Submitted by Erfen Gustiawa… on

Tidak perlu kaget jika ada buku direktori website populer Kristen, tidak memasukkan Sabda Space (SS) sebagai situs Kristen. Sebagian blogger di sini mungkin langsung sadar akan alasannya, yaitu akibat beberapa oknum blogger SS sendiri yang berlaku seperti sampah sehingga menjadikan SS ikut menjadi situs "sampah" yang tidak dianggap. Tulisan ini sebagian kecil bersifat subjektf dan sebagian besar bersifat objektif walau tanpa literatur tentunya. Oleh karena SS juga bukan jurnal ilmiah sehingga harus ada referensi literatur, apalagi tulisan ini mengenai SS sendiri sehingga semua pendapat dalam tulisan ini dapat ditelusuri kebenarannya dalam situs SS sendiri. Kalimat yang membosankan dan aneh ini terpaksa ditulis karena ada oknum sampah aneh yang meributkan literatur dan ketika diberi literatur juga masih mengajak debat kusir. Namun, yang waras mengalah saja, buat apa memperhatikan sampah.

Kata "sampah" diberi tanda petik untuk SS karena SS sebenarnya bertujuan mulia untuk menjadi saksi Kristus di republik ini dan "tidak sengaja" menjadi "sampah" karena oknum-oknum bloggernya. Akan tetapi, khusus untuk oknum-oknum sampah, tidak perlu diberi tanda petik karena mereka memang sampah sejati. Bagaimana tidak? Tulisan ini dibuat setelah membaca begitu banyak komentar dari blogger-blogger lain yang mengeluh tentang oknum-oknum sampah dalam SS, termasuk yang hanya mampir melihat-lihat. Lagipula karena merupakan sampah, sehingga oknum-oknum ini membuat SS berbau busuk walau jumlah oknum tersebut sedikit. Oleh karena itu, terlalu bagus jika mengumpamakan oknum-oknum sampah ini sebagai nila yang merusak susu sebelanga. Akan lebih tepat mengumpamakannya dengan seonggok sampah merusak harumnya taman mawar.

Terakhir ada Tasya yang mengeluhkan dirinya "tidak diterima" dan "menambah musuh" justru di blog rekan seimannya sendiri. Seperti biasa, para oknum sampah sok menjadi hakim, bahkan mengutip ayat-ayat  Alkitab untuk bebas mencaci. Memakai standar ganda untuk mengubah orang lain, tetapi diri sendiri tidak pernah berubah. Mengutip ayat sepenggal tetapi dengan pongahnya seakan memahami semua isi kitab. Mungkin bagi blogger yang belum berpengalaman, akan panik jika diserang ayat-ayat seperti itu. Tetapi ketahuilah, sampah-sampah itu hanya omong kosong saja sehingga Anda tidak perlu berubah sesuai keinginan mereka. Yang namanya sampah, ya sampah. Ayat diputar sehingga yang benar jadi salah, yang salah jadi benar. Termasuk masalah kelembutan dalam bertutur kata yang jangankan di Alkitab, dalam etika masyarakat umum saja tidak bisa diterima. Namun, para sampah ini membuat Alkitab juga menjadi "sampah" akibat ulahnya yang selalu mencari pembenaran tingkah-laku sampahnya. Merujuk pada Kristus yang juga pernah berkata-kata keras, tetapi belum berkontribusi seperti Kristus.

Dari sudut pandang psikis, orang-orang seperti ini bisa jadi merupakan pihak ketiga yang suka menjadi penghasut. Melihat terkadang mereka "sok fundamental" tetapi membela liberalisme juga (termasuk dukungan berlebihan terhadap homoseksual), seakan mengarahkan identitas mereka sebagai kalangan "new agers" (kaum ateis yang menyusup ke tiap agama untuk merobohkan doktrin arus utama agama-agama yang ada). Tentang kelompok ini, telah saya tulis dalam SS. Apalagi dengan memakai identitas palsu, jelas menunjukkan bahwa mereka tidak beritikad baik untuk berkomunikasi secara terbuka.

Andai mereka bukan penghasut, bisa jadi mereka orang Kristen yang termarginalkan sehingga mencari pembenaran dalam SS ini. Termarginalkan dari segi doktrin iman atau dalam pergaulan sehari-hari. Sebenarnya banyak yang mau bergaul dengan mereka di dunia nyata, tetapi apa daya karena mereka sampah sejati sehingga tidak bisa didaur ulang (alias tidak pernah introspeksi diri). Karena tidak ada yang mau bergaul dengan sampah-sampah seperti itu di dunia nyata, sehingga mereka bergaul di dunia maya. Ini membuat mereka mencari oknum-oknum lain yang juga sama sampahnya di dunia maya. Oleh karena dunia maya sering menjadi pelampiasan orang-orang yang tidak berhasil dalam kehidupan nyata. Ini jugalah yang membuat mereka betah berjam-jam berdebat di dunia maya, bahkan melalaikan pekerjaannya. Akibatnya, hari-harinya dipenuhi omong kosong protes yang ompong karena tidak pernah berkontribusi. Bayangkan saja, orang yang jarang bekerja nyata seperti ini yang sok menjadi hakim di SS. Apa kata dunia???

Tak usah heran juga jika mereka emosional, karena dalam kesehariannya saja mengalami stres akibat tersingkirkan di dunia nyata. Mungkin kesehariannya menjadi bawahan yang menjadi sasaran kemarahan atasannya sehingga melampiaskannya dengan sok menjadi bos di SS ini. Masih lebih baik jika mereka memasang identitas jelas di dunia maya. Sebagian besar justru memakai identitas palsu sehingga dapat bebas melakukan apa saja dalam dunia maya, yang tidak bisa mereka lakukan di dunia nyata.

Dunia maya dan gereja sering menampung orang-orang seperti ini, termasuk SS. Blogger SS yang saleh seakan diam saja, tetapi sekali-kali harusnya bertindak juga sebelum SS menjadi SAMPAH. Terkadang heran juga dengan Admin SS yang tidak membersihkan sampah-sampah ini. Apakah di antara sampah ini ada yang menjadi  Admin sehingga membiarkan SS ini semakin busuk? Mudah-mudahan tidak. Nah, sekarang kita tinggal menunggu komentar dari sampah-sampah ini dan diamkan saja supaya busuknya semakin tercium. Yang waras mengalah saja dan berdiskusi dengan baik :D

 

 

Submitted by LieL on Wed, 2010-09-08 09:07
Permalink

Dari sudut pandang psikis, orang-orang seperti ini bisa jadi merupakan pihak ketiga yang suka menjadi penghasut. Melihat terkadang mereka "sok fundamental" tetapi membela liberalisme juga (termasuk dukungan terhadap homoseksual), seakan mengarahkan identitas mereka sebagai kalangan "new agers" (kaum ateis yang menyusup ke tiap agama untuk merobohkan doktrin arus utama agama-agama yang ada).

Opps, bisa ada yg sensi nyebut2 homoseksual huehehe :)