Submitted by Purnomo on

Bentuk janin itu tampak di layar monitor. Jelas sekali. Gambar itu bergerak dari kaki sampai ke kepala yang menghadap mulut rahim. Terasa jantung saya berdegup makin cepat karena tegang. Di bagian kepala pena pendeteksi berputar agak lama. Dan, ya Tuhan . . . .

- o -
Juni 1987
Suatu hari menjelang subuh Ega dengan panik membangunkan saya sehingga saya mengira ada maling masuk rumah. Nafasnya memburu.
"Tadi aku melihat pintu kamar tidur ini dibuka orang," ceritanya. "Dua orang berseragam dokter masuk. Seorang yang tubuhnya lebih tinggi dan pakaiannya begitu cemerlang sehingga agak kebiru-biruan membawa pisau panjang. Mereka berdiri di samping tempat tidur kita. Perutku dirobek dengan pisau itu. Banyak darah yang keluar."
Ia tidak melanjutkan perkataannya. Ada bintik-bintik keringat di dahinya walaupun udara di kamar tidak panas. Saya melihat berkeliling. Pintu kamar masih terkunci. Tidak ada darah di tempat tidur.
"Lalu?"
"Hanya itu." Wajahnya pucat. Bayangan operasi caesar dan kematian mungkin sedang bergu­lung dalam pikirannya.
"Kamu merasa sakit waktu ia membuka perutmu?"
"Tidak."
"Kamu mengenali wajahnya?"
"Tubuh mereka mengeluarkan sinar cemerlang se­hingga aku tidak bisa melihat wajah mereka."
Saya yakin mimpinya bukan bunga tidur, karena Tuhan sering berbicara kepadanya melalui mimpi. Dalam keraguan saya memberan­ikan diri berkata, "Tuhan sendiri telah datang mengoperasi kandunganmu. Myom itu telah diambil-Nya."
 
Bukan karena iman saya berkata demiki­an, tetapi hanya untuk melenyapkan kekuati­rannya saja. Hanya itu! Saya sendiri resah karena tak tahu arti mimpi itu. Apakah Tuhan memberitahu myom itu telah diangkat-Nya, atau sebaliknya Ia mau memberitakan tentang kematian Ega?
 
Saya tak yakin puasa yang telah saya jalani selama sebulan telah membuka pintu sorga. Walaupun demikian doa malam kami berobah menjadi ucapan syukur karena Tuhan telah mengusir kuasa kegelapan dari kandungan Ega. Namun pada tengah malam diam-diam saya berdoa sendiri kepada Tuhan agar Ia membangkitkan kembali iman percaya saya agar bisa memercayai Ia telah bertindak. Sementara iman saya melata di tanah, Ega bertindak seperti sepuluh orang kusta yang diperintahkan Tuhan untuk menghadap imam. Dengan berani ia bersaksi bahwa Tuhan telah membuang myomnya di dalam acara persekutuan doa yang setiap minggu diadakan oleh tetangga kami seo­rang anggota GPIB.
 
3 Juli 1987
Pukul 7 malam kami bertiga berada di Meiril Medical Centre untuk pemeriksaan USG yang kedua. Saya merasa takut. Malam ini akan memberikan kejelasan arti mimpi Ega. Dokter menunda kedatangannya satu jam karena pasien di tempat praktiknya masih banyak. Keterlambatan ini membuat saya makin gundah. Gurauan Puteri tak lagi saya tanggapi. Bahkan nyaris membuat saya marah.
 
Pukul 8 malam dokter datang dan kami bertiga dipersilakan masuk ke kamar perik­sa. Saya bagai melayang memasuki kamar itu karena perasaan saya sudah mati seakan-akan memasuki kamar gas untuk menerima hukuman mati. Layar monitor dinyalakan. Ingin saya pergi meninggalkan kamar itu ketika pena pendeteksi mulai bergerak di kulit perut Ega. Saya takut menghadapi kenyataan. Saya takut melihat kenyataan yang sebentar lagi akan ditayangkan di depan mata saya. Bentuk janin itu tampak di layar monitor. Jelas sekali. Gambar itu bergerak dari kaki sampai ke kepala yang menghadap mulut rahim. Terasa jantung saya berdegup makin cepat karena tegang. Di bagian kepala pena pendeteksi berputar agak lama. Dan, . . . .
 
