Saat Teduh
Matius 15:1-20
Ajaran-ajaran yang sangat berpengaruh bagi orang-orang Farisi maupun ahli-ahli Taurat adalah Hillel dan Sammai. Pengajaran-pengajaran lisan ini membentuk Talmud (Misnah) yang menunjukkan aturan-aturan yang sangat ketat dalam kehidupan sehari-hari. Termasuk di dalamnya aturan untuk membasuh tangan tiap kali makan besar (roti; untuk makanan kecil tidak diperlukan membasuh tangan). Bahkan orang yang makan roti tanpa membasuh tangannya disamakan dengan orang yang melakukan dosa perzinahan dengan pelacur.
Orang-orang Farisi tidak dapat menemukan ajaran atau tindakan Yesus yang bertentangan dengan Taurat/Kitab Para Nabi yang mereka ajarkan dalam Midrash, namun mereka dapat menyalahkan Yesus karena melanggar tradisi nenek moyang mereka yang mereka ajarkan dalam Misnah. Mereka tidak berani langsung menyalahkan Yesus, tapi mereka menyalahkan para murid, karena tentunya pikir mereka Yesuslah yang mengajarkan para murid untuk melanggar tradisi nenek moyang. Nampaknya orang-orang Farisi cukup gentar dengan segala mukjizat yang dilakukan Yesus, karena mereka berangkat dari Yerusalem mestinya Sanhedrin/Mahkamah Agama yang menyuruh mereka, sehingga mereka datang dengan otoritas penuh untuk mengamati, menegur dan meluruskan.
Yesus menegur dengan sangat keras terhadap teguran orang-orang Farisi kepada para murid. Orang-orang Farisi menekankan bahwa seharusnya para murid, dan Yesus tentunya, memelihara tradisi nenek moyang (Misnah) yang telah dengan ketat dipertahankan sejak kembali dari Babel. Yesus sangat marah dan balik menegur mereka bahwa mereka membatalkan perintah-perintah Taurat supaya menaati tradisi nenek moyang. Contoh yang diambil adalah bahwa menurut ajaran Farisi perintah Taurat untuk menghormati ayah dan ibu dalam hal memelihara kehidupannya bisa dibatalkan apabila uang yang seharusnya dipergunakan untuk memelihara orang tua sudah dipersembahkan kepada Tuhan, persembahan kepada Tuhan dianggap jauh lebih penting daripada memelihara orang tua.
Jadi kesalahan fatal yang dilakukan orang-orang Farisi adalah pengajaran Talmud (Misnah) itu jauh lebih penting daripada Taurat itu sendiri (Midrash). Yesus mengatakan bahwa tanaman yang tidak ditanam oleh Bapa-Nya akan dicabut sampai ke akar-akarnya. Hal itu menunjukkan bahwa pengajaran lisan yang menjadi dasar Misnah bukanlah ditanam oleh Bapa melainkan (tentunya) Iblis. Inilah yang menjadi penjelasan kenapa mereka menolak Yesus. Kalau benar mereka orang-orang yang mempertahankan pengajaran Taurat tentunya mereka akan bisa menerima Yesus dan segala pengajaran-Nya karena sama-sama bersumber dari Taurat. Hal ini membuktikan bahwa Iblis telah menanam ajaran sesat dalam kehidupan masyarakat Yahudi dengan keberadaan tradisi nenek moyang (Hillel & Sammai, Misnah). Sejak kemunculan Mahkamah Agama, sesudah zaman Ezra dan para muridnya, benih-benih kemerosotan Taurat sudah dimulai yang tentunya tujuan utamanya (tujuan Iblis) adalah penolakan kepada Messias yang dinanti-nantikan sejak zaman Adam.
Dengan demikian kehendak Bapa adalah mencabut sampai ke akar-akarnya segala pengajaran yang bertentangan dengan Taurat, Kitab Para Nabi yang akhirnya tidak bisa membawa orang kepada Perjanjian Baru yang membawa keselamatan final. Taurat Yahweh adalah dasar dari Perjanjian Baru sehingga pemahaman yang keliru tentang Taurat akan membuat Perjanjian Baru tidak dapat dialami sepenuhnya. Roh Kudus telah dijanjikan berdiam di dalam diri kita, yang menjadi meterai untuk semua janji Tuhan, bahkan warisan surgawi yang tidak dapat kita pahami. Kalau kita memiliki pandangan yang keliru tentang Taurat kita juga akan keliru dengan Perjanjian Baru. Taurat tidak pernah dibatalkan
Mat 5:17 “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.
Mat 5:18 Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dar