Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDASpace

Loading

Kristen yang Indonesia? Mungkin Bisa.

Risdo M S's picture

Sangat sulit melacak buku-buku soal pandangan seorang umat Kristus di Indonesia terhadap bangsanya. Seolah hanya ada jawaban normatis, sekedar menjadi warga negara yang baik di negeri yang dibuat manusia. Seolah kedua topik, iman kristiani dan kebangsaan, memang harus terpisah sejak terpisahnya mata pelajaran PPKn dan PAK. Mungkin pula hal ini diperparah sebab regukan sumber untuk keimanan kristiani kita memang kebanyakan dari Eropa Barat dan Amerika Utara. Namun nampaknya penyebab terparahnya adalah isu-isu seperti ini belum menemukan lahan suburnya di blantika pembahasan, apalagi perbukuan kristen Indonesia.

Dari kalangan Protestan, saya mendaftar beberapa buku tentu termasuk biografi Om Yo (Johanes Leimena) dan Dr. Sam Ratulangi juga kumpulan tulisan T.B. Simatupang. Saya masih memburu-buru kumpulan pemikiran-pemikiran Amir Syarifuddin yang terbilang kontroversial baik sosok, tindakan maupun idenya (Ia pernah seolah bernubuat, sekitar tahun 1930-an, bahwa kekristenan di dunia ketiga harus berbenah diri, untuk memimpin kiprah umat Al-Masih di masa datang. Sekarang sudah mulai terbukti bukan?). Tapi itu kan buah pemikiran tokoh-tokoh dulu. Yang sekarang? Saya mencari-cari lagi, ada beberapa tulisan Yakoob Tobing, Yonki Karman dan beberapa rekan-rekan dari Leimena Institute, GMKI dan GAMKI, beberapa memang membahas dengan mendalam, bahkan dengan kajian Kitab Suci yang baik. Tapi sering kali hanya terkait satu isu. Saya mencari pandangan yang lebih umum dan menyeluruh.

Di kalangan Katolik Roma, saya menemukan beberapa. Yang paling terkenal tentu dokumen Indonesianisasi Gereja Katolik Roma dan tulisan-tulisan yang terkait dokumen tersebut. Tapi memang seperti di kalangan “adik”-nya, buku-buku dan tulisan-tulisan seperti ini juga kurang populer.

Eh, ternyata tidak perlu jauh-jauh... Sekitar lima tahun lalu, setelah sebelumnya mengubek dan menguber-uber sebisanya, saya berkenalan dengan sebuah buku dengan sampul yang sangat sederhana bergambar bintang. Judulnya sedikit mengecoh dan banyak menohok: Demi Allah dan Demi Indonesia ...

Itu buku Nasrani Mas, jangan ketipu...,” Si penjual buku jalanan dengan celana gantung memberi informasi. Tindakannya mengingatkan saya pada kakak rohani yang dulu melarang saya baca buku filsafat. Saya berterimakasih atas ketulusan si penjual, lantas pamit, sembari menyesali diri kenapa lupa mencukur jenggot.

Akhirnya di sebuah bazar PMK, saya membeli buku itu... dan kurang ajar, idenya bernas sekali. Kenapa tak dari dulu muncul. Lebih kurang ajar lagi, ternyata penerbit dan pengarangnya dari Bandung, kota tempat saya menimba ilmu dan mencari nafkah. Ah, saya jadi ingat, begitu pula caranya saya ketemu dengan pujaan hati. Sudah melanglang buana kemana-mana, akhirnya menambat ke teman sepelayanan juga. Ups.. curhat...

Maka saya pun sedikit berbuat kurang ajar, dengan menunggu selama lima tahun baru berbagi cerita tentang buku itu. Memang ada beberapa alasan. Pertama, karena saya tidak ingin dianggap promosi. Ya, saya memang tidak dapat apa-apa dari membagikan hal ini kepada blogger SS. Kedua, saya juga menunggu ide-ide lanjutan dari penulis terebut dan berharap ide-ide itu meluas dengan sendirinya tanpa harus melalui buku-bukunya.

Tapi toh akhirnya saya berbagi juga, maka maafkanlah kekurang ajaran saya, hehe... Sayang saja pemikiran bernas seperti ini, masih belum terlalu di kenal di jagat perbukuan Kristen. Berikut ocehan sok pintar dan sok resmi dari saya soal buku itu dan ‘adik-adik’nya...

