Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDASpace

Loading

Gereja Impianku

mujizat's picture

Pengalaman 13 tahun mengurusi gereja tertentu sebagai imam tanpa gaji membuatku sempat merasa risih, ketika melayani di gereja baru dengan PK (persembahan kasih) yang diberikan baik setiap kali selesai menyampaikan Firman maupun sesudah bermain musik. Benar, seperti kata Paulus, bahwa seseorang yang membagi-bagikan berkat rohani, dia berhak menerima berkat materi (1 Kor 9:9-11). Artinya, sah-sah saja jika pendeta menerima PK setelah dia kotbah. Namun jika dipikir-pikir, apakah tugas pelayanan "hanya" untuk tampil kotbah antara 1 - 3 jam seminggu benar-benar telah menyita waktu seorang pendeta? sehingga dia musti full-time, sebagai full-timer, sehingga tidak sempat melakukan pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan jasmaniahnya?

Tapi bagaimana perasaan kita, jika melihat bapak pendeta atau bapak gembala begitu santainya, sempat bermain catur berjam-jam, sempat ke fitness sekian kali selama seminggu, dengan gaji flat misal 4 jt sebulan? Sementara ada jemaat yang untuk hidup saja kembang-kempis?

Atau, bagaimana jika kemudahan dan kemewahan yang "ditangkap" oleh jemaat muda kemudian menginspirasinya untuk sekolah pendeta karena jadi pendeta itu enak? Kuliah gampang lulus? Gaji besar kerja santai?

Tetapi aku salut kepada pendeta2 desa yang dengan tekun terus menggembalakan jemaat Tuhan. Tak jarang justru mereka lah yang mensupport kehidupan jemaat dari kerja sekulernya.

...................................................

Jika aku ingin menjadi bagian dari sebuah gereja yang memuaskan hati nuraniku, salahkah?

Inilah model gereja yang aku impikan:

1. Menggembalakan jemaat sedemikian rupa sehingga seluruh jemaat benar-benar mengalami kelahiran baru dan dipenuhi dengan Roh Kudus, bertumbuh dalam karakter Yesus dan melayani dengan kuasa Roh Kudus.

2. Menggembalakan jemaat sedemikian rupa sehingga seluruh jemaat dimuridkan untuk dapat melayani orang-orang baru, dimana jemaat juga senantiasa penuh Roh Kudus agar melakukan pelayanan yang sesuai kehendak Allah (Mat 7:23)

3. Menggembalakan jemaat sedemikian rupa sehingga seluruh jemaat terbangun menjadi jemaat yang Taat Firman secara benar, sehingga berkat-berkat Tuhan tidak terhalang, baik berkat jasmani (selalu sehat tanpa obat), berkat rohani (melayani dengan karunia Roh) maupun berkat materi (dicukupkan Tuhan, bahkan ditambahkan).

4. Menggembalakan jemaat sedemikian rupa, sehingga jemaat terbangun untuk rajin "memecahkan roti", tentu ini bukan soal perjamuan kudus, melainkan bagi-bagi berkat materi kepada yang memang memerlukan.

5. Baik penatua, pendeta, tidak menerima gaji, melainkan hidup dari kerja sekuler. kecuali pengkotbah undangan, untuk transportasi. Kecuali pendoa yang mau menyembah Tuhan sebagai pendoa syafaat yang memberikan "seluruh" waktunya untuk Tuhan dalam doa dan penyembahan dan syafaat, maka dia HARUS disupport secara penuh untuk keuangan dan materi. Jadi dia seperti "nabiah" Hana, yang kerjanya doa, makan, tidur, mandi, doa, nyembah, dst. Nggak pakai main catur, nggak pakai fitness, dll.

6. Menggembalakan gereja yang mengajarkan perpuluhan dan persembahan khusus. Lalu buat apa duitnya? Pertama, buat bayar listrik, dan operasional gereja. Gereja dibuat adem, pakai AC sehingga suasana ibadah sangat nyaman. Air melimpah, makanan minuman cukup, sehingga tak ada yang pulang dengan lapar dan haus.

