Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDASpace

Tercerabut

victorc's picture
Shalom saudaraku...
Dalam tulisan kali ini, perkenankan saya mengangkat keprihatinan banyak orang bahwa proses pendidikan formal saat ini cenderung membuat anak-anak tercerabut dari akar budaya mereka. Saya bisa berikan dua contoh yang mudah, misalnya anak-anak jarang atau tidak pernah diajarkan tembang-tembang dolanan. Contoh lain: anak-anak mungkin diajak ritret atau ke museum, tapi apakah pernah diajak berbelanja di pasar? Mungkin itu sebabnya banyak anak yang hanya mau bermain di mal atau supermarket.

Ada contoh lain yang bisa diberikan mengenai pendidikan yang justru mencerabut anak-anak dari realitas masyarakat. Misalnya banyak anak-anak yang bermimpi studi sampai tingkat s3 di amerika atau di eropa, lalu kemudian bekerja di luar negeri. Apakah ada yang salah dengan pendidikan kita? Mengapa putra-putra terbaik tidak terpanggil untuk kembali ke desa asal mereka dan melakukan sesuatu di sana? Bisa jadi jawabannya adalah urbanisasi, tapi saya kira pola pendidikan juga ikut berperan membentuk sikap mental anak-anak apakah cenderung eskapisme atau tidak.

Meski saya bukan ahli pendidikan, tapi kalau tidak salah saya pernah membaca entah di mana bahwa pendidikan formal di negeri ini adalah warisan dari produk kolonialisme. Waktu itu diperkenalkan sekolah-sekolah sebagai bagian dari politik balas budi, dengan tujuan mendidik anak didik untuk menjadi klerk di perkebunan atau untuk tugas-tugas administratif lainnya. Jadi pendidikan formal tidak dirancang untuk membentuk kepribadian yang mandiri dan dapat membangun di desanya sendiri, karena itulah jarang diberikan ketrampilan praktis. Saya tidak tahu, tapi mungkin pola semacam itu masih banyak berpengaruh di berbagai sekolah di negeri ini, termasuk sekolah-sekolah kristen dan katolik yang dianggap bermutu.

Lalu bagaimana solusinya? Mungkin perlu solusi yang agak radikal, misalnya mengembalikan fungsi pendidikan kepada masyarakat dan anak-anak itu sendiri. Kemarin saya mendengar dari sepupu saya adanya sekolah alternatif bernama Qaryah Tayyibah di sebuah desa bernama Kalibening di Salatiga. Sekolah itu dirintis di sebuah rumah sederhana, dan bertujuan melibatkan anak-anak dalam seluruh proses pendidikan, termasuk urunan untuk biaya internet dan juga merumuskan kurikulum. Dan kabarnya sekolah alternatif tersebut sudah mulai ditiru di beberapa kota di seluruh indonesia. Semoga inisiatif yang mulia tersebut dapat semakin berkembang, sehingga akses kepada pendidikan yang baik terbuka untuk semua lapisan masyarakat.

Solusi yang lain adalah memperkenalkan sejak dini kepada anak-anak berbagai problem yang muncul dalam masyarakat. Lalu ajak mereka untuk menemukan solusi kreatif versi mereka sendiri. Biarkan mereka berani berpikir sendiri, cukuplah nanti diarahkan dalam proses penelitian yang lebih serius. Kiranya dengan cara itu anak-anak tergerak untuk berbuat sesuatu yang baik bagi desa dan kotanya masing-masing. Bukankah nabi Yeremia menulis pesan: "Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kesejahteraan kota itu...". (Yer. 29:7)

Memang kehidupan modern cenderung membuat orang tercerabut dari akar-akarnya. Misalnya tidak jauh-jauh, banyak mal-mal di kota-kota besar yang menyediakan toilet kering saja, artinya hanya ada kertas tissue gulungan. Padahal kebanyakan orang Indonesia lebih suka toilet basah, karena mereka terbiasa menggunakan air yang banyak untuk membersihkan pantat (maaf). Ada seorang pendeta muda di salah satu kota di Jawa Timur yang bercerita menegaskan masalah ini. Suatu kali ia dirawat di salah satu rumah sakit di Singapore, dan salah satu kesulitan adalah jika harus ke toilet, karena semua toilet di sana adalah toilet kering. Jadi ia terpaksa menyediakan sebuah botol air khusus jika akan buang air. Problem yang mirip juga saya jumpai waktu tinggal selama 6 bulan di Moskow sekitar tahun 2009. Saya tinggal di sebuah kamar apartemen bersama 2 orang, yang satu dari Rusia dan satu lagi dari Ukraina. Saya juga membawa botol air setiap kali saya ke toilet, dan akibatnya toilet selalu basah setiap kali ke belakang. Dua teman saya tidak habis pikir kenapa toilet itu jadi basah setiap kali saya gunakan, dan beberapa kali mereka tanya  saya kenapa begitu. Saya hanya menjawab ringan: "You never know." 

Apakah Anda memiliki pengalaman yang unik tentang tercerabut dari akar budaya? Jika ada komentar dan saran, silakan kirim ke victorchristianto@gmail.com

10 mei 2015, pk. 8:43
VC
__________________

Dari hamba yang tidak berguna (Lih. Lukas 17:10)

Prepare for the Second Coming of Jesus Christ.