Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDASpace

Loading

xaris's blog

xaris's picture

CRASH

It’s not my kind of a movie to spend this weekend with. The beginning is too gloomy that I often couldn’t finish it after feeling so depressed watching the first parts. But it’s changed today. The realities of pain have truly made the whole story so beautiful that I felt like I will never get to see anything more beautiful than that ever again…

xaris's picture

Joni Eareckson Tada

Aku tidak ingat siapa namanya waktu pertanyaan “Name three persons you would invite to your dream dinner” muncul di session ice-breaking workshop kali ini. Pertanyaan yang awalnya kujawab mantap “My dad, my mom, my sibling and my future husband”. Tapi karena dream dinner dengan mereka sudah menjadi a dream come true, jadilah Mr. John Calvin, Mr. Adolf Hitler dan dia whose-name-I-cannot-recall masuk daftar Top Three-ku saat itu.

xaris's picture

Malam Tergelap

Itu kata Charles Spurgeon dan kita bukan bicara tentang kesulitan hidup sehari-hari yang harus dijalani, dimana meskipun sulit tetapi masih “bisa ditangani”. Kita semua punya hal-hal seperti itu, anak Tuhan atau bukan. Itu hanyalah realita hidup di dunia yang sudah jatuh. Dunia ini bahkan punya berbagai cara dan metode yang sangat ampuh untuk menghadapi itu semua, meskipun penyelesaian dunia tidak pernah tuntas karena tidak menyentuh realita dosa, tetapi hal-hal seperti itu masih bisa ditanggung setiap orang, anak Tuhan atau bukan.

xaris's picture

Soli Deo Gloria?

Beberapa weekend lalu saya berkesempatan melihat Oprah Show yang membahas tentang film The Pursuit of Happyness. Sudah pernah lihat filmnya? Kisah nyata yang diangkat ke layar lebar tentang seorang ayah Black American bernama Chris Gardner dan anaknya laki-lakinya. Buat yang belum tahu kisahnya, ini ada sedikit ringkasannya yang saya dapatkan dari Internet:

xaris's picture

You Are Free!


Hear Me, My child,

Listen to what I say

You are free from the past,

Walk in your new way

xaris's picture

Tempat Yang Tinggi Itu

Beberapa minggu yang lalu di Public Lecture kami membahas tentang Media dengan meminta seorang wakil presiden direktur salah satu televisi swasta untuk membawakan materi awal dengan pembimbing acara Pdt. Joshua Lie menutup dengan memberikan beberapa kesimpulan di akhirnya. Tidak ada yang luar biasa sebetulnya dari bahasan selama kurang lebih satu setengah jam tersebut. Kalau boleh aku katakan, rata-rata yang hadir sudah merasakan sendiri “nikmatnya” acara-acara yang disajikan sederetan televisi swasta negeri sendiri, ditambah entah berapa banyak siaran-siaran luar yang diakses lewat televisi kabel.

xaris's picture

Which Language Do You Use?

Dalam satu lecture yang saya ikuti dalam beberapa bulan terakhir ini, salah satunya bertema “Thinking in Pictures: Autism and Visual Thought” yang diadakan Pdt. Joshua Lie (Reformational Worldview Foundation), ada beberapa hal menarik yang saya pelajari. Bukan tentang penderita Autism, meskipun itu juga menarik. Bayangkan saja sekarang ini diperkirakan bahwa satu dari sepuluh orang mengalami autism. Suatu jumlah yang tidak bisa diabaikan bukan?

Tapi yang saya bagikan ini bersumber dari satu pertanyaan tentang kecenderungan keharusan penguasaan bahasa yang lebih dari satu bagi banyak anak-anak di masa sekarang ini. Singkat saja. Ada dua point menarik yang Pak Lie sampaikan dari pertanyaan itu.

xaris's picture

Teologi Sukses, Penderitaan dan Kenikmatan

Amen. Itulah yang terbersit di hati saya saat pertama kali mendengar kalimat itu diucapkan, dibaca dan dibahas bersama di dalam kelas-kelas yang saya ikuti. Ada rasa senang yang dangkal? Perhaps. Because Gloria is my middle name (gee...!) and then I made a mental note to name one of my (future) children, Joy. Or Hope. That shallow, I know. It so happened, however, a journey is to be taken to make that chief end’s of man, my end. And with that divine plan, a journey to live that end out began...

xaris's picture

In the Fishbowl?

