Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDASpace

Loading

Ulat

victorc's picture
Shalom saudaraku, pagi ini izinkan saya menulis sedikit tentang kehidupan bergereja. Mungkin sebagian besar di antara kita pernah mengalami tersandung atau sakit hati karena ucapan atau perbuatan salah satu anggota gereja. Mungkin juga pendeta, hamba Tuhan atau keluarga mereka juga pernah melakukan tindakan yang melukai perasaan kita. Lalu bagaimana sebaiknya sikap kita? Apakah benar kalau kita memutuskan untuk undur dari gereja atau pindah ke denominasi lain?

Gambar Allah
Miroslav Volf pernah menulis buku menarik yang menegaskan bahwa Gereja adalah perwujudan gambar dan rupa Allah. Kita sebagai anggota jemaat semestinya menunjukkan tindakan dan perkataan yang indah sebagaimana seharusnya sebagai gambar dan rupa Allah yang adalah Trinitas (1).
Tepatnya, Volf menyarankan Trinitas sebagai model relasi dalam bergereja, artinya kita mesti menerapkan "communion" dan komunikasi sebagai komunitas warga Kerajaan Allah. 
Namun bukankah kenyataannya kita seringkali gagal memenuhi standar tersebut? Itu adalah karena gereja adalah kumpulan orang-orang biasa yang bisa berdosa, dan masih penuh dengan sifat manusia yang tidak sempurna (imperfek). Namun justru sifat imperfek itu yang menjadi tantangan sendiri agar kita belajar memaafkan.

Sayuran dan ulat
Keadaan kita sebagai manusia di tengah dunia mungkin bisa digambarkan seperti sayuran dan ulat. Dulu orang cenderung mencari sayuran misalnya bayam atau kubis yang tidak bolong-bolong karena ulat. Tapi sekarang banyak orang justru mencari sayuran yang bolong-bolong karena itu berarti sayuran tersebut sedikit saja pestisidanya sehingga ulat masih doyan.
Demikian juga sebagai manusia, jangan mencari sahabat yang sempurna dan tidak ada bolong-bolongnya. Jika seorang teman masih kelihatan kelemahannya, itu artinya dia sehat dan normal. Tapi jika ada teman yang terlalu sempurna, mungkin ia mirip orang farisi. 
Seorang teman yang psikolog juga menegaskan hal ini kepada saya. Dia mengatakan bahwa dalam ilmu psikologi, seorang yang bertampang buruk mungkin sekali hatinya justru baik. Dan demikian pula sebaliknya. Tentu tidak berarti bahwa semua orang yang cantik atau ganteng itu hatinya kurang baik, tapi maksudnya adalah bahwa penampilan bisa menipu. Itu sebabnya ada ungkapan terkenal yang menyatakan: jangan menilai sebuah buku dari sampulnya (Don't judge a book by its cover).

Penutup
Kiranya artikel ini menggugah kita untuk menerima saudara-saudara seiman apa adanya. Kalau anda sibuk mencari gereja atau pendeta yang serba sempurna, itu hanya akan anda jumpai nanti di sorga. Mari kita belajar untuk saling menegur, menguatkan dan menasihati. Itulah arti sebenarnya menjadi tubuh Kristus (Ef. 4:12).
Selamat menyambut Paskah.

Bagaimana pendapat Anda?

Versi 1.0: 19 maret 2016 pk. 21:32
VC

Referensi:
(1) Miroslav Volf. After Our likeness: the church as the image of the Trinity. Grand Rapids: William B. Eerdmans, 1998.
__________________

Dari hamba yang tidak berguna (Lih. Lukas 17:10)

Prepare for the Second Coming of Jesus Christ.