Submitted by andryhart on

 

Kita harus mengakui bahwa iman kepercayaan memang tidak dapat dipertentangkan atau diperdebatkan karena seperti dikatakan di dalam Ibrani 11:1, “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.” Segala sesuatu yang tidak kita tangkap lewat indera kita tetapi kita harapkan mengandung kebenaran itulah yang menjadi dasar iman setiap orang. Karena tidak tertangkap dengan indera, iman kepercayaan setiap orang bisa berbeda. Jika terbitnya matahari di timur diyakini kebenaran oleh setiap orang karena indera penglihatan kita dapat menyaksikannya dan logika di dalam otak kita memang menyatakan demikian, maka sebaliknya pernyataan bahwa “Yesus merupakan satu-satunya jalan hidup dan kebenaran (Yohanes  14:16)” hanya diyakini kebenarannya oleh para pengikut Kristus yang beriman kepada-Nya dan percaya pada kebenaran Alkitab. Iman kepercayaan ini tidak bisa dibuktikan dengan logika dan indera karena, kecuali para rasul yang selalu mendampingi Yesus, orang lain tidak mendengar sendiri pernyataan tersebut dari Yesus.

            Dengan demikian, jika kita hendak mendiskusikan suatu penafsiran dalam Alkitab di antara orang-orang Kristen yang berbeda keyakinan karena perbedaan penafsiran, kita tidak bisa mendekatinya hanya dari sudut iman karena pasti akan terjadi pertentangan. Akan tetapi kita dapat mendekati dari sudut logika. Pertanyaan mengapa Gereja Tradisional (Kristen Katolik dan Ortodoks) menggunakan patung sebagai sarana dalam ibadahnya harus didekati dari sudut logika. Logika tersebut dapat ditemukan jika kita mau mempelajari perbedaan pada perintah Allah yang pertama dan kedua menurut versi Gereja Kristen Reformasi dan Kristen Tradisional. Dalam Keluaran 20 memang terdapat perintah Allah yang berbunyi, “Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apa pun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi.” Karena perintah inilah, para pengikut Gereja Kristen Reformasi mempertanyakan mengapa Gereja Kristen Tradisional tidak mematuhi perintah tersebut dan tetap mempertahankan patung di gerejanya. Bahkan ada di antara mereka yang tidak setuju dengan penggunaan patung tersebut dalam ibadah menghakiminya dengan mengatakan bahwa gereja tersebut  sudah tidak lagi menyembah Allah tetapi berhala.

Persoalan di atas sebenarnya berasal dari penafsiran dan pengelompokan ayat-ayat yang berbeda dalam perintah pertama dan kedua pada Keluaran 20. Dua Bapa Gereja telah menafsirkan dan membuat pengelompokan yang berbeda. Bapa Gereja tersebut adalah Santo Agustinus dan Origen. St Agustinus menyatukan ayat 2, 3, 4 dan 5  ke dalam perintah pertama yang berbunyi, “Akulah Tuhan, Allahmu  Jangan ada allah lain di hadapan-Ku. Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit dan di bumi, dan jangan sujud menyembah kepadanya (ay. 2, 3, 4, 5).” Sementara Origen membagi ayat-ayat tersebut menjadi dua perintah, yaitu perintah pertama, “Akulah Tuhan, Allahmu yang membawa engkau keluar dari Mesir, dari tempat perbudakan (ay. 2,3)” dan perintah kedua, “Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit, di bumi dan di dalam bumi (ay. 4).” Jadi, Origen tidak mencantumkan ayat 5, yaitu kalimat “Jangan sujud menyembah kepada patung.” Gereja Katolik secara umum mengikuti pengelompokan yang diajarkan oleh St. Agustinus, sedangkan Gereja Protestan umumnya mengikuti Origen. Gereja Katolik memandang St. Agustinus sebagai santo (orang kudus) yang diberi gelar "Doctor of the Church (Pujangga Gereja),” sedangkan Origen, meskipun dihormati untuk banyak hal, tidak dikanonisasi oleh Gereja Katolik karena beliau juga mengajarkan doktrin yang tidak sesuai dengan Alkitab, seperti jiwa-jiwa di neraka akhirnya dapat masuk surga.

Gereja Kristen Tradisional memang menggunakan patung, bangunan dan bunga yang indah sebagai karya seni untuk membantu umatnya menyembah dan memuliakan Allah. Untuk beribadah, Gereja Kristen Tradisional bukan hanya menggunakan musik, lagu dan nyanyian yang ditangkap oleh indera pendengaran tetapi juga menggunakan karya seni yang ditangkap lewat indera penglihatan. Bahkan Gereja Katolik menggunakan dupa dalam ibadahnya karena keharuman dupa dapat ditangkap lewat indera penciuman. Jika keindahan musik, lagu dan nyanyian yang ditangkap lewat indera pendengaran dimanfaatkan dalam kebaktian di semua denominasi Gereja Kristen, maka keindahan patung, lukisan dan rangkaian bunga yang ditangkap lewat indera penglihatan digunakan dalam Misa Kudus di Gereja Kristen Tradisional. Sebenarnya semua keindahan ini hanya bertujuan satu: menyembah dan memuliakan Allah. Dan keindahan tersebut sah adanya selama umatnya masing-masing dapat lebih khusuk beribadah dengan memanfaatkan sarana tersebut. Dengan adanya pemahaman yang berdasarkan logika ini, maka sesama pengikut Kristus tidak lagi saling menghakimi karena perbedaan penafsiran dan mereka pun dapat menikmati cara ibadahnya masing-masing dengan satu tujuan, yaitu: menyembah dan memuliakan Allah. Ketika ada pertanyaan, “Mengapa di Gereja Kristen Katolik, patung salib selalu disertai dengan korpus (tubuh Kristus) sedangkan di Gereja Kristen Protestan tanpa korpus?, kita tidak perlu lagi menjawab dengan gurauan, “karena tukang foto Katolik datang lebih cepat untuk mengabadikan salib tersebut dibandingkan tukang foto Prostestan. Ketika tukang foto Katolik datang untuk memotret, Yesus masih tergantung di salib tetapi pada saat tukang foto Protestan memotret, tubuh Yesus sudah diturunkan.