Teringatku akan cerita sahabatku, di suatu sore kami berbagi ttg hidup kami msg". Ceritanya sahabatku ini a/ tulang pungung keluarga, hari-harinya dia habiskan tuk bekerja, bekerja dan bekerja. Banyak waktu terlewatkan dlm hidupnya demi tanggung jawab yg dia pikul tuk keluarganya.
Batinnya kadang terusik dengan khayalan akan kebahagiaan yg ingin dia raih. Kebahagiaan untuk dirinya sendiri. Belum lagi kerinduan akan hadirnya cinta, warna warni lain dlm ruang hatinya yg teramat dia rindukan. Dia lelah, dan teramat kesepian.
Tapi lagi-lagi kehidupan kurang bersahabat dengannya, sempat beberapa kali dia mencoba untuk bercinta namun dia gagal. Sampai pd akhirnya dia putuskan untuk menutup dirinya... mustahil pikirnya ada seseorang di luar sana yang mampu mencintai dirinya, apa adanya. Getir... hatinya menghitam, dia pesimis, dia marah. Kebahagiaan.....kebahagiaan yang selama ini dia cari. Dimanakah kan dia temukan.
Sejumput harapan itu tiba" datang dlm hidupnya, ya dia melihat satu sosok yg bisa menjadi naungannya. Naif dia berujar, bahwa segalanya akan berbeda krn dia telah memiliki sang pencinta.Sang pencinta, kebetulan pikirnya...tak perlu susah dia mencari dan takut tuk terluka lagi. Di depannya sudah ada seseorang yang mau memberikan segalanya. Picik dia berpikir tuk gunakan cinta ini untuk menggapai kebahagiaannya. Dia pasti bahagia bersamanya.
Kasihan sang pecinta, tidak disadarinya bahwa dia sedang dibuai sedemikian rupa oleh cinta yg mengikat. Perlahan namun pasti diminta semua yg ada padanya: kebebasannya, cara dia berpikir, bahkan kepribadian yg sedari lahir dibawanya musti dia berikan atas nama cinta. Mungkin sang pecinta ini sama-sama kesepian, dia tak ubahnya dgn temanku si picik yg kesepian. Sang pencinta ternyata punya luka yg cukup hebat, takdir telah mencuranginya dengan mengambil apa-apa yg dikasihinya teramat sangat. Dia ketakutan, bingung akan takdir yg mempercundanginya sedemikian rupa. Dia kewalahan untuk mengadapi semuanya secara tiba-tiba. Dia butuh teman, dia butuh cinta.
Sang waktu akhirnya mempertemukan mereka berdua. Dua pribadi dengan luka yg sama. Dan merekapun jatuh cinta, entahlah apakah pantas kusebut itu cinta. Tapi getar-getarnya kulihat sama, seketika kulihat raut wajah mereka merah merona jika kuberbicara ttg cinta. Tapi keindahan yang kulihat tdk berlangsung lama. Kadang seringkali wajah itu berubah menjadi semburat benci atau gelapnya awan mendung. Mengapa, pikirku? Bukankah mereka saling mencinta, bukankah komitmen itu ada. Seharusnya mereka ingat akan janji-janji mereka di awal...Seharusnya hati mereka murni untuk bisa melihat kasih yang sesungguhnya utuh diberikan untuk memelihara cinta yg ada di hati mereka.
Cinta yang semula dipuja berubah menjadi benci.....keyakinan itu mulai pudar atau memang mereka ditakdirkan bukan untuk bersama. Entah kenapa akhir cerita cinta ini hanya membawa luka yg lain. Dia marah....dan terluka, tak percaya bahwa sang pencinta pada akhirnya akan meninggalkan dia. Kini, apa yang tersisa? Habis semua yg dia punya.....kembali dia dalam kelam hidupnya dengan hati yg tertunduk malu, benar-benar malu. Tak akan lagi dia berani tuk berharap atau bermimpi, cukup hidup ini yg dia jalani. Dirinya telah terbiasa dalam kesunyian, berjalan seorang diri dlm ketakutan dan rasa kehilangan yg tak kan pernah terobati. Adakah di luar sana yg sudi menemaninya??
sedih banget... hohoho...
sedih banget... hohoho... beneran nih? ato khayalan belaka?
In reply to sedih banget... hohoho... by teograce
Permalink@teograce: asli bukan palsu
iya beneran kejadian, emang sedih dan ngegantung akhirnya. untung gak sampe gantung diri juga :p
saya juga kenal orang dengan
saya juga kenal orang dengan kejadian seperti itu tuh.. hoho..orang yang kekurangan ga akan bisa memberi, dan karena dua-duanya luka, dua-duanya tersiksa.. yah, @ least ga salah 1, karena yang 1 nya yang akan kasian..
tapi kadang butuh luka lebih besar untuk menyembuhkan luka sebelumnya..