Pada mulanya Adam dan Hawa hidup kekal. Keduanya kehilangan kekekalannya setelah makan buah pohon pengetahuan tentang hal yang baik dan yang jahat. Pada mulanya Adam dan Hawa tidak mengetahui tentang hal baik dan jahat. Keduanya baru mengetahui hal baik dan jahat setelah makan buah pohon pengetahuan tentang hal yang baik dan yang jahat. Itulah yang saya pahami selama ini. Pemahaman yang nampak Alkitabiah dan logis, namun meninggalkan sebuah pertanyaan tak terjawab selama ini. Karena Adam dan Hawa belum tahu hal baik dan jahat, bukankah mustahil mereka tahu bahwa melanggar perintah Allah itu jahat? Bila keduanya tidak tahu, kenapa Allah yang Maha Adil menghukum mereka?
Pohon Kehidupan Sumber Hidup Kekal
Pohon kehidupan jarang sekali disebut ketika menceritakan kisah penciptaan dan kejatuhan manusia pada anak sekolah minggu, juga jarang disebut para pengkotbah dalam kotbah-kotbahnya, bahkan di dalam buku-buku Theologia pohon kehidupan jarang disebut apalagi dibahas secara luas. Mungkinkah pohon kehidupan jarang disebut karena dianggap tidak penting atau tidak sepenting pohon pengetahuan tentang hal yang baik dan yang jahat. Benarkah demikian?
Sesungguhnya pohon kehidupan memegang peranan yang sangat penting dalam kisah penciptaan dan kejatuhan manusia. Banyak kesalahan memahami ajaran sejati Alkitab terjadi karena tidak memahami peranan pohon kehidupan. Banyak perdebatan sia-sia dilakukan karena masing-masing tidak memahami peranan pohon kehidupan. Banyak ajaran Alkitab yang selama ini sulit untuk dipahami menjadi mudah dipahami ketika kita memahami peranan pohon kehidupan.
Lalu TUHAN Allah menumbuhkan berbagai-bagai pohon dari bumi, yang menarik dan yang baik untuk dimakan buahnya; dan pohon kehidupan di tengah-tengah taman itu, serta pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat. Kejadian 2:9
Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: "Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati." Kejadian 2:17
Berfirmanlah TUHAN Allah: "Sesungguhnya manusia itu telah menjadi seperti salah satu dari Kita, tahu tentang yang baik dan yang jahat; maka sekarang jangan sampai ia mengulurkan tangannya dan mengambil pula dari buah pohon kehidupan itu dan memakannya, sehingga ia hidup untuk selama-lamanya." Kejadian 3:22
Selama ini saya memandang kisah taman Eden dengan cara salah. Saya menyangka bahwa manusia kehilangan hidup kekal karena makan buah pohon pengetahuan. Sebelum makan, manusia memiliki hidup kekal, setelah makan, kekekalannya diambil Allah. Pandangan demikian salah sama sekali. Hidup kekal tidak berhubungan dengan pohon pengetahuan. Hidup kekal berhubungan dengan pohon kehidupan. Sebelum makan buah pohon kehidupan manusia tidak memiliki hidup kekal, karena tidak memakannya, maka manusia tetap tidak memiliki hidup kekal.
Bacalah Kejadian 3:22 dengan hati-hati dan teliti, kemudian kita akan menjawab berapa pertanyaan berikut ini. Apa yang akan terjadi bila manusia makan buah pohon kehidupan? Manusia akan hidup selama-lamanya. Apa yang terjadi karena manusia tidak makan buah pohon kehidupan? Manusia tidak akan hidup selama-lamanya. Tidak hidup selama-lamanya berarti akan mati. Bukankah itu berarti ketika diciptakan manusia tidak kekal dan akan mati? Manusia baru akan hidup selama-lamanya setelah makan buah pohon kehidupan. Sayang Adam dan Hawa tidak memakannya.
Pohon Pengetahuan Sumber Kebodohan
Selama ini saya menyangka bahwa sebelum makan buah pohon pengetahuan tentang hal yang baik dan yang jahat Adam dan Hawa tidak tahu tentang yang baik dan yang jahat. Sebelum makan, keduanya tidak tahu hal yang baik dan jahat, setelah makan baru tahu. Ternyata pandangan demikian salah sama sekali.
Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: "Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati." Kejadian 2:16-17
Untuk dapat menaati perintah Allah tersebut di atas Adam harus tahu tentang yang baik dan yang jahat. Di samping itu dia juga harus mampu membedakan mana yang baik dan yang jahat dan mampu memilih yang baik dan menolak yang jahat. Memberi nama kepada segala ternak, segala burung-burung di udara dan segala binatang hutan adalah bukti bahwa Adam tahu tentang hal yang baik dan yang jahat, mampu membedakan keduanya dan mampu memilih yang baik dan menolak yang jahat. Menyadari bahwa dia tidak menjumpai penolong yang sepadan dengan dirinya adalah bukti bahwa Adam tahu yang baik dan yang jahat, mampu membedakannya dengan benar dan mampu memilih yang baik dan menolak yang jahat.
Lalu sahut perempuan itu kepada ular itu: "Buah pohon-pohonan dalam taman ini boleh kami makan, tetapi tentang buah pohon yang ada di tengah-tengah taman, Allah berfirman: Jangan kamu makan ataupun raba buah itu, nanti kamu mati." Kejadian 3:2-3
Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminya pun memakannya. Kejadian 3:6
Ayat-ayat tersebut di atas menunjukkan dengan jelas bahwa Hawa tahu yang baik dan yang jahat. Hawa juga mampu membedakan yang baik dan yang jahat dengan benar, dia juga mampu memilih yang baik dan menolak yang jahat. Selama ini saya menyangka kalimat, “ … Jangan kamu makan ataupun raba buah itu, …” menunjukkan bahwa Hawa tidak mengetahui perintah Allah dengan jelas, karena dia mengetahui perintah itu dari Adam. Namun sesungguhnya kalimat tersebut justru membuktikan bahwa Hawa selain tahu bahwa makan buah pohon pengetahuan itu jahat, dia juga mampu menyadari bahwa meraba buah pohon tersebut akan membangkitkan keinginannya untuk memakannya.
Apa yang terjadi setelah Hawa makan buah pohon pengetahuan? Hawa tetap tahu hal yang baik dan yang jahat, namun tidak mampu membedakannya dengan benar dan tidak mampu untuk memilih yang baik dan menolak yang jahat. Hal itu terbukti dengan perbuatannya yang tidak bertanggung jawab dengan memberikan buah pohon pengetahuan kepada Adam.
Maka terbukalah mata mereka berdua dan mereka tahu, bahwa mereka telanjang; lalu mereka menyemat daun pohon ara dan membuat cawat. Kejadian 3:7
Selama ini saya memahami ayat tersebut di atas sebagai bukti pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat. Sekarang saya memahami bahwa ayat tersebut justru membuktikan hal sebaliknya, Adam dan Hawa kehilangan kemampuan mereka untuk membedakan hal yang baik dan yang jahat dengan benar. Kalimat “terbukalah mata mereka berdua,” tidak menyatakan bahwa keduanya sebelumnya tidak tahu dirinya telanjang lalu menjadi tahu. Kalimat tersebut justru membuktikan bahwa keduanya telah kehilangan kemampuan untuk membedakan hal yang baik dan yang jahat dengan benar.
Ia menjawab: "Ketika aku mendengar, bahwa Engkau ada dalam taman ini, aku menjadi takut, karena aku telanjang; sebab itu aku bersembunyi." Kejadian 3:10
Ayat tersebut di atas bukan bukti bahwa Adam sudah tahu tentang yang baik dan yang jahat. Namun bukti bahwa Adam telah kehilangan kemampuan untuk membedakan hal yang baik dan yang jahat dengan benar dan kemampuan untuk memilih yang baik dan menolak yang jahat. Telanjang bukan alasan yang benar bagi Adam untuk merasa takut kepada Allah, malu bukan alasan yang benar bagi Adam untuk sembunyi. Adam takut kepada Allah karena sudah melanggar perintah, Adam sembunyi karena takut dibunuh Allah. Bukankah Allah mengancam, … sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati?
