Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDASpace

Loading

Tulisanku jadi Headline di Kompasiana

Purnawan Kristanto's picture

Kompasiana

Setelah dua minggu ngeblog di Kompasiana maka tulisan saya masuk ke headline blog terbesar di Indonesia.  Ada perasaan bangga karena tidak sembarang blog akkan terpilih di headline, hanya admin yang tahu alasannya. Yang jelas, kalau masuk headline, maka ada peluang yang lebih besar tulisan saya dibaca oleh pengunjung. Ini membanggakan karena setiap hari ada 50.000-70.000 orang yang membaca Kompasiana dengan rata-rata waktu kunjungan 3,11 menit. Frekuensi posting halaman juga sangat cepat. Hanya dalam hitungan jam, tulisan kita bisa tenggelam oleh posting yang terbaru.

Di luar soal kebanggan itu, saya melihat ada kesamaan antara SS dengan Kompasiana. Keduanya sama-sama blog keroyokan. Kedua blog ini bukan sekadar situs agregator yang memulung tulisan dari berbagai RSS Feed. Kedua blog ini sama-sama dihidupi oleh para anggotanya yang memang sengaja membuat konten di dalamnnya.  Pengunjung bisa membaca konten di dalamnya, tapi hanya orang yang telah mendaftar saja yang bisa memberikan komentar.

Perbedaannya, pada Kompasiana, komentar-komentarnya lebih santun. Sedikit sekali kata-kata makian, pelecehan dan kalimat-kalimat yang bertendensi merendahkan martabat orang lain [Memang ada satu-dua komentar yang menyimpang, tapi biasanya mereka tidak mendapat simpati dari user lain]. Ini sungguh berbeda dengan SS. Lihatlah, kata-kata tidak pantas yang diucapkan di blog yang mengaku mengusung nilai-nilai kristiani ini. Apakah memang harus seperti inikah komunitas kristiani? Saya tidak bisa menunjukkan ayat-ayat untuk menjustifikasi keprihatinan saya, tapi mari kita menggunakah hati nurani sebagai ukuran saja. Apakah itu merupakan satu-satunya cara untuk mengubah pendapat orang lain? [Suatu saat saya akan menurunkan tulisan tentang Teknik Persuasi.Dengan teknik ini dapat mempengaruhi dan mengubah sikap orang lain. Jika saya nanti lupa, mohon diingatkan].

Perbedaan lainnya adalah pengkategorian.  Di Kompasiana, tulisan sudah dimasukkan dalam kategori-kategori yang sudah ditetapkan oleh pengelola. Misalnya kategori edukasi, ekonomi, filsafat, wisata, teknologi, new media, dll.  Sementara di SS, user bisa suka-suka membuat kategori. Akibatnya kategori menjadi bejibun. Lalu apa artinya membuat kategori? Bukankah kategori dimaksudkan untuk membuat pengelompokkan berdasarkan jenis tertentu untuk memudahkan kita? Memang ada fasilitas autocomplete yang dapat digunakan untuk menari kategori yang sudah ada, tapi dalam praksisnya fasilitas ini cenderung diabaikan. Akibatnya, fungsi kategori tidak lebih dari sekadar aksesoris.

Dalam Forum Core User saya pernah mengusulkan agar kategori dibuat dengan sistem terutup saja. Maksudnya, pengelola sudah menetapkan kategori-kategori tertentu. Ketika memposting tulisan, user harus memilih salah satu di antara kategori tersebut. Dia tidak bisa membuat kategori sesukanya. Semoga suara saya didengar oleh pengelola SS ini.

 

 

__________________

------------

Communicating good news in good ways

iik j's picture

@Pak Purnawan, muak di SS pindahan ke Kompasiana

Pak purnawan...

Perbedaannya, pada Kompasiana, komentar-komentarnya lebih santun. Sedikit sekali kata-kata makian, pelecehan dan kalimat-kalimat yang bertendensi merendahkan martabat orang lain [Memang ada satu-dua komentar yang menyimpang, tapi biasanya mereka tidak mendapat simpati dari user lain]. Ini sungguh berbeda dengan SS. Lihatlah, kata-kata tidak pantas yang diucapkan di blog yang mengaku mengusung nilai-nilai kristiani ini. Apakah memang harus seperti inikah komunitas kristiani?