 

 

Karya-kaya untuk Pemandu Bangsa

(Memperkenalkan Buku-buku tentang Kenasranian dan Kebangsaan dari Samuel Tumanggor)

 Samuel Tumanggor, siapa dia? Namanya belumlah begitu sohor di kalangan penulis Kristen Indonesia. Dia juga belum menjadi pembicara kondang dan bukan begawan teologia hingga pemikirannya layak dapat tempat di mimbar kristiani kita. Ide-ide yang diusungnya pun terbilang menentang selera terkini kajian-kajian rohani umat Kristus di bangsa ini. Di tengah pusaran pembahasan literatur Kristen yang melulu tentang kerohanian individual, kisah-kisah supranatural, atau sekedar uraian-uraian dogmatis, pengarang ini muncul dengan ide garang: kenasranian dan kebangsaan Indonesia layak bahkan harus disandingkan dalam berbagai sisi kehidupan, oleh umat Indonesia yang mengaku mengikut Kristus.

 Apa yang dikerjakan oleh Samuel Tumanggor mungkin tak kurang dari upaya nabi-nabi. Sebab penerbitan karyanya berarti memporak-porandakan pemikiran yang menyamankan orang Kristen Indonesia selama ini. Itu juga berarti kesepian tanggapan atas idenya hampir pasti menjadi kenyataan. Kalau bukan karena pewahyuan yang begitu deras (sebagaimana akan kita temui saat membaca buku-buku karyanya), mustahil ada orang nekat mau melemparkan tulisan-tulisan seperti ini ke wacana kekristenan Indonesia. Kita patut bersyukur Sang Pemberi Wahyu telah meneguhkan langkah pengarang untuk meneruskan pewahyuan itu bagi umat-Nya. Namun tentu tak pantas sekedar bertabik ria, pewahyuan itu pun turut memanggil kita untuk menyelami kedalaman maksud Tuhan yang tengah disampaikan ini.

 Demi Allah dan Demi Indonesia adalah buah sulung penulis buku yang tinggal di Bandung ini. Karya pertama ini dijamin bakal melumer rasa dan asa seorang Kristen Indonesia. Betapa tidak, di hadapan kita disajikan pengertian-pengertian yang sahih tentang kekristenan dan kebangsaan yang selama ini sangat mungkin kita abaikan. Kalau suatu kebenaran begitu sahih, namun selama ini tersembunyi dan kita juga terlibat dalam penyembunyiannya, tidakkah hati kita meronta-ronta akannya? Tidakkah tangis pertobatan, sebagaimana dialami juga oleh pengarang, akan menyayat-nyayat hati kita yang masih mau dibentuk ini? Alamilah hal yang sedemikian,sementara kita diperhadapkan pada kesahihan pemahaman yang dipaparkan pengarang ini.

Pemahaman pengarang menandaskan bahwa kita lebih dahulu menjadi Indonesia sebelum menjadi pengikut Kristus. Bahwa Allah menghargai kebangsaan seseorang sehingga tak pantas kita malah mengabaikan atau rendah diri akannya. Bahwa suatu kecacatan jika pertobatan kita dalam Tuhan tidak membawa kita semakin menyadari dan mencintai jati diri kita sebagai manusia Indonesia.  Bahwa Tuhan punya rencana untuk Indonesia sebagai suatu bangsa. Bahwa umat kristiani harusnya ambil bagian dalam rencana Tuhan bagi Indonesia, dengan pengertian dan karya yang menyentuh semua segi kehidupan, tak hanya urusan gerejawi. Semuanya itu dipaparkan dengan kajian Alkitabiah yang mendalam, bahasa yang lugas nan menawan serta contoh-contoh yang sangat inspiratif. Kita akan menemu banyak tokoh dan peristiwa yang menggugah namun selama ini seolah terselubung, sebab pemahaman-pemahaman yang digelontorkan pengarang tadi, adalah pencilan dalam mimbar-mimbar gerejawi dan tulisan-tulisan kristen di Indonesia selama ini.

Namun semua itu barulah sajian pembuka. Pengarang melanjutkan pemaparannya dalam trilogi yang sangat menarik, Orang Nasrani Pandu Bangsamu, Memandu Bangsa dan Bangkit Memandu Bangsa.

Dalam Orang Nasrani Pandu Bangsamu, kita akan menemukan fakta alkitabiah dan contoh yang lebih menggugah perihal maksud Tuhan untuk berbangsa serta ide-ide terkini untuk memandu Indonesia. Kenalilah sejarah Alkitab tentang kesejarahan bangsa-bangsa, kenalilah cita-cita keindonesiaan, serta nikmatilah gugahan yang menyentuh dari banyak tokoh Indonesia, baik yang sepintas lalu diangkat di buku sebelumnya, maupun tokoh-tokoh lain yang tak kalah menginspirasi.

