Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDASpace

Keren

victorc's picture
Shalom, saudaraku. Kira-kira 2 minggu lalu saya mengunggah artikel blog berjudul Bhinneka.**** Lalu seorang teman meneruskan link blog tadi ke grup WA teman-teman SD kami, ternyata ada teman lama yang mengapresiasi artikel tersebut.* Waktu saya mengirim sms ke teman SD tersebut, dia membalas begini:

"Syalom ... iya keren. Rajin banget kamu nulis smp masuk journal juga. ..."

Wah, sebagai blogger yang sudah lebih dari setahun menulis di SABDA Space, sangat senang rasanya mendengar ada teman yang mengapresiasi. Saya juga menulis di forum lain misalnya academia.edu,** tapi jarang-jarang ada yang mengirim pesan bahwa mereka menyukai apa yang saya tulis.

Ada juga teman yang memberi saran yang bagus tentang artikel-artikel blog saya, misalnya seperti ini:***

"Apa yang ditulis pak Victor selama ini bagus tapi sudut pandangnya ambil sudut pandang akademisi (filsuf) jd tidak semua orang kemungkinan paham, terutama orang awam. Terus topik-topik yang bagus seperti LGBT artikelnya pendek dan justru dikembalikan ke pembaca, bgm menurut pembaca. Padahal pembaca ingin tahu lebih banyak."*****

Tentu penulis manapun termasuk saya akan senang jika ada pujian, komentar, saran bahkan kritik sekalipun, khususnya jika kritik itu diberikan dengan respek. Namun tentunya ada motivasi yang lebih tinggi bagi penulis blog seperti ini.

Motivasi
Bagi sebagian orang, motivasi itu bisa diperoleh kalau mendapat pujian atau klik pada "like" (suka), atau kalau ada yang meneruskan artikel kita ke grup lain di fb atau wa. Namun  ada alasan lain, yaitu saya menulis biasanya karena memang terdorong untuk menulis. Izinkan saya mengutip nabi Yeremia:

"Tetapi apabila aku berpikir: "Aku tidak mau mengingat Dia dan tidak mau mengucapkan firman lagi demi nama-Nya", maka dalam hatiku ada sesuatu yang seperti api yang menyala-nyala, terkurung dalam tulang-tulangku; aku berlelah-lelah untuk menahannya, tetapi aku tidak sanggup." Yeremia 20:9

Yeremia sejak dipanggil menjadi nabi oleh Tuhan mesti mengalami berbagai penderitaan, bahkan ia pernah dipenjara dalam sebuah sumur kering. Sampai akhir hayatnya nubuat-nubuatnya tidak pernah digubris oleh raja-raja Yehuda, hingga mereka akhirnya dibuang ke negeri Babel. Bahkan menurut tradisi Yahudi, Yeremia dipaksa mengungsi ke Mesir oleh sebagian umat, dan akhirnya ia dibunuh saudara sebangsanya orang-orang Yahudi di Mesir. Sungguh tragis bukan? Namun ia tidak pernah berhenti menyampaikan kebenaran firman Tuhan kepada bangsanya. 
Bagaimana dengan Anda? Kalau dorongan untuk menulis itu begitu kuat dalam hati Anda, bagaikan bara api yang menyala, maka itu artinya Anda memang terpanggil untuk menjadi penulis. Itulah yang disebut "passion." Dengan kata lain, saya cenderung menyarankan bahwa sebaiknya Anda menulis dari hati, sementara teknik menulis bisa dipoles. Menulis dengan otak memang perlu, tapi lebih penting menulis dari hati.
Sebagai refleksi, perjalanan artikel blog saya di SABDA Space hampir tidak terasa sudah setahun lebih beberapa bulan. Awalnya saya kadang ditegur oleh admin, dan beberapa artikel saya malah diturunkan. Namun setelah terbiasa dengan peraturan di forum ini, lebih sering artikel saya tidak diturunkan. 

Penutup
Kiranya artikel ini dapat mendorong para penulis muda untuk lebih aktif berkarya di berbagai forum dan media, khususnya melalui SABDA Space. God will bless you more and more.

Versi 1.0: 13 juni 2016, pk. 12:21
VC

Catatan:
* artikel ini ditujukan untuk Sdri. Novita. Terimakasih juga untuk Sdri. Rineke
** lihat http://independent.academia.edu/VChristianto
*** terimakasih untuk saran dari Sdr. Aji.
**** lihat http://sabdaspace.org/bhinneka
***** lihat http://sabdaspace.org/lgbt
__________________

Dari hamba yang tidak berguna (Lih. Lukas 17:10)

Prepare for the Second Coming of Jesus Christ.