur jadi satu dengan kendaraan2 lainnya sehingga ga ada bedanya dengan bus umum.

jadi di jalan campur-aduk itu, bila sebelum ada busway sudah sering macet, pas ada busway jadinya malah ancur sekalian (ini juga yang menyebabkan usulan no. 5 diatas, yaitu membuat schedule, bisa dibilang useless).

idealnya, jakarta hanya ada busway... ga perlu bus umum dan kopaja dan mikrolet.

bila ideal susah untuk dicapai, maka paling nggak dipisahkan... di jalur2 yang ada busway, maka bus umum, kopaja, dan mikrolet tidak perlu ada. supir2 bus umum, kopaja, dan mikrolet ini semuanya dijadikan supir busway aja.

bus umum, kopaja, dan mikrolet hanya boleh beroperasi di jalan2 dimana ga ada busway.

dengan begitu, di setiap jalan di jakarta, kendaraan pribadi hanya akan berhadapan dengan satu jenis kendaraan transportasi masal; apakah itu busway, atau bus umum, kopaja, dan mikrolet. tidak tumpang-tindih.

selain itu, berikan "hak immune untuk busway". busway boleh menabrak apapun dan siapapun selama itu terjadi di jalurnya. supir busway tidak boleh dipersalahkan bila menabrak apapun selama dia melakukannya di jalurnya. supir busway hanya boleh dipersalahkan bila dia menabrak orang yang menyeberang jalan saja.

aturan ini, walau terdengar sadis, tapi akan membuat jera para pengemudi yang sering menyerobot jalur busway.

bila busway bisa berjalan dengan semestinya (standar minimum), baru kita bisa berharap lebih kepadanya (misalnya masalah schedule, dsb). percuma usul ini dan itu bila core problem nya belum terurai.

just my 2 cent :-)

 

ps.

tentang kesadaran diri... well, menurut gue sih, kalo semuanya bisa diselesaikan dengan kesadaran diri, mending kita bubarkan saja semua aturan hukum dan undang-undang ;-)

KEN's picture

nis: gue janggal ama kalimat lu yg ini

ps.

tentang kesadaran diri... well, menurut gue sih, kalo semuanya bisa diselesaikan dengan kesadaran diri, mending kita bubarkan saja semua aturan hukum dan undang-undang ;-)

 

Jangan kebalik-balik dong bro... hey... what are you thinking brother?

Justru hukum dan undang-undang itu ada dan dibuat, karna kebanyakan orang cenderung membenam dan tidak adanya kesadaran diri. Ketika hukum itu dibuat, bukankah itu salah satu bentuk dari pada segelintir orang-orang yg sadar diri lalu berinisiatif membuat aturan dan hukum itu?

Ketika tidak ada hukum dan aturan, maka semuanya jadi kacau, bukan? Sebaliknya ketika aturan dan hukum itu selesai dibuat, juga PERCUMA?

Masalahnya sekarang adalah, ketika hukum dan aturan itu selesai dibuat, apakah sekonyong-konyong semua orang langsung sadar diri dan mentaatinya?

Bukankah ada benarnya apa yang saya bilang bahwa, Kesadaran Diri dari setiap pribadi itu adalah solusi satu2nya?

Masalahnya lagi, apakah hal itu ADA di dalam setiap diri kita masing2?

Viesnu's picture

usul pa Ken

usul:

1. di setiap halte Busway dibuat pakir buat sepeda,motor,dan mobil.

Klo bisa sih gratis, hal ini buat menarik para pengguna kendaraan pribadi untuk pindah ke busway

2. perbanyak armanda sehingga tidak terjadi penumpukan penumpang baik di halte ataupun di dalam bis.

3. Penumpang diberikan makanan tapi tetep dengan harga tiket yang 3500 (bisa ga ya?!?!?!)

 

Lovepeace..uenak..

__________________

Lovepeace..uenak..