Submitted by tonypaulo on

1 Kor 15:10  Tetapi karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku.

Ketika Paulus menuliskan surat kepada Jemaat di Korintus, pada saat itu belum bermunculan teori-teori kepribadian, mungkin sudah dimulai oleh filsuf-filsuf seperti Hippocrates, yang mengkategorikan manusia ke dalam bentuk-bentuk kepribadian (typologi) yang dipengaruhi oleh metabolisme didalam tubuh manusia.

Namun apa yang disampaikan oleh Paulus, begitu dalam dan sejati melebih apa yang disampaikan oleh Hippocrates, keberadaan manusia itu bukan sekedar tergantung dari tipologi kepribadiannya, namun berdasarkan kasih karunia saja.

Sebenarnya saya tidak anti terhadap tipologi-tipologi kepribadian yang ada, malah saya senang untuk mendalaminya, begitupula dengan alat ukur tipologi kepribadian tersebut, hanya saja saya memperhatikan ada beberapa celah yang dapat menjebak orang-orang percaya dan “menarik” orang percaya menjauhi kebenaran yang sejati yang disampaikan oleh Paulus.

Apakah teori-teori  tipologi kepribadian itu sekedar “topeng”?

Tipologi kepribadian tersebut dapat didefinisikan secara sederhana ; pengelompokan atau penjelasan secra ilmiah mengenai ciri-ciri kepribadian seseorang berdasarkan teori-teori ahli psikologi.

Dari Melankolis, Kholeris, Sanguinis & Phlegmatis yang dikembangkan Hippocrates dan Gallen, DIsC Dominan, Intim, Stabil dan Cermat yang dikembangkan oleh Watson. Kemudian  Introvert vs Ekstrovert, Sensing vs Intuition, Feeling vs Thinking, Jugding vs Perceiving atau lebih dikenal dengan MBTI, yang dikembangkan oleh seorang ibu dan putrinya Myers & Brigs, mengadaptasi  pendekatan Jung, Enagram dan sebagainya.

Mengapa saya sampaikan bahwa teori-teori tipologi kepribadian itu sekedar “topeng”?

Sebelum sampai kesana saya ingin mendefinsikan terlebih dahulu apa “jebakan” dari kata kepribadian itu terlebih dahulu

Pertama ; mulai dari fenomena yang dapat kita temui dalam keseharian kita,seberapa banyak iklan mengunakan kata-kata yang menyangkut tentang kepribadian ?  yang menstimulasikan keinginan manusia untuk mengkonsumsi sesuatu demi kepentingan eksistensi kepribadiannya, sebenarnya pencitraan produk ataupun jasa tidak ada hubungannya dengan kepribadian

Kedua ; pernah ada anggapan di masyarakat umum, untuk sukses perlu ikut sekolah kepribadian, untuk mengatur prilaku-prilaku yang sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan. Padahal itu hanya mengotomatisisasi prilaku saja, belum tentu kepribadiannya terbentuk, dan yang kurang diperhatikan sebenarnya karakter itu jauh lebih urgent dan subtansial dibandingkan sekedar kepribadian

Ketiga ; kalau ada pertanyaan lebih baik mana, dinilai tidak mempunyai kepribadian atau tidak mempunyai karakter? Mungkin kebanyakan orang lebih memilih jawaban lebih baik mempunyai kepribadian saja, karakter itu urusan yang bisa dikesampingkan dulu. Sejatinya karakterlah yang membentuk kepribadian bukan kepribadian yang membentuk karakter

Kemudian apa yang menyebabkan karakter jauh lebih urgent dan subtansial dibandingkan kepribadian?

Dalam perspektif bagaimana Tuhan memandang suatu karakter, dalam Alkitab banyak sekali dibahas mengenai karakter.

Dimulai apa definisi dari karakter adalah sikap hati manusia menghadapi permasalahan hidup dan kesehariannya.

