Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDASpace

Loading

Mesias

victorc's picture
Sumber: Seminar Aqedah Yitshaq
Tgl: 3 April, 2017
Narasumber: Dr. Bambang Noorsena

Teks: Yes. 53:10-12
    10  Tetapi TUHAN berkehendak meremukkan dia dengan kesakitan. Apabila ia menyerahkan dirinya sebagai korban penebus salah, ia akan melihat keturunannya, umurnya akan lanjut, dan kehendak TUHAN akan terlaksana olehnya.  
    11  Sesudah kesusahan jiwanya ia akan melihat terang dan menjadi puas; dan hamba-Ku itu, sebagai orang yang benar, akan membenarkan banyak orang oleh hikmatnya, dan kejahatan mereka dia pikul.  
    12  Sebab itu Aku akan membagikan kepadanya orang-orang besar sebagai rampasan, dan ia akan memperoleh orang-orang kuat sebagai jarahan, yaitu sebagai ganti karena ia telah menyerahkan nyawanya ke dalam maut dan karena ia terhitung di antara pemberontak-pemberontak, sekalipun ia menanggung dosa banyak orang dan berdoa untuk pemberontak-pemberontak.

Ada beberapa ide tentang Mesias yang sudah ada sejak masa pra-Kristen, di antaranya:
a. Mesias harus menderita: targum Yonatan, Yesaya
b. Mesias adalah Anak yang Mahatinggi: naskah laut mati, Yesaya
c. Kehadiran pra-eksistensi Mesias: Injil Yohanes
d. Mesias menebus dosa umat manusia: Yesaya (disimbolkan dalam peristiwa Aqedah Yitshaq yang juga diterima oleh bangsa Yahudi). Lihat catatan di bawah ini tentang prasasti Nuzi.
e. kerajaan-Nya tidak berkesudahan: naskah laut mati, Yesaya

Dalam sejarah, ada beberapa orang yang hampir dinobatkan menjadi Mesias Yahudi:
- Bar Kokhba
- Martin Luther
- David Koresh
Namun sangat jelas bahwa tidak ada seorang pun di antara mereka yang memenuhi semua kriteria Mesias di atas. Hal ini juga telah ditegaskan oleh almarhum Rabbi Kaduri (5)(6).

Vicarious (1)
Makna kematian Yesus dalam konteks penebusan dosa umat manusia dijelaskan dengan baik oleh Rasul Paulus dalam Roma 5:6-11

    6  Karena waktu kita masih lemah, Kristus telah mati untuk kita orang-orang durhaka pada waktu yang ditentukan oleh Allah.  
    7  Sebab tidak mudah seorang mau mati untuk orang yang benar--tetapi mungkin untuk orang yang baik ada orang yang berani mati--.  
    8  Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.  
    9  Lebih-lebih, karena kita sekarang telah dibenarkan oleh darah-Nya, kita pasti akan diselamatkan dari murka Allah.  
    10  Sebab jikalau kita, ketika masih seteru, diperdamaikan dengan Allah oleh kematian Anak-Nya, lebih-lebih kita, yang sekarang telah diperdamaikan, pasti akan diselamatkan oleh hidup-Nya!  
    11  Dan bukan hanya itu saja! Kita malah bermegah dalam Allah oleh Yesus Kristus, Tuhan kita, sebab oleh Dia kita telah menerima pendamaian itu. 

Ayat 6-8 dalam teks bacaan kali ini menggambarkan kasih Allah yang begitu besar. Kasih itu ditunjukkan justru pada saat manusia masih lemah. Kata "masih lemah" ini dalam bahasa Yunani digunakan kata "asthenes" yang lebih tepat diartikan "tak ada daya atau tak punya kekuatan." Sebagai orang yang ada di dalam dosa, semua manusia tidak berdaya untuk menebus hutang dosa bila hanya dengan kekuatan sendiri.
Namun pada saat itulah, Kristus mau mati bagi manusia yang tak berdaya melawan dosa. Ia menggantikan tempat orang berdosa, menebus dosa, dan menyelamatkan manusia. Kematian Kristus menurut Gerald F. Hawthorne dan Ralph Martin bersifat "vicarious," artinya kematian itu bukan sekadar kematian biasa, namun dilakukan untuk orang lain sebagai pengganti orang lain dan demi kepentingan orang lain.
Berikut ini adalah kisah seorang pastor yang bersedia menggantikan hukuman mati napi lainnya dalam kamp tawanan Yahudi saat PD II.