"Ya Tuhan!" nyaris seruan itu terlontar keluar dari mulut saya. "Engkau benar-benar telah datang ke rumah kami!"
Saya tidak melihat bulatan itu lagi walau pena pendeteksi kemudian bergerak ke semua sudut rahim. Myom itu hilang! Mata Ega berkaca menatap layar monitor.
"Puteri," saya berbisik, "Iblis sudah pergi dari perut Mama. Tuhan sudah mengusirnya."
 
"Mungkin myom itu tersembunyi di belakang kepala janin sehingga tak bisa dideteksi," kata dokter. Apa pun katanya, saya yakin myom itu telah lenyap. "Tempat myom itu sekarang diganti dengan placenta. Kedudukan placenta yang menutup mulut rahim agak berbahaya bagi janin."
Saya tahu kepala janin akan menekan placenta sehingga asupan makanan bisa terhenti dan ini berarti kematian janin. Pengetahuan ini saya dapat dari mencuri baca buku-buku kedokteran di toko-toko buku ketika mencari informasi mengenai myom.
"Kita berharap kedudukan placenta bergeser. Kelamin janin ini perempuan," kata dokter sambil mematikan peralatan USG.
Dokter itu mungkin tidak berani menyatakan myom itu sudah lenyap, karena hal itu tidak mungkin. Jika myom itu hancur tentu Ega mengalami pendarahan. Tetapi itu tidak dialaminya. Mungkin dokter juga tidak berani memberikan banyak kegembiraan bagi kami mengingat kasus-kasus keguguran yang pernah dialami Ega.
 
Ketika kami keluar dari klinik, udara malam terasa segar. Hati kami berbunga. Terasa Tuhan dekat sekali. Tuhan masih punya mukjizat untuk kami. "Bila Tuhan mau melenyapkan myom itu, terlebih lagi untuk menggeser placenta itu," kata saya kepada Ega. Sepertinya saya tidak mengenal suara saya sendiri karena suara itu terdengar yakin sekali. Keyakinan yang sudah beberapa bulan menghilang entah ke mana. Rasanya saya kini telah berdiri tegak kembali dan dengan berjingkat dapat menyentuh jemari kuasa Tuhan.
 
 
“Bayi itu perempuan seperti anak yang aku lihat dalam mimpiku dulu. Ia pasti lahir selamat karena dalam mimpi dia tak mau lepas dari tanganku,” jawab Ega. Dan Puteri dengan gembira merancang mainannya yang mana yang akan diberikan kepada adiknya.
 
Pak Pamong pernah menganjurkan agar pada saat kandungan berumur 7 bulan kami meminta Tuhan memberi nama. Ini dipesankan­nya ketika kami sekeluarga akan berangkat ke Jakarta, saat saya tidak pasti apakah janin ini akan dapat bertahan lama dalam kandungan. Kami memang belum menyediakan nama. Bukan karena memenuhi anjurannya atau takut dituduh melakukan upacara mitoni, tetapi karena kami kuatir nama itu tidak pernah akan dipergunakan. Seka­rang baru saya melihat bahwa ia tidak berbohong tentang pesan Juragan Yang Agung itu. Pesan yang menyiratkan berita bahwa janin itu akan bertumbuh dan lahir sehingga dia memerlukan sebuah nama. Kami menyerahkan pemberian nama itu kepada Tuhan, sehingga kami tak mau merancang sebuah nama.
 
Pada suatu siang ketika Ega sedang menjahit popok, tiba-tiba sebuah kata memasuki pikirannya, “Yosi.” Rasanya nama itu agak aneh. Terlalu pendek dan tidak ada di Alkitab. Tetapi kami tidak berani merubahnya karena yakin Tuhan sendiri yang membisikkannya.
"Mungkin Tuhan mau mengatakan Yosia," kata Puteri yang mendengarkan cerita ibunya.
"Mana mungkin. Yosia 'kan nama laki-laki," saya menyanggahnya.
 
