Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDASpace

Surat imajiner seorang CEO kepada Yesus (suatu artikel perenungan)

victorc's picture

Surat imajiner seorang CEO kepada Yesus (suatu artikel perenungan)

 

Teks : Matius 10:2-3

Inilah nama kedua belas rasul itu: Pertama Simon yang disebut Petrus dan Andreas saudaranya, dan Yakobus anak Zebedeus dan Yohanes saudaranya, Filipus dan Bartolomeus, Tomas dan Matius pemungut cukai, Yakobus anak Alfeus, dan Tadeus, Simon orang Zealot dan Yudas Iskariot yang mengkhianati Dia.

 

 

Shalom aleikhem,

Bapak ibu dan para sahabat terkasih dalam Tuhan, mungkin kita sering mendengar jargon-jargon khas dunia bisnis modern, misalnya: human resources (sumber daya manusia), human capital (modal manusia), human development (pengembangan manusia), yang intinya manusia dilihat sebagai salah satu sumberdaya dalam rangka mencapai tujuan organisasi. Bahkan dalam dunia teknik, dikenal istilah 5M: materials, men, money, machines, and methods.

Memang ada kontroversi dalam beberapa dekade terakhir ini, apakah istilah human resource atau human capital itu bukannya justru merendahkan harkat manusia sekadar menjadi sekrup-sekrup demi tercapainya sasaran-sasaran perusahaan. Misalnya: seandainya seorang karyawan dianggap kurang perform dengan baik sesuai dengan target yang diberikan perusahaan -entah itu target produksi atau target pemasaran-, lalu apakah yang akan dilakukan pimpinannya? Melatih, mengembangkan potensi yang mungkin belum muncul, atau justru memberikan pressure habis-habisan?

Di sinilah letak pentingnya pemahaman, terutama perbedaan antara melihat manusia sebagai resource atau sebagai potensi yang perlu dikembangkan.

 

***

Terinspirasi dari salah satu tayangan seminar Joyce Meyer, melalui salah satu televisi kabel, berikut ini adalah suatu surat imajiner. Dalam tayangan tersebut, Joyce Meyer mengutip suatu surat imajiner dari seorang CEO kepada Yesus, mengomentari mengenai murid-muridNya, tentunya seandainya kita membayangkan Yesus berkarya di bumi di era abad 21 ini.

Berikut adalah saduran bebas dari surat imajiner tersebut:

 

“Dear Rabbi Yesus,

Perkenalkan nama saya Bill, seorang pimpinan perusahaan multinasional dengan ribuan karyawan. Saya mengagumi pandangan-pandangan yang sering Rabbi sampaikan dalam ceramah-ceramah melalui  berbagai forum. Semuanya baik dan patut dihormati, namun saya juga mendengar bahwa Rabbi baru memilih duabelas calon penerus warisan ajaran Rabbi tersebut.

Sebagai seorang pemimpin organisasi multinasional dengan pengalaman dan pemahaman akan watak manusia, ijinkan saya memberikan sedikit pertimbangan akan duabelas calon penerus tersebut, tentu demi kebaikan dan karir Rabbi ke depannya.

 

Berikut komentar singkat akan para calon penerus tersebut:

- mengenai Simon yang disebut Petrus: saya harus mengatakan bahwa murid tersebut terlalu impulsif, pemarah dan kurang bertata-krama. Saya tidak melihat potensi apapun bagi dia di masa depan.

- mengenai Andreas: orang ini tidak memiliki kualifikasi apapun sebagai calon pemimpin.

- Yakobus dan Yohanes saudaranya: kedua orang ini terlalu ambisius dan ingin menjadi yang terhebat di antara lainnya, padahal potensi mereka tidak seberapa.

- Filipus: tidak terlihat potensi yang khusus, bahkan cenderung hanya bersandar pada perhitungan rasional. Kurang imajinatif dengan solusi-solusi out of the box, seperti yang Rabbi pernah ceritakan dalam mukjizat roti untuk lima ribu orang. Tidak banyak harapan untuk orang ini.

- Tomas: orang ini terlalu skeptis dan cenderung suka bertanya akan banyak hal. 

- Matius mantan pemungut cukai: harap berhati-hati karena orang ini memiliki nama yang buruk di antara orang-orang Israel, terutama karena profesi sebelumnya sebagai pemungut cukai. Singkatnya bukan calon penerus yang akan membanggakan bagi organisasi.

- Simon orang Zealot: nampaknya orang ini cenderung terlalu nasionalis dan anti-kemapanan. Agak berisiko.

- Yudas Iskariot: di antara keduabelas calon penerus ajaran Rabbi, saya melihat justru Yudas ini yang paling dapat bergaul dengan para pemuka masyarakat, tahu seluk-beluk keuangan, dan memiliki intuisi bisnis yang baik. Dia akan dapat menjadi penerus yang baik.

 

Tertanda, 

 

Bill.”

 

Penutup

Demikianlah surat imajiner tersebut. Puji syukur ke hadirat Bapa di surga dan juga Tuhan Yesus yang terkasih, bahwa Dia memilih murid-muridNya bukan atas pertimbangan human capital…atau siapa yang akan paling menguntungkan bagi bisnis ajaran agamawi.

Namun Tuhan Yesus melihat hati kita.

Demikian pula bapak ibu yang kebetulan menjadi para pimpinan gereja atau organisasi Kekristenan di manapun, hendaklah kita menimbang dan memilih para penerus organisasi dengan pertimbangan spiritual dan mata hati yang jernih.

Semoga artikel ini dapat berguna. Tuhan Yesus memberkati Anda sekalian.

 

Versi 1.0: 05 Sept. 2021, pk. 11:15

VC

__________________

Dari hamba yang tidak berguna (Lih. Lukas 17:10)

Prepare for the Second Coming of Jesus Christ.