Seorang calon mahasiswa teologi sedang menghadapi wawancara dalam rangka penerimaan mahasiswa baru dan mendapat pertanyaan, -
“Apakah yang akan Anda lakukan andaikata Anda mendapat warisan 2 milyar rupiah?"
“Akan saya berikan separuhnya untuk kegiatan misi dan sisanya saya simpan di bank.”
“Bagus sekali! Lalu apa yang akan Anda lakukan andaikata Anda memiliki dua buah rumah?”
“Satu saya pakai sendiri dan yang satunya lagi saya akan berikan untuk gereja yang belum mempunyai pastori untuk pendetanya.”
“Amat bijaksana! Dan apakah yang akan Anda lakukan andaikata Anda memiliki 2 buah sepeda motor?”
Kali ini tak ada jawaban cepat keluar dari mulutnya.
“Saudaraku seiman, Anda telah memberikan jawaban yang mengharukan untuk 2 pertanyaan yang sukar tadi. Mengapa sekarang Anda menjadi bingung hanya untuk benda yang jauh lebih murah?”
“Pak, saya tidak memiliki 2 milyar rupiah dan juga 2 buah rumah. Jadi mudah saya menjawabnya. Tetapi saya memiliki 2 motor walau bukan baru, jadi bukan andaikata lagi, Pak. Kalau nanti saya jawab dan Bapak minta saya memraktekkan jawaban saya, repot Pak. Saya masih butuh 2 motor itu. Satu saya pakai sendiri, yang lain saya sewakan tukang ojek.”
Ah, memang lebih mudah untuk berandai-andai memberi banyak, ketimbang memberikan sesuatu yang nyata-nyata sudah kita miliki. Lebih mudah berandai-andai memberikan matahari di langit daripada memberikan sebatang lilin dari saku sendiri kepada tetangga yang sedang dalam kegelapan.
(19.10.2013)