Keadilan Di Taman Eden
Sebagai seorang pelatih anjing, prinsip utama yang harus ditaati adalah tidak boleh melakukan koreksi (menegur, menghukum) apabila anjing belum memahami sebuah perintah dengan benar. Menurut penelitian, seekor anjing baru benar-benar mengerti sebuah perintah setelah dia dilatih 30 - 70 kali untuk perintah tersebut. Setelah mengerti sebuah perintah, maka anjing tersebut harus dilatih 30 - 70 kali lagi untuk mampu membedakan bahwa mematuhi perintah adalah baik dan menolak perintah adalah jahat, sekaligus mampu memilih untuk patuh 100% dalam segala situasi dan keadaan.
Koreksi baru dilakukan setelah anjing benar-benar mengerti sebuah perintah dan koreksi diberikan agar anjing tersebut mampu dan mau patuh 100% dalam situasi dan kondisi apapun. Seorang pelatih yang tidak memahami dan menaati prinsip utama tersebut secara konsisten, bukan pelatih anjing yang baik. Anjing yang dilatihnya tidak akan patuh padanya 100%, bahkan anjing tersebut tidak akan menghormatinya dan mengasihinya. Seekor anjing yang menghormati akan mempercayakan jiwa raganya di bawah kuasa tuannya. Seekor anjing yang mengasihi akan selalu berusaha untuk menyenangkan hati tuannya. Rasa hormat membuat anjing patuh, cinta kasih membuat anjing senang untuk patuh.
Sebagai orang tua, prinsip utama yang harus ditaati adalah tidak boleh melakukan koreksi (menegur, menghukum) apabila anaknya belum memahami sebuah ajaran dengan benar. Menurut penelitian, seorang anak di bawah usia 5 tahun baru benar-benar mengerti setelah diajar 7 - 10 kali. Setelah mengerti sebuah ajaran yang benar, maka anak tersebut harus diajar 7 - 10 kali lagi untuk mampu membedakan bahwa menjalankan ajaran tersebut adalah baik dan tidak menjalaninya adalah jahat, sekaligus mampu memilih untuk menjalankan ajaran tersebut 100% dalam segala situasi dan kondisi.
Koreksi baru dilakukan setelah anak kecil mengerti dan koreksi diberikan agar anak tersebut mampu dan mau menjalankan ajaran tersebut 100% dalam segala situasi dan kondisi apapun. Orang tua yang tidak memahami dan menaati prinsip utama tersebut secara konsisten, bukan orang tua yang baik. Anaknya tidak akan menghormatinya dan mengasihinya. Seorang anak yang menghormati akan selalu mematuhi orang tuanya. Seorang anak yang mengasihi akan selalu berusaha untuk menyenangkan hati orang tuanya.
Apabila seorang pelatih anjing memperlakukan anjing yang hanya seekor binatang demikian, apabila orang tua memperlakukan anaknya demikian, mustahil Allah Yang Maha Adil melarang Adam dan Hawa makan buah pohon pengetahuan bila keduanya tidak tahu bahwa menaati perintah Allah adalah baik dan melanggarnya adalah jahat, tidak mampu membedakannya dan tidak mampu menaatinya. Mustahil Allah mengkoreksi (menghukum) bila keduanya belum mengerti dan mampu membedakan. Koreksi diberikan Allah agar manusia mampu dan mau menjalankan perintahNya 100% dalam segala situasi dan kondisi. Allah yang tidak adil dan konsisten tidak patut dihormati, Allah yang tidak berperi kemanusiaan tidak layak dikasihi.