Sering saya mendengar jika kita ingin mengetahui karakter seseorang, ajak dia naik gunung dan berkemah, bisa ketahuan sifat asli atau karakternya. Saya belum pernah naik gunung, tapi pernah menjadi team advance dalam acara bible camp, dan ada benarnya juga apa yang disampaikan tersebut, karena jelas terlihat ada orang-orang yang mau enaknya saja, dan tidak mau susah.  Ketika harus menyiapkan tenda-tenda besar buat ratusan orang dan mengangkat galon-galon  air diperbukitan, saya merasakan memang ada orang-orang yang menghindari tugas itu, waktu itu saya terpaksa melakukannya karena teman-teman saya melakukannya, walau dihati ini kesalnya minta ampun dengan orang-orang yang bisanya cuma ngomong aja.

Kemudian apa yang dimaksudkan dengan karakter menurut Firman Tuhan? karakter adalah buah Roh (Gal 5:22-23)

Gal 5:22  Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan,

Gal 5:23  kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.

Ketika seseorang menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan juruselamat pribadinya, Tuhan Yesus memberikan hadiah (gift) berupa satu “paket” buah Roh, sebagai selebrasi “selamat datang di kerajaan Allah”. Dalam “paket” itu ada kasih (love and passion), ada sukacita (joyfull), damai sejahtera (peacefull), dan sebagainya.

Buah Roh yang diberikan oleh Tuhan Yesus itu adalah suatu potensi karakter yang dapat dikembangkan oleh orang-orang percaya. Bukan tanpa bekal sama sekali Tuhan Yesus menginginkan orang-orang percaya berkembang karakternya menjadi seperti karakter-Nya. Itu tergantung pribadi orang percaya tersebut, seberapa besar pribadi tersebut mau terus memiliki suatu relasi dan ketaatan sampai dengan penyerahan total hidupnya kepada Tuhan, sebesar itu potensi karakter pribadi tersebut berkembang menjadi serupa dengan karakter Yesus. Memang dibutuhkan kerelaan ekstra dan ketulusan sangat untuk penyerahan total tersebut. Secara pribadi sayapun masih harus belajar lebih keras untuk itu.

Lebih lanjut potensi-potensi yang diberikan oleh Tuhan lewat buah Roh tersebut, memang harus diuji dan harus ditempa, bagi Tuhan karakter adalah proses pemurnian oleh Tuhan, lewat kejadian-kejadian dan individu-individu lain. Seluruh tokoh-tokoh dalam Alkitab mengalaminya, dari Abraham, Yusuf, Musa, Daniel, Ayub, sampai Tuhan Yesuspun juga mengalami hal yang sama, kita pun orang-orang percaya pasti mengalaminya.

Karena sesuatu yang berharga dan bernilai itu tidak ada yang instan, untuk menjadi emas yang bernilai, bongkahan batu tersebut harus dilebur di perapian yang panas, agar kotoran-kotoran yang melekat bisa dihilangkan, beda dengan batu-batu kerikil di kali yang tidak perlu diproses sedemikian rupa namun tak berharga dan bernilai seperti emas.

Lantas apa tujuan dari pembentukan karakter itu sendiri?

Tujuan utama dari pembentukan karakter adalah keserupaan dengan Kristus.

2 Kor 3:18  Dan kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar.

Rom 8:29  Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara.

Fil 3:10  Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya,

Kembali kepada pembahasan; mengapa saya sampaikan bahwa teori-teori tipologi kepribadian itu sekedar “topeng”?

Setelah mendapatkan sudut pandang yang jelas dan jernih dalam kesejatian Firman Tuhan, mari kita menelaah mengenai “topeng” apa yang melekat pada teori-teori tipologi kepribadian tersebut?

Fakta pertama : Seringkali teori2 Kepribadian MEMBATASI potensi yg ada dlm diri kita, krn persepsi yg ditanamkan ad KETERBATASAN mnrt pengkategorian yg diciptakan .

