Submitted by Purnomo on
          Saya tidak tahu apa yang membuat Rudi tidak berani menatap mata saya. Saya tidak pernah belajar magic. Sebagai orang Kristen saya juga tidak pernah merasakan pengalaman kepenuhan Roh Kudus sehingga memiliki kekuatan supranatural. Saya hanya orang Kristen biasa-biasa saja yang masih jatuh bangun. Saya tidak tahu apa yang dilihatnya pada diri saya. Apakah ia melihat sesuatu pada diri saya yang tampak mengerikan bagi roh jahat yang ada dalam tubuhnya?
– o –
          Warung minum itu terletak di pinggir kota Pematang Siantar. “Kamu pintar mencari tempat. Warung minum ini sepi pengunjung sehingga aku bisa membicarakan sesuatu yang tidak boleh didengar para marketer-mu,” kata saya kepadanya yang saya kunjungi kantornya dalam perjalanan dari Sibolga pulang ke Medan.
 
           “Kantor pusat telah memerintahkan dilakukannya pertukaran marketer antardivisi sebagai salah satu cara meningkatkan ketrampilan mereka. Dari Sumatera aku memilih 2 orang marketer yang belum berkeluarga untuk dikirim ke Jawa selama 3 bulan. Ridwan dari Medan aku kirim ke Bandung untuk belajar memanfaatkan database pelanggan. Satu lagi adalah Rudi bawahanmu, mau aku kirim ke Surabaya untuk meningkatkan ketrampilannya menangani supermarket dan chain store. Tadi aku sempat melihat Rudi memberi pengarahan kepada 11 salesman Distributor yang menjadi bawahannya di meeting room. Aku melihat kepemimpinannya kuat dan ia runtut dalam menguraikan pendapatnya. Tetapi ada yang membuat aku ragu mengirimnya ke Surabaya karena . . . .” saya menunda pembicaraan karena pemilik warung mengantar pesanan kami.
 
          Setelah menghabiskan seperempat gelas jus adpokat saya bertanya kepada Sofyan. “Sof, kalau kamu berdiskusi dengan Rudi, berani tidak ia mengutarakan pendapatnya untuk menyanggah idemu?”
 
          “Berani! Saya juga tidak senang mempunyai bawahan yas-yes saja,” jawabnya.
          “Kalau ia melakukan kesalahan dalam pekerjaan, lalu kamu menegurnya, apakah ia menundukkan kepala atau melihat mata kamu?”
          “Ia melihat mata saya. Dalam arti untuk menunjukkan ia memperhatikan apa yang saya katakan, bukan untuk menantang. Apa tadi waktu melakukan briefing ia melakukan kesalahan?”
 
          Saya menghela nafas. “Kamu tahu sendiri tadi selesai briefing aku meminjam kamar kerjamu untuk bicara 4 mata dengannya. Aku mengungkapkan apresiasiku atas apa yang baru ia kerjakan. Kemudian aku menanyakan apa rencananya untuk meningkatkan kinerja bawahannya. Aku sama sekali tidak membicarakan kekurangannya karena memang aku tidak melihatnya. Anehnya, selama berdiskusi ia tidak pernah menatap mataku lebih dari 1 detik. Ia memandang tembok di belakangku. Paling dekat ia hanya menatap telingaku. Dan ini tidak pernah ia lakukan kepadaku sebelumnya.”
 
          Saya melihat keheranan di wajah Sofyan. “Naluriku mengatakan ada yang tidak beres dengan dirinya,” saya melanjutkan. “Dalam satu minggu ini periksalah kembali laporan keuangan perjalanan dinasnya 3 bulan terakhirlebih teliti dengan cross-check procedure. Diam-diam selidikilah apakah ia berhutang kepada rekanan perusahaan; atau ia menghamili pacarnya; atau ia baru saja melakukan sesuatu yang memalukan. Rencanaku untuk mengirimnya ke Surabaya jangan kamu beritahukan kepadanya karena bila ada yang tidak beres dengan dirinya aku akan menggantinya dengan marketer dari Bandar Lampung. Jangan pula kamu ceritakan tentang kecurigaanku ini kepada siapapun. Prasangka tidak bisa dipergunakan melandasi keputusan.”
- o -
          Sebulan kemudian Ridwan dan Rudi berangkat ke Jawa melalui bandara Polonia Medan. Sofyan telah melapor tidak menemukan sesuatu yang negatip tentang Rudi. Saya tidak bisa menemui mereka karena sedang berada di Cipanas untuk rapat kerja selama 1 minggu.
 
