Submitted by
Purnomo
on
Saya membuka pintu. Astaga! Perempuan itu berdiri di depan saya dengan sebelah tangan terangkat ke atas menjepit sebatang rokok tanpa bara. Sekilas terlihat kulit ketiaknya yang bersih. Setelah keterkejutan saya lenyap, saya terpaksa terkejut lagi ketika pandangan saya mendarat di lehernya, di pundaknya, di dadanya dan . . . . Astaganaga! Tubuhnya hanya berbalut handuk. Handuk losmen ini tidak lebar. Ditarik ke bawah yang di atas terlihat, ditarik ke atas yang bawah pasti semriwing.
– o –
Selama bertugas sebagai salesman untuk kota Solo dan sekitarnya, saya senang menginap di losmen kecil ini. Letaknya dalam kampung sehingga terhindar dari kebisingan lalu lintas. Lokasinya dekat dengan terminal bis dan setasiun kereta api sehingga tidak merepotkan bila ingin dolan ke Jogja atau pulang menjenguk istri. Berangkat sore dan esok pagi sudah muncul kembali di losmen ini sehingga tidak mengganggu jadwal kerja.
Pernah atasan menyuruh saya pindah tempat menginap gara-gara keluhan juragan distributor. Beliau risih bila mengajak saya makan malam. Ia kuatir mobil mersinya lecet jika memasuki kampung sempit. Selain itu – ini yang paling merisaukannya – losmen yang ada dalam kampung ini tidak melarang tamunya membawa perempuan yang bukan istrinya.
Alih-alih menaati perintahnya, saya balik bertanya mengapa ia juga tidak pindah ke hotel yang lebih layak bila berada di Solo. Biarpun tempatnya menginap berbintang, tetapi jabatannya mengharuskan ia tidur di hotel yang lebih banyak bintangnya. “Aku sudah terlanjur kerasan di hotel itu,” jawabnya. “Hampir semua karyawannya sudah aku kenal baik.”
“Sama, Pak,” kata saya. “Di losmen itu saya sudah feel at home. Penduduk kampung mengenal saya. Bahkan setiap pagi pemilik warung makan dekat losmen bertanya saya mau dimasakkan lauk apa. Kalau soal perempuan, biar tamu losmen bebas membawanya masuk tidak ada perempuan yang memajang diri di luar losmen. Saya kira bukan itu yang menjadi alasan malasnya juragan distributor mengajak saya keluar makan malam. Ia ingin berhemat. Itu saja.”
“Maksudmu ia pelit?”
“Kalau ia mengajak Bapak bersama saya keluar makan, pasti kita dibawanya makan sate kambing. Tetapi kalau saya sendirian yang diajaknya, saya dibawa ke warung soto. Masa malam-malam makan soto. Mana kenyang?”
“Kalau kamu makan tiga mangkok apa tidak kenyang?”
“Apa sopan kalau yang menraktir hanya makan satu mangkok? Bahkan mengambil perkedel saya tidak berani karena selalu saja ia hanya makan tempe. Itu pun cuma satu potong, tidak lebih. Sudahlah, Pak. Katakan kepadanya tidak perlu mengajak saya keluar makan. Kalau ia tetap ngotot, bohongi saja di kampung itu banyak tukang kompas.”
Mengapa keberadaan perempuan pramunikmat dipermasalahkannya? Setiap lelaki yang sering menginap di hotel pasti tahu dari losmen berdinding papan sampai hotel berbintang-bintang mereka ada. Bedanya hanya kalau di losmen usianya di atas 30 tahun dan kulitnya sudah mulai mengerut. Jika tidak demikian, pasti proporsi tubuh dan wajahnya tidak memenuhi standar kecantikan minimum sehingga kalau main sinetron paling jadi pembantu pemeran pembantu.
Karena itu saya heran suatu sore waktu memasukkan mobil ke halaman parkir melihat seorang perempuan muda duduk di depan sebuah kamar di lantai dua. Dia tidak memenuhi kriteria itu.
“Pak Bakir, perempuan di sebelah kamarku itu siapa,” saya bertanya kepada karyawan losmen di meja kerjanya.
“Biasa,” jawabnya singkat.
“Biasa piye to? Kenya kempling seperti itu kok dibilang biasa?”
