Saya sangat sedih ketika melihat sayabisa.com sepi pengunjung. Saya merasa putus asa karena tulisan saya tidak memberkati banyak orang. Awalnya pembacanya mendekati 200 orang untuk tiap artikel tetapi sekarang hanya sedikit (kalau bisa dibilang sangat sedikit). Saya ingin menyerah. Buat apa selama ini saya menulis kalau hasilnya tidak dibaca orang lain?
Ketika saya melihat website kenalan saya, saya mulai tersemangati kembali. Banyak tulisan dia yang tidak dibaca oleh orang lain. Paling pembacanya hanya dibawah 50 orang. Tetapi dia terus menulis dan menulis. Seakan-akan dia sedang mengatakan, "Saya tidak peduli berapa orang yang membaca, yang penting saya tetap menulis." Cara ini sepertinya yang harus saya lakukan. Saya harus tetap berkarya, entah mereka peduli atau tidak dengan karya saya.
Disinilah saya kembali merenung. "Tuhan apa yang Engkau inginkan?" Dan Dia bertanya kepada saya,"Apa yang engkau cari?" Saya terdiam sejenak. Tanpa saya sadari saya mencari pengakuan dari orang lain. Tetapi bukankah hal yang wajar jika saya mencari pengakuan? BUkankah saya sudah kerja keras sehingga wajar jika saya mendapatkan pengakuan? Bukankah saya sudah melakukan yang terbaik?
Apa yang saya cari? Saya terdiam sejenak. Saya mencari untuk diri saya sendiri. Bohong jika saya mengatakan saya sedang melayani orang lain karena sebenarnya saya sedang melayani diri saya sendiri. Tidak bagus bahkan bisa dibilang memalukan. Apa yang saya lakukan, sungguh-sungguh memalukan. Mengatasnamakan untuk orang lain tetapi sebenarnya untuk diri saya sendiri.
Apa yang seharusnya saya cari? Saya sedang melakukan apa yang Tuhan inginkan. Saya hanya melakukan. Saya bukan mencari pengakuan. Pengakuan adalah hadiah, hadiah bisa diberikan bisa pula tidak. Saya tidak berhak marah jika saya tidak mendapatkan hadiah. Itu hak si pemberi hadiah. Seharusnya saya menulis karena Tuhan inginkan saya menulis. Seperti kendaraan, keberadaannya hanyalah untuk dinaiki. Kemana kendaraan itu menu
Submitted by
Sri Libe Suryapusoro
on