Apakah nama itu berasal dari kata Yosua? Bukankah dalam keputusasaan kami telah melakukan apa yang pernah dilakukan Yosua? Melakukan hal-hal yang tampak sia-sia? Saya berpuasa selama sebulan, bersembahyang setiap tepat tengah malam. Puteri meminta Tuhan Yesus mengirim malaikat kecil untuk menjagai calon adik­nya. Ega bersaksi myom itu telah hilang padahal matanya belum melihat buktinya.
 
Mungkin Puteri benar, nama itu berasal dari kata Yosia. Yosia yang mau mencari Allah dengan sungguh (2 Tawarikh 34:3), Yosia yang peduli akan rumah Tuhan (34:8), Yosia yang meresponi Firman Tuhan (34:19), sehingga Tuhan menganugerahi Yosia hidup berkemenangan. Ketika berpikir bahwa Yosia patut mendapat mahkota, saya teringat akan satu kata yang menggambarkan mahkota bersusun tiga. Kata itu saya tautkan di belakang kata “Yosi” sehingga menjadi sebuah kata yang indah. Ega menyetujuinya dan menambah satu kata di depannya. Nama itu lengkaplah sudah.
 
Mukjizat-mukjizat berikutnya datang beruntun. Setelah Tuhan memberi nama, placenta itu bergeser menjauhi mulut rahim. Tetapi kemudian dokter membe­ritahu Yosi melintang dalam kandungan. Doa kami berubah. Yosi kembali ke posisi normal. Namun dokter tetap berkuatir terja­dinya operasi caesar. Kasus-kasus keguguran sebelumnya membuat ia tidak berani menjamin kelahiran ini akan berjalan normal.
 
October 1987
Suatu malam saya bermimpi. Saya menda­pat uang banyak sekali karena memenangkan undian dengan nomor 37. Kenya­taannya, saya tidak pernah membeli kupon undian atau toto gelap. Karenanya saya yakin itu petunjuk dari Tuhan tentang kapan Yosi akan lahir. Angka itu jelas menunjuk tanggal 7 bulan 10. Celakanya menjelang tanggal itu saya harus bertugas di Pontianak pada tanggal 6 dan 7. Tugas itu sangat penting dan tidak bisa ditunda atau diwakilkan kepada orang lain. Sulit meyakinkan perusahaan bahwa anak saya akan lahir pada tanggal itu sementara tidak ada dokter yang berani memastikan satu tanggal untuk sebuah kelahiran. Tentunya saya tidak berani mengatakan keyakinan akan tanggal itu datang dari sebuah mimpi. Akhirnya atasan saya bersedia menempatkan seorang supir perusahaan di rumah saya karena tidak ada lelaki lain di rumah. Menjelang kelahiran Yosi, ibu Ega tinggal di rumah kami. Atasan saya juga berjanji membantu apabila mendadak Ega membutuhkan tambahan darah.
 
Saya berangkat dengan perasaan was-was. Mengapa menjelang kelahiran Yosi saya harus berada di Pontianak kota di mana saya memulai doa puasa untuknya? Kembali saya berada di kota ini dengan perasaan yang sama, kecemasan yang sangat. Tanggal 6 malam saya nyaris tak bisa tidur kecuali berdoa terus menerus. Saya tak tahu bagaimana keadaan Ega karena tidak ada pesawat telepon di rumah. Pada waktu itu hape belum populer.
 
Tanggal 7 sore bandara Supadio Pontianak diguyur hujan lebat. Penerbangan bisa dibatalkan apabila hujan tidak mereda. Pak Pamong sering meminta Tuhan menghentikan hujan, dan Tuhan mengabulkannya. Saya ingin berdoa agar Tuhan menghentikan hujan ini, tetapi saya membatalkan niat ini karena ingat hujan saat itu sangat dibutuh­kan penduduk Kalimantan Barat yang sudah lama dilanda kekeringan. Saya pernah memasuki hutan Kalimantan setelah terjadi kebakaran hutan. Ingat akan kerusakannya yang hebat membuat saya tidak berani meminta Tuhan menghentikan hujan ini. Saya hanya meminta Tuhan menjaga Ega apabila saya harus menunda waktu kepulangan saya. Sembilan puluh menit kemudian pesawat diberangkatkan ketika hujan agak mereda. Pukul 16.15 saya tiba di bandara Sukarno-Hatta. Supir perusahaan ada di sana.
 