Sebagai suatu contoh aplikasi, tercipta suatu pemahaman bahwa seorang pemimpin dalam perspektif tipologi kepribadian DIsC, bahwa pribadi-pribadi yang memiliki tipe Dominan(D) lah yang dapat menjadi pemimpin secara natural, karena sifat-sifat kepribadian orang tipe Dominan itu relevan dan mendukung anggapan itu.

Bahayanya anggapan tersebut sudah melekat sebagai suatu persepsi bersama, sehingga sering kali jika ada kuesioner kepribadian DIsC, bagi yang tahu ia dapat memanipulasi kuesioner tersebut sehingga menghasilkan tipe kepribadian sesuai yang diinginkan.  Dan buat orang yang pesimis sering beranggapan bahwa jika tipe kepribadiannya bukan tipe dominan, ia menganggap dirinya kurang dapat menjadi pemimpin yang baik. Stigma ini sudah terlanjur melekat dan dipercayai sebagai suatu kebenaran. Padahal hal tersebut menjadi kontradiktif ketika aplikasi pengetahuan teori kepribadian tersebut dipahami secara setengah-setengah, tidak komprehensif dan tidak fundamental.

Fakta kedua : Seringkali teori-teori Kepribadian justru MEMANJAKAN kelemahan yg ada dlm diri kita dan MENJEBAK kita selalu ada di zona aman kita dengan pembenaran diri lewat teori-teori tipologi kepribadian tersebut.

Ada anggapan bahwa kepribadian itu bersifat permanen dan hanya sedikit saja bisa dimodifikasi atau diubah, karena trait-traits yang ada dalam teori kepribadian tersebut disalahartikan sebagai suatu yang relevan stagnan. Jika dilihat dari perspektif Alkitab, saya sependapat, bahwa yang dapat mengubahkan (transformasi) seseorang hanyalah Tuhan Yesus saja, jadi wajar bila teori-teori kepribadian itu memanjakan sifat-sifat yang termuat dalam tipe kepribadian tertentu, misalnya orang yang bertipe dominan cenderung cepat marah, jadi jika orang yang bertipe tersebut sudah tahu kecenderungan itu, biasanya dia beralasan bahwa kemarahannya adalah sifat dasar yang natural, padahal apapun tipe kepribadian seseorang, cepat marah itu adalah suatu kelemahan yang tidak bisa dimanjakan.

Fakta ketiga : Seringkali teori-teori Kepribadian justru MEMBENAMKAN diri kita kepada suatu kencenderungan ekstrem dari pengkategorian tersebut, sehingga seolah-olah kita tidak berdaya untuk keluar dari kecenderungan ekstrem tersebut.

Seringkali teori kepribadian tersebut membenamkan diri dengan persepsi-persepsi seperti ; yah memang saya seperti ini mau diapakan lagi. Misalnya seorang introvert merasa terbatasi bergaul dengan bebas karena keterangan tentang introvert menyatakan demikian, hal itu dipercaya sebagai suatu kebenaran dan menjadi nilai dalam hidupnya, namun tanpa disadari justru membenamkan dirinya dalam ke-introvert-annya.

Fakta keempat : Seringkali teori-teori Kepribadian justru DIJADIKAN  kebenaran yg dipercayai lebih baik dari FIRMAN TUHAN, ketika itu terjadi kuasa yang dapat mengubahkan hidup kita sama sekali tidak berlangsung.

Ketika nilai-nilai dalam teori kepribadian itu dipegang kuat, maka hal tersebut justru mengalihkan perhatian orang terhadap kebenaran yang sejati,  yaitu Firman. Seyogyanya fundamental dari aplikasi teori-teori kepribadian itu adalah Firman, baru kemudian aplikasi-aplikasi tersebut dapat dijadikan pelengkap. Tanpa fundamental Firman, teori-teori kepribadian hanyalah kondisi-kondisi yang relative saja.

