Di gereja tempat saya beribadah, ada dua orang pria yang sama-sama tiap minggu datang beribadah, sama-sama masih bujangan, dan sama-sama meninggal di usia 35 tahun. Namun ada perbedaan yang sangat mencolok dari keduanya pada saat mereka hidup…
Yang pertama sebut saja namanya Tono. Tono tiap minggu datang ke gereja dengan kakak dan kakak iparnya, satu mobil. Pokoknya rajin. Selamanya kakaknya datang dia pasti ikut. Nah satu hari kakaknya mengadu pada saya bahwa Tono walaupun tiap minggu ikut ke gereja dengannya, tapi sifat dan tindakannya sangatlah meresahkan. Lalu kakaknya menceritakan bahwa kedua orang tua mereka meninggal pada saat Tono masih kecil (bungsu), ketika sudah besar, dia punya pandangan negatif terhadap semua kakaknya, dia beranggapan bahwa semua kakaknya mengambil warisan orang tua tanpa menyisakan untuknya. Padahal kakaknya yang teman saya ini berkata bahwa warisan sudah dibagi rata, namun adiknya ini tidak percaya, sehingga tiap hari minggu pulang gereja dia keliling “silaturahmi” minta sejumlah uang pada kakak-kakaknya, kalo ga dikasih…. Tono tidak segan-segan mengancam dengan pisau… wah wah.
Satu hari tiba-tiba Tono sakit ginjalnya dan di bawa ke rumah sakit, satu minggu kemudian meninggal!! Yang menarik di rumahnya ditemukan deposito sebesar Rp. 120juta! Sebagian besar uang itu adalah hasil dari “silaturahmi”… uang itu akhirnya dicairkan dan dibagi rata alias dikembalikan untuk semua kakaknya.
Saya bertanya-tanya untuk apa dia datang ke gereja? denger khotbah tiap minggu apa hasilnya? Ironis sekali….
Sekarang saya mau cerita orang kedua yang meninggal di usia muda juga. Sebut saja namanya Budi. Dua tahun sebelumnya Budi datang ke gereja karena diajak teman, dan dia terima Tuhan Yesus dalam hatinya, lalu mulai aktif melayani dengan bermain keyboard di gereja, maklum pekerjaan Budi adalah guru les piano. Semakin hari Budi menunju