“Hati-hati Mas, jangan menyenggolnya. Pacarnya punya bedil.”
“Kok tahu? Memangnya waktu check in diantar pacarnya?”
“Sudah langganan. Biasanya yang perempuan masuk jam 12 siang. Sebentar kemudian pacarnya datang. Mereka check out sebelum salesman-salesman kembali ke hotel.”
“Lalu mengapa sekarang dia belum keluar?”
“Pacarnya belum datang.”
“Kalau nanti semua salesman sudah datang apa mereka tidak ribut seperti kucing kebelet kawin?”
“Karena itu aku beri dia kamar di atas paling pojok di sebelah kamar Mas Pur. Biar aman.”
“Dia aman, aku tidak.”
“Makanya begitu masuk kamar Mas Pur langsung sembahyang,” jawabnya sambil terkekeh.
Bakir bukan orang Kristen. Tetapi ia memberi kebebasan anak-anaknya memilih agama yang disenangi. Seorang puterinya beribadah di sebuah gereja. Lepas dari SMA, dia kuliah teologi di UKDW Jogja dengan biaya dari gerejanya.
Saya melangkah mendekati kamar. Perempuan muda itu masih duduk diam di depan kamarnya. Pandangannya lurus ke depan. Kulitnya putih dan tampak dirawat dengan baik. Dari samping wajahnya tampak cantik, apalagi kalau dari depan. Umurnya bisa dipastikan belum lewat 25 tahun. Saya memutar anak kunci. Dia tidak menoleh. Tuli ‘kali.
“Selamat sore, Mbak,” saya mengucapkan salam. Dia tidak menoleh, apalagi menjawab. Ayu, tapi bisu. Namun kesombongannya tidak membuat saya mendongkol. Seumpama dia membalas sapa, saya juga tidak akan menyambung dengan pembicaraan. Pacarnya punya bedil!
Senja itu saya melakukan kegiatan tanpa memikirkan ada perempuan muda cantik sendirian di kamar sebelah. Waktu malam turun saya keluar untuk makan bakso di Triwindu. Setelah itu ke bioskop UP dan Dhady kalau-kalau filem yang sedang diputar saya minati. Sayang filem-filemnya tidak saya sukai. Setelah membeli surat kabar berbahasa Jawa di kios dekat bioskop itu, saya berjalan kaki ke arah utara. Bukan untuk menghindari ongkos becak. Tetapi karena saya senang menyusuri tembok Istana Mangkunegaran sambil berusaha membayangkan suasana di sepanjang tembok ini pada era kejayaan kerajaan ini. Lepas dari tembok putih ini, saya memasuki daerah Pasar Legi yang saat itu masih ramai dengan truk-truk yang menurunkan barang. Deretan penjaja tape singkong sepanjang jalan saat itu sekarang menjadi nostalgia bagi saya. Kalau ada penjajanya yang ramah tur kenes, saya mampir untuk mencicipi tapenya. Berbincang sepintas bercanda sekilas lalu pindah ke penjaja yang lain. Tidak ada yang marah walau kita mampir hanya untuk mencicipi dagangannya. Ah, keramahan wong Solo sumanaknya tape ayu Pasar Legi.
Ada jalan berbelok ke kiri bernama Jalan Marconi. Di jalan itu terletak studio RRI. Sering ada siaran langsung orkes keroncong dan kita bisa ikut menonton. Jika Anda tak suka musik keroncong masih ada yang bisa dinikmati dalam siaran langsung itu. Gemulai gerak tubuh penyanyi perempuannya dalam kain kebaya ketat akan membuat Anda kerasan duduk berlama-lama di sana. Tetapi malam itu saya tidak ke RRI. Saya langsung pulang ke losmen karena pekerjaan administrasi menumpuk.
“Pak, tetanggaku sudah pulang?” tanya saya kepada Bakir yang sedang rebahan di kursi malas di teras.
“Belum.”
“Pacarnya sudah datang?”
“Belum. Kenapa? Kalau mau main gitar, main saja. Batasnya ramai-ramai ‘kan jam 10 malam?”
“Aku sedang tidak bawa gitar.”
“Aku pinjamkan temanku?”
“Tak usah. Malam ini aku harus menulis laporan.”