"Mengapa tidak di rumah saja?" tanya saya.
"Ibu yang menyuruh saya ke sini," jawabnya. "Ibu belum merasa akan melahirkan."
Ah, mimpi yang saya dapat bukan petunjuk dari Tuhan. Saya harus lebih memercayai perhitungan dokter yang mengatakan kelahiran itu akan terjadi seminggu lagi daripada memercayai mimpi. Jika Ega sering mendapat pesan Tuhan lewat mimpi tidak berarti mimpi saya juga berasal dari Tuhan.
 
Tiba di rumah saya hanya menem­ukan pembantu rumah saja. Ega, Puteri dan ibu mertua saya tak ada.
"Tadi jam tiga mereka naik becak ke klinik bersalin," dia menjelaskan.
Bergegas saya ke sana. Puteri menemui saya di halaman.
"Adik mau lahir," katanya gembira.
 
Kekuatiran akan terjadinya operasi caesar membuat perut saya sakit. Saya sudah mengalami sulitnya mencari darah di Jakarta ketika menolong seorang rekan kerja yang menderita leukemia. Apa yang bisa saya lakukan bila Ega membutuhkan darah dengan segera? Puteri yang berjalan kian kemari saya tarik mendekat.
"Yok kita berdoa untuk Mama dan Yosi."
"Puteri sudah berdoa."
"Kapan?"
”Tadi, sebelum Papa datang. Puteri berdoa di halaman klinik minta Tuhan mengi­rim malaikat untuk menjaga Mama dan Yosi."
Keharuan meruyapi dada melihat betapa dekatnya anak ini dengan Tuhan.
"Jika begitu Puteri sekarang pulang ke rumah diantar pak sopir karena besok harus sekolah."
Tetapi dia menolak. Dia bersikeras tidur di dalam mobil walau banyak nyamuk. Dia tak akan pulang sebelum melihat adiknya malam ini. Melihat besarnya kerin­duannya itu, saya tak tega memaksanya pulang.
 
Ega mendadak kehabisan tenaga untuk mengejan. Bayangan operasi dan kematian menghancurkan semangatnya. Pandangannya mulai mengabur dan ketika hampir pingsan dia berteriak, "Yesus, tolong saya!" Kejadian berikutnya mencengangkan dokter. Proses kelahiran berubah menjadi lancar sehingga alat bantu yang telah dipersiapkan tidak diperlukan. Pukul delapan malam Yosi lahir.
 
Ucapan syukur memenuhi jiwa ketika perawat memperlihatkan Yosi kepada saya dan Puteri. Kami mengikuti perawat itu ke kamar bayi sementara ibu mertua menunggui Ega. Dari balik kaca kami berdua berlama-lama memandangi Yosi.
 
Saya membisikkan nama lengkap Yosi yang hanya 2 kata. Puteri menarik-narik tangan saya.
“Ada apa?”
“Nama depan Puteri biar dipakai adik,” pintanya.
“Mengapa begitu?”
“Puteri ‘kan ikut berdoa untuk adik. Biar nama depan adik sama dengan nama depan Puteri, ya Pa.”
Walau baru beru­mur 6 tahun, dia telah ikut berdoa setiap malam untuk adiknya, menjagai calon adiknya dengan menuntun Ega bila turun dari becak, atau mengingatkan ibunya untuk berhati-hati.
"Nama depan Puteri itu artinya anak Tuhan Yesus," katanya. “Adik ‘kan juga anak Tuhan Yesus.”
Tak tega saya menolaknya. Jika nanti Ega tak setuju, biar ibunya yang mengatakan kepadanya. Ia begitu gembira ketika saya menyetujuinya. Berkali-kali ia menyebut nama yang telah diperbaruinya itu.
 
Ketika kembali ke kamar bersalin, saya menyampaikan nama baru itu kepada Ega dan bertanya apa dia menyetujuinya.
“Apa nama depan Yosi yang kita rencanakan?” dia bertanya.
Aneh. Saya tidak ingat. Ketika saya balik bertanya, Ega juga tak ingat. Padahal sebelumnya kami sudah hafal luar kepala sehingga tidak lagi mencatatnya di secarik kertas.
“Kok ya bisa kita sama-sama lupa nama depan itu,” kata saya.
“Mungkin Tuhan sendiri yang menyuruh Puteri merubahnya dan Ia membuat kita lupa sehingga tidak mungkin mengembalikannya ke nama yang kita rancang,” jawabnya.
 