Kolbe (1)
Pada tahun 1941, seorang pastor bernama Maximilian Kolbe dipenjarakan di Auschwitz. Pada satu hari seorang napi berhasil melarikan diri. Telah menjadi kebiasaan, setiap kali ada satu napi lari, semua napi lainnya akan dikumpulkan di halaman, lalu komandan akan memilih secara acak 10 napi. Mereka akan dimasukkan ke sebuah sel, tidak diberi makan dan minum sampai mati. 
Begitulah pagi itu komandan mulai memilih secara acak mereka yang akan dihukum. Nama napi kesepuluh yang dipanggil adalah Gajowniczek. Begitu namanya disebut, ia langsung menangis histeris: "Oh, istri dan anak-anakku," katanya.
Tiba-tiba dari antara barisan, Max maju ke muka dan menghadap sang komandan. Ia melepas topinya dan memandang perwira Jerman itu tepat di matanya. Ia berkata: "Tuan komandan, ijinkan saya mengajukan permohonan. Saya ingin mati untuk menggantikan napi ini," katanya sambil menunjukkan Gajowniczek yang terus menangis. "Saya tidak punya istri dan anak-anak. Selain itu saya sudah tua. Lebih baik orang itu saja yang hidup lebih lama." Sang komandan diam seribu bahasa, juga para napi lainnya tercengang. Akhirnya terdengar suara: "Permohonanmu dikabulkan."
Max akhirnya tidak mati karena kehausan dan kelaparan, namun karena disuntik racun pada tanggal 14 Agustus 1941. Sementara Gajowniczek berhasil lolos dari pembantaian. Di halaman belakang rumahnya didiriksn sebuah tanda peringatan bagi Maximilan Kolbe, orang yang mati baginya agar ia tetap hidup.
Dalam berbagai kesempatan, Gajowniczek mengisi hidup yang dijalaninya dengan menjadi saksi tentang kebaikam yang telah dilakukan oleh Maximilian Kolbe. Ia meninggal pada tanggal 13 Maret 1995, 53 tahun setelah hukumannya digantikan oleh Kolbe dan mendapat kesempatan hidup kedua.

Penutup
Kiranya kisah Max Kolbe ini membuat jelas, bahwa kita semua adalah mirip dengan situasi Gajowniczek. Itulah yang dimaksud dengan pengorbanan vicarious Yesus Kristus dalam Roma 5:6-11.
Lalu apa yang sudah kita lakukan bagi Dia, sang Penebus tersebut?

Versi 1.0: 3 April 2017, pk. 12:12
versi 1.1: 8 April 2017, pk. 10:46
VC

Bacaan lanjutan:
(1) sumber: Derap Remaja, edisi 41, minggu kedua 2017
(2) Scot McKnight. Jesus and His death. Waco: Baylor University Press, 2005
(3) James Waddell. The Messiah. New York: T&T Clark, 2011
(4) John Balchin dkk. Intisari Alkitab Perjanjian Lama. Jakarta: Scripture Union Indonesia, 1994
(5) http://www.triumphpro.com/rabbi-kaduri-and-yeshua.pdf
(6) url: http://www.yeshuahamashiach.org/Kaduri_names_Messiah.htm (7) Richard Longenecker. The Christology of early Jewish Christianity. Illinois: SCM Press Ltd., 1970
(8) David Novak. Jewish Christian Dialogue: A jewish justification. Oxford: Oxford University Press, 1989

--- 
Catatan: Prasasti Nuzi

Ditulis sejaman dengan Abraham.
Antara lain isinya:
"Jika seorang budak perempuan punya anak, lalu nyonyanya juga melahirkan, maka yang disebut anak tunggal yang memiliki hak kesulungan adalah anak nyonyanya itu."
Ini menunjukkan bahwa kisah Abraham mengusir Hagar itu cocok dengan adat budaya pada zaman itu.

"Nuzi was excavated between 1925 and 1941. It is located southeast of Nineveh, not far from modern Kirkuk, and it has yielded several thousand documents. These tablets provide numerous illustations of the customs which figure in the patriarchal narratives. The people of Nuzi (or Nuzu) were Hurrians (the Horites of the KJV) Old Testament."

Sumber: http://www.theology.edu/abraham.htm
__________________

"If You Want to Walk on Water, You've Got to Get Out of the Boat‎." - John Ortberg

The Second Coming Institute