Fakta kelima : Seringkali teori-teori tipologi kepribadian secara tidak sadar MENYUSUP menjadi benteng pertahanan diri dan kebenaran yang dibangun oleh diri sendiri

Ketika nilai-nilai tersebut terinternalisasi atau terkondisikan secara kuat di pribadi orang tersebut, nilai itu mengkristal atau mengendap menjadi suatu benteng pertahanan diri atau dikenali dalam istilah mekanisme pertahanan diri, dengan artian bahwa memang demikianlah orang tersebut terciptakan, sulit untuk diubah dan justru orang tersebut menuntut pengertian orang lain untuk memahaminya seperti itu.

Secara singkat karena teori-teori tipologi kepribadian berasal dari ilmu Psikologi, maka ada baiknya kita menangkap gambaran besar esensi dan subtansi bahwa memang Psikologi tidak bisa dijadikan fundamental dalam menelaah keseluruhan aspek kemanusian manusia itu sendiri.

Pertama ; Psikologi dibangun dan  berkembang sebagai wujud ketidakpercayaan para ilmuwan mengenai peran dan akurasi fungsi Gereja pada abad Kegelapan, walaupun pada saat itu intitusi Gereja keliru, namun spirit pemberontakan dan ketidakpercayaan Firman sebagai landasan hidup manusia merupakan motor pengerak dan dinamika psikologi itu sendiri.

Kedua ; Kencenderungan para Psikolog sekarang (terbukti lewat kasus perceraian yang demikian marak) adalah pemuasan diri sendiri lewat konsep client center, bertentangan dengan kebenaran Firman dimana manusia tidak bisa berpusat pada dirinya sendiri, namun harus tunduk dan taat kepada Allah beserta aturan-Nya

Ketiga ; Psikologi tidak mengenal akar permasalahan manusia yang sebenarnya ; DOSA, karena itu psikologi tidak pernah akan bisa menawarkan suatu solusi yang pasti untuk setiap permasalahan manusia, yang ditawarkan adalah solusi-solusi yang bersifat relatif dan sementara.

Keempat ; pada kasus-kasus ekstrem Psikologi bersama dengan psikiatri mengunakan OBAT PENENANG agar pada pasien tenang, persentase kesembuhan orang yg dirawat dgn pola psikologi/ psikiatri murni jauh lebih sedikit dibanding pasien yang ditanggani dengan pola gabungan kebenaran Firman Tuhan  dan Psikologi

Lantas bagaimana anak-anak Tuhan yang mendalami dan punya passion dibidang Psikologi, sebenarnya justru anak-anak Tuhan harus tampil menjadi ahli-ahlinya, dalam bidang Psikologi masih banyak yang bisa di eksplorasi dan dikembangkan dengan fundamental Firman Tuhan, dengan demikian aplikasi-aplikasi Psikologi tersebut akan semakin maksimal dan berdampak.

Tentu hal-hal tentang dosa tidak bisa masuk dalam ranah pengetahuan, namun akar masalah manusia sebenarnya berpangkal dari dosa, jika akar masalah tidak diketahui, maka baik masalah akibat akar masalah tersebut beserta dengan pemecahan masalahnya bersifat parsial dan tidak akan tuntas.

Sebagai suatu bukti yang nyata, banyak sudah orang yang sebelumnya menderita ganguan jiwa berat, ketika dilayani di rumah pemulihan, bisa pulih kembali, sedangkan jika dilihat persentase kesembuhan dari perawatan Rumah Sakit Jiwa, bukan saya pesimis, namun belum pernah saya mendengar ada kesaksian orang yang dirawat Rumah Sakit Jiwa itu bisa sembuh?.

Apa kemudian saya menilai RS Jiwa beserta dengan para Psikiater dan Psikolog itu gagal? Saya tidak mau terburu-buru, saya perlu lebih dalam lagi melakukan pencarian data untuk menilai lebih objektif fenomena ini. Lalu bagaimana dengan fakta bahwa banyak orang yang menderita ganguan jiwa itu bisa dipulihkan kembali?