Setelah bersama-sama Ega menaikkan doa syukur, kami kembali ke rumah pada pukul 10 malam. Malam itu juga saya mencu­rahkan kebahagiaan ini di atas berhelai-helai lembar kertas untuk beberapa teman di Sema­rang, Jogja dan Surabaya. Seminggu kemudian Pak Pamong menelepon saya untuk minta ijin mengirimkan kesaksian saya kepada sebuah majalah keluarga Katolik di Australia setelah dialihbahasakan olehnya. Saya menyetujui karena saya juga ingin makin banyak orang tahu bahwa di dalam hidup ini masih ada yang tidak mungkin dapat dibeli dengan uang atau diselesaikan oleh kemampuan manusia.
 
Dua bulan kemudian Ega menjalani tes papsmear untuk memeriksa kemungkinan masih adanya kanker. Hasilnya negatip. Dokter kemudian menarik pernyataannya bahwa pernah ada myom dalam kandungan Ega sehingga membuat saya melongo. Saya tidak mau berbantah dengannya. Saya bisa saja menghancurkan pernyataannya itu dengan menyodorkan foto-foto ultrasonografi yang masih saya simpan, yang jelas-jelas menunjukkan keberadaan myom itu. Saya bisa mengerti bila ia sulit menerima kenyataan ini yang bertentangan dengan disiplin ilmu yang digelutinya. Memang tak mudah memercayai Tuhan masih mau menurunkan mukjizat yang dulu pernah diterima oleh para orang beriman kepada manusia-manusia yang hidup saat ini.
 
Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan yang hidup dan tetap berkarya dalam diri anak-anak-Nya sampai hari ini. Ia mengasihi anak-anak-Nya, walaupun mereka nyaris tak lagi memercayai kasih penyertaan-Nya itu. Seperti saya ini.
- o -
Tanggal 22 Agustus 2009 nama itu disebut melalui pengeras suara di dalam ruang aula yang berisi hampir 2000 orang. Saya menarik nafas lega. Nama itu dieja dengan benar. Pemiliknya pernah marah berhari-hari hanya karena ketika ia menerima baptis dewasa nama itu salah dieja oleh pendeta bahkan sampai dua kali. Ia tahu nama itu bukan berasal dari orangtuanya. Ini diketahuinya karena membaca sebuah buklet yang berisi kesaksian tentang dirinya ketika masih dalam kandungan. Ketika dia menerima sakramen baptis bayi, saya mengirimkan kesaksian ini kepada redaksi majalah gereja kami. Kesaksian ini kemudian diterbitkan secara terpisah dalam bentuk buklet. Saya menyimpan satu eksemplar dan foto USG dirinya saya sisipkan di dalamnya.
 
Dia maju ke depan dalam pakaian dan topi hitam untuk menerima pengesahannya sebagai sarjana. Ia telah bersekolah di berbagai kota: Jakarta, Palembang, Padang, Medan dan Semarang. Saya bersyukur selain menimba ilmu dia juga mau berlelah di ladang Tuhan. Ketika masih duduk di SMP saya membujuknya memainkan keyboard dalam ibadah Minggu untuk mengiringi saya menyanyikan lagu protes ciptaan saya, “Meski aku ini bukan pendeta.” Yang terjadi kemudian dia diminta memperkuat barisan organis sehingga ia menjadi organis termuda di gereja kami. Dia menjadi guru Sekolah Minggu gara-gara dijebak oleh Puteri. Walau marah, dia mau terus berada di kelas Sekolah Minggu sampai hari ini.
 
Ketika ia membalikkan tubuh dan berjalan kembali ke tempat duduknya sambil tersenyum cantik, saya melambaikan tangan. Saya bangga akan dia. Bagi saya dia juga menjadi tanda peringatan akan campur tangan Tuhan dalam hidup saya. Hari kemarin, hari ini dan hari-hari mendatang.
 
(selesai)
 
Masih adakah mukjizat bagi kami?

bag-3: Berjingkat menggapai mukjizat.