Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDASpace

Loading

Budaya

victorc's picture
Acara: menyiapkan SDM yang handal
Tanggal: 25 Maret 2017

Shalom selamat siang saudaraku. Apakah akhir-akhir ini Anda mulai merasa jenuh dan suntuk dengan suasana di gereja Anda? Benarkah rumput di halaman gereja lain selalu terlihat lebih segar? Mari tanyakan pertanyaan-pertanyaan berikut kepada diri Anda:

Budaya gereja
Apakah Anda pernah mengamati perbedaan budaya yang menimbulkan pengalaman beribadah yang berbeda-beda? Misalnya, apakah Anda merasa gereja Anda terlalu adem-ayem? Kurang penjangkauan dan terkesan lebih mirip aquarium (sibuk di dalam)? 
Atau Anda memiliki gembala sidang yang karismatik dan memiliki gedung gereja yang megah bagaikan hotel bintang 5? Semua usher dilatih untuk menyambut para tamu dengan senyum, bahkan jika ada pengunjung yang menderita disabilitas, akan dijemput di mobil menggunakan kursi roda?
Atau Anda merindukan gembala sidang yang low profile, bukannya yang mendekap semua hasil persembahan dalam brankas pribadinya? Malah kabarnya ada hamba Tuhan yang ikut mengantar jemaatnya menjual sapi, karena hasil penjualan sapi itu akan langsung dipotong 10%. 
Bahkan ada salah satu gereja, yang pendetanya sangat menekankan agar gerejanya menjadi berkat bagi seluruh bangsa, namun kini ia terjerat tuntutan hukum sebesar 500 milyar, karena menggelapkan dana milik gereja lainnya.
Komentar di atas bukan dimaksudkan untuk mengkritik gereja tertentu, melainkan suatu ajakan agar kita belajar berintrospeksi tentang apa yang sudah dan belum dikerjakan sebagai gereja.
Semua hal di atas terkait dengan budaya gereja (church culture), dan tampaknya hal ini luput diperhatikan dalam banyak gereja di Indonesia. Kebetulan, tanggal 25 maret yang lalu ada seminar terbatas yang membahas antara lain tentang budaya gereja. Narasumbernya adalah pendeta senior kami, Pdt. DR. Robby Chandra, yang menekuni tema ini selama beberapa tahun.*

Kanvas Diri Pribadi (atau KPI: Indikator kinerja kunci)
Menurut beliau, SDM berkualitas muncul bila sebagian besar warga gereja dan pemimpin punya warna indah dalam kanvas pribadinya, di antaranya:
a. Pengalaman perjumpaan dengan Tuhan.
KPI: takjub, rasa berterimakasih, rasa ingin kenal, ingin hidup lebih akrab
b. pengalaman pertumbuhan wawasan. 
KPI: upaya dan disiplin mencari sumber serta lingkungan yang nenumbuhkan, rasa tidak layak
c. Perubahan gambar diri, berdamai dengan luka batin.
KPI: rindu lebih terpesona dan mengalami sentuhan lagi.
d. Perubahan karakter.
KPI: lebih peduli dan empati, lebih ingin mengenal potensi orang, lebih ingin menumbuhkannya, lebih bersedia berkurban
e. cara kerja dan hasil yang inspiratif.
KPI: sikap rindu belajar, menginspirasi, love language, mendapatkan trust
f. Keinginan menularkan.
KPI: menjadi mentor atau coach, peka kondisi masyarakat.

Kanvas pelayanan gereja
Dari kanvas pribadi tersebut, kita bisa mengembangkan kanvas pelayanan di gereja. Mulailah dari visi-misi-nilai nilai inti.
Ajukan pertanyaan-pertanyaan berikut:
a. Apa impian-impian Anda tentang gereja yang berhasil?
b. apa yang Anda ingin dapatkan dari Tuhan?
c. Apa yang Anda ingin dapatkan sebagai berkat melalui gereja?
d. Daftarkan apa yang menurut Anda paling bernilai?
e. apa halangan-halangan historis untuk tercapainya impian?
f. Apa kebutuhan yang tidak terpenuhi?
Misalnya di gereja kami, salah satu nilai yang dijunjung tinggi adalah kemauan tinggi untuk terus belajar (continuous learning), meskipun ada juga kelemahan yaitu pudarnya pengalaman perjumpaan awal, atau mungkin bisa disebut "kasih mula-mula." 

Kunci keberhasilan
Untuk membangun organisasi apapun diperlukan:
- engaging
- educating
- empowering
Jadi masalah besar bukanlah organisasi harus diubah atau restrukturisasi. Masalahnya: kita tidak pernah mempelajari dan mengendalikan budaya organisasi kita (Church Culture).
Budaya organisasi pada dasarnya adalah cara kita memandang sesuatu dan bertindak (1).

Tipologi budaya organisasi
a. Budaya clan (kekeluargaan)
b. kontrol/hirarki
c. Adhocracy
d. Misi/transformasi masyarakat
Menurut Kim Cameron dan Robert Quinn, ada 2 faktor penentu:
- fleksibilitas atau stabilitas
- fokus ke dalam dan integrasi atau fokus menghasilkan dampak.
Mari kita lihat satu persatu:
a. Budaya clan (kekeluargaan): energi gereja ini difokuskan kepada menjaga lingkungan internalnya dengan fleksibilitas, kepedulian terhadap seluruh anggotanya dan sensitivitas terhadap semua yang terlibat
b. kontrol/hirarki: energi gereja ini terutama difokuskan untuk menjaga stabilitas dan kendali atas lingkungan internalnya
c. Adhocracy: sebuah gereja yang berfokus untuk mendapatkan peran yang khas di masyarakat disertai tingkat fleksibilitas dan individualitas yang tinggi
d. Misi/transformasi masyarakat: sebuah gereja yang memfokuskan energinya untuk menemukan peran dan tempatnya di masyarakat disertai kebutuhan menjaga stabilitas dan kendali demi mencapai visinya.

Pertanyaan penutup
Untuk direnungkan: 
1. sudahkah Gereja anda menemukan cita-cita atau impian bersama yang hendak diwujudkan? Dan apakah impian tersebut benar-benar berasal dari Roh Kudus?
2. sudahkah budaya gereja anda sesuai dengan cita-cita tersebut?
Mari kita terus belajar dan saling belajar sebagai Tubuh Kristus.

Versi 1.0: 8 april 2017, pk. 11:45
VC

*note: terimakasih kepada Bpk. Pdt. Robby Chandra yang memberikan izin untuk mengulas ceramah beliau. Jbu

Bacaan lanjutan:
(1) Roger Connors and Tom Smith, Change the Culture, change the game, 2012. Url: https://www.boomerangbooks.com.au/change-the-culture-change-the-game/roger-connors/book_9781591845393.htm
(2) http://churchleaders.com/pastors/free-resources-pastors/145945-free-book-chapter-cracking-your-church-s-culture-code.html
(3) https://www.bgco.org/wp-content/uploads/2010/11/Church-Culture.pdf
(4) http://www.firstthird.org/eym/EYM-Tool-2-Identifying-Your-Churchs-Culture.pdf
(5) Stephen Blandino, url: http://stephenblandino.com/2010/11/8-words-that-define-your-churchs.html
__________________

Dari hamba yang tidak berguna (Lih. Lukas 17:10)

Prepare for the Second Coming of Jesus Christ.