7. Gereja yang memperhatikan diakonia, pelayanan kepada jemaat yang memang butuh dukungan: yang masih miskin, yang janda, yatim piatu. Pokoknya, orang susah dibikin senang sehingga berkesempatan belajar Firman Tuhan.

Tapi model gereja seperti ini mungkin banyak "pendeta" yang gak suka. Ha haa,.. Tapi inilah gereja impianku. Mungkin impianku akan berkembang, atau berubah. Who knows?

__________________

 Tani Desa

Darwin Pangaribuan's picture

Sungguh ideal

pa Abraham, sungguh ideal cita-cita  Bapak,  saya dukung.  Sebetulnya, kalau kotbah di gereja sendiri tidak perlu diberi PK, gajinya memang sudah untuk itu.  Apakah itu yg dimaksud?

mujizat's picture

Shalom pak Darwin Pangaribuan,...

Shalom, selamat kenal pak Darwin Pangaribuan.

Memang banyak gereja dengan aturan masing-masing. Susunan pengurus gereja juga beraneka ragam.

Ada gereja dimana pendeta yang menerima gaji rutin setiap bulan, sementara itu di dalamnya juga ada majelis-majelis (yang tidak menerima gaji).

Lalu ada gereja dimana hanya pendeta yang berkotbah dia menerima PK (persembahan kasih), ini adalah nama lain dari honorarium yang diperhalus.

Tetapi ada juga gereja yang (sesuai AD/ART) "tidak memberi" baik gaji maupun PK kepada para pengkotbah, kecuali pengkotbah dalam jabatan tertentu dan yang memang bekerja sebagai full-timer di gereja itu.

Yang saya maksud adalah, walau di gereja sendiri, tidak perlu menerima baik gaji maupun PK. Lalu darimana dia dapat mencukupi kebutuhan sehari-hari? Dari kerja sekuler (Inilah yang mungkin "berat" bagi sebagian pendeta, he hee,...)

Tapi kalau ada seseorang yang walaupun sarjana Teologi, walaupun Master Teologi bahkan walaupun dia Professor Teologi, namun kalau dia mau berkotbah TANPA GAJI MAUPUN PK, namun tetap berdedikasi tinggi, maka model orang seperti inilah yang mungkin banyak dicari jemaat.

Salam.

__________________

 Tani Desa

Darwin Pangaribuan's picture

Orang Lewi perlu mendapat bagiannya

Pa Mujizat, saya paham maksud Bapak. Yang jelas, orang Lewi (para Pendeta) perlu memperoleh hak nya.  Gaji bulanan bagi gereja yg memang mampu.  Tidak perlu lagi ada PK kalau  sudah kotbah.

 

Adapun apabila orang awam yg berkotbah  adalah bagus juga tanpa dibayar.  Sebab orang awam tsb berarti sudah menyerahkan perpuluhan waktu dan talentanya.

Demikian sebagai sharing.

Salam hangat.  God Bless

manguns's picture

Menggembalakan vs berkhotbah

Menggembalakan jemaat  Kata Oom Daud: To:

  • To feed, to guide, to shield
  • Make fresh and tender
  • Leads in the paths of righteousness
  • With rod and staff to protect, guide, and comfort
  • Victory Party

Kalo cuma khotbah, seperti kata pepatah, pekerjaan yang paling gampang adalah bicara.

Gembala beneran dikampung saya, nggak pernah saya lihat pidato didepan kerbau. Paling sering pegang ranting mukul-mukulin pantat kebo, ngawas sambil niup suling ngasih makan dedak kalo tekor rumput dan mandiin kebo.

mujizat's picture

Manguns, menggembala lebih berat dari sekedar kotbah

Setuju.

Pekerjaan meggembala memberikan sebagian besar waktu untuk a,b,c,d,e dst., tapi fakta di lapangan - dalam hal "penghargaan" - sedikit beda, barangkali.

Tapi kalau penggembalaan benar-benar dilakukan, ini soal kepedulian terhadap perkembangan jemaat yang digembalakan, orang-perorang, yang menyangkut a-z , model spt ini lah mrupakan pekerjaan yang tidak ringan, tapi siapa tertarik?