          Hape saya bergetar. Ada telepon masuk dari Surabaya. Saya tekan tombol ‘tolak.’ Sebentar kemudian hape bergetar lagi. Nama yang muncul adalah manajer senior Surabaya yang membawahi daerah pemasaran Indonesia Timur. Saya reject lagi karena rapat sedang membicarakan topik gawat. Lampu hape berkedip-kedip. SMS dari orang yang sama. “Call me right now or I kill you,” begitu pesannya. Saya permisi keluar ruang rapat.
 
          Begitu hape saya tersambung sebelum sempat uluk salam, ia sudah berteriak, “Pur, kamu gila aku tidak peduli. Tetapi aku tidak suka orang gila mengirim orang gila ke daerahku!”
 
          Lalu ia berkisah dengan nada jengkel. Jengkel sekali sampai-sampai makian khas arek Suroboyo terselip di sana-sini. Setelah 2 hari Rudi berkeliling kota mengunjungi sejumlah supermarket, pada hari ke-3 sebelum berangkat ke lapangan ia memanggilnya ke ruang kerjanya untuk mendiskusikan rencana pelatihannya. Ketika Rudi masuk ia melihat tembok di belakang kursi manajer senior itu. Matanya terpaku kepada senjata-senjata tradisional yang digantung di tembok itu. Mendadak saja matanya berubah liar dan ia berlari keluar sambil berteriak-teriak histeris. Ia berlari kian kemari di halaman kantor sehingga terpaksa diringkus satpam.
 
          Rekan saya ini punya hobi mengoleksi senjata-senjata tradisional yang ada isinya dari berbagai daerah. Di rumah ia menyimpan koleksinya dalam sebuah peti kayu besar. Ia pernah bercerita kepada saya pada malam hari tertentu sering terdengar suara gaduh dalam kotak itu. Ini selalu dibanggakan kepada teman-temannya.
 
          “Sekarang Rudi ada di tempat kosnya ditemani orangku. Sudah agak tenang. Tetapi matanya kosong. Rencanamu bagaimana?” tanyanya.
 
          “Beri waktu aku berpikir. Satu jam lagi aku kabari,” jawab saya.
          Hampir 2 jam kemudian baru saya mengontaknya. “Aku tidak mungkin meminta kamu menurunkan perlengkapan perangmu karena itu kantormu. Jadi, kalau besok pagi matanya sudah balik normal, tolong antarkan dia ke bandara dan belikan tiket ke Medan.”
 
          Siang hari berikutnya ia menelepon. Sekarang ia bercerita sambil terkekeh-kekeh. Pagi tadi Rudi sudah balik normal. Pandangan matanya normal, bicaranya normal, pikirannya normal. Ia diantar ke bandara. Ia mengurus boarding pass sendiri. Ia membawa kopornya sendiri sementara pengantarnya hanya mengikuti dari jauh. Ia melangkah menuju pintu ruang tunggu. Si pengantar menarik nafas lega. Selesailah tugasnya. Ketika Rudi melangkah melintasi gapura pemindai, mendadak langkahnya terhenti. Lalu ia berlari masuk sambil berteriak-teriak histeris. Beberapa petugas sekuriti segera mengejar dan menelikungnya. Perusahaan penerbangan mencoret statusnya sebagai penumpang. Ia bisa membahayakan pesawat bila kumat di atas. Uang tiket dikembalikan dan Rudi yang masih berteriak-teriak digiring masuk ke mobil.
          “Aku tidak mau waktu orang-orangku terpakai untuk mengurusinya. Sekarang kamu kirim orang untuk menjemputnya,” katanya menutup cerita tanpa memberi saya kesempatan mencari solusi lain.
 
          Segera saya menelepon Medan meminta sekretaris kantor menerbangkan kedua orang tua Rudi ke Surabaya. Esok paginya mereka berangkat, sore hari mereka sudah berada di setasiun Surabaya bersama Rudi. Di setasiun Rudi membuat ulah kembali gara-gara orang tuanya lupa memberinya obat penenang. Ia bermain kejar-kejaran di peron dengan para pengantarnya. Pagi hari mereka sampai di Jakarta dan perjalanan diteruskan ke Medan dengan mempergunakan bus. Semua biaya perjalanan ditanggung perusahaan.
 
