Submitted by psikologila on

Namaku Adila Hakim, nama pemberian nenekku. Bisa kubayangkan mendiang ibu dan ayahku menggendongku dan memanggilku dengan penuh kebanggaan, "Adila", sementara diam-diam nenekku meneteskan airmata. Nenek sendiri yang cerita padaku bahwa tanda lahir di tangan kananku menandakan suratan takdirku sebagai hakim yang adil.  Aku menatapnya dengan bangga, dia menatapku dengan mendung di matanya, kemudian hujan pun turun. Entahlah, dia memang aneh!



Apa keanehanku turun dari dia? Entahlah! Yang kutahu semasa kecil, teman-teman menjauhiku. Mereka bilang aku kejam, mereka bilang aku tidak punya perasaan, mereka bilang aku munafik "Hei, aku hanya bersikap adil kawan". Lihat, ibu dan bapak guru bilang aku baik, mereka bilang aku pintar, mereka bilang aku jujur, mereka bilang aku adil. Ya, aku memarahi teman-temanku yang salah; ya, aku mengejek temanku yang nilainya rendah; ya, aku memang mengadu ketika ada yang mencontek, sudah kewajibanku. Ha! Aku hanya bersikap paling adil seperti namaku Adila, yang sering mereka cemooh, "A..gila, A..gila." Merekalah yang gila!



Dunia ini juga gila! Sahabatku, sesama orang kehakiman yang mengemban gelar yang sama denganku, Sarjana Hukum, malah sibuk menggendutkan kantong banknya. Jangan panggil aku Adila kalau aku tidak bersikap adil, termasuk kepada sahabatku. Tentu saja dia kusikat habis-habisan dengan kemampuanku dalam bidang hukum. Ha! Dia dipenjara seumur hidupnya! Saat dia divonis, matanya penuh amarah mengancamku. Batinku, "Percuma saja sahabatku, aku hanya bersikap adil." Banyak rekanku yang gentar denganku dan bersikap seperti teman-teman kecilku menjauhiku. Aku tahu mereka berusaha menjatuhkanku. Dasar pengecut! Coba saja, aku bekerja tanpa cela, aku tak tersentuh. Lihat aku, teladani aku. Sudah banyak orang yang kupenjarakan atas kejahatan mereka: dari koruptor kelas berat sampai pencuri pisang! Peduli amat, kali ini aku dipuja masyarakat karena keadilanku, bahkan ada yang mau menjadikanku Presiden. Kalau aku yang jadi presiden nanti, banyak mega mall akan kusulap menjadi mega prison. Ha! Lihat saja!



Aku tidak gila pujian, tapi tidak ada salahnya jika aku mendapat rasa hormat di rumahku! Aku punya hak menuntut dilayani dan dihormati sebagai suami karena memang begitu yang tertulis di agamaku. Aku sebagai suami, Sang Pencari Nafkah. Wanita harus begini dan begitu; tidak boleh begini dan begitu. Jika tidak, adil saja jika dia mendapat satu atau dua pukulan. Cintaku dibalas dengan konyol. Dia bilang aku tidak adil! Dia bilang kalau aku sendirilah yang ngaku-ngaku adil! Dia bilang tidak ada cinta dalam hidupku! Dia tidak tahan lagi dan lari ke rumah bapak ibunya. Ah, wanita sok tahu! Tidak heran dia bersikap manja dan cengeng seperti itu. Mental ayah dan ibunya juga bobrok. Mereka membiarkan istriku tinggal bersama mereka. Begitulah keluarga manja yang tidak bisa bersikap adil!



Intiplah keluarga depan, yang mempunyai toko, keluarga Kompasion! Betapa bodohnya mereka. Aku pernah menangkap basah pencuri snack di toko mereka; sudah susah payah aku menangkap dan hendak membawanya ke kantor polisi, mereka justru membelanya dengan mengatakan bahwa makanan tersebut pemberian mereka. Tolol sekali!!  Mereka tidak ada hubungan keluarga atau teman dengan si pencuri; mana mungkin mereka melepaskannya begitu saja! Aku kesal, tetapi mereka hanya bisa menatapku, tatapan sama yang diberikan nenekku, tatapan belas kasihan.

Aku tak tahan! Mereka konyol, bukan?!