Submitted by Purnawan Kristanto on

Sudah lama Kirana, anakku (2,5 thn), mengidamkan sepatu yang bergambar "Snow White". Sayangnya kami belum menemukan nomor sepatu yang cocok dengan kakinya. Semuanya masih terlalu besar untuk kakinya yang sangat mungil. Meski begitu, keinginannya tak pernah redup. Setiap sore, setelah mandi, dia akan mengajak aku untuk masuk toko sepatu yang ada di dekat tempat tinggal. Dia selalu menuju satu rak, tempat sepatu idamannya. Di sana dia akan mencoba sepatu itu. Mungkin dia pikir kakinya sekarang sudah bertambah besar sehingga sudah pas dengan ukuran sepatu.
Hingga suatu ketika, kami pergi ke Jakarta. Saat itu sedang berjalan-jalan di Pusat Grosir Cililitan. Tujuan utamanya sebenarnya mencari jaket jeans untuk Kirana. Tetapi begitu melihat sepatu-sepatu yang dipajang di sana, keinginan Kirana berubah. Dia minta dibelikan sepatu bergambar "Snow White" yang idamannya. Kebetulan ada sepatu yang mendekati ukuran kakinya, meskipun agak kebesaran sedikit. Harganya pun cukup murah.
Karena didorong oleh rasa sayang, kami menawarkan sepatu yang lebih bagus dan relatif lebih mahal. Kami ingin memberikan yang terbaik kepada anak kami. Tetapi Kirana menolak. Dia tetap menginginkan sepatu favoritnya itu. Kami mencoba mempengaruhi dia dengan alasan bahwa sepatu ini lebih bagus dan harganya lebih mahal. Namun Kirana tak goyah. Dia menghendaki sepatu "Snow White", persis seperti yang diinginkannya ketika di Klaten. Maka kami pun membeli sepatu itu.
Keteguhan Kirana telah memberi pelajaran kepadaku tentang keteguhan hati dan berfokus pada tujuan. Fokus membuat hidup kita berdampak dan efesien. Jika kita memiliki fokus yang jelas, maka kita tidak mudah tergoda berbagai hal yang dapat membuat kita melenceng dari tujuan hidup kita. Yesus pun memiliki fokus yang jelas dalam pelayanannya, yaitu melaksanakan kehendak Bapa-Nya (Yoh. 6:38). Kalau kita memperhatikan pelayanan Yesus, maka kita akan mengetahui bahwa arah perjalanan Yesus mengarah ke satu tempat, yaitu Yerusalem.


Fokus itu juga akan menolong kita untuk tetap bertahan ketika perjalanan hidup kita dilingkupi oleh kabut yang tebal. Fokus itu seperti bintang besar yang menuntun perjalanan orang Majus. Meskipun harus melewati padang pasir yang gersang dan tidak tahu kapan perjalanan mereka akan berakhir, namun mereka tidak menyerah karena masih dapat memandang bintang penuntun. Mereka tahu, arah perjalanan sudah benar, maka yang dibutuhkan adalah ketekunan dan ketabahan untuk menapaki perziarahan mereka.
Fokus juga berfungsi sebagai tonggak-tonggak perjalanan untuk mengukur seberapa jauh capaian kita. Meski tujuan hidup belum sepenuhnya tercapai, namun kita tetap bersyukur karena ada kemajuan untuk mencapainya. Tonggak ini seperti batu yang dipancangkan Samuel Mizpa dan Yesana. Ia menamainya Eben-Haezer, katanya: "Sampai di sini TUHAN menolong kita” (1 Sam. 7:12).
Sampai di sini, ketika aku menengok ke belakang, aku bersyukur karena Tuhan telah menolong aku. Ada tonggak-tonggak batu terpancang yang mengingatkan penyertaan Tuhan dalam hidupku dalam mencapai tujuan hidupku. Lalu apakah tujuan hidupku? Aku merumuskan tujuan hidupku sebagai berikut: "To Communicate Good News with Good Ways"

Baca Juga:

Pelajaran dari Anakku [2]