Dua barang yang hampir selalu saya bawa bila bertugas keluar kota untuk hiburan adalah gitar dan mesin tik. Jika tidak bermain gitar, saya mengetik artikel-artikel untuk majalah gereja. Malam itu saya hanya membawa mesin tik tetapi tidak saya pergunakan karena laporan kerja selama 2 minggu harus saya selesaikan malam ini. Saya tidak tahu sudah berapa lama saya menulis dan menghitung angka-angka ketika pintu kamar diketuk orang.
Saya membuka pintu. Astaga! Perempuan itu berdiri di depan saya dengan sebelah tangan terangkat ke atas menjepit sebatang rokok tanpa bara. Sekilas terlihat kulit ketiaknya yang bersih. Setelah keterkejutan saya lenyap, saya terpaksa terkejut lagi ketika pandangan saya mendarat di lehernya, di pundaknya, di dadanya dan . . . . Astaganaga! Tubuhnya hanya berbalut handuk. Handuk losmen ini tidak lebar. Ditarik ke bawah yang di atas terlihat, ditarik ke atas yang bawah pasti semriwing.
“Mas, punya korek api? Korek saya habis,” tanyanya ramah tanpa mempedulikan pandangan saya yang turun-naik-turun memindai tubuhnya.
“Ada, ada, sebentar,” jawab saya gugup. Saya berjalan ke meja mengambil korek api gas. Ketika saya berbalik hampir saya menabraknya karena dia sudah berdiri tepat di belakang saya. Untung rem kaki saya pakem. Saya tidak mendengar langkahnya karena dia bertelanjang kaki. Sekilas tercium bau sabun mandi dan parfum dari wajahnya yang hanya berjarak setengah meter dari hidung saya. Bukan main! Dalam ilmu menjual inilah cara memajang produk yang paling ampuh. Eye level dan sedekat mungkin dengan prospek sehingga mata prospek tidak bisa bergerak ke lain arah.
Ia menyulut rokoknya tanpa berpindah tempat sehingga saya bisa melihat jelas giginya yang putih berbaris rapat, bibirnya yang tipis, lentik bulu matanya, alisnya yang melengkung rapi terawat, wajahnya yang tirus, lehernya yang jenjang.
“Mas merokok?” tanyanya. Duh, suaranya. Bening bermelodi.
“Tidak. Saya bawa korek untuk menyalakan obat nyamuk bakar atau lilin kalau mendadak listrik padam,” jawab saya sambil menggerakkan kepala ke arah meja di mana 2 benda itu ada. Dia melihat meja.
“Masih sibuk kerja?”
“Ya.”
“Senang baca novel? Boleh saya numpang membaca?”
Belum saya memberi jawaban, dia sudah mengambil buku novel dari meja dan duduk di kepala tempat tidur di samping meja. Bagaimana saya bisa mengusirnya bila dia bertanya dengan sopan? Lagipula, apakah saya betul-betul ingin dia pergi? Saya duduk di kursi. Astaga! Perempuan pramunikmat ini pasti sudah ada di tingkat advance karena tahu betul lokasi duduk yang paling strategis untuk melancarkan serangan. Duduknya hanya berjarak 1 meter dari kursi saya sehingga memberi peluang bagi saya bebas memandangi seluruh tubuhnya tanpa halangan. Dia mengangkat pandangannya dari buku. Wajahnya tidak menampakkan perubahan emosi mengetahui pandangan mata saya sedang terarah ke bawah lehernya sibuk melakukan observasi lapangan.
“Saya bosan sendirian di kamar. Tidak ada teman dan saya tidak bisa tidur. Tidak mengganggu kalau saya duduk di sini menemani Mas bekerja sambil membaca buku ini?”
“Tidak. Tidak mengganggu. Silakan saja,” jawab saya tergagap. Dia tersenyum dan kembali menekuni buku. Saya juga kembali bekerja. Tetapi mata saya lebih sering melirik ke samping daripada memandangi kertas di meja.