He he he ..

Jujur sejujurnya... saya sudah benar-benar mulai MUAK SEMUAK-MUAKNYA... melihat kata-kata yang tak pantas...yang tak kunjung berhenti di SS (apapun alasannya menuliskan kata-kata tersebut... entah perbedaan ajaran atau apa... seharusnya bisa dipilih kata-kata yang lebih baik..)

Peringatan halus... tulisan bagus salah satunya dari pak Purnawan... teguran-teguran (dari mana aja)... kayaknya ga mempan ...

Emang sih... beberapa orang berpendapat bahwa itu yang merekatkan blogger SS satu sama lain. Saya tidak pungkiri hal itu...

Dan... berada di SS... membuat saya bertemu dengan saaaaaaaaaaaaangat banyak orang luar biasa dan baikkkkkkk... serta siap membantu kapan saja... (saya belum pernah menemui penerimaan sebaik ini di tempat lain)

Tapi, saya juga tak sanggup membantah ketika 'orang luar' berbicara mengenai hal yang terjadi di SS ini. Mereka tak akan bisa mengerti seperti saya mengerti .. kalau ejekan-ejekan atau kata-kata tak pantas itu ....

Pengen pamitan dari SS sebenarnya.. udah dari lama.. (tapi beberapa orang selalu mengingatkan saya... kalau kehadiran saya disini tidak kebetulan), dan Praise God.. Tuhan mempertemukan saya dengan beberapa orang yang saya tahu tidak kebetulan (paling tidak saya bisa sharing dengannya... supaya menguatkan dan dikuatkan serta dibantu).

Saya pernah daftar juga di Kompasiana sebagai salah satu alternatif tempat penyaluran hobi jika terpaksa angkat kaki benar-benar dari SS... namun belum sempat posting karena kesibukan... jadi masih tersimpan semua di PC

Tapi sampai saat ini, saya masih di sini... (dengan berbagai alasan dan nasehat)... dan masih terus berharap blogger2 SS akan sanggup mengoreksi diri dan akhirnya berubah (bahasanya)... entah sampai kapan.

[Suatu saat saya akan menurunkan tulisan tentang Teknik Persuasi.Dengan teknik ini dapat mempengaruhi dan mengubah sikap orang lain. Jika saya nanti lupa, mohon diingatkan].

SAYA, dengan sukarela AKAN MENGINGATKAN BAPAK...

terima kasih untuk tulisannya pak Purnawan...Tuhan memberkati

 

 

 

passion for Christ, compassion for the lost

Purnawan Kristanto's picture

Mbak Iik: Nguyahi Segoro


Mbak Iik,

Terimakasih untuk pemberian dukungan moral. Semoga suara sayup-sayup kita masih terdengar di telinga pihak yang di awang-awang sana. Seandainya tidak direspon pun, saya sudah siap-siap untuk memelihara  kios baru di Palmerah. Di sini sudah berkumpul kampiunnya teologi. Buat apa "nguyahi segoro". Para 'garam dunia' banyak terkumpul di sini. Kalau kebanyakan garam malah bisa bikin darah tinggi  [hipertensi].

Saatnya menjadi garam di tempat yang masih tawar. 

 

Wawan

[Sedang merenung: Kira-kira berapa orang di antara user SS ini yang berani terjun ke Kompasiana? Apa mereka beraninya hanya dengan sesama orang Kristen?]


__________________

------------

Communicating good news in good ways

iik j's picture

@Pak Purnawan, ajak saya memasang lapak baru

Saya baru aja terpikir hal yang sama dengan Bapak.

Sedikit share...

Dalam penginjilan di dunia nyata, saya sebenarnya justru menemukan banyak benturan dari saudara 'sesama Kristen' yang memberikan cap  kekristenan yang 'terlalu radikal, terlalu ekstrim' (karena berbagai alasan kesaksian2 tentang hal tersebut TIDAK PERNAH saya bagikan di tulisan2, hanya di pembicaraan 'face to face').