Secara sederhana ada suatu hakekat yang terlupakan dalam perkara besar tersebut yang dimulai dari hal yang kecil. Perhatikan kata-kata DIRAWAT untuk DISEMBUHKAN dari RS Jiwa dan Psikiater, bandingkan DILAYANI untuk DIPULIHKAN dan bisa MEMULIHKAN orang lain dari Rumah Pemulihan. Di Rumah Pemulihan, keperdulian, intensitas dan kuasa Tuhan nyata bekerja memulihkan orang yang sebelumnya menderita ganguan jiwa.

Dengan demikian jelas fundamental Firman dalam bidang apapun menjadi mutlak diperlukan, khususnya dibidang ilmu Psikologi, memahami hakekat Firman adalah mutlak dan tidak bisa ditawar-tawar, jika belum demikian kenyataannya, yah itulah fungsi dan peran anak-anak Tuhan yang bergerak di bidang ilmu Psikologi beserta terapannya, dalam membawa garam dan terang  ke ranah ilmu Psikologi.

Lebih lanjut lagi bermula dari mana teori-teori tipologi kepribadian tersebut?

Dari citra diri, manusia cenderung menemukan rumus-rumus cita diri yang palsu, dimana citra diri itu ditentukan oleh penampilan, apa kata orang dan benteng pertahanan diri

 

Grafis diatas tersebut, saya elaborasikan ketika saya mengabungkan antara penampilan, apa kata orang dan benteng diri sendiri, sehingga secara spesifik memberikan pemahaman yang baru.

Jika rumusan citra diri palsu itu adalah gabungan antara penampilan dengan apa kata orang, maka turunan masalah yang timbul adalah konflik eksternal, dimana penampilan (bukan sekedar secara fisik saja) seseorang selalu kontras dengan apa kata orang lain. Begitu juga ketika penampilan bergabung dengan benteng diri sendiri akan memunculkan turunan masalah pemalsuan “identitas” diri.

 

PENAMPILAN dapat dijelaskan sebagai suatu totalitas apa yang ingin seseorang itu tampilkan agar dapat diterima dan dapat diakui eksistensinya.

 

 

Ketika penampilan dan apa kata orang lain begitu mempengaruhi prilaku seseorang akan menimbulkan konflik eksternal, biasanya orang tersebut tidak memiliki jati diri yang asli dan kuat (karatker), kemudian hidup bergantung dengan apa kata orang, sehingga sering terlalu sensitif terhadap sesuatu atau anggapan yang dapat merusak citra dirinya (rapuh), dan memiliki kencenderungan suasana hati yang sering berubah-ubah (mood).

Sedang ketika penampilan dan benteng pertahanan diri itu begitu mempengaruhi prilaku seseorang akan menimbulkan pemalsuan “identitas” diri, biasanya orang tersebut memaksakan diri dalam berpenampilan (berlebihan), lebih mengutamakan kesan yang ingin dia ciptakan (self-image) dibandingkan kebenaran atau kejujuran. Dan memiliki kencederungan untuk menyembunyikan diri dalam penampilan, berharap penampilan dirinya bisa menyembunyikan sifat asilnya.

Kemudian setelah penampilan, APA KATA ORANG adalah perhatian yang berlebihan terhadap apa yang orang lain katakan tanpa mendengar apa kata Tuhan terlebih dahulu. Dijaman materialistic dan kompetisi yang begitu tinggi ini, maka banyak orang lain yang begitu perduli dengan apa kata orang lain, sehingga berlomba-lomba membentuk citra diri (self-image).

 

 

 

Ketika apa kata orang begitu dan benteng pertahanan diri begitu mempengaruhi seseorang maka akan timbul konflik internal, biasanya orang tersebut mudah kecewa, membenci dan menarik lain, sehingga senang menyerang orang lain dalam prilaku dan bahasanya dan begitu defensif (membela diri).