Handuk losmen ini tidak lebar sehingga hampir separuh bagian atas buah dadanya terbuka. Walau terbebat erat, tepi handuk itu hanya sedikit terbenam menekan dagingnya. Kalaulah spring bed, pasti belum ada satu pegasnya yang putus. Maklum, dia masih muda belia. Pinggangnya ramping. Perutnya rata. Dan, mendadak kepala saya berdenyut melihat sisi bawah handuk itu tersingkap sampai ke pangkal paha karena dia duduk berjuntai tanpa menyilangkan kaki. Malah saya yang harus bergegas menyilangkan kaki sendiri di bawah meja dengan amat ketat. Jika dulu waktu kecil pada malam hari saya sering berjalan dengan mata tertutup rapat, bisa-bisa sekarang saya mimpi basah dengan mata terbuka lebar.
Saya tak bisa duduk tenang. Rasanya ada ribuan semut merayap dalam seluruh urat darah saya. Suhu badan pelan merambat naik. Saya mulai berkeringat. Udara kamar yang makin harum membuat saya makin ingin menciumnya langsung pada permukaan kulit tubuhnya. Pacarnya punya bedil! Tetapi ia tidak datang. Saya melirik arloji di atas meja. Sudah lama lewat tengah malam. Tak mungkin selarut ini pacarnya mendadak muncul.
Suasana di luar sudah sunyi. Tak ada suara orang berbicara atau bunyi radio transistor. Mereka yang mengenal saya sebagai orang Kristen karena saya sering menyanyikan lagu-lagu rohani dengan gitar sudah lelap tertidur. Tuhan tidak tidur! Tetapi Tuhan tak pernah menceritakan kenajisan yang dilihat-Nya kepada orang lain.
Saya memijit-mijit kening yang berdenyut makin dahsyat. Bau parfum mahal menerpa hidung. Saya menoleh. Wajah perempuan itu begitu dekat sehingga nafasnya mengelus pipi saya. Dia mencondongkan tubuh di atas meja. Matanya penuh simpati.
“Mas sakit?” tanyanya lembut. “Mau saya bantu memijat?”
Tubuh atasnya yang telanjang sangat dekat sehingga saya bisa melihat jelas kehalusan kulitnya. Dada saya bergemuruh. Betapa ingin saya mengecupinya.
“Mbak, . . . .,” saya tak bisa meneruskan kalimat saya karena terkejut mendengar suara saya gemetar dan parau. Apa boleh buat. Saya harus berani bertindak daripada menderita seperti ini. Sambil memegang erat tepi meja agar tak terhuyung jatuh, perlahan saya bangkit berdiri.
“Maaf Mbak, jangan marah ya. Bukannya saya bermaksud menghina. Tetapi bagaimana kalau . . . . . ”
Dia memandang mata saya lekat-lekat. Ada seulas senyum di bibirnya yang sedikit merekah dan basah. Setelah menelan ludah untuk melicinkan tenggorokan yang terasa kering kerontang saya melanjutkan, “Besok saya mau ke Pacitan sehingga harus bangun pagi. Sekarang saya mau tidur. Mbak kembali ke kamar Mbak ya.”
Dia menganggukkan kepala dan dengan tetap tersenyum dia bangkit dari duduknya.
“Koreknya boleh saya bawa?”
“Silakan Mbak.”
Pelan dia berjalan bergoyang pinggul ke arah pintu seperti peragawati melangkah di cat walk. Saya melihat sisi bawah handuknya hanya bisa menutupi tubuh belakangnya sampai . . . . , ah tak perlu saya katakan. Kepala saya sakit sekali. Saya berharap handuknya tidak terlepas ketika dia membuka pintu. Begitu dia keluar kamar, saya segera mengunci pintu mematikan lampu.
Esok hari ketika membayar sewa kamar saya bertanya kepada Bakir, “Pak, tetanggaku sudah keluar?”
“Sudah. Tadi subuh. Sendirian,” jawabnya.
“Sewa kamarnya sudah dibayar?”
“Lha ya sudah. E, situ kok nanya? Memangnya Mas Pur yang nraktir?”
“Enaknya. Memangnya dia selingkuhanku.”
Bakir terkekeh.
Hari itu setelah menyelesaikan pekerjaan di lapangan saya langsung kembali ke Semarang. Waktu makan malam di rumah istri saya bertanya, “Tidak ada masalah berat di Solo?”
“Tidak ada. Tumben kamu bertanya soal pekerjaanku. Ada apa?”
“Hatiku tak enak. Tadi malam aku bermimpi.”
“Mimpi itu kembang tidur.”
“Kalau terlupa begitu terjaga. Tetapi yang ini masih jelas teringat.”