Sementara itu dalam Memandu Bangsa pengarang bertutur dengan curahan hati mendalam seputar kerinduan untuk memandu bangsa yang ingin ditularkannya. Simaklah satu bab tentang pesan pengarang kepada putri sulungnya yang memuat kerinduan memandu tersebut. Alangkah indahnya jika setiap orang tua bersenandung senada memesankan indahnya pesan itu bagi generasi mendatang. Tak hanya itu, kisah-kisah dibalik pengutaraan wacana-wacana pemikiran pengarang akan berbicara untuk satu pesan sama. Menunjukkan pada kita betapa Sang Pewahyu seringkali memakai umatnya yang sederhana untuk menyampaikan serta meneladankan pesan-Nya. Telunjuk Tuhan  jelas mengarah kepada kita, kaum awam sekalipun, untuk berhenti berminder diri, sebab tangan yang menunjuk ke kita itupun kini tengah melambai ke dalam, memangil kita untuk segera mengambil tanggung jawab.

Sehabis melabur rasa, pengarang memunculkan Bangkit Memandu Bangsa. Dibingkai oleh tulisan rekan-rekannya yang keberkatan atas buku-buku sebelumhya, pengarang memaparkan contoh-contoh memandu dan membangun bangsa di berbagai bidang kehidupan. Tulisan-tulisan di penutup trilogi ini terbilang gamblang dan mendaratkan banyak ide. Lewatnya kita – entah sebagai seniman, rohaniwan, ilmuan, pejabat pemerintahan dll. – didorong untuk merambah berbagai bidang dengan pemahaman daulat serta mandat Allah atas berbagai bidang itu pula.

 Kita akan menemui rasa berbeda saat menggumuli ide dan pemahaman atas karya-karya Samuel Tumanggor ini. Hanya saja itu harus merentang-panjangkan kebiasaan kita dalam membaca “buku rohani.” Harus diakui, meski bahasanya lugas dan sederhana, untuk kebiasaan membaca dan bacaan orang Kristen Indonesia, buku-buku ini memberi kesan “berat”. Tapi tentu halangan ini adalah sekaligus cambuk bagi umat Kristus di Indonesia. Sudah selayaknya pemahaman kita akan keimanan dan kebangsaan dihantar ke jenjang yang lebih sesuai dengan maksud Tuhan. Apalagi sebenar-benarnya kita sudah sangat jauh ketinggalan, jika sekarang ini baru mulai memahami hal-hal yang dipaparkan pengarang. Apalagi jika mata kita tetap celik dan peka atas erangan bangsa ini yang menyiratkan kebutuhan yang amat sangat akan munculnya pandu-pandu pertiwi.

Lalu untuk apa berlama-lama dalam keminderan pemikiran kekanakan tentang kekristenan Indonesia? Bacalah karya-karya Samuel Tumanggor. Temui dan bersiaplah mengencani serta dikencani oleh ide-idenya. Lalu dengan tuntunan Sang Pemberi Ide, ambillah ketetapan untuk mengerjakan panggilan yang membuat kita sehidup semati dengan ide itu. Sebab Tuhan sedari dulu tengah menanti-nanti umat-Nya di Indonesia untuk mengambil tempat membela bangsanya. Demi Allah dan demi Indonesia, duhai para pemandu bangsa.

buku samtum

Ps:

Buku-buku Samuel Tumanggor

Demi Allah dan Demi Indonesia: Suatu Pergulatan tentang Ihwal Kenasranian dan Kebangsaan, Satu-satu, Bandung: 2006 (221 Hal)

Orang Nasrani Pandu Bangsamu [Buku I], Satu-satu, Bandung: 2007 (179 Hal)

Memandu Bangsa: Ide-ide Nasrani untuk Kemajuan Negeri [Buku II], Satu-satu, Bandung: 2008

Bangkit Memandu Bangsa, Divisi Literatur Perkantas, Jakarta : 2010 (188 Hal)                               

Nah konon kabarnya, si penulis udah nulis buku kelima yang judulnya Tuhan Gunung atau Tuhan Alam Semesta (diterbiktan oleh Divisi Literatur Perkantas 2011 dan belum saya baca, hehe), yang banyak mengupas soal budaya dan seni dari sudut pandang kekristenan.

 

__________________

Eirene Humin.

Rusdy's picture

Markotop

Tentang pengantar bukunya:

"“Itu buku Nasrani Mas, jangan ketipu...,” ... Saya berterimakasih atas ketulusan si penjual, lantas pamit, sembari menyesali diri kenapa lupa mencukur jenggot.

Kocak abies, ampir gedubrak saya.

 

Tentang bukunya, nanti saya cari dulu di toko buku

Risdo M S's picture

emg beneran sih, hehe

saya juga sebenarnya ketawa kalo ingat itu, tapi tampang saya emg suka menipu, hehe...

Cobalah cari boz, kalo emg sulit coba hubungin aja penerbit atau penulisnya, hehehe

__________________

Eirene Humin.