Sedang ketika apa kata orang tersebut dan penampilan begitu mempengaruhi seseorang maka akan timbul konflik eksternal, biasanya orang tersebut bisa dalam suatu saat merasa minder namun dilain saat bisa bertindak arogan untuk menutupi keminderannya, dan punya kecenderungan ekspetasi diri yang tinggi namun tidak dapat memenuhi ekspektasi tersebut

Yang terakhir adalah Benteng Pertahanan Diri, dimana itu adalah prilaku-prilaku untuk mempertahankan harga diri untuk ber-eksistensi.

 

 

Ketika benteng diri sendiri dan penampilan begitu mempengaruhi seseorang maka akan timbul pemalsuan “identitas” diri, biasanya orang tersebut mempunyai kepribadian yang tidak jelas. Sehingga menjadi orang yang tidak produktif, efektif dan efisien. Terkadang cenderung keras kepala dan susah untuk diberitahu dan diatur.

Sedang ketika benteng diri sendiri dan apa kata orang begitu mempengaruhi seseorang maka akan timbul konflik internal, biasanya orang tersebut bisa punya kecenderungan untuk menghancurkan diri sendiri (self sabotage/self destruction), punya kecenderungan ekstrem untuk jatuh ke hal-hal yang membahayakan seperti narkoba, kriminal dsb.

Setelah itu, apa solusi dari hal-hal diatas tersebut?

Setidaknya kali ini saya ingin menyampaikan lima solusi dari hal-hal diatas, tentu dari perspektif ALKITAB (FIRMAN TUHAN) ;

Solusi pertama ; Siapa yang lebih mengetahui manusia selain sang Penciptanya?

Yer 29 :11 Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.

Bukan saja Tuhan tahu mengenai siapa saya, saudara dan semua orang, terlebih dari itu Tuhan perduli dan IA punya rancangan-rancangan (baca hadiah-hadiah), sehingga baik masalah penampilan, apa kata orang dan benteng diri sendiri yang membentuk rumus citra diri yang palsu, tidak perlu terjadi dalam hidup orang percaya

Saya ingin berbagi sesuatu, memang tepat jika dikatakan masa usia 18-25 tahun adalah masa untuk mencari jati diri, saya pun mengalaminya, meninggalkan masa remaja masuk ke masa pemuda, saya ingin mengenal siapa sebenarnya saya, secara otodidak saya menghabiskan waktu yang sangat lama untuk searching informasi di internet mengenai teori-teori tipologi kepribadian, saya begitu tertarik untuk pindah jalur keilmuan, dari Manajemen ke Psikologi, karena saya benar-benar merasa ada yang belum saya ketahui tentang diri saya, akhirnya saya menemukan banyak pengetahuan mengenai tipologi kepribadian. Namun saya merasakan masih ada yang “kurang”. Dan Tuhanlah yang menyingkapkan apa yang “kurang” itu, saya tidak memulai pencarian saya tersebut lewat Alkitab.

Walaupun pikiran saya dipenuhi berbagai teori-teori tipologi kepribadian tetap saja ada yang tidak bisa dituntaskan oleh pengetahuan tersebut.  Dan ketika saya mencarinya dari awal lagi dengan membaca Alkitab, wow begitu banyak kebenaran yang sejati yang saya temukan tentang diri saya, baru kemudian ilmu-ilmu Psikologi itu melengkapi kebenaran yang sejati tersebut dengan aplikasi-aplikasi yang lebih praktis dan terukur.

