Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDASpace

Yang Lebih Mahal (Memang) Banyak, Bukan Begitu Kaka?

nikos_septian's picture

"Yang lebih mahal banyak", sebuah ungkapan yang tidak asing di telinga khalayak Indonesia beberapa tahun yang lalu. Ungkapan tersebut adalah penggalan jargon dari iklan sebuah produk obat nyamuk, yang kurang lebih memiliki arti, "tidak ada yang lebih bagus dari produk mereka meskipun produk lain harganya lebih mahal." Ungkapan yang menggambarkan sebuah perbedaan dari kualitas produk yang dijual.     

 

Ricardo Izecson dos Santos Leite, atau biasa dipanggil Ricardo Kaka adalah seorang pemain sepak bola yang genius. Kejeniusannya sudah terlihat sejak kecil; bahkan dia sudah menjadi pemain cadangan di klub lokal Brazil, Sao Paolo FC, sat usianya masih sangat belia. Kaka terlahir di dalam keluarga yang taat agama. Hidupnya memang berkecukupan, namun dia tidak pernah bermegah dengan kekayaan orang tuanya dan memilih jalan menjadi pemain sepak bola. Pada tahun 2002, pelatih tim nasional sepak bola Brazil, Felipe Scholari, memanggil Kaka untuk memperkuat timnas Brazil di Piala Dunia 2002. Kaka akhirnya sukses membantu Brazil merengkuh gelar juara dunia pada tahun tersebut. Setahun berselang, dia pindah ke Eropa, bermain untuk klub sepak bola legendaris Italia, AC Milan. Pada tahun 2007, Kaka mengantarkan AC Milan menjadi juara Liga Champions sekaligus dinobatkan menjadi pesepak bola terbaik dunia di tahun yang sama. Tahun 2009, AC Milan menjual Kaka ke Real Madrid, karena masalah finansial. Sejak saat itu, dalam kurun waktu 8 tahun, Kaka berpindah-pindah klub, dan akhirnya pensiun tahun 2017 di usia 35 tahun. Perjalanan karier yang hebat. Tapi, tentunya banyak pemain yang memiliki karier lebih gemilang dari Kaka. Lalu, apa yang membuat Kaka berbeda? 

 

"Takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan... (Amsal 1:7, AYT)". Mungkin ini adalah penggalan ayat yang paling tepat untuk menggambarkan sifat Kaka. Tidak seperti kebanyakan pesepak bola yang melakukan sesuatu sesuai dengan keinginan mereka sendiri seperti berfoya-foya dengan uang yang mereka dapat, bermain wanita, dan pergi ke klub-klub malam; tapi Kaka tidak melakukannya serta memilih untuk menuruti kehendak Tuhan. Kaka tetap setia menaati perintah Tuhan. Dia juga enggan membawa pacarnya yang tinggal di Brazil, Caroline, untuk ikut ke Italia saat dia bermain di AC Milan karena mereka belum resmi menikah. Dia menikahi Caroline pada tahun 2005 dan saling mengakui jika sama-sama masih perjaka dan perawan. Mereka menguduskan diri dihadapan Tuhan dengan tidak terlibat seks sebelum menikah. Kaka juga aktif pelayanan di gerejanya; bahkan dia juga berkhotbah. Aksinya tersebut mirip dengan apa yang dilakukan oleh sedikit mantan pemain sepak bola diluar sana, yang juga takut akan Tuhan. Sebut saja Carlos Angel Roa (mantan kiper timnas Argentina di Piala Dunia 1998) dan Espen Johnsen (mantan kiper timnas Norwegia), yang akhirnya menjadi penginjil dan meninggalkan karier mereka di dunia sepak bola. Kaka juga dikenal masyarakat luas berkat aksinya di final Liga Champions 2007. Setelah AC Milan dipastikan menjadi juara, Kaka melepas jersey-nya dan menunjukkan kaus bertuliskan "I Belong to Jesus". Lima tahun sebelumnya, di final Piala Dunia 2002, Kaka juga melakukan perayaan serupa dengan kaus bertuliskan "I Love Jesus". Setiap gol yang dia buat baik di klub maupun timnas, Kaka akan merayakannya dengan mengangkat kedua tangan dengan telunjuk mengacung ke atas, tanda ucapan syukur serta pengakuan bahwa "di atas sana ada yang lebih hebat dari dirinya". 

 

Usut punya usut, kecelakaan pada leher yang dia alami saat masih remaja adalah titik balik dari kehidupan Kaka. Kecelakaan tersebut hampir merenggut masa depan Kaka sebagai pemain sepak bola. Tiga orang dokter yang merawatnya berkata, “saat ini, Anda harus bersyukur bahwa Anda bisa berjalan. Nanti kita akan melihat apakah Anda bisa dan dalam situasi mana Anda akan bermain," kenang Kaka. Namun, justru waktu-waktu pasca kecelakaan inilah yang membuat Kaka semakin teguh beriman kepada Tuhan. "Saya tahu tangan-Nya telah menyelamatkan saya dan bahwa Tuhan mengendalikan hidup saya,” tutur Kaka seperti dikutip oleh Joy Magazine pada Agustus 2010 lalu. 

 

Tuhan dapat menunjukkan karya-Nya melalui siapa saja dengan profesi apa saja, termasuk di dalam diri Kaka. Ketaatan dan kesetiaan, adalah dua sikap utama yang ingin ditunjukkan Tuhan kepada manusia melalui pribadi Kaka. Seorang Kaka mengingatkan saya kepada Daniel dan teman-temannya; Sadrakh, Mesakh, dan Abednego, di Alkitab; yang mana tetap teguh setia kepada Tuhan daripada mengikuti perintah Raja Nebukadnezar. Pada masa pembuangan di Babel, mereka dipakai Tuhan untuk menjadi contoh orang yang tidak goyah imannya karena mengikuti arus. Ketaatan dan kesetiaan adalah 2 sikap yang membuat saya menjadi kagum sekaligus malu terhadap mereka. Kagum karena mereka mampu mencapai level yang tinggi itu dan malu karena meskipun ada keteladanan dari tokoh-tokoh tersebut, tapi masih juga tidak mau setia kepada Tuhan. Saya masih suka berkutat dengan dosa; entah itu kesombongan, kemalasan, kedagingan, dll. Saya terlalu mengikuti arus dunia ini; hal yang sama yang dilakukan sebagian besar pesepak bola terkenal di luar sana. Namun, dari kisah tokoh-tokoh tersebut di atas, saya belajar bahwa ketaatan dan kesetiaan kepada Tuhan adalah sesuatu yang tidak boleh kita abaikan, karena itu merupakan kehendak-Nya bagi saya dan saudara. Terlebih lagi, kita bisa menjadi contoh melalui sikap hidup kita tersebut.  

 

Kembali kepada Kaka, tentunya, di luar sana bertebaran sederet pemain sepak bola yang lebih hebat dan lebih tinggi harga jualnya daripada dia. Tetapi apakah mereka memiliki kualitas hidup yang berkenan di hadapan Tuhan? Mari kita hitung sembari pergi membeli obat untuk mengusir nyamuk di dalam kamar yang semakin bandel. Tuhan Yesus memberkati.