Suatu komunitas maya (virtual) adalah jejaring orang-orang yang berinteraksi melalui media tertentu - seringkali melampaui batas geografi atau aliran politik - untuk melakukan hal-hal yang menjadi ketertarikan atau tujuan bersama. Komunitas maya mendorong interaksi di antara anggota - kadang-kadang berfokus pada suatu topik tertentu, kadang-kadang hanya sekedar untuk berbincang-bincang. Komunitas virtual yang baik melakukan keduanya. (Dave Peck, Think Before You Engage: 100 Questions to Ask Before Starting a Social Media Marketing Campaign, 2011)
Beberapa komunitas virtual menggunakan metafora warung kopi untuk memvisualisasikan komunitasnya.
http://whatis.techtarget.com/definition/virtual-community
Suasana yang informal dan akrab segera tergambar dengan metafora ini. Orang-orang keluar masuk dan bicara ngalor-ngidul hingga yang serius menjadi ciri keseharian orang-orang di kedai kopi. Daya tarik suatu komunitas seringkali ada pada atmosfer yang terbuka, egaliter dan bebas. Bebas tidak berarti tidak ada aturan. Bukankah di warung kopi pun pengunjung diharapkan menjaga sopan-santun dan tidak mengganggu orang lain? Di dunia maya ada aturan yang ditentukan oleh komunitas itu sendiri atau pengola media dimana komunitas itu berinteraksi.
Di warung kopi orang tentu saja bisa berdiskusi dan berdebat. Curhat berdua atau bergerombolan juga bisa. Bicara monolog juga silakan saja, asal pelan-pelan agar tak mempermalukan diri sendiri :-). Begitu juga di komunitas maya.
Namun, berbeda dengan diskusi di pertemuan ilmiah yang 'setting'nya serba diatur, bahkan termasuk bahasa, maka diskusi di komunitas maya biasanya tak kaku. Canda dan komentar out of topic kadang-kadang masih bisa ditoleransikan, selama tidak ditujukan untuk mengalihkan atau mengganggu perbincangan utama. Penggunaan bahasa informal biasanya bisa diterima, termasuk cara penyebutan diri yang tak mungkin diizinkan di forum resmi (gue, elu, masbro, agan).
Berdiskusi di komunitas virtual, apalagi yang membolehkan anonimitas atau keanggota tanpa verifikasi jatidiri memang rentan dengan perilaku tak terkendali. Penggunaan bahasa kasar dan penyerangan pribadi kadang-kadang terjadi, karena orang merasa tak dikenali dan tak perlu bertanggung-jawab atas reputasinya ("on the internet nobody knows that you're a dog"). Anonimitas juga membuat orang bisa berlagak dan berperan sebagai apa pun dan mengaku-aku menjadi seseorang yang bukan dirinya.
Saling menuding "sesat pikir" menjadi pertunjukan biasa dalam diskusi dan perdebatan. Meng-klaim "menang" dan merasa diri paling benar dan paling taat aturan dalam perdebatan juga sepertinya sudah menjadi habit di alam virtual ini. Ini terjadi karena interaksi yang terbatas pada komunikasi melalui "posting"an membuat masing-masing peserta atau penimbrung diskusi tidak bisa melihat MANUSIA di balik nickname dan avatar lawan/kawan diskusinya. Pihak di seberang sana terlihat hanya sebagai untaian karakter yang ditayangkan di layar komputer/gadget.
Hal yang sangat menggelikan adalah ketika peserta diskusi merendahkan kawan/lawan dengan pelabelan yang muncul dari negeri dongeng. Perasaan superior (karena pada saat mengetik komentar hanya melihat dirinya sendiri sebagai manusia yang cerdas, sedangkan yang di seberang sana tak lebih dari sebuah mesin pemroses kata-kata yang asal bunyi) sering menggoda peserta debat untuk merasa paling berhak dan paling layak mengedukasi yang lain. Nyatanya ? Yang menuding asbun seringkali bunyinya paling melengking tak karuan tak terkendali.
Saya sendiri sebenarnya kurang merasa nyaman berdebat (untuk mempertahankan atau menjajal pendapat) di komunitas dunia maya di luar bidang pekerjaan saya. Sadar akan keterbatasan pengetahuan, saya lebih banyak mencoba memahami dan belajar dari yang lain, dan belakangan berbagi opini. Itu sebabnya di setiap komunitas maya yang saya ikuti, pada awalnya saya cenderung menjadi silent reader saja atau hanya memberi komentar untuk meminta klarifikasi. Berbagi tulisan juga tak begitu banyak, karena keterbatasan ide dan kekurangmahiran merangkai kata.
Terlibat langsung dalam diskusi dan debat di komunitas maya tentu hal yang menarik bagi sebagian orang. Bagi sebagian (kebanyakan) anggota lainnya, mungkin lebih menarik duduk di kursi penggembira atau penimbrung sambil menikmati kacang goreng. Komunitas maya bukan ruang kuliah yang harus steril dari bunyi berisik orang mengunyah makanan atau ber"haha-hihi" sesekali.
Baik yang sengit berdebat, maupun yang cuma duduk manis atau heboh di kursi penonton, adalah anggota komunitas yang sah. Tak ada keharusan untuk selalu menjadi peserta aktif, sama seperti tak ada larangan untuk setiap saat mampir dan nimbrung. Meskipun juga tidak ada keharusan untuk selalu menanggapi komentar yang nyata-nyata ditujukan bagi seorang anggota (misalnya penulis suatu blog atau thread), tapi tentu saja diharapkan kesediaan anggota tersebut untuk berinteraksi dengan anggota lainnya. Bukankah itu esensi dari komunitas maya ? Tapi sebaliknya pula, tak perlu menganggap seorang anggota melakukan "hit dan run" kalau tak lagi menanggapi komentar yang sudah "tak nyambung" atau tak mau melayani komunikasi dari anggota lain yang entah sadar atau tidak sadar suka mem'bully'.
Itulah pengertian komunitas maya bagi saya. Arti komunitas maya bagi yang lain mungkin saja berbeda dengan pandangan saya.
#by GX 12.10.2015