Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDASpace

Loading

2008+1=2009, Apa artinya? (4CHRIST)

 

 
2008+1=2009, Apa artinya?
Dipublikasi Artikel blog by 4CHRIST
 
Tidak terasa hari ini, Rabu 31 Desember 2008. Penghujung tahun tinggal
beberapa jam lagi. Hampir setiap kawan-kawan saya di tempat kerja
sedang
sibuk mempersiapkan acara untuk penutup tahun. Beberapa orang bahkan
nekat tidak masuk kerja hari ini. Dan ada sebagian yang sudah pamit
pulang duluan.
Buat saya, akhir tahun dan segala penyambutannya tidak pernah ada yang
istimewa sedari dulu kala saya lahir ke dunia ini. Perasaan biasa-biasa
saja. Tanpa ritual khususpun saya sudah merasa usia bertambah, dan umur
berkurang dari quota yang diberikan oleh Tuhan kepada saya-beruntung
quota umur itu sebagian daripada rahasia Tuhan, jadi saya menjalaninya
apa adanya.
Mengingat tahun-tahun silam saat hari terakhir di ujung tahun seperti
sekarang, boleh dikata saya juga punya pengalaman-pengalaman
tersendiri.
Dulu, sewaktu masih doyan ngeluyur, ya ikutan kawan-kawan kemana aja
mereka punya rencana. mau sampai pagipun saya ikut. Kadang-kadang
sebelum berangkat ngeluyur, kami makan-makan dulu bersama di rumah.
Bikin ayam panggang sendiri, atau bebek goreng kadang juga menthog
(jawa). Setelah kenyang kami berangkat dan pulang pada keesokan
harinya.
Seperti itulah yang hampir setiap tahun saya lakukan sebagai ritual
penutup tahun bersama kawan-kawan dulu. Saya ikutpun karena ngguyubi
teman-teman yang punya inisiatif, saya pikir waktu itu-selama kita
tidak
merugikan orang lain kenapa tidak? Betul tidak, ya? Anggap saja betul,
saya kan bukan orang yang sebaik saat ini. (sekarangpun mungkin masih
berusaha untuk lebih baik)
Kebiasaan demikian itu tidak saya lakukan ketika saya ada di
perantauan. Tahun pertama, saya merasa kesepian, sebab memang tanpa
teman. Semua kawan-kawan saya pergi. Tinggal saya seorang di rumah,
dari
50 orang penghuni Hostel (asrama). Semua sudah punya acara
masing-masing. Dan acara mereka tidak ada yang bisa saya guyubi, ndak
cocok.
Bermacam-macam acara mereka, dari acara gerombolan sampai acara
gerimbilan. Gerombolan jelas khusus jomblo-jomblo. Gerimbilan? Ya,
dengan pasangannya begitu. Makanya saya ndak cocok. Sebab sudah jadi
tradisi, kalau gerombolan pasti ada yang terluka, tawuran, mabuk bahkan
ada yang sampai masuk tahanan Polis (Polisi). Dan kalau gerimbilan
pasti
yang begitu-begitu. Lha wong di depan teman-teman aja ndak malu,
apalagi
yang di balik kelambu.
Dan bagi saya, kalau dipikir-pikir lebih baik tidur saja, sebab
besoknya kerja-lumayan kalau hari besar begitu gajinya Triple P alias
tiga kali lipat dari gaji harian. Dan dari kawan-kawan saya paling
hanya
2 -3 orang saja yang mau kerja, mereka pilih menyambut tahun baru yang
sakral menurut mereka itu.
Tapi untuk mengisi kesendirian malam itu sebelum tidur, saya beli
sebungkus rokok, sekantung plastik kacang goreng dan 2 botol bir hitam.
Sambil ngemil, makan kacang dan main PS di rumah. Sendiri. Putar sound
systemnya agak keras, asyik juga. Tidak ada yang mengganggu ataupun
tergangu.
Batasnya, kacang habis, bir habis-cukup. Jam 1 malam tidur, tapi saya
selalu berdoa sebelum terlelap. Walau hanya ucapan syukur aja, saya
anggap itu cukup. Kan setiap hari memang begitu kebiasaan saya, do'a
saya tidak pernah sampai selesai, sebab selalu ketiduran sebelum sempat
mengucap kata Amin. (Pasti kalian tidak percaya, ya?)
Ritual tahunan setelah saya kembali dari negeri asing sampai saat ini,
tidak ada yang istimewa bila dilihat dari kacamata kawan-kawan saya.
Sebab acara saya dulu, kalau tidak salah ingat tahun 2002 dan 2003 saya
selalu mengikuti acara Ibadah tutup tahun jam 24.00 di gereja. Itu saja
terus pulang dan tidur. Bangun pagi-pagi pergi gereja lagi ikuti ibadah
menyambut tahun baru.
Tapi tahun-tahun sesudahnya sudah tidak ada acara malam tutup tahun
seperti itu dengan alasan keamanan. Yang ada ya, pagi 1 Januari-nya.
Sampai saat ini.
Itu saja yang berarti dalam ritual tutup buka tahun bagi saya pribadi,
artinya menurut orang lain pasti kuno. Dan saya rasa pun dari dulu saya
tidak pernah menganakemaskan hari bungsu dan hari sulung itu. Tidak ada
artinya. Tapi tahun-tahun terakhir dalam kisah kehidupan saya, saya
bangga karena ritual tutup dan buka tahun baru saya gunakan sebagai
tambahan hari untuk lebih dekat dengan gereja. Untuk dekat dengan
Tuhan?
Dekat dengan Tuhan tidak selalu pilih hari, saya yakin Tuhan selalu
menyertai saya kemanapun.
Amin.