          Selama sebulan kemudian Rudi tidak masuk kerja karena mendapat surat cuti sakit dari dokter setiap 5 hari. Direktur personalia memerintahkan saya untuk memecatnya. Tetapi saya menolak karena sesuai peraturan perusahaan karyawan yang sedang sakit hanya boleh dipecat apabila ada pernyataan tertulis dari dokter bahwa ia invalid sehingga tidak bisa lagi melakukan pekerjaan apa pun. Bila nanti ia sudah sehat, saya berencana memindahkannya ke administrasi gudang. Saya ingatkan beliau bahwa Rudi termasuk marketer yang handal dan berdedikasi tinggi sehingga saya mengutusnya ke Surabaya untuk meningkatkan ketrampilannya. Ia diterima bekerja di Medan. Kemudian dipindahtugaskan ke Lhokseumawe Aceh Utara tempat yang paling panas dalam konflik GAM. Karena prestasinya ia dipindahkan ke Pematang Siantar untuk tugas yang lebih berat. Bila perusahaan memecatnya dalam kondisi seperti itu, motivasi semua rekan kerjanya akan ambruk.
 
          Jika ia harus dipecat, saya minta surat pemecatan datang dari kantor pusat, bukan dari meja kerja saya. Akhirnya, kantor pusat mengalah. Sikap keras kepala seperti inilah yang membuat saya dijuluki “orang gila.” Dalam membela hak-hak karyawan rendahan saya sering lupa akan keselamatan diri saya sendiri.
 
          Kantor pusat percaya sakit Rudi tidak akan berlangsung lama karena saya tidak meneruskan informasi dari Sofyan yang pernah bertugas di Lhokseumawe bersama Rudi. Waktu Rudi bertugas di sana, begitu ceritanya, ia belajar ilmu gaib. Ketika seorang gadis tetangga kosnya yang berasal dari Meulaboh kesurupan, ia mencoba ilmunya. Sebelum gadis itu jatuh pingsan, dia berkata dengan suara bariton, “Aku mau menuruti kemauanmu. Aku mau keluar dari tubuh gadis ini. Aku mau kembali ke Meulaboh. Tetapi aku akan kembali lagi untuk tinggal dalam tubuhmu.”
 
          “Kalau begitu aku akan memberitahu orang tuanya agar menemui guru Rudi,” kata saya.
          “Wah, ini yang sulit, Pak. Rudi tidak punya guru.”
          “Lalu bagaimana ia bisa ilmu gaib?”
          “Dari majalah terbitan Surabaya. Pak Pur dulu ‘kan pernah tugas setahun di Surabaya. Saya juga pernah 5 tahun di sana. Tahu sendirilah majalah mana yang saya maksud. Majalah itu juga memuat iklan yang menawarkan transfer ilmu gaib dengan syarat mengirim sejumlah uang mahar kepada pengiklannya.”
 
          Setiap akhir bulan Rudi dikawal ayahnya ke kantor untuk mengambil gaji. Suatu hari ketika mereka datang kebetulan saya ada di kantor. Ayahnya menemui saya. Setelah berterima kasih atas semua perhatian perusahaan kepada anaknya, ia menyatakan pengertiannya apabila perusahaan memecat anaknya. Ia bahkan mau menyuruh Rudi membuat surat pengunduran diri bermeterai. Di luar pengobatan medis yang didapat dari perusahaan, ia telah mengusahakan “pengobatan” lain tetapi belum memberi hasil. Di rumah Rudi sering kesurupan. Bila kelak Rudi diperbolehkan kembali bekerja, ia kuatir sakitnya mendadak kambuh ketika tengah mengemudikan mobil. “Separah apa pun keadaannya, ia tetap anak saya,” katanya sambil menahan tangis. “Saya tidak mau kehilangan dirinya.”
 
          Bulan berikutnya ayah Rudi membuktikan kesungguhan tekadnya. Ia datang menemui saya membawa surat pengunduran diri anaknya. Memang setelah 3 bulan cuti total, saya menyuruh Rudi datang ke kantor setiap Senin dan Kamis untuk membantu operator data. Saya ingin ia mulai bersosialisasi kembali dengan teman-temannya sekalian melihat kemajuan proses kesembuhannya. Tetapi lebih sering sebelum jam istirahat siang ia pamit pulang karena kepalanya pusing. Dan ini makin membuat ayahnya kuatir suatu saat ia akan saya tugaskan keluar kota dengan membawa mobil walau sekedar percobaan.
 
          Saya menolak surat itu karena akan menyebabkan Rudi tidak mendapat uang pesangon. Kemudian saya memberitahu lelaki tua itu sebuah berita yang saya minta ia rahasiakan. Perusahaan kami baru saja membeli perusahaan lain. Berarti akan terjadi kelebihan tenaga kerja dan pengurangan SDM tidak dapat dihindari. Saat itu saya lebih sering berada di Jakarta untuk merundingkan jumlah SDM pemasaran di daerah saya yang akan di”terminate.” Agar tidak menimbulkan gejolak perusahaan sedang memikirkan sebuah kompensasi yang menggiurkan bagi mereka yang mau mengundurkan diri dengan sukarela. Saya ingin Rudi mengundurkan diri pada saat paket pensiun ini diumumkan agar ia mendapatkan sejumlah uang.
 