(Sekilas coretan “iseng” tentang living in the fishbowl…)

“Gimana yah rasanya berpasangan dengan hamba Tuhan?” seorang teman bertanya, yang saya jawab dengan kerutan dalam di dahi yang lebar ini seraya berkata, “Yah, pastinya rasanya seperti berpasangan dengan hamba Tuhan!” Tetttooottt, jawaban yang aneh…! Tapi…mungkin sama anehnya dengan pertanyaan yang diajukan... Ini serius meski sambil nyengir kuda selebar-lebarnya. Ada apa dengan hamba Tuhan?

xaris's picture

The Chief End of Man

Baru-baru ini saya membaca sebuah artikel di salah satu tabloid Malaysia (PEOPLE, Sunday, June 3, 2007) tentang seorang biarawan Budha bernama Tsem Tulku Rinpoche. Tsem Rinpoche, 41, saat ini berjabat resident lama (teacher) dan spiritual director untuk Kechara House Dharma di Petaling Jaya. Awalnya saya melewatkan artikel tersebut karena gambar yang ditampilkan di halaman depannya adalah gambar seorang pemuda berpose bak bintang film atau model. Ah satu lagi halaman gosip... Kedua kalinya membuka halaman yang sama barulah saya melihat judul featured article tersebut "Model monk" dan ringkasan singkat artikel "Meet Tsem Tulku Rinpoche who is a living proof that modern life is compatible with monkhood." It caught my attention, then, karena saya baru menyadari bahwa monk yang satu ini tidaklah dicukur habis rambutnya (satu foto lain dipasang berdampingan menunjukkan Tsem Rinpoche dalam pakaian biarawannya lengkap dengan setiap helai rambut di kepalanya!).

xaris's picture

Aragorn, And You Are...?

Kuis...kuis... (please ya, bukan kue...), siapa mau ikut? Ini ada kuis iseng yang meminjam karakter Lord of The Ring untuk mendefinisikan seperti karakter siapakah kita di film LOTR menurut kita. Buat yang tertarik silahkan klik saja link ini dan ikuti sampai selesai. I am scored as Aragorn, what about you?

My result: You scored as Aragorn, You're Aragorn! This ranger from the north is the personification of bravery. He always thinks of others before himself, and, though he becomes King of Gondor, he is not one to crave attention. "I would have gone with you to the end. Into the very fires of Mordor."

xaris's picture

For Better or Worse...

“For better or worse, for richer or poorer, in sickness or in health, to love and to cherish, till death do us part…”

Marriage. Satu kata dengan jutaan arti. Jutaan rasa. Jutaan kisah. Marriage. Lihat saja tagline satu perusahaan rokok terkenal, kau pasti tahu yang mana. Waktu aku iseng coba meng-google tagline itu, hasilnya… luar biasa! Entah berapa topik terjaring! Padahal dua kata itu dalam bahasa Indonesia, bisa dibayangkan bagaimana jadinya kalau dalam international languages! Maka, demi menghindari agar post ini tidak masuk dalam Google search untuk tagline itu, sengaja aku tidak cantumkan dua kata ampuh tersebut. Ampuh untuk mempopulerkan blog/post maksudnya!

xaris's picture

Hari Ini Aku Pasti Manis Sekali...

Hari ini aku pasti kelihatan manis sekali… Karena sejak pagi tadi hampir setiap orang yang berpapasan menyempatkan untuk sejenak menatap wajah oval-bulat-cekung ini. Ada yang sebelumnya hanya melihat sekilas lekas-lekas mendaratkan pandangannya kembali padaku. Ada yang menatap cukup lama bahkan ada yang kemudian memberanikan diri menyapa dengan ramah. Aku ingat, hari ini aku pakai baju baru, eeeh…tepatnya baju lama yang baru saja dipermak ibunda tercinta sehingga kurasa penampilanku pasti sungguh menawan di pagi cerah tadi.

Tapi… sebenarnya ada satu alasan lagi kenapa aku ketiban hujan tatapan dan sapaan ramah. Boleh dikata inilah satu-satunya alasan yang paling tepat selain soal baju baru dan senyumanku yang menawan itu, hehehe….

Cerita Petualangan ON

xaris's picture

Kartumu Jelek?