Salam.

__________________

 Tani Desa

manguns's picture

Gembala: antara pekerjaan dan panggilan

Tuhan Yesus tiga kali memberi perintah kepada seorang rasul, untuk menggembalakan domba-dimbaNya. SAMPAI TIGA KALI.Karena sedemikian penting, khawatir rasul itu kurang paham, kurang dengar, kurang nyimak, atau bebal, sampai diulang tiga kali berturut2

Tentunya perintah ini adalah mandat/amanah utama dan terutama dari seorang pendeta. Untuk itu seorang pendeta diurapi sehingga memiliki wewenang untuk tugas penggembalaannya.

Apakah tugas penggembalaan ini merupakan suatu pekerjaan (occupancy) atau suatu panggilan?? Bila mayoritas pendeta kristen protestan mengganggap penggembalaan adalah pekerjaan yang tidak ringan dengan penghargaan yang sedikit, (spt komentar diatas), shg tidak tertarik untuk melakukannya dengan sepenuh jiwa ... ironis, tapi fakta membuktikan demikian.

balasan pekerjaan = rupiah vs balasan panggilan=upahmu besar disurga... rupiah oo rupiah...

ebed_adonai's picture

@manguns: rupiah.....

Untuk ukuran jaman sekarang, apa mungkin ya cuma mengharapkan upahmu besar di surga (=panggilan thok)? Apalagi kebijaksanaan masing-masing gereja soal "upah" pendeta/gembala berbeda-beda. Sementara banyak kebutuhan hidup yang harus dibayar. Sering masalah ini seperti "ditutupi" dengan kalimat: Kalau setulus hati mendengar panggilan, Tuhan akan mencukupkan semuanya..

Piye yo? Undecided

__________________

(...shema'an qoli, adonai...)

manguns's picture

@ebed: ayam dan telor

Q: Duluan mana ayam dan telor..

Kalo dari pandangan JAMAN SEKARANG semua jawaban bisa benar semua jawaban bisa salah.

Kalo sudut pandang rohani, tentu jawabannya duluan ayam. Jawaban itu oleh pendeta 'yg KATANYA diurapi, dibimbing Roh Kudus', diteriakan berbusa-busa dari mimbar.Tentunya harus berangkat dari sanubari terdalam. Kalau tidak, berarti pendeta itu tidak lebih dari SBY 'jaga image' atau tukang obat, atau dagang ayat. Itulah Faith.

Kalo wakil Tuhan Yesus didunia ini, masih sama dg dunia jaman sekarang, nggak yakin Allah akan memenuhi janjiNya. Janganlah berharap banyak kepada jemaatnya yg susah payah, terpaksa harus menahan kantuk mendengar celotehan mimbar dan kecipratan ludah.

Kembali kesudut pandang JAMAN SEKARANG, dari hitung2an bisnis: kalo gembala itu kompeten, menggembalakan domba, tentunya mejadikan domba-dombanya beranak pinak, selamat sentosa, sehat, gemuk, berbulu tebal, bersusu melimpah. Wajar saja gembala itu memperoleh proporsi kesejahteraan dombanya.

Tapi kalo gembala itu modalnya cuma ayat doang, tidak memperlengkapi diri dengan kompetensi menggembala yg dibutuhkan dunia yg semakin komples dan mengglobal, menjadikan dombanya  kurus kering, sakit-sakitan, sekarat, menyusut disamber rentenir. Janganlah menyalahkan Allah tidak memenuhi janjiNya.

Kembali ke sudut pandang rohani. Dari sisi domba, tidak sedikit domba gemuk yang meyakini diri sudah terberkati, yang tidak akan menutup mata terhadap perjuangan dan penderitaan para gembala, bahkan bukan gembalanya sendiri. Masalahnya domba jenis ini biasa juga berkarakter khusus yang nggak nyambung dg gembala asal gembala.

Another time another topic.

 

 

smile's picture

matre.....

MATRE....

__________________

"I love You Christ, even though sometimes I do not like Christians who do not like You include me, but because you love me, so I also love them"