          Kemudian saya memanggil Rudi yang datang bersama ayahnya ke ruang kerja saya. Saya menutup pintu karena saya ingin bicara 4 mata dengannya. Saya memutar kaset lagu instrumentalia bertempo lambat di compo untuk menciptakan suasana santai. Saya menanyakan kegiatannya di rumah. Apa yang terjadi di Pematang Siantar terulang kembali di sini. Ia menghindari kontak mata dengan saya. Hal ini tidak dilakukannya terhadap orang lain.
 
          Ketika akhirnya Rudi menatap mata saya, tanpa prakata ia berkata, “Bapak orang hebat. Saya melihat Pak Pur naik pangkat.” Setelah itu matanya kembali tidak memandang saya. Ia juga tidak menjawab pertanyaan saya bagaimana ia tahu saya orang hebat atau akan naik pangkat. Pembicaraan kami tidak pernah nyambung.
 
          Pada suatu hari setelah menjalani cuti sakit hampir 1 tahun, Rudi bersama dengan beberapa orang marketer lainnya yang berkantor di Medan menyelesaikan administrasi pensiun dini. Mereka menyalami saya dan mengajak saya dan rekan-rekan mereka yang akan tetap tinggal untuk makan bersama. Mereka mau menraktir kami. Saya menolak ikut karena ada hal penting yang harus saya selesaikan hari itu. Setelah mereka pergi, saya menelepon perusahaan kargo. Saya minta stafnya untuk ke rumah saya menaksir berapa meter kubik barang-barang saya.
          Permintaan saya untuk ikut pensiun dini – yang saya rahasiakan dari seluruh bawahan agar tidak menimbulkan keresahan – akhirnya dikabulkan oleh perusahaan setelah sebelumnya dua kali ditolak. Alasan penolakan pertama karena usia saya terlalu muda untuk mengambil pensiun. Alasan kedua karena tidak ada orang yang bisa menggantikan saya. Proses ketiga juga tidak mulus karena surat-surat permohonan saya tidak sampai ke meja yang berwenang. Ada yang menyabot surat itu. Permohonan itu akhirnya sampai ke meja HRD setelah saya kirim ke rumah seorang rekan kerja di Jakarta. Dan saya terpaksa harus terbang ke Jakarta menghadap HRD untuk menanyakan responnya karena lama tidak dijawab. Saya tercengang ketika beliau mengatakan surat jawaban sudah lama dikirim ke Medan. Sebagai buktinya ia menunjukkan dokumen-dokumen persetujuan yang ditandatangani oleh bos number one. Heran, orang gila yang selama ini dimusuhi banyak orang ketika mau keluar malah dihalangi banyak orang. Masih bermanfaat untuk tumbal ‘kali.
 
          Penglihatan Rudi sekian bulan sebelumnya memang benar. Saya naik pangkat dari karyawan menjadi pensiunan. Dari seseorang yang diharuskan bangun pukul 5 pagi agar tidak terlambat datang ke kantor sekarang jadi seseorang yang boleh bangun pukul berapa saja. Saya orang kuat, karena sakit pinggang saya yang setiap minggu harus dibawa ke tukang pijat tunanetra dua kali kemudian hilang sendiri.
 
          Itulah pertemuan terakhir saya dengan Rudi. Setelah meninggalkan Medan, saya tidak tahu bagaimana nasib Rudi sekarang ini. Semua mantan rekan kerja yang akrab dengan saya juga ikut pensiun dini sehingga saya tidak mempunyai contact person lagi. Semoga ia telah sembuh dari penyakitnya gara-gara belajar ilmu gaib dengan tanggung.
 
          Mazmur 5:12-13 “Tetapi semua orang yang berlindung pada-Mu akan bersukacita, mereka akan bersorak-sorai selama-lamanya, karena Engkau menaungi mereka; dan karena Engkau akan bersukaria orang-orang yang mengasihi nama-Mu. Sebab Engkaulah yang memberkati orang benar, ya TUHAN; Engkau memagari dia dengan anugerah-Mu seperti perisai.”
 
(end of session)
* semua nama telah disamarkan.
 
 
Kisah-kisah mistis.
bag 3: Belajar ilmu gaib jangan tanggung.