Dalam buku “Leading with Billy Graham” yang tengah saya baca, ada satu kisah menarik dari Presiden AS Dwight Eisenhower tentang kartu yang jelek. Diceritakan bahwa pada suatu malam Presiden Eisenhower sedang bermain kartu (Flinch nama permainannya) dengan ibu dan saudara-saudara laki-lakinya. Ibunya saat itu menjadi pembagi kartu dan membagikan kepada Presiden Eisenhower kartu yang jelek, sehingga menuai keluhan dari Eisenhower muda yang merasa dewi keberuntungan tengah bersembunyi darinya lewat tangan sang bunda.

Mendengar keluhan si anak, ibu yang bijaksana ini berkata, “Anak-anak laki-lakiku, taruh semua kartu-kartu kalian. Saya ingin berkata sesuatu, terutama kepadamu, Dwight. Kamu berada di dalam sebuah permainan di dalam rumahmu bersama dengan ibu dan saudara-saudara laki-lakimu yang mengasihimu. Tetapi di luar sana, di dalam dunia, kamu akan bermain dengan kartu yang jelek tanpa ada orang yang mengasihimu. Inilah nasehat bagimu anak-anakku, ambillah kartu-kartu yang jelek itu tanpa mengeluh dan mainkanlah. Mintalah Allah untuk menolongmu dan kamu akan memenangkan sebuah permainan yang penting, disebut kehidupan.”

xaris's picture

Hope

Malam itu, di bawah gelapnya langit malam nyaris tak berbintang, kulantunkan bersama dengan segenap rekan-rekan lagu pengantar kebaktian penghiburan untuk keluarga seorang hamba Tuhan yang telah dipanggil Bapa pulang.

Malam itu, diantara gigitan nyamuk-nyamuk tega, aku berdiri di luar sambil berjereng ria. Pasalnya, seorang teman berdiri tepat di depanku selama kebaktian berlangsung dan berefek domino pada jerengnya mataku karena posisi kondenya yang tepat diantara kedua belah mataku, ditambah lagi ketiadaan tempat untuk berpindah posisi.

xaris's picture

Change vs Love

Sore itu akhirnya saya memutuskan untuk membaca artikel tentang Billy Graham bertajuk “Leading With Love”. Sudah beberapa hari sebetulnya artikel itu muncul di hadapan mata minus berbungkus softlens ini setiap kali saya membuka salah satu my most visited website Christianity Today. Alasan pertama karena itu tentang Billy Graham. Orang yang kepadanya saya angkat topi setinggi mungkin untuk scope pelayanannya yang luar biasa, tetapi dengan tinggi hati cukup saya remehkan pandangan-pandangan dan tindakan-tindakannya dalam bebeberapa hal seperti Catholicism, ecumenism dan kaum liberal.

xaris's picture

Kesempatan

Minggu yang lalu waktunya berkunjung lagi ke tukang potong rumput…eee… rambut (!) langgananku. Berangkatnya dengan malas tapi mesti. Sudah kurang lebih empat bulan ini potongan rambutku tidak karuan lantaran hairdresser langgananku cabut dari tempat potong itu. Dua kali rambut yang tidak seberapa ini dibabat hairdresser yang berbeda-beda dengan hasil semakin menciutkan hati saat menatap bayangan di cermin. Well, manis sih… kalo diliat dari jarak paling sedikit satu kilo…

xaris's picture

"Please cross the line..."


"...if you have ever felt alone."

"Please cross the line if you have family members suffering from addiction..."

"Please cross the line if you have ever been hit or beaten up by your loved ones..."

Those were just a few questions thrown in during a session in Monroe High School in USA as broadcasted by Oprah Winfrey show that day, themed Breaking Down Barriers. It was one of the most moving events I have ever seen throughout the whole Oprah's sessions so far. I was freezed for about an hour to see the power of forgiveness, love and reconciliation as demonstrated heartfully by the students in that high school.

xaris's picture

Scar

Srrett…. WADAOUWW!!! Itulah kira-kira reaksiku saat tanpa sengaja dengkul ini tertabrak pintu mobil sore itu. Tidak keras sebetulnya dan tidak sakit seharusnya. Masalahnya yang terkena telak ini adalah lutut kanan tempat ada satu bekas luka kecil bersemayam. Keloid istilahnya, nama keren dari daging yang tumbuh dari bekas luka. 1 cm x ½ cm ukurannya. Hadiah dari mengunjungi ATM dekat kantorku di suatu sore ceria sebulan yang lalu. Sesampai di rumah kulihat keadaan si keloid dan betul saja, tak terlihat ada apa-apa, hanya segaris warna merah melintang di area sempit bak rumah BTN ukuran 24m2 itu. Tapi senut-senutnya…. Aduoooohh…!