Submitted by guestx on

bagaimana menanggapi penampilan seorang Muslim yang menyanyikan lagu rohani kristen di acara natal yang ditayangkan di teve kemarin malam ?
apalagi dia seorang calon presiden yang berpasangan dengan cawapres non-muslim ?
adakah itu bagian dari promosi diri untuk pilpres 2014 ?
apakah dia telah terjebak ke dalam sebuah kekeliruan fatal yang akan mengandaskan peluangnya jadi pemimpin negeri ini ?
atau, mungkinkah dia melantunkan lagu itu sebagai doa karena sedang berupaya untuk menggapai hal yang mustahil ?

adakah yang salah jika mengatakan ” ‘ku yakin saat Kau berfirman” ?
atau ” ‘ku menang saat kau bertindak” ?
dan ” hidupku hanya ditentukan oleh perkataanMu” ?

adakah yang keliru jika mengatakan ” ‘ku aman kar’na Kau menjaga” ?
atau ” ‘ku kuat kar’na Kau menopang” ?
dan “hidupku hanya ditentukan oleh kuasaMu” ?

tak layakkah seorang mengatakan,
“bagi Tuhan tak ada yang mustahil, bagi Tuhan tak ada yang tak mungkin” ?
dan
“mujizatNya disediakan bagiku, ‘ku diangkat dan dipulihkanNya” ?

mungkinkah Wiranto akan dimurka Tuhannya karena menyanyikan lagu ciptaan Sari Simorangkir yang adalah penyanyi rohani Kristen ?
sama seperti orang Kristen akan dimurkai Tuhan  mereka karena menyanyikan lagu “Tuhan” ciptaan Bimbo yang komponis lagu Muslim dan qasidah ?
akankah  Tuhannya Sari Simorangkir bertarung dengan Tuhannya Bimbo karena berrebut lagu yang ditujukan kepadaNya ?
sebaris tanya lagi : apakah Tuhannya Sari Simorangkir berbeda dengan Tuhannya Bimbo ?

 

by : guestx 24.12.13

 


******************************************************************
(catatan : kutipan lagu “Bagi Tuhan Tak Ada Yang Mustahil” karya Sari Simorangkir)

Submitted by guestx on Sun, 2013-12-29 18:50

In reply to by jesusfreaks

Permalink

beberapa nama yang sudah dideklarasikan jadi capres atau disebut-sebut bakal maju ke pilpres cukup kental nasionalismenya dan bisa diharapkan tidak berperilaku diskriminatif terhadap golongan manapun.Jokowi, Wiranto, Prabowo, Mahfud, Dahlan, Bakrie, ... untuk menyebut beberapa nama. semoga siapa pun yang terpilih nanti tidak berubah prinsipnya atau jadi loyo ketika menghadapi tekanan, seperti yang dipertontonkan oleh pemerintah sekarang ini.adalah lebih baik punya presiden yang muslim tapi hatinya nasionalis daripada berharap ada presiden kristen; ngapain juga harus jadi kristen, kasihan dia ... menjadi kristen itu ribet :-( , tapi kalau mau mengikut ajaran dan teladan Kristus, nah itu baru bagus.

Submitted by guestx on Mon, 2013-12-30 15:51

In reply to by widdiy

Permalink

itulah sulitnya memahami orang-orang politik. bingung menilai, kapan mereka berucap dan bertindak dari nurani, kapan sedang memainkan peran pencitraan di mata konstituen.HT dan Wiranto sedang melakukan simbiosis mutualisme. saling menguntungkan. seorang datang dengan modal uang dan jaringan media, seorang datang dengan modal reputasi dan kendaraan politik.yang lain juga tak beda jauh.sebagai warga negara, kita tinggal bisa pilih terbaik dari yang ada.yang ideal seperti mimpi kita, tidak ada.

Submitted by Purnawan Kristanto on Tue, 2013-12-31 01:40
Permalink

Pada Sidang Istimewa MPR (1978), Wiranto bersama dengan Jimmly Ashidiqie dan Nugroho Djayoesman membantak Pam Swakarsa untuk menghadapi gerakan mahasiswa.Usai SI, laskar paramiliter ini menjelma menjadi FPI.Sekarang, dengan satu lagu rohani saja, banyak orang Kristen yang bersiimpati kepada Wiranto. Padahal banyak gereja yang ditutup oleh FPI ini.

Submitted by guestx on Tue, 2013-12-31 02:09

In reply to by Purnawan Kristanto

Permalink

nah, sejarah tak akan terhapus begitu saja.adakah wiranto seperti saulus yang menjadi paulus... ataukah...?adakah beliau dan organisasinya aktif dalam isu-isu yang dihadapi oleh umat kristen dan minoritas lain ?akankah suara kaum kristen akan disalurkan kepada partai wiranti "for the price of a song" ?semakin membingungkan apabila diingat pula bahwa di sisinya ada si raja media yang tentunya pakar dalam soal pencitraan.benar-benar membingungkan.

Submitted by Purnawan Kristanto on Wed, 2014-01-01 13:33

In reply to by guestx

Permalink

Memang ada jargon: Dalam politik tidak ada yang abadi. Tidak ada musuh yang abadi, juga tak ada lawan abadi. Yang abadi adalah kepentingan.Tapi begitu mudahkah Wiranto menghapus kesalahannya di masa lalu dengan menyanyi satu lagu?Politisi rela melakukan apa saja untuk meraih simpati. Pada perayaan Natal kemarin, seorang caleg dari partai berasas Islam minta izin untuk ikut ibadah malam Natal. Kami bilang, silakan datang tapii dilarang untuk kampanye. Kami akan menyambut Anda sama dengan kami menyambut pengunjung yang lain.

Submitted by widdiy on Tue, 2013-12-31 10:25

In reply to by Purnawan Kristanto

Permalink

SI MPR tahun 1998 Pak Pur..... Wiranto memang moyangnya FPI, yang awalnya Pam Swakarsa dibentuk bersama Jimmly Ashidiqie, Nugroho Djayoesman dan Kivlan Zein. Dananya sebagian besar digelontorkan oleh pengusaha Setiawan Djodi...

Submitted by jesusfreaks on Wed, 2014-01-01 09:22
Permalink

Dalam penerawangan saya sih tetap jokowi. Namun akan tetapi kalaupun wiranto, don't worry to much lah, hary tanoe saya percaya bisa jadi penyeimbang. Amin