Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDASpace

Medsos

victorc's picture
Shalom, selamat malam saudaraku. Seperti kita ketahui, baru-baru ini ada berita nasional tentang mundurnya ketua DPR. Artikel kali ini tidak akan membahas penyebab peristiwa tersebut, melainkan menyoroti pentingnya media.

Trias politica
Dari pelajaran di sekolah, kita tahu bahwa para pendiri negara ini merancang UUD45 berdasarkan konsep tiga pilar demokrasi yang juga disebut trias politica. Ketiga pilar tersebut adalah: eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Kerangka tersebut telah berjalan selama 70 tahun hingga 2015 sekarang, tentu dengan berbagai permasalahan sepanjang 7 dasawarsa tersebut. 
Kalau kita mau menyimak perkembangan demokrasi di negeri yang kita cintai ini, seringkali banyak masalah muncul akibat kurang berfungsinya satu atau dua lembaga negara yang membentuk pilar negara tersebut. Misalnya: dua dekade pertama diwarnai dengan demokrasi terpimpin, yang tidak diimbangi oleh DPR sebagai legislatif. Lalu 3 dekade berikutnya ditandai oleh demokrasi Pancasila yang juga cenderung didominasi oleh figur presiden, lagi-lagi dengan persetujuan bulat DPR/MPR setiap kali ada pemilihan presiden. Baru pasca reformasi, DPR/MPR mulai menggeliat dan menunjukkan perannya, namun di pihak lain yudikatif sering juga bermasalah. Dengan kata lain, ketiga pilar negara tersebut kerap kurang begitu berfungsi dengan lancar, sehingga diperlukan pilar keempat.
Maaf bila rangkuman ini bersifat garis besar, karena saya belum lahir tahun 1945, dan saya juga bukan seorang ahli politik.

Media massa
Meskipun di banyak negara, media massa sering dipaksa tunduk kepada kemauan pemerintah yang berkuasa, namun di negeri ini media massa sudah lumayan bebas dalam meliput berita apapun. Memang di negara-negara maju atau yang mulai maju kian diakui bahwa media massa adalah pilar keempat negara.[1]
Namun media massa sendiri juga kerapkali kurang independen, karena banyak dipengaruhi oleh kebijakan serta kepentingan pemilik perusahaan media yang bersangkutan. Dengan kata lain, jika ketiga pilar negara gagal berfungsi, hampir bisa dipastikan bahwa pilar yang keempat yaitu media massa juga sulit berfungsi dengan baik karena ikut terpengaruh. Misalnya sudah diketahui bahwa CNN dimiliki oleh Ted Turner, seorang pengusaha media yang mempengaruhi media-media lainnya. Ini yang disebut dengan bias media.[5] Bagi yang rindu akan media alternatif yang relatif bebas bias, bisa lihat misalnya www.democracynow.org. [7]
Pertanyaannya: jika keempat pilar negara tersebut gagal menjalankan fungsinya untuk menyalurkan suara rakyat, lalu bagaimana rakyat kebanyakan akan bisa menyalurkan suaranya?

Medsos
Pengalaman negara-negara di Teluk, lalu India dan juga Thailand, menunjukkan bahwa kaum mudalah yang kerap menjadi garda terakhir jika keempat pilar negara gagal menjalankan fungsinya. Dengan cara apa? Caranya adalah melalui medium yang sejauh ini paling demokratis, yaitu medsos (media sosial). Yang dimaksud medsos tentu tidak terbatas pada trio: Facebook, Twitter dan Youtube, melainkan media sosial alternatif meliputi berbagai kanal blog dsb.
Di tangan kaum muda yang umumnya energik dan idealis, medsos bisa menjadi mekanisme kontrol yang efektif terhadap kekuasaan. Bahkan suatu studi di Inggris yang relatif maju juga menunjukkan hal yang senada.[2]
Suatu laporan dari tahun 2004 menyatakan bahwa sekitar 20% kaum muda di Amerika merujuk pada sumber dari Internet sebagai berita kampanye.[6] Artinya adalah bagi kaum muda tersebut internet telah bertumbuh menggantikan TV (dan koran) sebagai sumber informasi. Jika hal tersebut merupakan fenomena tahun 2004, tentu kita bisa membayangkan apa jadinya dengan fenomena medsos dan internet media saat ini.
Demikian pula, kasus pencatutan nama presiden baru-baru ini menyebar luas pada kesadaran publik berkat upaya serius media massa (pers) maupun kaum muda melalui medsos. Dan hal ini ternyata sangat efektif. Boleh dikatakan, manakala keempat pilar negara kurang berfungsi, maka medsoslah yang mewakili suara rakyat. Sekalipun demikian, perlu dicatat bahwa suara rakyat belum tentu membawa kebaikan bersama, lihat mis. 1 Samuel 8:22 .[4]

Penutup
Lalu bagaimana langkah selanjutnya? Saya kira ada tiga hal yang perku diperhatikan untuk ke depan:
a. Mau tidak mau, lembaga yudikatif, legislatif dan eksekutif mesti menyadari bahwa medsos mungkin secara de fakto telah menjadi pilar kelima demokrasi modern di banyak negara, karena itu mereka mesti lebih aktif menjangkau kaum muda khususnya melalui medsos. Bukankah lebih kurang 60% penduduk Indonesia adalah kurang dari usia 35 th? Apakah berbagai parpol dan ormas telah memiliki visi untuk menjangkau dan mendengar kaum muda?
b. Perlu disosialisasikan kepada masyarakat untuk menggunakan medsos secara bertanggungjawab dan untuk tujuan yang jelas. Slogan yang mungkin bisa dipakai misalnya adalah: SOMFAC (social media for a cause), dan BLOFAC (blogging for a cause). Umat Kristen khususnya juga terpanggil untuk aktif menggunakan medsos secara bertanggungjawab, demi kemaslahatan bersama.
c. Catatan terakhir, gereja juga sebaiknya memperhatikan 'suara kaum muda'. Hal ini bisa dilakukan dengan berbagai cara, misalnya mengaktifkan kanal-kanal media sosial untuk berinteraksi dengan kaum muda. Jika tidak disediakan kanal-kanal tersebut, jangan heran bahwa kaum muda lebih suka menggunakan gawai untuk mengakses situs-situs yang tidak mendidik, daripada berinteraksi dengan Alkitab atau tentang Injil.

Bagaimana pendapat Anda?

Versi 1.0: 17 des. 2015, pk. 10:12, versi 1.1: 17 des 2015, pk. 18:41
VC

Referensi:
[1] Harish Dido, Social media: fifth pillar of democracy. Url: http://www.merinews.com/article/social-mediafifth-pillar-of-democracy/15887717.shtml
[2] Nic Newman, William Dutton, Grant Blank. Social media in the changing ecology of news. International Journal of Internet Science, 2012, 7(1). Url: http://www.ijis.net/ijis7_1/ijis7_1_newman_et_al.pdf
[3] http://www.lawctopus.com/academike/freedom-press-pillar-democracy/
[4] David Streater. http://www.biblicalstudies.org.uk/pdf/churchman/111-04_297.pdf
[5] https://en.m.wikipedia.org/wiki/Media_bias_in_the_United_States
[6] W. Lance Bennett. Media, Politics and Democracy. Url: http://depts.washington.edu/ccce/civiceducation/bennetthreshold.pdf
[7] Amy Goodman. Url: http://www.democracynow.org/books/the_silenced_majority
__________________

Dari hamba yang tidak berguna (Lih. Lukas 17:10)

Prepare for the Second Coming of Jesus Christ.