Solusi kedua ; aku ada sebagaimana aku ada hanya karena kasih karunia

1 Kor 15:10 Tetapi karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua;

Inilah titik kegagalan ilmu Psikologi dan Filsafat dalam memulai sesuatu, tidak menyertakan kasih karunia Allah sebagai suatu pondasi yang tidak bisa tergantikan oleh premis-premis apapun juga. Ilmu-ilmu pengetahuan tidak mengajarkan bahwa keberadaan manusia atau eksistensi berawal dari dirinya sendiri, bukan karena kasih karunia, akhirnya menjebak manusia itu mencari sesuatu dalam dirinya sendiri tanpa menyadari manusia tanpa kasih karunia adalah kosong. Dalam kekosongan tersebut apa yang mau dicari lagi?

Padahal tinggal diamini saja dan dipercaya bahwa baik saya, saudara dan orang-orang percaya lain itu ada sebagaimana sekarang ada, hanya karena kasih karunia kita saja, kita tidak bisa mengerti apa yang akan terjadi dihari esok, bukankah memang keberadaan manusia itu begitu rentan dengan bencana alam, bencana kebakaran dan berbagai bencana yang mendatangkan kematian?

Solusi ketiga ; keberadaan manusia memiliki maksud khusus dari ALLAH

Pernah saya berdiskusi dengan rekan yang atheis yang mempercayai teori Evolusi Darwin sebagai suatu kebenaran, buat saya selain spekulatif dan lebih tidak masuk akal dari kajian filsafati, ada suatu permasalahan serius yang ditinggalkan dari teori Evolusi Darwin tersebut, dalam konsep penciptaan Tuhan Allah, manusia jelas memiliki tujuan yang didelegasikan atau diberikan oleh Tuhan Allah, sedang dalam konsep Evolusi Darwin, manusia tidak mempunyai suatu tujuan sama sekali.

Manusia yang hidupnya tidak mau mengenal dan tidak mau tunduk kepada Tuhan Allah, yah memang adalah manusia yang bebas namun sebenarnya “terpenjara” dalam ketiadaan tujuan hidupnya. Demikian pula anak-anak Tuhan yang tidak mengerti maksud khusus dari Tuhan dalam hidupnya, biasanya memang cenderung melakukan segala sesuatu secara sembarangan saja.

Kembali kepada permasalahan rumusan citra diri yang palsu, baik itu penampilan, apa kata orang dan benteng pertahanan diri sendiri, adalah suatu yang semu dalam Alkitab, bagaiman dengan Maria Magdalena yang memiliki penampilan bekas wanita asusila? Bagaimana Matius si pemungut cukai? Bagaimana jika Maria ibu Yesus memperhatikan kata orang, ketika hamil diluar nikah? Bagaimana Yusuf yang harus merelakan dirinya ada di penjara yang tentu akan merusak reputasinya?. Semuanya itu tidak berlaku dalam perspektif Tuhan, Tuhan lebih menekankan kepada apa tujuan yang harus dipenuhi dan dilakukan oleh anak-anak Nya, bukan kepada citra diri yang palsu atau kepribadian apa yang kita miliki. Namun IA selalu rindu untuk berurusan dengan karakter saya dan saudara serta orang-orang percaya lainnya.

Setiap kita memiliki suatu tujuan, itu pasti

Yer 1:5  "Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau, Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa."

Solusi keempat ; pertobatan adalah awal dari penemuan karakter setiap orang

Luk 5:32  Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat."

Apakah pengertian tentang dosa “sengaja” dimusnahkan dalam ranah ilmu pengetahuan? Atau memang karena sin is beyond science ? tidak bisa tidak ilmu pengetahuan adalah suatu perangkat solutif bagi setiap permasalahan hidup manusia, namun mengapa tidak ada satupun ilmu pengetahuan yang menjadikan dosa sebagai suatu akar permasalahan hidup manusia?

Konsekuensinya muda, jika dosa itu tidak ada, mengapa perlu untuk bertobat? Padahal jelas Tuhan menginginkan pertobatan dari setiap manusia, IA sudah menebus hidup manusia yang percaya kepada-Nya denga darah-Nya yang kudus dan tak ternilai itu. Setelah itu IA bangkit mengalahkan kutuk dosa dan maut.

