Yang namanya dibelenggu itu tidak enak. Mau ke mana-mana tidak bisa dan bergerakpun tidak leluasa. Beginilah keadaan manusia setelah berdosa. Mulanya hidup manusia sangat mudah di Taman Eden sebelum manusia berdosa, manusia tidak perlu bekerja, manusia tidak membutuhkan apa apa selain makanan dan minuman, itupun tersedia di Taman Eden. Tetapi setelah berdosa, Allah mengusir manusia dari taman itu dan manusia harus bersusah payah untuk hidup. (Kejadian 3:17-19)
Tetapi belenggu tiap-tiap orang tidak sama, ada orang yang hidupnya sangat mudah, punya pekerjaan atau bisnis yang menghasilkan banyak uang. Uang dan jabatan adalah sistem dunia yang bisa telah mematahkan semua belenggu itu. Tetapi pada sebagian (besar) orang yang lain hidup sangat sulit, pekerjaan sulit, usaha apa saja selalu gagal. Rasanya hidup sangat berat dan seringkali membuat putus asa.
Mengapa ini terjadi? Karena Tuhan yang melakukannya pada orang itu, Tuhan memang membelenggu manusia untuk kebaikan manusia itu sendiri.
Kita bisa membagi tiga macam respon manusia:
1. Marah pada Tuhan
Ayub 36:13 Orang-orang yang fasik hatinya menyimpan kemarahan; mereka tidak berteriak minta tolong, kalau mereka dibelenggu-Nya;
2. Memutuskan belenggu alias memberontak
Orang-orang yang mencuri, korupsi dan curang dalam pekerjaan dan bisnis mereka, melakukan yang jahat dimata Tuhan demi melepaskan diri dari belenggunya adalah orang yang memberontak dari Tuhan.
Kita sering cemburu pada orang-orang jahat yang hidupnya sangat muda. Tetapi sesungguhnya mereka adalah orang yang sangat malang, karena mereka tidak menyadari kesudahan mereka. (Mazmur 73:2-19)
Mazmur
73:2 Tetapi aku, sedikit lagi maka kakiku terpeleset, nyaris aku tergelincir.
73:3 Sebab aku cemburu kepada pembual-pembual, kalau aku melihat kemujuran orang-orang fasik.
73:4 Sebab kesakitan tidak ada pada mereka, sehat dan gemuk tubuh mereka;
73:5 mereka tidak mengalami kesusahan manusia, dan mereka tidak kena tulah seperti orang lain.
73:6 Sebab itu mereka berkalungkan kecongkakan dan berpakaian kekerasan.
73:7 Karena kegemukan, kesalahan mereka menyolok, hati mereka meluap-luap dengan sangkaan.
73:8 Mereka menyindir dan mengata-ngatai dengan jahatnya, hal pemerasan dibicarakan mereka dengan tinggi hati.
73:9 Mereka membuka mulut melawan langit, dan lidah mereka membual di bumi.
73:10 Sebab itu orang-orang berbalik kepada mereka, mendapatkan mereka seperti air yang berlimpah-limpah.
73:11 Dan mereka berkata: "Bagaimana Allah tahu hal itu, adakah pengetahuan pada Yang Mahatinggi?"
73:12 Sesungguhnya, itulah orang-orang fasik: mereka menambah harta benda dan senang selamanya!
73:13 Sia-sia sama sekali aku mempertahankan hati yang bersih, dan membasuh tanganku, tanda tak bersalah.
73:14 Namun sepanjang hari aku kena tulah, dan kena hukum setiap pagi.
Namun inilah kesudahan orang yang memberontak itu:
73:15. Seandainya aku berkata: "Aku mau berkata-kata seperti itu," maka sesungguhnya aku telah berkhianat kepada angkatan anak-anakmu.
73:16 Tetapi ketika aku bermaksud untuk mengetahuinya, hal itu menjadi kesulitan di mataku,
73:17 sampai aku masuk ke dalam tempat kudus Allah, dan memperhatikan kesudahan mereka.
73:18 Sesungguhnya di tempat-tempat licin Kautaruh mereka, Kaujatuhkan mereka sehingga hancur.
73:19 Betapa binasa mereka dalam sekejap mata, lenyap, habis oleh karena kedahsyatan!
3. Menantikan Tuhan
Ratapan
3:26 Adalah baik menanti dengan diam pertolongan TUHAN.
3:27 Adalah baik bagi seorang pria memikul kuk pada masa mudanya.
3:28 Biarlah ia duduk sendirian dan berdiam diri kalau TUHAN membebankannya.
3:29 Biarlah ia merebahkan diri dengan mukanya dalam debu, mungkin ada harapan.
3:30 Biarlah ia memberikan pipi kepada yang menamparnya, biarlah ia kenyang dengan cercaan.
3:31 Karena tidak untuk selama-lamanya Tuhan mengucilkan.
3:32 Karena walau Ia mendatangkan susah, Ia juga menyayangi menurut kebesaran kasih setia-Nya.
Marah pada Tuhan tidak akan memberikan manfaat namun hukuman. Apalagi memberontak pada Tuhan, memberontak memang bisa membebaskan belenggu sementara saja di dunia tetapi belenggu abadi menanti di neraka ! Oleh karena itu marilah kita merelakan hati kita untuk dibelenggu oleh Tuhan.
Tapi ada kabar baik: tidak selamanya Tuhan membelenggu manusia. Ada saatnya Tuhan akan membebaskan manusia dari belenggunya itu.
Yohanes 8:36 Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamupun benar-benar merdeka."