Malu – Menyelesaikan Masalah Dengan Masalah
Malu! Sebelum berdosa manusia tidak tahu malu. Adam dan Hawa telanjang, namun keduanya tidak merasa malu (Kejadian 2:25). Namun setelah berbuat dosa, keduanya merasa malu (Kejadian 3:7, Kejadian 3:8). Benarkah yang membuat Adam dan Hawa merasa malu adalah ketelanjangan mereka? Tidak! Kalau Adam dan Hawa malu karena telanjang, maka setelah menyematkan daun pohon ara dan memakai cawat keduanya tidak akan merasa malu lagi ketika mendengar langkah Allah di taman Eden. Menyelesaikan masalah dengan masalah. Itulah yang dilakukan oleh Adam dan Hawa. Hawa dalam masalah setelah makan buah pohon pengetahuan, dia menyelesaikannya dengan masalah baru, memberikan buah itu kepada Adam. Adam dalam masalah setelah makan buah pohon pengetahuan. Dia menyelesaikan masalahnya dengan membuat masalah baru, sembunyi. Ketika sembunyi tidak menyelesaikan masalahnya, dia menyelesaikannya dengan masalah baru, mencari alasan dirinya telanjang. Ketika alasan telanjang tidak menyelesaikan masalahnya, dia menyelesaikannya dengan masalah baru, mencari kambing hitam, menyalahkan Hawa kekasihnya. Apakah masalahnya selesai? Tidak! Masalahnya dia belum makan buah pohon kehidupan sehingga tidak bisa hidup selama-lamanya. Masalahnya dia sudah makan buah pohon pengetahuan sehingga walaupun masih memiliki pengetahuan tentang hal yang baik dan yang jahat, namun dia tidak mampu untuk membedakannya dengan benar dan dia tidak mampu untuk memilih kebaikan dan menolak kejahatan. Apabila dia merasa malu dengan hal itu, seharusnya dia belajar untuk mendapatkan kemampuannya kembali, bukannya lari sembunyi atau mencari alasan bahkan kambing hitam.
Kita merasa malu ketika kesalahan kita terbongkar. Namun, alih-alih mengakui kesalahan, kita justru mencari alasan dan kambing hitam. Mencari alasan dan kambing hitam adalah ungkapan kasihan pada diri sendiri dan memohon orang untuk mengasihani diri kita. Hal itu tidak akan menyelesaikan masalah. Itu namanya menyelesaikan masalah dengan masalah baru.
Kita merasa malu karena tahu diri sendiri tidak sesempurna orang lain. Namun alih-alih membina diri, kita justru menuntut orang lain untuk menerima kekurangan kita. Minder adalah perasaan malu yang tidak diungkapkan.
Kita merasa minder karena tahu diri sendiri tidak sesempurna orang lain. Saya tidak seganteng dia, saya tidak secantik dia, saya tidak sekaya dia, saya tidak sepintar dia, saya tidak seberbakat dia, saya tidak seberuntung dia. Kita menjadikan semua hal itu sebagai alasan diri sendiri tidak bahagia. Kita menjadikan semua hal itu sebagai alasan untuk tidak mencintai diri sendiri. Kita menjadikan semua hal itu sebagai alasan diri sendiri tidak berprestasi. Kita menjadikan semua hal itu sebagai alasan untuk mengasihani diri sendiri.
Ketika merasa minder, kita tidak membina diri, justru lari menyembunyikan diri. Itulah naluri manusia, naluri Adam dan Hawa, naluri manusia umumnya. Sebagai orang Kristen yang menyebut dirinya murid Yesus Kristus, hal itu tidak boleh terjadi lagi. Malu atau minder seharusnya menjadi pendorong bagi kita untuk membina diri menggapai kesempurnaan, bukan alasan untuk lari bersembunyi, mengasihani diri sendiri dan mengharapkan orang lain memaklumi kita.
Kata Akhir
Musashi, seorang pendekar pedang yang paling sakti sepanjang sejarah Jepang mengajarkan, “Ketika engkau tidak dapat mengalahkan musuh dengan semua jurusmu, maka berhentilah bertarung lalu mulailah bertarung seolah-olah itu adalah pertarungan baru.” Pengkotbah Indonesia yang paling saya hormati dalam kotbah-kotbahnya sering berkata, “Firman Allah itu bersifat progresif.” Dosen yang paling saya hormati mengajarkan, “Yang paling penting adalah prinsip. Penguasaan struktur adalah langkah pertama untuk memahami sebuah ilmu.” Sahabat kuliah saya setelah mendapat gelar Drs ekonomi lalu kuliah untuk mendapatkan gelar Master of divinity Theologia, mungkin dia belum pernah membaca tulisan Musashi, namun jelas dia telah mempraktekkannya, itu sebabnya selain kuliah untuk Master of divinity Theolgia dia juga kuliah untuk meraih gelar Sarjana Theologia.
NB
Bung Stephen, saya menemukan kebenaran tentang pohon kehidupan ini ketika memeras otak untuk menulis komentar untuk tulisan anda Kematian. Saya mendedikasikan tulisan ini buat anda. Tadinya tulisan ini menyatu dengan tulisan Nafas Allah.