Ha ha ha.. sama seperti ungkapan bapak tentang "nguyahi segoro"..

Tetapi tidak demikian halnya, ketika saya memberitakan Injil (dengan segala resiko) kepada saudara dari kepercayaan lain.. justru penerimaan yang sangat baik yang saya dapatkan. Pelan tapi pasti Firman itu masuk dan memberikan reaksi bagus... (meskipun tidak bertumbuh instan).. yahhh.. tinggal tunggu buah dan waktunya saja.

Mungkin hal yang sama harus saya lakukan juga di dunia maya 'umum', dan bukan hanya menjadi JAGO KANDANG di SS ini.

Mungkin 'nyala kecil' kita bisa sama-sama menyinari 'sedikit' kegelapan...

Kabari saya ya pak, jika masih ada lapak kosong yang tersedia disana... , dan ajari saya untuk beretika, berbahasa, bersikap, menulis dengan lebih baik di tengah orang banyak seperti mereka

Dan tunggu kehadiran saya disana...

 

passion for Christ, compassion for the lost

alvarez's picture

@Iik J, MUAK SEMUAK-MUAKNYA ni yeee

Jujur sejujurnya... saya sudah benar-benar mulai MUAK SEMUAK-MUAKNYA... melihat kata-kata yang tak pantas...yang tak kunjung berhenti di SS

pasti kata-kataku ya he he he

Tetapi tidak demikian halnya, ketika saya memberitakan Injil (dengan segala resiko) kepada saudara dari kepercayaan lain.. justru penerimaan yang sangat baik yang saya dapatkan.

Ini dari pengalamanku lho ya, orang dari kepercayaan lain itu dikepalanya uda tertanam ide seperti apa orang kristen dan ajarannya. Jadi ketika mereka mengungkapkan kekecewaan mereka akan Kekristenan saya akan mendengarkan keluhan mereka, kemudian tinggal menjelaskan bahwa pandangan mereka itu salah sama sekali, karena tidak ada hal yang mereka benci dari Kekristenan itu merupakan ajaran dari Alkitab sekalian membuka ayatnya. Ini cuman pengalamanku lho Iik, sapa tau bisa berguna he he he

Tapi kalau dengan sesama saudara Kristen, Alkitab sudah memberikan petunjuk cukup jelas, terutama untuk yang mengajarkan ajaran diluar Alkitab yaitu TEGUR DENGAN TEGAS!

 

iik j's picture

@alva, jangan ge'er ah..

Jangan ge'er mas..

banyak kok yang omongnya ga pantas disini... bukan hanya sampeyan

thanks buat sharingnya ya... tegas tapi ga ganas... betul begitu?

he he he

passion for Christ, compassion for the lost

Arema's picture

MANTAP PAK!...aku ikut bangga!

Aku salut sama Kristanto....benar kata -kata bapak.Memang benar SS di pakai tuk lahan peperangan..kadang2 aku malu mbaca tulisan orang yang seiman denga saya kok gitu ya...ngalah-ngalahin bocah TK.

Kebanyakan mereka menulis bukan dari pengalaman fakta hidup.cuma dari mbaca saja..belu tahu rasanya di tegor sama Tuhan.

 

 

(JADI ORANG KRISTEN TAK USAH NEKO2 BIAR NAMPAK KRISTENYA)

anakpatirsa's picture

Kategori di Kompasiana

Tentang kategori di kompasiana. Cobalah mem-posting blog berkategori "umum". Tidak sampai lima menit, seseorang akan menempatkan blog tersebut di kategori yang sesuai. Untuk kategori, sepertinya mereka tidak main-main. Walaupun tidak memakai sistem moderasi, sepertinya ada "tukang baca" di sana yang memeriksa tulisan.

Mungkin mereka juga yang menentukan tulisan Bapak layak masuk headlines.

Purnawan Kristanto's picture

@ AP: Mungkin mereka juga


@ AP:

Mungkin mereka juga punya core user juga. Tapi bukan itu point saya. Saya sedang mempertanyakan fungsi kategori di SS ini. Selama ini kelihatannya kurang dimaksimalkan.


__________________

------------

Communicating good news in good ways