“Mimpinya bagaimana?”
“Ada perempuan muda berjalan mendekati aku. Dia cantik sekali. Dia berkata ‘Karena aku tidak bisa mencelakai suamimu sekarang aku mau merusak perutmu’. Lalu dia berubah menjadi ular besar dan melompat menggigit perutku.”
Saya terkejut. Saya memandangnya dengan rasa heran yang sangat.
“Ada apa?” tanyanya.
“Kamu merasa sakit waktu ular itu menggigit perutmu?”
“Tidak tahu. Begitu ular itu menggigit, aku terbangun. Aku berkeringat dingin.”
“Jam berapa kamu bangun?”
“Aku sempat melihat jam dinding. Jam dua kurang seperempat.”
Rasanya saya lupa bernafas. Sebelum saya mematikan lampu kamar losmen, saya mengambil arloji untuk meletakkannya di dekat bantal karena itu cara saya untuk menghindari terlambat bangun. Saya masih sempat melihat jarum-jarumnya. Jam dua kurang seperempat!
“Ada apa?” tanyanya melihat saya membeku.
“Ah, kalau akibatnya seperti ini aku kapok memikirkan kamu,” saya berusaha bersikap santai. “Tadi malam pekerjaan administrasiku menumpuk karena tidak aku cicil setiap malam. Karena sudah lewat tengah malam, aku jadi sulit tidur sehingga membayangkan kalau saja saat itu aku ada di rumah aku . . . . “
“Kamu mau apa?”
“Ya seperti biasa. Aku akan mengelus-elus perutmu sampai aku tertidur.”
Dia tertawa. “Jam berapa kamu tidur?”
“Tidak tahu. Jam dua kurang seperempat terakhir aku melihat arloji.”
“Kok bisa sama?”
“Mungkin karena aku terlalu memikirkan kamu.”
“Tapi mengapa yang menggigit perutku ular, bukan kamu?”
“Kamu terlalu berkuatir dengan kandunganmu. Sebelum Puteri lahir, kamu keguguran satu kali. Aku melihat sekarang kamu sering menguatirkan kandunganmu. Sudahlah, serahkan saja kepada Tuhan dan banyak istirahat.”
Kemudian dia tak ingat lagi akan mimpinya yang menyeramkan itu. Bahkan ketika ia keguguran saat kandungannya berusia 4 bulan. Tetapi saya mulai was-was. Setahun kemudian kembali ia keguguran sehingga saya berkesah dalam doa, “Tuhan, apa salah kami?”
Dua tahun kemudian kembali dia mengalami keguguran. Saya ketakutan. Ular besar itu betul-betul telah menggigit perutnya. Ketika kemudian dia kembali hamil, setiap malam kami sekeluarga mulai membaca Alkitab dan berdoa bersama. Puteri yang saat itu baru berumur 6 tahun ikut membaca Alkitab. Dia juga belajar memimpin doa. Bila tiba gilirannya, dia akan mengucapkan doa yang singkat tetapi membuat miris hati saya. "Tuhan, singkirkanlah iblis yang ada di perut mama, biar adik lahir dengan selamat." Saya tak tahu apakah diam-diam ibunya masih mengingat mimpi buruknya dan kemudian mengajar Puteri berdoa demikian.
Di luar pengetahuan mereka setiap tengah malam saya bangun dan merintih dalam doa pribadi, “Ya Tuhan, janganlah Engkau memberi hamba derita Ayub walau hanya secuil. Tak mungkin hamba sanggup menanggungnya.”
Kelanjutan kisah ini telah saya tulis dalam serial “Masih adakah mukjizat bagi kami?” yang diawali dengan artikel berjudul “Gelap benar malam ini”.
(end of session)
Kisah-kisah mistis.
bag 1: Jangan pipis dekat kuburan.
bag 2: Mama, hantu itu apa ada?
bag 4: Menghadapi guna-guna.
bag 5: Menantang pibu Roh Yesus.
bag 6: Bertanding menangkap tuyul.
bag 7: Tanda kehadiran utusan Allah - 1.
bag 8: Tanda kehadiran utusan Allah - 2.
bag 9: Malaikat menyanyi memberi solusi.
bag 10: Di balik keindahan tubuh pramunikmat.