Malah justru banyak yang mengunakan pengetahuan untuk membenarkan diri sendiri, bahwa penyimpangan prilaku itu disebabkan oleh faktor hormonal, dsb, lihatlah betapa ilmu pengetahuan tersebut telah memanipulasi kebenaran, dari dosa di reduksikan atau dieliminisaikan menjadi penyimpangan yang bersifat kodrat.

Aplikasinya? Fatal, misalnya buat kaum gay/lesbi tidak perlu bertobat, karena itu sekedar penyimpangan karena faktor hormonal yang kodrati (diberi/ gift). Tanpa pertobatan rumus citra diri palsu tersebut tetap akan membelenggu manusia untuk mencari kesejatian dari karakternya.

Solusi kelima ; TUHAN ALLAH ADALAH PRIBADI YANG SUNGGUH-SUNGUH PERDULI dengan keberadaan manusia.

Maz 51:17  Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah.

Tuhan perduli dengan karakter kita, bukan dengan kepribadian kita saat ini, IA melihat jauh kedepan, ketika Tuhan memilih Yakub, yang seorang penipu dan berkepribadian manipulatif, Tuhan bukan melihat Yakub namun IA melihat Israel. Tuhan dapat memproyeksikan Yakub melebihi diri Yakub, demikian juga Saulus yang menjadi Paulus, atau Petrus yang menyangkali menjadi Petrus yang begitu berani berkotbah di serambi Salomo.

Tuhan perduli dengan potensi karakter kita, bukan kepribadian kita sekarang ini,IA ingin terlibat disetiap aspek dalam kehidupan kita, ketika karakter kita diubahkanNYa maka kepribadian kita akan mengikuti karakter ilahi yang dibentuk dengan keperdulian Tuhan tersebut, seberapa cepat dan besar karakter ilahi tersebut dalam hidup kita tergantung seberapa rela dan tulus kita dibentuk oleh Tuhan, dan masa pembentukan itu seperti saat emas dilebur oleh api.

Wah 3:18  maka Aku menasihatkan engkau, supaya engkau membeli dari pada-Ku emas yang telah dimurnikan dalam api, agar engkau menjadi kaya, dan juga pakaian putih, supaya engkau memakainya, agar jangan kelihatan ketelanjanganmu yang memalukan; dan lagi minyak untuk melumas matamu, supaya engkau dapat melihat.

Personality bukanlah suatu realitas dalam perspektif kebenaran, kepribadian beserta teori-teori tipologinya harus diawali dengan pondasi Firman Tuhan yang benar, sehingga dapat digunakan sebagai sesuatu yang membangun bukan suatu yang menjerumuskan. Bukan hanya dalam kalangan terbatas orang percaya, namun memang ilmu Psikologi tidak mengakomodasi dosa, secara otomatis sebenarnya secara tidak langsung tidak mengakui keberadaan Tuhan, karena jika dosa tidak terakomodasi maka keberadaan Tuhan menjadi nihil, karena jika keberadaan dosa hilang, maka keberadaan Tuhan menjadi tidak signifikan lagi.

Secara pribadi sikap saya adalah, mari letakan pondasi yang kokoh yaitu Firman Tuhan, baru kemudian setiap aplikasi ilmu pengetahuan yang dapat mengembangkan dapat berfungsi sesuai bahkan lebih maksimal.

Allah mengerti dan perduli tentang keberadaan saya dan saudara, carilah Allah terlebih dahulu baru kemudian saya dan saudara menemukan keberadaan diri saya dan saudara.

Jadi apapun kepribadian saya dan saudara, yang terpenting adalah karakter KRISTUS yang harus dibentuk dalam diriku dan saya dan saudara bisa disebut berkarakter bila kita menghasilkan buah Roh, sehingga keserupaan dengan Kristus adalah tujuan utama Allah membentuk karakter saya dan saudara.

 

Semoga dapat memberkati